
Rena berlari menyusul suaminya yang lari dengan cepat. Sebenarnya bukan itu yang membuat Rena buru-buru menyusul suaminya, tapi tuduhan lelaki itu yang mengira Rena telah janjian dengan Dokter Ryan di sana. Padahal Rena sendiri sama sekali tidak tau jika Dokter Ryan akan berada di sana. Rena bahkan berusaha menghindar dari obrolan bersama Dokter Ryan, tapi ia tak juga cepat dilayani penjual ice cream. Mungkin karena Rena orang dewasa jadi justru di layani belakangan.
Rena jadi teringat kejadian tadi, ia tiba-tiba terkejut mendapati wajah merah padam sang suami tengah melangkah ke arahnya. Tapi, belum sempat tiba Misel sudah berteriak memanggil dirinya, bertepatan dengan itu Rena pun mendapatkan ice creamnya.
Dokter Ryan pun berpamitan untuk pergi lebih dulu, dia bilang harus cepat kembali karena mau pulang. Dan sekarang hasilnya suaminya kembali ngambek.
"Abang ih. Tunggu Rena dong bang, akunya ngos-ngosan," teriak Rena seraya mengatur nafasnya ketika telah tiba di sisi Alby.
Alby menoleh ke arah istrinya dengan kesal. "Senang banget ketemu si hama itu!"
Rena melepaskan topinya, seraya menduduki dirinya di hamparan rumput, dan mengipas-ngipaskan topinya.
"Aku gak sengaja ketemu bang. Lagi cuma bertegur sapa doang kok. Ya masa aku disapa diem aja sih bang!" jawab Rena seraya mengusap keningnya yang berkeringat.
Alby pun menekuk kakinya, mendudukkan dirinya di sebelah istrinya, tak lupa menoleh menatap wajah putih istrinya yang kini tampak kemerahan karena terkena paparan sinar matahari, dan juga keringat yang mengalir di keningnya, nafasnya masih tersengal-sengal. Ia jadi merasa kasihan tadi sudah membiarkan Rena berlari demi mengejar dirinya.
"Punya istri cantik itu susah juga buat gak cemburu," celetuk Alby kemudian membuat Rena menoleh ke arahnya dengan bibir yang terbuka.
"Namanya perempuan itu kan cantik bang. Gak semua laki-laki itu suka dengan kecantikan bang." Rena menjawab dengan logis.
Alby menghela nafasnya. "Tapi Abang gak suka Re, kamu didekatin laki-laki lain. Apalagi sama si hama itu. Heran gak di kampus gak di mana aja, ada aja yang dekatin kamu." Alby memainkan rumput di depannya, mencabutnya dengan kesal. Mengingat banyaknya laki-laki yang suka dengan istrinya, ia jadi berfikir bagaimana caranya agar lelaki yang mau dekat istrinya itu menjauh, dan Alby bisa tenang. Kayaknya ia harus mulai memikirkan ide itu.
"Setiap orang kan punya hak bang buat menyukai orang, masa iya Rena harus ngelarang. Lagian siapa sih yang suka sama Rena. Abang tuh ngaco Dokter Ryan itu gak ada apa-apa sama aku."
Alby mencebik kesal, kala istrinya kembali tak percaya ucapannya. Lalu kembali bangkit dari tempatnya.
"Bang? Abang masih ngambek?" tanya Rena seraya memegang lengan suaminya, untuk membantunya berdiri.
"Enggak! Udah yuk pulang. Hari ini kita ke rumah ibu ya," ujar Alby seraya kembali berjalan lebih dulu. Merasa sang istri tak segera menyusul Alby pun berbalik menoleh ke arah istrinya.
"Ayuk Re?" ajaknya.
Rena menggeleng. "Aku capek bang. Naik ojek aja ya. Atau Abang pulang lebih dulu deh, nanti jemput aku di sini. Gak kuat bang!"
"Orang sebentar lagi juga sampai kok," ujar Alby.
"Abang aja duluan. Rena mau nunggu ojek aja deh." Kekeh Rena, bahkan ia justru kembali mendudukkan dirinya di sana.
Alby menghela nafasnya, ya masa ia mau ninggalin istrinya di tengah jalan sendirian kaya orang ilang. Ia pun memutuskan untuk menghampiri istrinya, lalu berjongkok tepat di depannya membuat Rena menatap heran.
"Ayo naik!" titah Alby.
"Bang?"
"Ayo katanya capek. Cepetan Abang gendong, bentar lagi juga sampai."
"Gaklah bang. Abang kan juga capek," tolak Rena.
