
“Sayang?” Miko beranjak dari tempatnya mendekati istrinya. Namun, Miranda memalingkan mukanya ke arah lain, bukan karena ia marah pada sang suami. Hanya saja perasan tiba-tiba ia ke kembali merasa menjadi manusia yang paling buruk.
Rena yang merasa situasi menjadi tak enak, pun beranjak dari tempatnya mendekati Miranda dengan pelan. “Semua sudah berlalu mbak untuk apa masih diingat?” ujar Rena pelan.
“Tapi Re. Kadang itu juga menjadi suatu penyesalan buat aku. Ketika semua itu terbayang, aku menjadi sadar aku hanyalah manusia yang penuh dosa, aku kejam kan.” Miranda menutup wajahnya saat matanya mulai merembes.
“Penting bagi kita untuk bisa memaafkan diri sendiri mbak. Karena kita perlu belajar dan melanjutkan kehidupan,” kata Rena bijak.
Miranda membuka kedua tangannya menatap Rena yang tersenyum ke arahnya. “Jika kami pun sudah memaafkan kesalahan mbak. Kenapa mbak sendiri tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sungguh, tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, setiap orang pasti sudah melakukan kesalahan,” sambungnya.
Miranda meresapi setiap kata yang terlontar dari sahabatnya itu. Ia tersenyum getir, manakala menyadari begitu dewasanya sifat Rena, bahkan usianya tergolong lebih muda darinya. Inikah yang dinamakan usia tak menjadi tolak ukur seseorang untuk bersikap dewasa.
“Iya mbak. Kami minta maaf kalau tadi....”
“Tidak apa-apa, bukan salah kalian. Aku saja yang muda baper,” sahut Miranda memotong ucapan Alena, kemudian kembali tersenyum. Pada akhirnya suasana kembali seperti sedia kala.
Alby beranjak dari tempat duduknya. “Abang mau ke mana?” tanya Rena.
“Jemput Misel sayang, udah waktunya dia pulang kan.”
Rena mengangguk.
“Emang lagi di mana anakku itu?” tanya Miko.
“Misel kan lagi les piano. Masa kamu lupa sih,” jawab Miranda.
Miko mengangguk. “Weh mau jadi pemain piano ntar anakku ya.”
Alby menghela nafasnya. “Ya udah lah aku jemput dulu ya. Takutnya dia udah kelamaan nunggu.”
“Eh Pak Alby tunggu!” cegah Miko membuat langkah Alby kembali terhenti.
“Kenapa Mik?” sahutnya.
Miko beranjak dari tempat duduknya, membuat semua orang menatapnya heran.
“Udah Pak Alby duduk. Misel biar aku yang jemput, dia pasti senang Papanya yang paling ganteng ini jemput!” ucap Miko dengan percaya diri.
“Ehem....” Miranda berdehem pelan, membuat Miko menggaruk tengkuknya salah tingkah.
“Cuma jemput doang kok sayang. Bolehkan?” tanya Miko.
Miranda mengangguk. “Iya sana.”
“Aslinya gak perlu lho Mik. Misel kan...”
“Udah gak apa-apa dia juga anak aku kok,” sahut Miko dengan cepat berlalu. Alby kembali duduk.
****
“Urip sun lagi ketiban lintang, gemerlap Cahya sinare terang.” Yanto tengah bernyanyi sambil mengelap mobil yang baru saja ia cuci.
“Dorr!!”
Yanto berjingkrak kaget, ketika ada seseorang yang mengejutkannya. Hampir saja ia melemparkan kanebo yang basah pada orang itu. Beruntung ia dengan cepat menoleh. Wajah yang semula hendak marah, berubah menjadi berbinar bahagia. Saat melihat gadis remaja yang kini berdiri di depannya, tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya, membuatnya betah memandang tak berkedip.
“Ya Tuhan, ini bidadari turun dari mana ya,” gumamnya terpesona.
Clara terkikik seraya melambaikan tangannya di depan wajah Yanto. “Bang Yanto?” panggilnya membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
“Iya Neng Clara kesayangan Abang?” sahutnya spontan ia menepuk mulutnya. “Maksudnya Neng Clara ada perlu apa?” ralatnya kemudian.
“Gak ada, cuma pengen gangguin Bang Yanto aja. Habis bosan pengen main gak punya duit.”
“Aduh kalau di ganggu Neng Clara mah Abang mau. Emang mau main kemana Neng?” tanya Yanto seraya kembali mengelap mobil.
