Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Disembur



Rena berkali-kali menoleh ke belakang. Sambil sesekali melihat arloji di tangannya.


"Nyari siapa, sayang?" tanya Alby.


"Alena loh bang. Kok dia belum balik ya, tadi hanya ijin ke supermarket. Masa iya sih dia nyasar apa ilang kan gak mungkin."


Alby melambaikan tangannya pada Misel yang saat itu tengah bermain di Time Zone. "Gak akan balik anaknya. Kalau kamu udah ngantuk kita pulang aja," ujar Alby.


"Ih bukan itu masalahnya. Alena kan tadi kesini sama aku."


"Percaya sama Abang. Dia gak akan balik, soalnya tadi aku lihat dia udah kesini terus gak lama aku lihat teman kamu yang dokter itu menghampirinya," terang Alby yang memang tak sengaja melihat siluet tubuh keduanya saat hendak turun ke lantai bawah.


"Masa sih? Ini pasti gara-gara Abang kan nyusul Rena, jadi Alena merasa sungkan, makanya dia pergi," sahut Rena yang masih belum percaya jika sahabatnya itu bersama Dokter Ryan.


Alby hanya berdecak kecil, tak menanggapi ucapan istrinya. Lelaki itu memilih berlalu mendekati putrinya. Ia menyusul istrinya ke mall bukan tanpa alasan. Alby hanya tengah menghilangkan rasa pusing yang mendera, setelah tadi di kantor ia disuguhkan dengan banyaknya pekerjaan, dan juga pembicaraan dengan sang ibu tentang ayah kandungnya, yang ternyata saat ini tengah terbaring di rumah sakit. Meski ibunya meminta untuk segera menemui sang Ayah, tapi sisi egoisnya masih mendominasi. Alby merasa belum mampu menghapus luka itu, ia masih membutuhkan waktu.


Rena menghela nafasnya setelah kepergian sang suami. Tidak lama ia mendengar notif chat dari dalam ponselnya, yang tak lain dari Dokter Ryan.


[Aku pinjam Alena dulu ya, Re. Jangan khawatir dia aman]


"Pantas saja!" decaknya sambil beranjak dari tempat duduknya menghampiri suaminya.


"Maaf ya bang. Ternyata Abang benar, Alena memang sedang bersama Dokter Ryan."


"Hemm," jawab Alby.


Rena mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban suaminya. "Abang marah?"


"Gak Re. Abang cuma lagi-"


Cup!


Alby terkejut tak melanjutkan ucapannya saat merasa benda kenyal mendarat di pipinya. Padahal ia hanya sedang menunjukkan pada Rena kalau ia hanya sedang memperhatikan Misel yang tengah bermain.


"Nah kan, jangan marah lagi?" ujar Rena.


Alby tertawa kecil. "Abang gak marah Re. Orang Abang lagi lihat Misel main, kamu malah main nyosor aja. Ini di tempat umum sayang, kalau kamu mau nanti aja di rumah kita patok-patokan ya," goda Alby kemudian yang langsung mendapatkan tabokan dari istrinya.


"Gak cuma patok-patokan kalau di rumah. Tapi aku bakal dibolak-balik, dan aku lagi gak mau. Capek," sahut Rena mengingat bagaimana mesumnya sang suami, apalagi saat bercinta tak pernah puas hanya sekali.


"Kan biar cepat jadi adiknya Misel. Katanya kasihan anaknya gak punya teman. Makanya kita harus banyak lembur sayang?" seru Alby.


Rena melepaskan rangkulan tangan sang suami di pundaknya. "Kalau dalam dunia medis, gak begitu aturannya Abang. Kita harus bermain disaat waktu aku subur, gak asal tiap hari bikinnya. Abang itu cuma mau modusin aku aja!"


"Iya iya Bu Dokter. Aku lupa istriku Dokter, mana bisa aku curangi ya," canda Alby tergelak kencang.


"Lagian masalah adik. Misel kan juga masih punya adik bang, dari Mbak Miranda. Itu gimana ya keadaannya sekarang, mbak Miranda gak pernah kasih kabar. Cuma sekali doang waktu bilang sudah tiba di sana," kata Rena mengingat pesan Miranda yang terakhir ia terima.


"Ya mungkin sedang sibuk ngurusin anaknya," ujar Alby asal. "Lagian ngapain sih ngomongin dia. Udah yuk kita pulang aja. Abang juga kan pengen disayang-sayang, kita reka ulang adegan kita semalam gimana?" imbuh Alby kemudian. Meski ia sudah memaafkan Miranda, ia masih merasa males membahas perempuan itu.


