Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Dikasih Salam



"Bunda, nanti mampir beli ice cream ya. Misel mau makan ice cream nanti di rumah nenek," pinta Misel yang saat ini tengah duduk di samping kemudi, dengan Rena yang memegang kemudi. Saat ini keduanya tengah dalam perjalanan menuju rumah Soraya -- ibu mertuanya Rena. Ini perdana Rena berkunjung kesana. Pagi tadi ibu mertuanya menelpon memintanya untuk berkunjung kesana. Jadi, sepulang kuliah Rena langsung pulang menjemput Misel, kemudian membawanya ke rumah Soraya. Tentunya sebelumnya Rena sudah meminta ijin lebih dulu ke sang suami, ia beralasan jika ingin belajar memasak dengan ibu mertuanya. Dan dengan senang hati Alby mengijinkannya.


"Tentu sayang. Tapi, tidak boleh banyak-banyak. Ingat kamu masih dalam pemulihan."


Misel mengangguk, "iya Bunda. Aku juga ingin cepat sembuh. Pengen buru-buru ke sekolah, soalnya bosan di rumah suka sendiri kalau pagi sampai siang. Hanya ada bibi dan Nany Ratri."


Rena menanggapinya dengan tersenyum tipis, mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala anak itu.


"Pengen punya teman Bunda. Ayo dong, mana janjinya Bunda sama Ayah, katanya mau memberikan Misel adik bayi," tambahnya kemudian.


Citttt!


Rena menginjak remnya secara mendadak, membuat tubuh keduanya sampai terhuyung ke depan. Beruntung mereka menggunakan sabuk pengaman.


"Bunda?"


"Maaf sayang, tadi ada kucing mau nyebrang soalnya," dusta Rena seraya mengusap Misel, memeriksa apakah putri sambungnya itu terluka. "Lagian ini tinggal belok aja kita sampai minimarket. Katanya mau beli ice cream"


"Iya Bunda. Misel tidak apa-apa kok, tapi lain kali hati-hati ya. Misel tidak mau Bunda terluka. Kata ayah kalau naik mobil harus hati-hati, atau nanti bisa terluka."


Rena terharu mendengarnya. Anak itu ternyata justru mengkhawatirkan dirinya. Segera Rena merengkuh tubuh Misel ke dalam pelukannya.


"Iya sayang. Makasih ya. Bunda sayang banget sama Misel," lirih Rena haru. Bagaimana putrinya bisa sepintar dan semenggemaskan begitu. Lalu, bagaimana ibu dari anak itu begitu tega meninggalkan anak itu. Rena yang baru mengenal Misel dalam waktu yang cukup singkat saja sudah begitu menyayangi anak itu.


Rena membelokan mobilnya ke minimarket, keduanya turun. Misel mengambil beberapa jenis ice cream. Sementara Rena membeli beberapa bahan masakan. Ia serius ingin belajar memasak. Ingatkan Rena soal soto ayam, ia ingin membuatnya, agar ketika nanti ketika sang suami minta dimasakin ia tak lagi menyuguhkan Indomie rasa soto lagi.


Usai mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Rena kembali melajukan mobilnya. Tinggal jarak beberapa meter keduanya akan sampai ke rumah Soraya.


Mobil Rena tiba di depan rumah Soraya. Sebuah rumah minimalis berlantai dua. Baik rumah Alby atau Soraya keduanya memang tak terlihat mewah, jauh dari rumah Daddy Rava. Tapi, Rena tetap merasa nyaman. Bagi Rena bukan rumahnya yang penting, melainkan penghuninya. Selama penghuninya bersikap hangat, rumah itu akan terasa nyaman.


Ketika turun dari mobil, di depan pintu ia sudah disambut oleh ibu mertuanya. Misel langsung berlari masuk ke dalam. Rena tersenyum dengan kedua tangannya yang menenteng barang belanjaan. Sampai di depan ibu mertuanya, Rena memindahkan salah satu belanjanya, kemudian menyalami Soraya dengan lazim.


"Kenapa mesti repot-repot sayang. Harusnya tinggal main aja, gak usah bawa apa-apa," ujar Soraya ketika menerima banyaknya belanjaan yang di bawa menantunya.


