
Karena Miranda melahirkan secara normal. Juga kondisi bayi dan ibunya sehat. Sore hari ia sudah diperbolehkan pulang.
Tiba di rumah ia sudah di sambut dengan meriah oleh keluarganya. Kedua orang tua Amira pun ikut datang, karena ingin menjenguk cicitnya. Yang paling rame adalah Clara. Gadis remaja itu begitu heboh melihat kedatangan ketiga keponakannya itu.
Miranda langsung di bawa masuk ke kamar. Begitupun dengan ketiga bayinya. Miko meminta sang istri untuk istirahat. Namun, Miranda menggeleng karena sudah bosan.
Tak lama kemudian Alena dan Ryan datang dengan membawa baby Rey. Tampak Rey begitu anteng dalam gendongan Ryan. Keduanya memberi ucapan selamat juga memberikan kado untuk si kembar.
Alena beralih menatap ketiga anak sahabatnya itu. “Namanya siapa Mik? Kok wajahnya mirip semua. Cuma satu yang beda, pake anting.”
“Arion, Bagas, dan Chiara!” terang Miko seraya memberi tahu satu persatu nama anaknya.
“Wahh keren Baby ABC,” celetuk Alena. Ryan menggelengkan kepalanya, karena ia sudah tak heran dengan tingkah istrinya, yang hoby melencengin nama orang.
“Masa ABC sih, Le?” protes Miko.
“Ya coba kamu ambil bagian huruf pertama mereka deh."
Miko terdiam berpikir sesaat. “Oh iya juga ya. Kok bisa kebetulan begitu.”
Miranda tertawa kecil di atas ranjang. Memang urusan nama ia sudah pasrah dengan suaminya itu. Ryan memilih keluar kamar karena baby Rey merengek, sepertinya bosan di dalam.
“Hallo, baby ABC,” sapa Alena.
Tidak lama kemudian, Rena dan Alby pun datang dengan membawa Alka. Bayi itu terlihat tampan, wajahnya memang bak duplikat Alby sekali. Hanya bibir dan matanya yang mirip Rena.
Rena memberikan ucapan selamat, juga membawa kado untuk si kembar. Namun, Miranda merasa ada hal yang lain dari istri mantan suaminya itu. Rena terlihat lesu seperti ada beban yang tengah ia pikirkan. Tidak perlu bertanya. Rena pasti masih kepikiran permasalahan rumah tangga kakaknya, yang berakhir kandas, belum lagi kondisi Mommy Dinda yang sempat beberapa kali keluar masuk rumah sakit, akibat stres banyak pikiran. Pada akhirnya Rena memilih menambah baby sitter untuk membantu mengasuh Alka. Meski ibu Soraya sempat menolak, tapi Rena dan Alby kekeh. Karena merasa kasihan dengan Soraya yang semakin kuwalahan mengasuh Alka dan Misel.
“Makasih ya Re. Udah datang! Padahal kamu baru pulang kerja kan?” ujar Miranda.
Rena tersenyum tipis. “Aku sudah pulang dari jam tiga tadi mbak.”
“Wahh anak Mami udah datang.” Alena langsung berlalu bergabung dengan sahabatnya itu. Ia merentangkan tangannya pada Alka. Lucunya seakan mengerti, bayi itu langsung nemplok pada Alena.
”Dia tahu, aku ini calon mertuanya. Makanya langsung luluh.”
Alby berdecak mendengarnya. Awal-awal mungkin kesal, tapi lama-lama ia sudah terbiasa dengan tingkah sahabat istrinya itu. Miranda dan Rena hanya terkekeh.
“Mertua-mertua. Anakmu tuh laki-laki masa mau besanan,” celetuk Miko.
“Ya nanti buat adiknya Rey lah. Sedang proses, tenang saja.”
Rena mendelik tak percaya. “Kamu yakin mau secepat itu menambah momongan lagi, Le?"
“Iyalah. Buat apa lama-lama. Aku kan hanya ibu rumah tangga biasa. Jadi banyak anak malah rame. Aku mau buat club' sepak bola, Re.” Alena menjawab dengan nada bercanda. Namun, ia memang yakin jika ingin memiliki banyak anak, pengalaman menjadi anak tunggal itu tidak enak. Jadi ia ingin Rey mempunyai saudara kandung.
“Rey kan masih ASI, Le.”
Alena hanya terkekeh kecil, mendengarnya.
Tak lama kemudian datanglah Clara dan Yanto dengan membawa satu kardus mie instan.
“Ayo dong kakak, aku mau gendong Baby Chiara.”
“Gak usah nanti nangis,” balas Miko.
