Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Drama Ibu Hamil Di Pagi Hari



Kalau istrinya sudah pasang mode begitu. Ia bisa apa selain menuruti keinginannya. Apalagi kata Dokter mood ibu hamil itu naik turun. Ia hanya ingin Rena merasa bahagia dengan kehamilannya.


Dengan gerakan pelan, Alby mulai naik ke atas ranjang. Memiringkan tubuhnya, ia mulai mendekap tubuh istrinya dari belakang. "Maaf ya buat kesal. Ini Abang udah naik ke atas. Tidur ya sayang, sudah malam," bisik Alby di telinga istrinya.


Rena tersenyum dan membalikkan tubuhnya, hingga posisinya kini saling berhadapan dengan sang suami.


"Sayang pelan-pelan dong kalau balik badan," tegur Alby pelan.


"Iya bang. Udah pelan kok, aku kan mau begini." Rena meringsek memeluk suaminya.


Alby mengusap tangan istrinya yang kini melingkar diperutnya. Beberapa saat kemudian, Rena mulai terlelap. Namun, Alby justru merasa tubuhnya terasa panas dan tersiksa. Kala tangan istrinya kini justru menyingkap pakaiannya, dan mengusap-usap perutnya. Lelaki itu sejak tadi menahan nafasnya. Percayalah saat ini ia merasa sangat tersiksa. Ingin ia melepaskan tangan istrinya. Namun, ia juga takut jika itu akan mengusik tidur Rena dan mempengaruhi kesehatannya. Tapi, jika tidak dilepaskan. Alby akan tersiksa sampai begini.


"Ya ampun, nak. Baru juga nongol di perut Bunda. Kamu udah nyiksa Ayah begini," keluh Alby.


Hoby baru Rena yang suka mengusap-usap perutnya saat tidur itu benar-benar membuat dirinya hampir kehabisan akal. Jika, saja tidak mengingat Rena tengah hamil. Tentu saja ia pasti akan langsung menerkam istrinya.


Bahkan Alby sampai heran. Rena yang hamil dan berisi dalam perutnya. Tapi kenapa jadi perutnya yang di usap-usap. Harusnya Rena mengusap perutnya sendiri.


Pukul lima lewat tiga puluh pagi Rena membuka kedua matanya. Salah satu tangannya meraba sisi ranjangnya, ia tak menemukan siapapun. Sontak hal itu membuat ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Suamiku hilang!" pekiknya tertahan. Ia berusaha mencari Alby dengan wajah bingungnya.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Alby keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, rambutnya basah tengah diusap-usap menggunakan handuk kecil di tangannya untuk mengeringnya.


"Eh, kok udah bangun?" seru Alby berniat melangkah mendekati istrinya.


Bugh!


Satu buah bantal melayang menghantam tubuhnya, membuat Alby terkejut.


"Kok dilempar sih sayang?" Alby mengambil bantalnya yang di depannya. Kemudian, membawanya ke ranjang istrinya. Ia duduk di pinggir ranjang menatap istrinya dengan lembut.


"Kenapa? Abang salah apa sayang? Maaf ya," kata Alby lembut seraya mengusap kepala istrinya. Namun, Rena menepisnya menatap Alby dengan kesal.


"Re?" panggil Alby. Entah sudah yang ke berapa kali lelaki itu mencoba bersuara.


"Abang jahat!" ucap Rena mulai merajuk, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Loh... Loh... Kok nangis? Abang salah apa?" tanya Alby khawatir. Bukannya menjawab Rena justru mulai terisak. Di saat seperti ini, Alby percaya kesabarannya tengah diuji dengan habisnya.


"Sayang?"


"Teganya Abang bangun. Gak bangunin aku. Rena kan takut Abang ilang," seru Rena pada akhirnya.


Alby melongo mendengarnya. Perkara sepele saja ternyata buat masalah. "Ya maaf sayang. Abang udah kebelet tadi soalnya. Kamu kan lagi tidur nyenyak, mana tega Abang bangunin sih," sahut Alby lembut.


"Tetap saja Abang tuh salah!" sergah Rena.


Alby menelan ludahnya. "Iya! Iya Abang yang salah sayang. Maaf ya," sahutnya seraya menarik sang istri dalam dekapannya.


Rena mengangguk. Meringsek kembali ke dalam dekapan sang suami. Sesaat Alby jadi paham.