Rena tersenyum, "gak repot kok, Bu. Rena senang, kebetulan Rena lagi ada rejeki lebih. Itu juga karena sekalian antar Misel Berli ice cream tadi. Jadi, Rena beli beberapa bahan makanan. Gak tau sih benar apa gak nama-namanya, soalnya Rena sendiri sama sekali gak tau jenis bumbu-bumbu dapur." Rena meringis merasa malu. Dulu, Mommy Dinda sering mengomel kala dirinya diminta untuk ke dapur membantunya memasak, tapi menolak.


"Nanti kalau udah nikah bakal kalang kabut kalau kamu gak bisa masak. Mau dikasih makan apa suamimu. Mie instan tiap hari?"


Tapi Rena selalu menjawab. "Tenang Mom. Rena bakal nikah sama seorang pengusaha, jadi Rena tidak perlu repot-repot masak. Cukup delivery aja kan banyak uang. Terus kalau bosan sekali-kali masak mie instan, banyak varian rasa kok. Jamin suamiku pasti bangga memiliki istri seperti aku."


Jika dipikir ucapan Mommy-nya dulu benar juga ya. Jadi nyesal kenapa tidak belajar masak sejak dulu. Percuma selalu pintar juara kelas, tapi Rena tak tak bisa masak, tak bisa memanjakan lidah suami. Rena merasa kesal karena susah sekali membedakan nama-nama bumbu rempah-rempah, bahkan berkali-kali ia salah nyebut. Membuat Soraya terkekeh.


"Maaf ya, ibu. Habis susah banget bedainnya. Bentuknya sama aja, cuma warna, bau, dan teksturnya beda." Rena meringis canggung.


"Kalau jenis bawang aku tau kok Bu."


"Baiklah, sekarang kamu tinggal halusin ya. Buat bumbu untuk ayamnya."


Rena menurut mengambil cobek dan ulekan. Yang ia ingat kata Mommy Dinda, bumbu masakan lebih enak diulek daripada diblender. Jadi, Rena ingin mencobanya. Tapi naasnya saat ia mencoba menghaluskan bumbu-bumbu itu, justru semua isinya pada loncat.


"Diblender aja gak apa-apa sayang," ujar Soraya. Tapi Rena tetap kekeh ingin mengulek. Jadi, Soraya membiarkan saja, meski saat ini dapur terlihat berantakan tapi ia merasa senang. Sejak dulu ia memang mendambakan hal ini masak bareng dengan menantunya, tapi dulu mantan istrinya Alby sama sekali tidak suka dengan dapur. Jangankan untuk memasak, berjalan ke dapur saja ia rasa tidak mau.


"Nah jadikan, Bu." Rena berucap dengan bangga ketika telah berhasil membuat bumbu untuk merebus daging ayam, meskipun masih terlihat kasar. Tapi untuk pemula bagi Soraya tidak masalah.


Kini Rena mulai belajar merebus ayam bumbu. Soraya mengajarkan step by step, tidak susah mengajarkan menantunya itu meski terlihat kaku, tapi Rena cepat mengerti.


"Jangan lupa ayamnya kasih salam ya sayang," ujar Soraya.


Rena mengangguk, lalu mencondongkan wajahnya di atas panci. "Selamat siang ayam?"


Mendengar hal itu, Soraya tak lagi dapat menahan tawanya. Perempuan baya itu tertawa dengan sangat bahagia.


"Ehh, kok ibu ketawa. Oh salah ya salamnya ya, sebentar Rena ulangi!"


Soraya menggeleng, "bukan."


"Assalamualaikum, ayam!"


Soraya semakin tertawa, bahkan perempuan itu sampai mendudukan dirinya di kursi, ia merasa seluruh tubuhnya lemas karena tertawa. Rasanya sudah lama ia tak merasa sebahagia ini.


"Ibu, kenapa?" tanya Rena polos.


"Tidak apa-apa. Ibu ketawa, karena kamu lucu."


"Hah lucu?"


Soraya mengangguk, Rena merasa bingung, wajahnya sudah berantakan berikut dengan kunciran rambutnya yang acak-acakan.


"Maksud ibu ayamnya kasih daun salam. Bukan dikasih salam ucapan salam," terang Soraya, membuat Rena meringis karena telah salah sangka. Beginilah kalau menjadi orang yang sok tau.


"Oh iya Bu. Rena gak tau."


"Gak apa-apa sayang. Namanya juga baru belajar," Soraya tersenyum.