Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Untuk Apa?



Selama Misel dirawat Soraya bolak-balik ke rumah sakit. Meski Rena dan Alby sudah menyarankan perempuan baya itu untuk di rumah saja, tapi ia tetap menolak. Soraya merasa percuma berada di rumah sementara pikirannya terus tertuju pada cucunya.


Tidak ada yang lebih penting dari keluarga. Tidak ada yang lebih berharga dari keluarga. Begitulah setiap kali anak dan menantunya melarang ia untuk terus bolak-balik ke rumah sakit. Keduanya hanya khawatir Soraya akan drop.


Sore ini Soraya merasa sangat bahagia mendengar bahwa besok pagi cucunya sudah boleh pulang. Ia membawa oleh-oleh yang banyak untuk Misel. Turun dari mobil perempuan itu terlihat kesusahan membawa paper bag di tangannya.


Bruk!!


"Maaf," ujar Soraya kala tak sengaja menabrak seseorang. Tanpa mengangkat wajahnya perempuan itu segera mengambil kembali barangnya yang berjatuhan. Hingga tangannya tak sengaja menyentuh sepatu orang yang di depannya. Kemudian di susul indra penciumannya yang tampak menghirup aroma parfum yang tak asing. Mendadak perasaan Soraya menjadi tidak enak.


"Permisi!" tanpa berniat menoleh dan menatap orang itu. Soraya hendak berlalu pergi, mengesampingkan rasa penasarannya.


"Soraya?"


Suara bariton tampak memanggil dirinya, membuat langkah Soraya terhenti. Jantungnya berdetak lebih kencang, apalagi kala mendengar langkah sepatu itu kian mendekat.


"Soraya, ini aku-"


"Aku bukan Soraya!" sangkal Soraya seraya melanjutkan langkahnya. Namun, gerakannya kembali tertahan saat orang itu mencekal pergelangan tangannya. Membuat pandangannya kembali teralihkan, jantungnya kembali berpacu kala dugaannya kembali tak meleset.


Soraya berusaha kuat untuk menarik tangannya. "Lepaskan aku, Mas!"


"Bisa kita bicara sebentar?"


Soraya menggeleng, seraya tersenyum masam. "Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, mas. Hubungan kita sudah berakhir jauh hari. Anggaplah kita tidak saling mengenal."


"Aku mohon?" pinta Galih memohon. Lelaki baya yang merupakan ayah kandung Alby, mantan suami dari Soraya.


Tatapan keduanya saling terpatri, Galih masih mencekal pergelangan tangan Soraya dengan kuat, membuat perempuan itu meringis. "Lepaskanlah mas. Ini sakit! Jika kau tidak melepaskan jangan salahkan jika aku teriak!" ancamnya.


"Oke. Aku akan melepaskan tapi kita bicara ya?" pintanya seraya menguraikan tangan Soraya.


"Untuk apa?" ejek Soraya tertawa kecil. Percayalah meski perempuan itu tertawa, ada segenggam luka yang masih melekat di hatinya.


"Kita sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing. Jadi, ku rasa tidak lagi yang perlu kita bicarakan," pungkas Soraya datar kembali melangkahkan kakinya.


"Tapi aku tidak bahagia," ujar Galih menatap punggung Soraya sendu.


Soraya menghentikan langkahnya sejenak mendengar ucapan mantan suaminya. "Itu bukan urusanku. Nikmatilah pilihanmu."


Galih menunduk sedih. "Bagaimana kabar Alby? Putraku?"


"Dia putraku, bukan putramu? Kau tidak ada hak untuk menanyakannya," ucap Soraya tegas. Galih menghela nafasnya, menyadari bahwa luka yang ia tancapkan di hati perempuan itu dan putranya memang terlampau dalam. Semua tidak akan mudah, meski hanya sekedar kata maaf untuk ia dapatkan. Galih menatap punggung Soraya yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Menyusuri koridor rumah sakit itu, Soraya berkali-kali mengusap dadanya. "Ya Tuhan, kenapa harus bertemu dengannya lagi. Di saat aku hampir berhasil melupakannya. Kenapa dia mesti kembali?" Gumam Soraya seraya mengusap sudut matanya yang basah. Bayangan kenangan manis bersama Galuh itu kembali terlintas, kemudian secara tiba-tiba berganti menjadi kejadian yang buruk. Sampai di depan ruangan cucunya, Soraya memilih menghentikan langkahnya sejenak. Menyandarkan tubuhnya ke tembok.


