Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Lagi Viral



"Selamat ya Re, semoga langgeng. Miss turut bahagia," ucap Miss Dira selaku dosen di sana, membuat Rena bingung, saat perempuan itu memaksa untuk menyalami tangannya, setelahnya berlalu pergi.


Belum cukup Rena menebak apa yang terjadi. Teman-teman yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Memberikan ucapan selamat yang Rena sendiri tidak mengetahui untuk apa. Ia bingung pasalnya sejak ia masuk ke dalam kampus, teman-temannya mengucapkan hal itu, membuat Rena yang mengikuti mata kuliah pun tak dapat konsentrasi hingga mata kuliah berakhir. Kini Rena tengah duduk di kursi panjang bawah pohon.


"Dihh, yang lagi viral," celetuk Alena yang tiba-tiba datang dan duduk di sisi Rena.


"Apa yang viral?" tanya Rena bingung.


Alena berdecak, "pernikahan kamu dan Pak Alby. Ciee, pak dosen udah mengakui kalau kamu istrinya."


Rena melongo mendengarnya, "hah?"


"Hah heh hah heh..." Celetuk Alena kesal melihat tanggapan sahabatnya itu. "Makanya kamu tuh harus update dong, Re. Jangan cuma mikirin belajar mulu, punya ponsel gak pernah dibuka. Sekalinya dibuka cuma buat Nerima telpon ayang beb doang. Sekali-kali jadilah anggota lambe turah dong!"


Rena menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memang ia jarang membuka ponsel jika memang tidak ada yang penting. Jadi, kini ia buru-buru membuka tas miliknya lalu mengeluarkan ponsel miliknya, dan membuka aplikasi hijau berisi grup universitas miliknya. Rena menganga melihatnya ketika melihat foto pernikahan dirinya dan sang suami terposting di sana, kemudian deretan ucapan selamat tampak memenuhi. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan patah hati, karena lelaki pujaannya ternyata sudah menikah.


"Ya ampun Abang!" Pekik Rena kala menyadari suaminya lah yang memberikan pengumuman itu. Rena juga membaca pesan dari sang suami yang mengatakan bahwa dirinya telah resmi mengundurkan diri menjadi dosen di sana, dan mengatakan untuk membantu menjaga Rena karena dirinya tidak lagi bisa menjaga Rena di kampus.


Rena juga membaca pesan dari Nella dan Nena, mereka mencak-mencak karena merasa kesal baru mengetahui pernikahan sahabatnya itu.


"Tunggu kita balik ke Jakarta ya. Habis kamu kita peretin nanti, Re. Teman gak ada ahlak kawin kagak ngundang-ngundang!"


Begitulah isi pesan keduanya, karena memang keduanya saat ini tengah berada di kota Malang menghadiri acara keluarganya.


Rena memilih menutup ponselnya tanpa membalas isi pesan keduanya, membiarkan temannya yang tengah jauh di sana kesal. Rena terkikik sendiri membayangkan wajah kesal kedua temannya itu.


"Laki mu kenapa pake keluar segala dari kampus sih, Re. Jadinya banyak anak-anak yang patah hati. Mereka bilang udah patah hati tau dia udah ada bini, sekarang malah bilang keluar juga," terang Alena.


Rena tersenyum, "mau fokus ke perusahaan katanya."


"Widihhh... Istri CEO ini?" puji Alena takjub, seraya menepuk kedua tangannya.


"Dih, biasa aja. Aku mau Abang jadi dosen apa CEO apa Direktur, tetap cinta kok Le?"


Alena melengos, "dasar bucin!"


"Makanya Le. Move on dong move on, atau aku cariin aja gimana?" tawar Rena. Ia kasihan melihat sahabatnya yang begitu mengharapkan Miko, padahal lelaki itu sama sekali tidak peka.


Alena menggeleng. "Gak ah. Takut kecewa juga!"


"Dih belum siap tempur udah nyerah duluan. Aku jodohin sama dokter deh mau gak?" tawar Rena, tiba-tiba ia jadi ingat Dokter Ryan rasanya tidak masalah jika ia mengenalkan Alena dengan lelaki itu.


