Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Rena-nya Alby



Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Alby menoleh ke arah luar lewat dinding kaca dalam ruangannya. Gerimis mulai turun, tapi pekerjaannya tak kunjung usai. Ini akibat kemarin sehari ia tak masuk ke dalam kantornya. Demi meraih puncak once again bersama sang istri.


Alby mengusap perutnya, mendadak ia merasa lapar. Hujan-hujan seperti ini makan yang berkuah kayaknya lebih enak. Tiba-tiba ia jadi rindu masakan istrinya. Sekarang sedikit demi sedikit Rena mulai pandai memasak meski kadang masih keasinan atau malah kurang garam. Tapi, tetap saja masakan paling enak yang dimasak istrinya tetap mie instan. Apalagi jika sudah masak mie instan campur kornet dan telur yang dicampur dengan sayuran serta potongan cabe rawit merah. Wahh... Rasanya benar menggugah selera, bahkan masakan chef hotel bintang lima pun kalah.


Alby bergumam kira-kira malam ini istrinya mau masakin mie instan rasa apa ya? Ah tidak. Alby lupa bahkan ia sendiri belum tau istrinya itu sudah pulang dari rumah sakit apa belum. Mungkin lebih baik ia menelpon dulu, jika memang Rena sudah sampai di rumah ia akan request meminta dimasakin mie instan rasa kari resep ala Rena.


Albu tersenyum seraya mengambil ponselnya di atas meja, ketika hendak menghubungi istrinya. Pintu ruangannya terketuk dari luar, membuat ia mengurungkan niatnya sejenak.


Milea masuk dengan membawa berkas di tangannya.


"By. Ini berkas yang kamu minta udah lengkap ya," ujar Milea seraya meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja.


Alby mengangguk. "Oke thank you."


"Ya udah aku pulang dulu ya. Mas Ardan udah jemput di bawah, mau ngedate hari ini aku." Milea tersenyum seraya melirik arloji di tangannya. "Kamu gak pulang?" tanyanya kemudian.


"Pulanglah, emang kau kira aku penunggu gedung ini. Sebentar lagi mau telpon istri dulu, barangkali dia udah pulang apa belum."


"Oh ya udah."


"Hujan gini kayaknya enak makan mie instan buatan istri, jadi pengen buru-buru pulang aja request mie instan yang rasanya enak, bahkan hotel bintang lima aja kalah."


Milea menggeleng, sejak kapan rasa mie instan ada yang paling enak. Ia pikir dari dulu juga begitu, namanya juga makanan instan.


"Orang kalau udah bucin emang begitu ya. Apapun yang ada dalam diri pasangannya juga terlihat sempurna. Kamu di kasih makan nasi dan garam sama Rena, juga bakal bilang enak banget. Sekalian bilang masakan chef Arjuna pun kalah!" decak Milea.


"Ya biarin. Sirik aja sih kamu kayaknya gak pernah jatuh cinta aja." Alby mendengus kesal. "Sono deh pergi, ganggu aja sih," tambah Alby.


Milea terkekeh, "ya pergi ni. Mau kencan dong, emang kamu kencannya cuma sama berkas doang." Perempuan itu semakin gencar menggoda dan membuat Alby merasa kesal.


"Kamu kalau bukan istrinya Ardan udah aku timpuk pake sepatu mi. Dasar mie rebus." Alby menggeram kesal, Milea tertawa kemudian berpamitan untuk keluar.


Usai kepergian Milea. Alby kembali meneruskan niatnya menelpon Rena.


[Ya bang?]


Terdengar sahutan Rena dari balik telpon.


[Udah pulang?]


Tut... Tut.. Tut....


Terdengar bunyi panggilan telpon dimatikan secara sepihak oleh istrinya. Alby melongo, belum juga ia menjawab sudah di matikan begitu saja. Tapi mengingat ucapan istrinya tengah berada di jalan, Alby berusaha untuk mengerti.