"Ck! Sudah buruan naik," sergah Alby.
Rena pun beranjak, dan naik di punggung sang suami. Alby kembali berdiri seraya memegangi tubuh belakang Rena.
"Tau gini aku tadi bareng Misel aja ya bang. Jadi, gak buat Abang susah. Maaf ya bang, aku berat gak?" tanya Rena kepalanya berusaha bergerak menatap wajah suaminya dari belakang.
"Iya berat. Kayaknya kebanyakan dosa ini."
Plak!
Rena menepuk pundak Alby dengan cemberut.
"Abang itu ngeselin!"
"Tapi ngangenin gak?" tanya Alby.
"Gak!" cebik Rena.
Alby terkekeh, Rena kembali terdiam meletakkan kepalanya di pundak sang suami. Memasuki area perkomplekan rumah, banyak sepasang mata yang menatap keduanya tak jarang menyapa. Alby pun balas menyapanya.
"Malu bang. Rena turun aja deh!" ucap Rena kala melihat banyaknya ibu-ibu yang tengah berkumpul membeli sayur.
"Gak usah. Orang dikit lagi sampai," tolak Alby.
"Pagi Pak Alby, Bu Rena. Pak Alby romantis bener gendong Bu Rena ya ibu-ibu," ujar Bu RT yang tengah memilih sayur.
"Pagi juga Bu." Rena dan Alby membalas sapaan ibu-ibu itu.
"Iya, ini. Tapi senang juga lihatnya. Jadi, kepengen juga digendong. Tapi sadar diri badan saya kaya gentong, kalau suami saya gendong saya kaya Pak Alby itu bisa-bisa encok tujuh hari tujuh malam," ucap salah satu ibu di sana yang memang tubuhnya sedikit gempal, yang berhasil mengundang tawa.
Albu terkekeh, Rena merasa malu menyembunyikan kepalanya di pundak sang suami. Alby pun berpamitan untuk segera berlalu pulang.
"Bang, Rena jadi kepengen belanja sayuran begitu bang!" ucap Rena.
"Kenapa? Tumben. Biasanya minta diantar di supermarket."
"Pengen tau sensasinya bang."
"Sensasi apa?" Alby membuka pintu gerbang dengan salah satu tangannya.
"Sensasi ngerumpi di tukang sayur bang!" jawab Rena cepat membuat Alby melongo, setelah menurunkan istrinya dengan cepat.
Aneh-aneh aja istrinya itu, lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk. Sarapan terus kita ke rumah ibu."
"Ih Abang. Dibilang Rena mau ke tukang sayur tadi bang. Sini dong bagi duit. Aku penasaran ini bang. Soalnya Mommy juga gitu di sana, eh pulang-pulang nanti bawa gosip terhangat." Rena menengadah tangannya di depan suaminya.
Alby merogoh sakunya, mengeluarkan uang pecahan berwarna hijau. "Hanya ada dua puluh ribu!"
"Gak apa-apa bang. Ini cukup." Rena berlalu menuju garasi membuat Alby heran katanya mau ke tukang sayur kenapa ke garasi. Tak berapa lama Rena keluar dengan membawa motor matic yang sering di pakai Pak Tono.
"Duluan ya bang. Sebentar kok, aku males jalan pake motor Pak Tono aja deh!" Tono merupakan suami dari BI Surti sekaligus sopir di rumah sang suami yang sering mengantar jemput Misel.
Alby menggelengkan kepalanya, menatap tubuh istrinya yang perlahan menjauh.
"Heran! Segitu penasarannya. Bini ku mau jadi admin lambe turah apa ya," celetuk Alby kemudian seraya berlalu masuk.
Tiga puluh menit kemudian, Rena kembali dengan membawa belanjaan di kantong kresek. Setelah memarkirkan motornya di garasi, ia berlalu masuk ke dalam dapur.
"Lho Bu. Belanja sayur, memangnya ibu pengen dimasakin apa? Kok gak ngomong aja sama bibi?" tanya Bi Surti heran melihat majikannya belanja sayuran.
Rena menggeleng. "Gak bi. Aku cuma coba-coba belanja di tukang sayur depan. Pengen tau sensasinya menggosip. Eh taunya sampai di sana udah sepi Bi. Ibu-ibunya sudah pulang. Rena kurang pagi ini, besok-besok mau yang lebih pagi lah."
Bi Surti melongo mendengarnya. Istri majikannya itu aneh-aneh saja.
"Ya dah Bi. Rena mau bersih-bersih dulu ya."
"Ya Bu!"