
Soraya menyusuri koridor rumah sakit, sambil membawa beberapa makanan seperti buah-buahan dan bubur di tangannya.
Tiba di ruang rawat inap Galih. Soraya langsung masuk. Tampak wajah Galih terkejut, namun ia pun tersenyum. Saat itu tengah ada dokter yang memeriksa kondisinya.
"Terimakasih ya Dokter," ucap Galih saat Dokter selesai memeriksa kondisinya, kemudian berlalu pergi.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Soraya to the point sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Lebih baik," jawab Galih sambil mengubah posisinya menjadi duduk meski dengan susah payah. Soraya yang melihatnya pun tak tega, kemudian ia maju dan membantunya.
"Terimakasih Soraya."
Soraya mengangguk dan berlalu ke meja mengambil makanan yang tadi ia bawa.
"Apa kau sudah makan?" tanyanya.
"Belom," jawab Galih.
Soraya membuka kotak makanan yang berisi bubur. "Aku membawa bubur, tapi ini aku beli. Karena aku kebetulan baru pulang dari kantor. Meski begitu aku jamin ini aman untuk orang yang sakit. Apa kau mau?" ujar Soraya.
"Boleh. Bawalah kemari biar aku makan," pinta Galih senang. Karena ternyata Soraya masihlah perempuan yang sama. Yang penuh perhatian dan lembut.
Soraya membawa bubur itu ke hadapan Galih dan memberikannya. Galih mengambil sendok dan berusaha untuk memakannya. Soraya yang melihatnya kesulitan, dengan cepat ia mengambil alih bubur itu.
"Biarkan aku membantumu. Kalau kau makan sendiri, sampai subuh pun ini tak akan usai," tukas Soraya.
Galih membiarkan Soraya menyuapinya. Meski perempuan itu memasang wajah jutek saat berhadapan dengannya, tapi Galih merasa cukup senang karena Soraya masih peduli dengannya. Ia bisa lebih lama menatap wajah perempuan yang pernah ia sia-siakan dulu dalam jarak yang begitu dekat. Baginya Soraya tetap cantik meski telah berusia, meski terlihat kerutan halus di wajahnya, tapi itu tidak mempengaruhi kecantikannya.
"Terima kasih Soraya. Kamu masih peduli padaku," ujar Galih.
"Hem.." Soraya mengambil air putih yang di atas nakas memberikannya pada Galih. "Aku melakukannya karena adalah kau Ayah dari putraku," imbuh Soraya tak ingin Galih salah paham.
"Aku tau," sahut Galih sadar diri. "Tapi aku cukup senang," tambahnya.
Soraya meletakkan bekas bubur itu di atas nakas. "Dokter bilang harusnya kau dioperasi untuk pencangkokan ginjal. Kenapa kau tak melakukannya? Uangmu banyak, hartamu tak akan mungkin habis, hanya untuk operasi dan mencari pendonor ginjal kan?" tanya Soraya heran. Karena ia sendiri pernah bertanya dengan dokter yang menangani mantan suaminya itu.
"Untuk apa?" tanya Galih dengan wajah masam.
"Tentu saja agar kau sembuh. Memangnya kau sudah ingin cepat mati," pungkas Soraya.
Galih tersenyum tipis. "Yang aku inginkan hanya satu Soraya."
Soraya menoleh ke arah mantan suaminya dengan tanya.
"Alby? Aku ingin bertemu dengannya, dan mendengar dia sudah memaafkanku itu saja. Tidak ada yang lain," ucapnya sedih.
Soraya menghela nafasnya. Meski kata-katanya terdengar ia sudah tidak peduli, tapi entah kenapa hatinya pun ikut merasakan sakit mendengarnya. "Aku belum berhasil membujuk Alby. Maafkan aku," kata Soraya.
Galih tertawa kecil dan menggeleng. "Bukan salahmu kenapa kau minta maaf?"
"Aku hanya-"
"Kau selalu seperti itu Soraya. Meminta maaf untuk sesuatu kesalahan yang tak kau lakukan. Dan itu yang membuat aku begitu kagum dan merasa beruntung telah mengenal dan memilikimu," kata Galih.
"Tapi kau menyakitiku," pungkas Soraya.