"Takut jarum suntik aku, Re!" jawabnya membuat keduanya tergelak hingga terbahak kencang. Alena akui ia memang takut dengan jarum suntik, makanya ia memilih berbeda jurusan dengan Rena, karena ia memang tak ingin menjadi dokter. Rasanya bagi perempuan itu ia anti rumah sakit.


"Bahagia banget kalian, gak ngajak-ngajak!" Miko tiba-tiba menimbrung dan duduk di sisi Alena, sebelah tangannya ia angkat untuk ia letakkan di pundak perempuan itu.


Alena langsung menepisnya dengan kasar. "Dikira sandaran tembok apa? Tanganmu ah, risih tau!" cebik Alena kesal.


"Sensi banget sekarang sama aku sih, Le. Dulu bahkan kita dekat, sedekat jantung dan hati. Sekarang kita jauh kaya kepala ke kaki!"


"Tuh lihat, pacarku imut-imut kan. Lucu gitu," ujar Miko bangga, tak sadar membuat wajah Alena menjadi masam.


Alena mengibaskan tangannya, lalu bangkit tempat duduknya. "Panas banget ya, Re. Aduh gerah banget, aku kesana dulu ya Re, mau beli es campur biar dingin!"


Miko segera memegang tangan Alena, "perasaan mendung gini kok bisa panas sih?"


"Suka-suka akulah. Lepas!" sergah Alena seraya menyentak tangannya membuta genggaman Miko terlepas, kemudian gadis itu berlari menjauhi Miko.


Rena menatap sahabatnya itu dengan sendu, seandainya Alena tidak melarang, tentu saja ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Miko.


"Dia kenapa ya, Re? Akhir-akhir ini sensi banget sama aku. Di ajak main gak mau, pulang bareng gak mau. Aku salah apa ya Re?" ujar Miko heran melihat perubahan Alena akhir-akhir ini.


"Ehem... Yakin kamu gak tau?" tanya Rena.


Miko menggeleng, "iya! Kamu tau, kasih tau Re. Kalau emang aku salah biar aku minta maaf padanya. Jujur aja aku ngerasa kehilangan dengan perubahan dia itu, aku ngerasa dia semakin jauh gitu."


"Kan kamu udah punya pacar, wajarlah Alena ngejauh. Dia mau jaga perasaan pacarmu!"


Miko menggeleng, "aku ngerasa ada yang lain. Dia itu natap aku kaya benci gitu."


Rena tersenyum lalu menepuk pundak Miko, sambil berdiri. "Makanya coba-cobalah pandai membaca hati orang lain. Dan juga menjaga perasaan orang lain, terutama sahabat aku itu."


"Maksudnya?"


"Aku minta jangan terlalu memuja pacarmu di depan sahabatku itu ya. Kasihan sahabat ku itu, kebanyakan makan hati jadinya!" Setelah mengatakan hal itu, Rena berlalu pergi meninggalkan Miko yang masih terdiam.


"Gak mungkin kan kalau Alena itu... Ah tidak-tidak, itu tidak mungkin." Miko mengusap wajahnya frustasi.


****


Hari ini memang Rena hanya ada satu mata kuliah, jadi setelahnya Rena berniat menjemputmu Misel di sekolahnya. Ia akan membawa anak itu mengunjungi suaminya di kantor. Rasanya tidak masalah, karena hari ini pun Rena tidak ada jadwal di rumah sakit.


"Bunda?" Misel begitu bahagia kala melihat Rena turun dari mobil menghampirinya.


"Maaf ya, Bunda sedikit lama jemputnya," ujar Rena.


Misel menggeleng, "gak apa-apa Bunda. Senang banget Bunda jemput Misel ke sekolah."


Rena tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada guru yang menemani Misel menunggu dirinya sebelum tiba tadi. Setelahnya, ia membawa putrinya itu masuk ke dalam mobil.


"Bunda kita mau kemana?" tanya Misel begitu dalam mobil.


"Samperin ayah ke kantor ya sayang."


"Asyik, aku mau minta coklat sama Tante Mil," ujar Misel girang, membuat Rena mengusap kepalanya dengan lembut.