Clara mengerucutkan bibirnya ke depan.
“Padahal kakak udah masuk ke sini dari tadi. Kenapa baru masuk ke kamar pas ada Yanto sih? Kamu sengaja nunggu dia ya?” tanya Miko beruntun.
“Mana ada. Aku tuh habis makan kakak. Kakak tuh bawaannya suudzon aja sih. Lagian kenapa kalau aku bareng sama Bang Yanto, dia kan baik sayang sama Clara,” sahutnya membuat semua orang yang di sana berpandangan melongo.
“Gak boleh dia itu sudah tua, kamu masih bocil.”
Yanto melengos, sedikit kesal dengan ucapan majikannya yang mengatakan sudah tua. Padahal dirinya tuh seumuran dengannya.
“Benar Clara. Aku malah jadi curiga kalau nanti Mbak Miranda jadi berasa kaya bayi empat,” timpal Alena.
Yanto merasa senang ada yang membela dirinya. Perdebatan mereka membuat semua orang terhibur.
“Tahu gak sih. Aku sebenarnya ikut kemari bareng Bang Yanto. Karena aku penasaran kado yang dia bawa buat si kembar. Soalnya gede juga,” kata Clara.
Seketika semua yang berada di sana, mengalihkan pandangannya pada kardus yang dibawa asisten Miko itu.
“Emang apa isinya, Yanti? Kok kardusnya mie instan,” tanya Miko heran.
“Emang itu isinya mie instan Pak Boss.”
“Woy anak ku masih bayi. Masa dikasih mis instan,” celetuk Miko kesal.
“Siapa juga yang bawa itu buat si kembar. Itu buat Pak Boss lah.”
“Hei aku punya banyak duit. Kalau hanya karena istriku melahirkan, aku masih mampu makan nasi. Masih ada asisten rumah tangga. Ada mama juga,” dengus Miko kesal.
“Saya tahu itu mah Pak Boss. Tapi bukan itu tujuannya,” sela Yanto.
“Apaan?”
“Ini satu kardus mie instan kan ada 40 bungkus. Nah setiap hari Pak Bos buatlah satu bungkus Kalau sampai terakhir kan berarti, Pak Boss udah siap garap ladang lagi.”
“Setan!!” satu guling bayi melayang di tubuh Yanto, yang langsung sigap ia tangkap. Sementara yang lainnya terbahak, bisa-bisanya itu asisten Miko punya ide begitu.
“Kok kamu bisa kepikiran begitu, Yanto. Dapat ide dari mana?” tanya Alby.
“Teman saya di kampung Pak Alby,” jawab Yanto. “Soalnya saya tahu Pak Alby. Pak Boss itu kalau kurang jatah uring-uringan di kantor, saya yang kena omel mulu.”
Rena berdehem pelan. “Sama ajah!” celetuknya.
Alby tertawa kecil, karena mendapatkan sindiran dari istrinya.
“Ini kalian pada ngomongin apa sih. Aku pusing. Mending keluar aja lah.” Clara berlalu pergi.
“Nanti kamu juga akan tahu kalau udah nikah Yanto.”
“Iya nanti Pak Alby empat atau lima tahun lagi.”
Miko mendelik ia tahu maksud lelaki itu lagi-lagi soal Clara. “Maksudmu apa? Awas saja ngincar Clara ya. Dia masih bocil, dan kamu udah mau ubanan,” sergah Miko.
“Justru saya suka yang bocil-bocil Pak Boss,” jawab Yanto.
“Berani kamu ya!!” ancam Miko.
“Ampun Pak Boss. Bercanda ya elah.” Yanto berlalu menghampiri ranjang si kembar. “Hallo, ponakan om,” sapanya.
Miranda, Alena dan Rena masih mengobrol, sementara Alby memilih keluar membawa Alka.
“Am, Om...”
“Jangan gitulah Pak Bos, calon adik ipar ini.”
“Gak mau punya adik ipar kaya kamu,” dengusnya.
Yanto terdiam menatap ketiga anak majikannya itu. “Pak Boss pernah dengar gak. Kalau kita benci seseorang pas istri lagi hamil, maka anaknya nanti bisa jadi mirip orang yang kita benci.”
“Mitos itu!”
“Nyata Pak Boss. Coba perhatikan Bagas baik-baik. Dia mirip saya kan!” ucapnya seraya berlari keluar. Karena ia tahu sebentar lagi Miko akan mengumpat dirinya.
Yanto sendiri tak pernah ambil pusing. Baginya berdebat dengan Miko itu sudah jadi rutinitas setiap hari. Kalau tidak melihat atasannya marah-marah, ia jadi kurang mood.