Galih mengangguk. "Ya. Dan itu kesalahan terbodohku. Aku menyesal, tapi semua juga percuma, sudah berlalu dan aku tidak bisa mencegahnya."
"Bagaimana jika aku tidak berhasil membujuk Alby?" tanya Soraya, ia berusaha mengalihkan pembicaraannya, karena jika menyangkut masa lalu ia akan terus merasa pedih. Soraya pikir akan lebih baik jika itu di lupakan.
"Tidak apa-apa. Karena setiap perbuatan pasti ada balasannya. Dan mungkin itu balasanku," sahut Galih pasrah.
"Lalu?"
"Lakukan operasi pencakokan ginjal, agar kau lekas sehat seperti sedia kala. Karena aku yakin Alby pasti akan memaafkan mu. Kau harus menebus waktumu bersamanya yang terbuang percuma kan. Aku tidak menyukai sifatmu yang pasrah seperti ini," tukas Soraya.
"Soraya aku-"
"Pikirkan ucapanku. Maaf aku harus segera pulang, sudah malam kau istirahatlah," pamit Soraya berlalu pergi.
****
Rena masih stay di depan laptop miliknya yang kini ia bawa di atas ranjang, saat tiba-tiba suaminya pun ikut naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sisi Rena.
Perempuan itu hanya menoleh sesaat, sebelum kemudian kembali fokus pada laptopnya. Tiba-tiba Alby menjahilinya dengan cara mengusap-usap pahanya, membuat Rena merasa geli.
"Bang?"
"Hemm."
"Tanganmu loh," kata Rena.
"Cuma pegang dikit aja gak boleh," cetus Alby menarik kembali tangannya.
Rena menghela nafasnya. "Aku belum selesai ini bang. Sebentar lagi ya, katanya mau istrinya cepat lulus," jelas Rena.
"Iya deh." Alby merubah posisinya menjadi telentang, membiarkan istrinya melanjutkan aktivitasnya. Rena menoleh melihat wajah suaminya, keningnya mengerut seperti tengah memikirkan sesuatu, hal itu membuat dirinya merasa penasaran.
"Apa yang Abang pikirkan?" tanya Rena, membuat Alby tersadar.
"Sudah selesai emangnya?" tanya Alby balik.
"Kok malah nanya balik," dengus Rena tak suka.
"Kalau kamu belum selesai, ya selesaikan aja dulu. Kapan-kapan Abang cerita, Abang mau tidur." Alby merubah posisinya menyamping setelah sebelumnya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Rena segera menyimpan file nya, kemudian menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas. Ia pikir ada sesuatu yang ingin suaminya ceritakan.
"Ada apa bang?" tanya Rena lembut seraya memeluk tubuh suaminya dari belakang.
Alby yang saat itu tengah memejamkan kedua matanya pun kembali membukanya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap istrinya.
"Pasti ada yang mau Abang ceritakan ke Rena kan?" lanjut Rena menebak.
Alby menyusupkan kepalanya di dada istrinya kemudian berkata dengan lirih, "pusing Abang Re."
"Kenapa?" Rena mengusap kepala suaminya.
"Ibu bilang Papa masuk rumah sakit, karena dia menderita gagal ginjal. Ia ingin bertemu denganku dan meminta maaf. Tapi, Abang masih belum mau Re. Abang merasa masih sakit hati," ujar Alby.
Rena menyentak nafasnya. Lagi-lagi sifat keras hati sang suami pun kembali hinggap. "Sebenarnya setiap manusia itu tidak ada sempurna. Mereka pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi, jangan jadikan kesalahan itu menjadi benci, hingga membuat penyakit hati. Temuilah Papa bang. Katakan padanya bahwa kamu sudah memaafkannya. Ikhlaskan segala sesuatu yang telah berlalu, jangan jadikan semua itu beban. Percayalah dengan ikhlas memaafkan hatimu akan merasa lapang."
Alby terdiam mencerna ucapan istrinya.
"Aku tau semua itu mungkin tidak mudah. Tapi, jika kamu tidak bisa melawan ego kamu. Aku hanya takut suatu saat kau akan menyesal bang. Kita temui Papa ya bang?" lanjutnya.
"Akan Abang pikirkan, Re."
Rena mengangguk. "Oh ya, di rumah sakit mana Papa di rawat?"
"Anggara."