
Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari, Rena baru membuka kedua matanya. Misel masih terlelap dalam dekapannya, sementara di sebelahnya sudah terlihat kosong. Suara gemercik air dari dalam kamar mandi, menyadarkannya jika sang suami sudah bangun dan saat ini dalam kamar mandi.
Rena melepaskan tangannya dari genggaman Misel secara pelan. Setelahnya ia mengubah posisinya menjadi duduk, lalu melihat jam Beker di atas nakas. Rena menjuntaikan kakinya ke lantai berniat untuk keluar dari sana menuju dapur. Ia ingin membantu asisten rumah tangannya menyiapkan sarapan. Ingatkan Rena soal kejadian kemarin sore perkara soto ayam dalam kemasan mie instan, Alby terus menggerutu merasa Rena sudah membohongi, padahal memang ia sendiri tidak bisa masak, masih untung ia bisa masak mie instan dibandingkan dengan Nada (putrinya Alan dan Vriska- kalian bisa baca novelnya dengan judul Do you love me? Nah kan jadi promo, hehe).
Karena hal itulah kini Rena memutuskan untuk belajar memasak, kebetulan hari ini ia bisa berangkat sedikit siang, karena jadwal kuliahnya sedikit mundur. Rena melangkahkan kakinya bersiap keluar dari kamar itu.
"Mau ke mana, Bun?"
Rena kembali memutar tubuhnya mendengar suara suaminya. Terlihat Alby baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi sebatas pinggangnya, lalu salah satu tangannya menggenggam handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Terlihat tetesan air yang mengalir dari rambutnya membuat Albu terlihat tampan dan menawan, hal itu membuat Rena menatap takjub tak berkedip.
"Bun??" Alby kembali memanggil membuat Rena tersadar.
"Ehh iya!" Rena menggaruk tengkuknya, mendadak ia menjadi salah tingkah, mendengar panggilan sang suami serta melihat tubuh Alby yang nyaris terlihat polos. Tiba-tiba ia menjadi penasaran isi dalam handuk itu seperti apa ya. Rena buru-buru menepuk otaknya, yang ia rasa sudah konslet, dan berubah menjadi perempuan yang mesum.
"Aku mau ke bawah bang, mau bantuin bibi buat sarapan kamu sama Misel," imbuhnya kemudian setelah berhasil menetralkan pikirannya.
"Nanti dulu, ambilin aku pakaian kerja dulu ya," pinta Alby.
"Tapi Bang, biasanya juga kan-"
"Ya tapi aku mau mulai sekarang kamu yang nyiapin. Udah buruan tinggal ambil doang kok, ini akunya keburu kedinginan, sayang!"
Kedua pipi Rena langsung merona mendengar panggilan sayang dari Alby untuk pertama kalinya. Bahkan hal itu langsung membuat Rena menurut melangkah ke lemari.
'Perasaan Mommy dan Daddy juga sering manggil aku sayang. Tapi, kok ini rasanya beda ya. Jantung aku kaya mau lepas dari tempatnya gitu' batin Rena.
Begitu membuka pintu lemari, Rena merasa bingung. Pasalnya pakaian sang suami sangat banyak bahkan hampir semua berwarna netral, ia bingung bagaimana memadukannya, bagaimana selera suamimya.
"Abang mau pakai yang mana?" tanya Rena.
"Yang mana aja, pilihan kamu."
"Duhh aku bingung bang. Yang mana ini!" desak Rena.
Alby berdecak lalu meletakkan handuk kecilnya di atas meja kursi, melangkah ke arah istrinya.
"Yang mana bang? Ih malah gak jawab lagi."
"Yang ini." Alby menunjuk salah satu kemeja berwarna navy dan ia sudah berdiri di belakang Rena, jika di lihat dari belakang keadaannya yang nyaris tak berjarak, mereka seperti tengah berpelukan.
Rena merasa gugup, saat punggungnya tak sengaja bergesekan dengan dada bidang polos sang suami, bahkan hangatnya nafas dapat ia rasakan, kala dengan sengaja Alby justru meletakkan dagunya di pundaknya saat ini.
"Ambilkan dong, sekalian pakaikan ke aku. Gimana sih, istri aku ini!"