"Gak boleh diulangi?" pintanya.


"Iya sayang."


****


Sore hari, sebuah mobil Lamborghini Aventador berhenti tepat di depan rumah Alby dan Rena. Miko keluar dengan membawa paper bag di tangannya. Ia menekan bel pintu, sebelum kemudian seorang satpam membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.


"Selamat sore every body?" sapa Miko begitu masuk ke dalam rumah sahabatnya itu.


Sontak semua penghuni yang ada di ruang tamu pun menoleh. Rena mempersilahkan lelaki itu masuk.


"Gak apa-apa kok. Aku udah sehat!"


"Bay the way. Selamat ya, wihh Pak Alby top cer juga," celetuk Miko asal. Membuat Alby sontak menoleh ke arahnya.


"Apa itu top cer?" tanya Alena penasaran.


"Halah. Kau anak kecil mana ngerti!" ucap Miko pada Alena. Karena ia tau kalaupun dijelaskan pasti akan menjadi panjang, hingga membuat jadi satu bab sendiri.


"Sembarangan! Aku mau nikah tau. Minggu depan aku mau lamaran. Kamu gak kasih selamat gitu ke aku gitu!" kata Alena.


"Males!" celetuk Miko, membuat Alena cemberut.


"Iya! Iya selamat ya Alena. Gak nyangka si bocil mau nikah juga," ucap Miko seraya mengacak-acak rambut Alena.


"Es Kiko setan!" umpat Alena.


"Aku bilangin ya sama Pak Dokter biar di omelin!" ancam Miko.


Alena langsung terdiam memanyunkan bibirnya. Rena tersenyum, rasanya ia sudah lama tidak melihat kedua sahabatnya itu bertengkar. Alby merasa pusing melihatnya. Akhirnya, ia lebih memilih pamit ke ruang kerjanya.


"Masa jenguk orang sakit pake tangan kosong. Anak pengusaha tekstil woy, pelit amat!" celetuk Alena.


"Aku malas bawain makanan buat kamu, Le. Soalnya kagak ada puasnya," ujar Miko seraya meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja. "Ni mainan buat Misel," sambungnya kemudian.


"Lah. Buat Misel? Yang sakit kan emaknya. Kamu kira Rena suruh makan mainan anaknya," ejek Alena.


"Dari pada tangan kosong. Kamu sendiri bawa apa?" ejek Miko tak terima.


"Bawa menu baru lah. Dari restoran bokap!"


"Nah gratisan. Mendingan aku dong beli!" sahut Miko bangga.


Rena jadi pusing mendengarkan perdebatan keduanya yang tak ada habisnya. Perempuan itu mengucapkan terimakasih, dan berpamitan untuk ke dapur berniat memanggil Misel dan membuatkan minuman untuk Miko.


Tak lama kemudian Rena kembali dengan tangan kosong. "Nanti ya. Lagi dibuatin sama Mamanya Misel," ujar Rena sambil mendudukkan dirinya kembali.


"Mamanya Misel?" tanya Miko bingung. Pasalnya, terakhir yang ia dengar perempuan itu berada di penjara.


"Iya. Mama kandung Misel, kebetulan ia lagi buat kue sama Misel," jelas Rena.


"Bukannya waktu itu kamu bilang di penjara?" tanya Miko heran.


"Udah keluar! Ah kamu ketinggalan info. Kebanyakan ngintilin Hira mulu sih, akhirnya patah hati deh. Gimana rasanya ditinggal pas sayang-sayangnya?" ucap Alena.


"Sakit, Le!" Miko menepuk dadanya.


"Lebay!" cibir Alena dan Rena bersamaan.


Tak lama kemudian, Miranda dan Misel menghampiri ketiganya dengan membawa nampan di tangannya.


"Maaf ya nunggu lama. Soalnya tadi nanggung takut kuenya gosong," ucap Miranda.


"Gak apa-apa mbak. Makasih ya, repotin mbak jadinya. Soalnya si Bibi lagi ijin pulang kampung dua hari," ujar Rena.


Miko masih terdiam mencoba melihat ke arah Miranda, karena perempuan itu sejak tadi hanya menatap ke arah Rena.


"Ayo dong dicob-"


"Kamu??!" pekik Miko terkejut, begitupun dengan Miranda.