“Mati aku!” gumamnya.
Clara terkikik geli melihat wajah Yanto ketakutan melihat kedatangan kakaknya. “Kamu nyuci mobil dari tadi gak selesai-selesai. Malah godain adik aku ya!”
“Priben sih Pak Bos Iki, senenangane kok fitnah wae,” dengus Yanto. (Gimana sih Pak Boss ini, sukanya kok fitnah terus).
“Priben-priben, dasar mister priben,” kata Miko menirukan gaya bicara Yanto yang ngapak. “Kunci mobil mana?” sambungnya.
Yanto segera mengeluarkan kunci mobil dalam sakunya memberikan pada Miko. Lalu menekan kunci pembuka pintu, sebelum masuk ke dalam mobilnya, lelaki itu menoleh kepada adiknya.
“Clara masuk! Gak usah deket-deket kepriben ini!” titahnya.
“Kakak kenapa sih? Abang Yanto kan baik lucu lagi, Clara suka.”
Eh? Kata-katanya membuat Miko dan Yanto melongo. “Manyan buat hiburan dikala stress,” sambungnya. Seketika membuat Miko menghela nafas lega. Yanto mengerucutkan bibirnya ke depan.
“Masuk sana!” titahnya.
“Gak mau ah. Aku kan mau minta duit sama kakak!” Clara menengadah tangannya.
Miko berdecak merogoh saku celananya, keluaran uang berwarna hijau, dengan cepat ia memberikan pad adiknya. “Ni hijau-hijau kaya matamu kalau liat duit. Buat kamu semua deh gak usah kembali.”
“Cuma segini sih!” protes Clara.
“Gak ada lagi, gak bawa dompet. Udahlah segitu cukup, emang mau beli apa sih? Paling beli Abang cilor yang lewat kan. Dah lah aku mau jemput anak aku dulu. Kalau kurang minta tambahin Yanto, dia duitnya banyak,” ujar Miko asal sebelum berlalu masuk ke dalam mobil. Clara dan Yanto menatap mobil Miko yang berlalu.
“Cuma dua puluh ribu beli apa ya?” gumam Clara berpikir keras.
“Ice cream indo April Neng," jawab Yanto.
Clara tersenyum sumringah. “Iya juga!" Ia langsung meraih tangan Yanto, “ayo bang,” sambungnya.
“Eh kemana Neng?”
“Indo April anterin beli ice cream. Clara takut diculik,” jawabnya asal. Tanpa memberi Asisten kakaknya untuk menjawab, gadis remaja itu terus menggandeng lengan Yanto menuju minimarket terdekat. Sampainya di sana ia kalap mengambil jenis makanan ringan hingga penuh satu keranjang.
Ketika sudah di total oleh kasir, total belanjanya 218.950 rupiah.
“Yah kurang dua ratus ribu. Abang bayarin ya. Nanti uangnya diganti deh sama kakak?” ujar Clara.
Yanto mengangguk, membuat Clara tersenyum senang. Dua kantong keresek besar telah berada di tangannya. “Kecil-kecil makannya banyak juga ini bocah,” gumam Yanto.
Keluar dari indo April Yanto kira Clara langsung pulang, ternyata perempuan itu memilih duduk di kursi depan sambil menikmati ice cream di tangannya, alasannya takut meleleh kalau di bawa pulang.
“Neng, belum selesai apa?” tanya Yanto.
Clara yang masih melahap ice cream di tangan. “Bentar lagi lah bang. Kata Mama gak boleh makan sambil jalan. Lagian Abang mau kemana sih buru-buru banget.”
“Mau pulang kampung neng,” sahutnya.
“Yahh, kok pulang kampung. Clara ikut ya Bang. Di kampung pasti seru bisa main ke sawah,” kata Clara.
Yanto terperangah mendengarnya. “Jangan sekarang lah Neng.”
“Terus kapan?” tanya Clara kesal.
“Nanti kalau Neng udah dewasa,” jawab Yanto asal. Saat ini yang ia pikirkan hanya untuk menyudahi pembicaraan itu.
“Dewasa itu umur berapa?” tanya Clara polos.
“Kalau Neng dah lulus sekolah SMA,” jawab Yanto seakan ia tengah melakukan wawancara sama bocah. Clara mengangguk, “oke deh. Tunggu sekitar lima tahunan lagi. Sekarang kan aku baru kelas satu SMP.”