"Tapi bang-"
"Udah buruan," pungkas Alby membuat Rena dengan cepat mengambil kemeja yang di maksud suaminya tadi. Setelahnya ia berbalik, hingga keningnya membentur dada polos sang suami.
"Aduh!!" pekiknya.
"Opss! Maaf. Sakit ya, sini coba ku lihat." Alby menarik kepala istrinya, mengecek keningnya lalu meniup-niupnya. Rena terdiam menatap wajah sang suami yang terlihat lebih segar, menikmati perlakuan sang suami, padahal jika di pikir itu sama sekali tidak sakit, tapi entah kenapa Rena merasa sangat menyukai perlakuan manis Alby saat ini. Tak sadar perempuan itu tersenyum. Pandangan Alby turun pada mata, hidung dan bibir istrinya yang tengah tersenyum itu, entah kenapa tiba-tiba Alby merasa ingin mencicipinya.
Kini Alby dengan cepat merengkuh pinggang istrinya, membuat Rena tersentak.
"Em bang emmmhh-"
Rena tak lagi melanjutkan ucapannya saat dengan cepat, Alby menyambar bibirnya, me lu mat dan membelitnya. Rena merasa sesak nafas, saat sang suami bahkan tak memberinya kesempatan untuk bernafas. Ia teramat terkejut akan perlakuan sang suami yang secara tiba-tiba menciumnya di pagi hari seperti ini, apakah meminta diambil pakaian adalah caranya untuk modus.
Bahkan ciuman yang semula halus, kini menjadi rakus saat dengan cepat Alby memaksa perempuan itu untuk membuka mulutnya, menyapu seluruh isi dalam bibir sang istri. Detik demi detik berlalu, Rena yang semula merasa menolak, kini justru menikmati ciuman itu, bahkan ia sampai memejamkan keuda matanya, membalas ciuman sang suami. Hingga membuat kemeja yang ia ambil kini terlepas, dan teronggok ke lantai begitu saja.
Kini kedua tangan Rena berada dalam dada bidang sang suami yang tanpa kain penghalang, hingga membuat Rena bebas mengakses, menyentuh, mengusap otot-otot dalam perut sang suami. Alby merasa darahnya berdesir saat tangan lembut sang istri terus mengusap perutnya, ia membiarkan saja sang istri melakukan hal itu.
Kini ciuman Alby beralih pada leher jenjang sang istri, memberikannya jejak kebasahan di sana. Menimbulkan sensasi yang panas, hingga membuat Rena berhasil mengeluarkan suara leguhan nikmat.
Rena baru merasakan bibir sang suami yang menjelajahi dirinya, bagaimana kalau sesuatu yang lain. Sisi otak kotor Rena mulai bermunculan. Kini, perempuan itu justru memberanikan diri mengusap-usap sesuatu di balik kain handuk sang suami.
"Emm s-sayang." Alby meleguh saat tangan istrinya kini justru beralih menyingkap handuknya, lalu mengusap dan meremas sesuatu di dalamnya. Hal yang membuat Alby merasa terkejut. Mungkin inilah yang di namakan naluri seorang yang normal.
Rena pun merasakan tubuhnya berdesir saat kini, saat Alby berhasil membuka kancing piyama bagian atasnya, memperhatikan sesuatu belahan yang menggoda. Lalu, Alby mulai memainkan lidahnya di sana.
Kini suasana kamar itu menjadi sangat panas akan aktivitas panas keduanya, di depan lemari dengan posisi berdiri.
Di saat hasrat keduanya sudah saling bergelora, suara putrinya justru kembali mengusiknya.
"Ayah sedang apa?"
Sontak Rena langsung mendorong tubuh sang suami, "Abang pakai aja bajunya sendiri!" Rena merapikan pakaiannya dengan cepat, lalu berlalu pergi menghampiri Misel. Ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya terlena dengan perlakuan sang suami, hingga membuat ia melupakan keberadaan Misel di kamar putrinya. Beruntunglah tadi belum dalam keadaan polos.
"Bunda habis ngambilin baju ayah. Yuk Misel kembali ke kamar, Bunda mandiin ya!" Rena menggendong Misel membawanya keluar dari kamar.