Kini Alby buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar cepat pulang ke rumah dan berkumpul bersama anak dan istrinya. Tapi, rasanya otaknya tak dapat di ajak kompromi, setelah mendengar suara istrinya tadi, pikirannya justru terpusat pada sang istri. Ia jadi rindu dan ingin segera pulang, apalagi mengingat cacing dalam perutnya yang sudah tak bisa diajak kompromi, gara membayangkan mie instan resep chef istri tercinta.


Alby mengusap wajahnya, "gak bisa gini. Aku udah gak bisa mikir, dahlah besok lagi aja." Alby menutup laptopnya setelah sebelumnya menyimpan filenya. Sebelum beranjak ia kembali meraih ponselnya, membuka aplikasi ijo di mana di sana tersemat nama 'Renanya Alby' tak lupa di sisinya di beri emoticon love. Alby terkikik ia tak menyangka dirinya bisa sebucin itu. Tapi bodo amatlah, anggap saja dirinya lagi masa puber kedua. Ehh, tidak-tidak Alby kira usianya belum setua itu. Dirinya masih gagah, baru pertengahan tiga puluh. Dia belum setua itu, ia merasa sangat cocok berpasangan dengan Rena.


Alby mengetik sebuah pesan di sana


[Abang juga baru mau pulang. Nanti kalau udah sampai rumah buatin Abang mie instan rasa kari ya. Abang udah lapar banget ini, rindu masakan kamu. Beneran deh gak kuat, berat seberat rindu Dilan]


Send. Alby mengirim pesan tersebut hingga tercentang dua namun belum berubah warna biru. Mungkin istrinya masih di jalan, atau bisa jadi lagi mandi. Ia kembali menyimpan ponselnya di saku.


Memikirkan mandi membuat otaknya kembali berfantasi liar, Alby buru-buru mengambil jasnya lalu memakainya kembali, mengambil kunci mobil dan berlalu keluar dari kantornya.


Alby menekan klakson mobilnya berulang kali saat ia terjebak macet, di tambah guyuran air hujan yang cukup deras. Entah ada apa hingga terjadi kemacetan yang cukup panjang ini. Niatnya untuk sampai rumah tepat waktu pun kandas, Alby kembali melihat ponselnya ternyata pesannya pun belum di baca oleh istrinya.


Perlahan mobil pun kembali maju, dan ternyata di depan ada sebuah pohon yang tumbang. Pantas saja menjadi macet tak seperti biasanya. Lelaki itu menghela nafas lega kala terbebas dari kemacetan.


Pukul 18. 30 wib. Alby baru saja tiba di rumah. Usai memarkirkan mobilnya di garasi, Alby turun dari sana dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.


"Ayah baru pulang?" Si cantik yang saat ini tengah belajar menggambar ditemani oleh Nany Ratri pun bertanya, membuat Alby menoleh.


"Iya sayang." Alby berusaha mencari seseorang membuat Misel pun paham.


"Ayah cari Bunda ya?"


Alby tersenyum. "Iya nak. Bunda di-"


"Kayaknya Bunda lagi mandi. Tadi sih bilangnya gitu. Padahal janji mau temanin Misel belajar."


Alby mengusap kepala putrinya, "sabar ya. Bunda kan baru pulang. Ya udah ya, Ayah naik dulu ya," ucap Alby yang membuat Misel menganggukan kepalanya.


Alby membuka pintu kamarnya secara perlahan. Terlihat sang istri tengah menyisir rambutnya yang basah di depan kaca rias. Rupanya benar istrinya sudah selesai mandi, niatnya untuk menyusul dan mandi bareng istrinya akhirnya gagal. Padahal ia penasaran ingin mencoba adegan once again di kamar mandi, tapi tidak masalah jika tidak bisa di kamar mandi. Di ranjang pun lebih bagus dan nikmat bukan. Wangi aroma shampo dan sabun dari tubuh istrinya berhasil mengusik dirinya.