"Reka ulang aja sama guling bang. Orang aku lagi datang bulan," celetuk Rena membuat Alby lemas.


"Yah, baru disiram semalam padahal," tukas Alby kesal.


****


Kecanggungan tengah dirasa keduanya. Alena mengalihkannya dengan cara melihat boneka sapi dalam tangannya.


"Alena, udah makan belum?" tanya Dokter Ryan membuat Alena mengangkat wajahnya.


"Udah dong Pak Dokter," sahutnya.


"Yahh..." Dokter Ryan menghela nafasnya kecewa.


"Kenapa?" tanya Dokter Ryan heran.


"Gak selera aja. Aku kan lagi kabur dari rumah."


"Hah?" Dokter Ryan melongo mendengarnya, dan Alena hanya mengangguk dengan wajah masam.


"Iya aku kabur. Aku lagi sebal sama Papa. Ini aku kabur biar mereka mikir," kata Alena semakin membuat Dokter Ryan tertarik dengan cerita perempuan itu. Dan tanpa disangka lelaki itu justru menarik tangan Alena.


"Kita cari tempat makan ya. Biar kamu lebih nyaman ceritanya," ujar Dokter Ryan menggiring Alena menuju salah satu restoran cepat saji di sana.


"Emang aku lagi cerita ya?" tanya Alena tanpa dosa, membuat Dokter Ryan menghela nafasnya, menghadapi Alena itu harus dengan tingkat kesabaran tinggi menurutnya. "Aku kan cuma lagi berkata Pak dokter," imbuhnya kemudian.


Dokter Ryan memilih mengangguk, menggeser kursi, meminta Alena untuk duduk di sana. "Jadi ngerasa kaya spesial," celetuk Alena kemudian. Perempuan itu benar-benar terang-terangan dalam berkata.


"Spesial pake apa?" tanya Dokter Ryan.


"Pake dada dengan level 6, pokoknya yang paling pedas."


Dokter Ryan mengangguk kemudian menuju tempat pesanan, tidak lama ia kembali dengan membawa nampan yang berisi dua porsi nasi dan ayamnya beserta saos kejunya.


Alena bertepuk tangan. "Hemm yummy." Dengan mata berbinar ia mulai menyantap makanannya tanpa rasa malu.


Dokter Ryan hanya melihatnya tersenyum, padahal seingatnya tadi ia bilang bahwa tengah melakukan diet. Tapi lihat saja makannya sekarang begitu lahap.


"Mumpung dapat traktiran, acara dietnya aku tunda besok aja deh. Gak apa-apa kan Pak Dokter?"


"Iya gak apa-apa, lagian siapa yang nyuruh kamu diet. Perasaan badannya udah kurus begitu," sahut Dokter Ryan.


Alena mengangkat wajahnya, menatap lelaki itu dengan senyum. "Wahh.. Pak Dokter diam-diam memperhatikan aku ya?" godanya.


Hal itu membuat Dokter Ryan memalingkan mukanya malu, dan salah tingkah. "Em maksudku kan-"


"Aku tau Pak Dokter. Santai aja aku hanya bercanda," kata Alena memotong ucapan Dokter Ryan. "Sebenarnya aku hanya sedang diet dompet saja Pak Dokter. Kebetulan dompet aku ketinggalan di mobil, karena malas ngambil jadi aku memilih diet saja," imbuhnya yang kembali membuat Dokter Ryan tergelak.


Apa lagi itu? Diet dompet katanya. Yang benar saja, perempuan itu memang benar-benar aneh tapi lucu. Bahkan ia sendiri sampai dibuat senyum olehnya.


"Dokter tampan loh kalau senyum," puji Alena.


"Iyakah?"


Alena mengangguk. "Iya dong. Masa Pak Dokter cantik kan gak mungkin," jawabnya membuat Dokter Ryan melongo, padahal tadi ia sudah merasa besar kepala di puji tampan. Emang dasar perempuan di depannya ini pandai sekali menggoda.


"Ah leganya. Perutku kenyang sekali, makasih lho Pak Dokter. Meski lagi kesal aku tetap harus makan untuk menghadapi kenyataan hidup," celetuk Alena sambil menyeruput minuman di depannya.


"Kenyataan hidup seperti apa?" tanya Dokter Ryan sambil makan.


"Kenyataan kalau aku tuh mau dijodohin."


"Apa??!!!"


Byurrrrr! Uhuk! Uhuk!


"Ih Pak Dokter jorok ih, masa makanannya disembur ke aku. Emang aku kesurupan apa masa disembur," cebik Alena.



Secantik itu loh dia kok disembur😂


Jangan lupa jejaknya ya, lempar bunga yang banyak guys...