"Ibu?" Panggilan Alby membuyarkan lamunannya.


"Ibu baru sampai? Perasaan sudah pulang lebih dulu sejak tadi?" tanya Alby heran.


Soraya gelagapan, beruntunglah ia segera menunjukkan barang bawannya. "Oh ibu tadi belanja dulu. Ku pikir kemana? Soalnya kok perasaan aku ada yang lain gitu."


Alby merasa heran. "Tidak ada apa-apa kan Bu?"


"Tidak ada by. Kamu ini ngomong apa," ujar Soraya seraya menghampiri cucunya dan memberikan barang bawaannya. Misel tampak senang. Perempuan itu memilih menghindar dari anaknya, yang ia yakin Alby akan mencurigai sesuatu darinya. Sementara Rena nampak heran dengan pandangan suaminya pada ibu mertuanya.


"Bang? Mana makanannya?" pinta Rena menyadarkan Alby.


"Oh ini sayang. Ya udah makan yuk!" ajaknya kemudian, membuat Soraya menghela nafas lega.


****


Sementara itu di sebuah kamar bernuansa putih. Seorang lelaki tengah tersenyum sendiri menatap sebuah foto di dalam ponselnya. Pemilik nama lengkap Ryan Anggara Putra itu sampai tidak menyadarinya kedatangan sang ibunda ke dalam kamarnya.


"Duh yang lagi kasmaran ini. Mama datang pun sampai tak dianggap ada," celetuk Elena yang mengejutkan Ryan. Lelaki itu langsung buru-buru menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


"Mama?" decaknya kesal. "Kenapa sih gak ketuk pintu dulu mau masuk," tambahnya kemudian.


Elena hanya menghela nafasnya. "Udah ketuk pintu sampai tangan mama kram begini. Ternyata yang di dalam lagi senyam-senyum pantas saja gak dengar."


"Apaan orang aku cuma lagi balas chat?" sangkalnya.


"Halah, lagaknya. Kaya Mama gak pernah muda aja. Buruan kenalin sama Mama kalau udah ada. Bosen ini mama jalan sendiri mulu. Kan pengen juga punya menantu perempuan yang bisa dipamerin ke teman-teman arisan mama, diajak shopping," ujar Elena semangat.


Ryan berdecak malas. "Noh Viana aja pamerin."


"Viana, Viana anak kurang ajar dia kakakmu. Gak sopan manggil nama gitu."


Ryan menghela nafasnya. "Ya ma. Kak Viana maksudnya, sekalian sama buntut-buntutnya tuh pamerin!"


"Ponakan mu dibilang buntut. Ya ampun anak ini," keluh Elena seraya memukul pelan lengan putranya.


"Sebenarnya mama kesini mau ngapain, sih?" tanya Ryan kesal. Pasalnya kehadiran mamanya yang berisik itu begitu mengganggu kegiatan dirinya tadi.


"Oh iya mama jadi lupa. Itu kamu di panggil Pak Bastian."


Ryan berdecak kesal. "Pak Bastian itu suamimu loh ma." Heran sama ibu kandungnya itu suka sekali melawak.


"Iya tau. Suami mama tapikan papa kamu juga. Kan emang benar namanya Bastian Anggora!"


"Anggara ma," ralat Ryan.


"Iya itulah. Lagian nama kok nyama-nyamain kucing anggora mama. Udah gitu diturun-turunin ke anaknya, Ryan Anggara, Viana Anggara, kayaknya keluarga ini cuma mama doang yang waras, karena gak ada Anggara nya. Duh Yan, Mama jadi lupa kan kucing mama belum kasih makan." Perempuan itu memilih berlalu keluar kamar putranya. Ryan hanya menghela nafasnya seraya menggeleng pelan. Tingkah mamanya itu memang kadang absurd dan buat ia pusing. Meski berisik perempuan itu sangat baik.


Lelaki itu kembali meraih benda pipih yang semula ia sembunyikan di bawah bantal. Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda akibat terpergok oleh mamanya.


"Yan, buruan turun. Papa udah nunggu tuh!"


Teriakan Elena kembali mengusiknya. Ryan berdecak kembali mematikan ponselnya, lalu keluar dari kamarnya.