
Mobil Lamborghini Aventador milik Miko tiba di loby PT. Irawan Tex Industri TBK. Sebelum membuka pintu mobilnya, lelaki itu menatap ke arah samping. Matanya memicing melihat tas kotak makan bergambar Barbie Rapunzel, ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya seraya mengambilnya.
"Ini pasti punya Mbak Miranda. Kasihan ayang beb, niatnya bawa bekal, eh malah ketinggalan. Ini namanya rejeki nomplok, kan akhirnya masaknya buat calon suami." Lelaki itu sedikit membuka resleting pada tas itu, mengeluarkan kotak bekalnya lalu membukanya. "Wahh nasi goreng, kesukaanku ini. Emang yang namanya rejeki itu tidak kemana ya," lanjutnya kemudian seraya menutup kotak bekal itu, memasukkan ke tas bekal itu. Sesaat ia jadi berpikir kalau nanti perempuan itu mencari makanannya gimana?
"Gak apa-apa deh. Nanti tinggal ku pesenin makanan untuknya, anggap saja buat ganti nasi goreng ini. Masa iya dimakan calon suaminya gak ikhlas sih," kata Miko.
"Tuan?" sapa penjaga yang sejak tadi sudah membukakan pintu mobilnya.
Pemilik nama asli Zatmiko Irawan itu langsung menoleh dan berdecak. "Kenapa? Kamu nguping ya omongan saya!"
"Tidak Tuan! saya cuma-"
"Ah sudahlah karena saya lagi senang, saya tidak mau marah-marah. Kamu parkirin mobil saya ya. Saya mau masuk!" Titah Miko setelah keluar dari mobilnya.
"Maksud saya, Tuan Irawan sejak tadi sudah menunggu anda," ucap penjaga.
"Hemm... Sudah tau. Nah ini boss mu udah telpon mulu," tunjuknya pada ponsel miliknya yang berdering. "Ya sudahlah saya mau masuk!" sambungnya kemudian.
Lelaki itu melangkah masuk dengan menenteng tas bekal milik Miranda. Hari pertama ia masuk ke perusahaan Papanya itu, ia merasa senang selain karena habis bertemu dengan tambatan hati, ia juga mendapatkan bekal dari perempuan itu. Miko tak hentinya menebar senyum ramahnya, pada karyawan Papanya. Kadang juga bertegur sapa. Hal itu tentu menarik para perempuan yang bekerja di sana, mereka menjadi salting dan berbisik-bisik. Pasalnya biasanya lelaki itu akan memasukinya kantor Papanya dengan wajah datar.
Miko melangkah ke arah lift menuju ruangan Papanya. Tentu saja sebelum bekerja ia harus memastikan apa tugasnya di sana.
****
Usai melakukan operasi, di rumah sakit Anggara tengah melakukan rapat guna meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien. Bahkan rumah sakit itu tak tanggung akan merekrut Dokter baru.
Dokter Ryan menatap ke arah penampilan Rena dengan pandangan aneh.
"Kenapa Dokter? Kok natap aku begitu sih? Ada yang aneh ya?" tanya Rena seraya menelisik penampilannya. Pasalnya sejak rapat berlangsung hingga usai, lelaki itu terus menatap aneh ke arahnya. Saat ini semua penghuni ruangan itu sudah berlalu keluar, dan hanya tertinggal Dokter Ryan dan Dokter Rena.
"Tidak! Aku hanya tengah melihat kayaknya beberapa hari terakhir ini penampilan kamu baru ya? Fashion baru gitu?" tanya Dokter Ryan.
Rena mencebik, menyadari jika lelaki itu pasti menatap aneh pada pakaian yang ia kenakan. "Bajunya kebesaran, Re. Kamu pakai baju siapa?" sambungnya bertanya sambil tertawa kecil, karena tubuh mungil Rena yang terbalut dalam kemeja berwarna biru laut itu terlihat kedodoran.
"Oh ini!" Rena mengangkat lengannya di mana terlihat lengan bajunya ia lipat. "Baju Abang dong," sambungnya kemudian. Membuat Dokter Ryan tertawa.
"Oh pantas! Tumbenan begitu!"
"Terlihat aneh ya Dok? Habis gimana ya," kata Rena seraya mengusap perutnya. "Cuma kalau pakai baju Abang doang aku tidak mual. Dan masuk kerja gini aku nyaman!"
Dokter Ryan mengangguk paham, karena meski bukan spesialis dokter kandungan ia paham hormon ibu hamil itu memang begitu. "Bagus kok, Re. Hanya terlihat kebesaran makanya tadi aku nanya," ucap Dokter Ryan seraya beranjak dari kursinya, kemudian keluar dari ruangan itu. Rena pun melangkah menyusulnya.
"Tapi aku bingung! Tatapan orang di sini menatap aku aneh. Seakan-akan penampilan aku gimana gitu!" ujar Rena heran.
"Gak usah pedulikan omongan atau tatapan orang-orang, gimana senyaman kamu aja" tutur Dokter Ryan bijak.
Rena menghela nafasnya. "Iya sih! Cuma aku jadi mikir apa aku terlihat jelek ya."
"Jadi, kalau nanti aku jelek suamiku gak mencintai aku lagi? Begitu ya maksudnya Dok?" cecar Rena kesal bahkan ia sampai berdecak pinggang, membuat Dokter Ryan menelan ludahnya.
"Bukan gitu, Re. Percayalah, apapun keadaan kamu Pak Alby pasti tetap akan mencintaimu," terang Dokter Ryan kemudian. Ia tak menyangka ternyata mengahadapi ibu hamil sesulit itu. Ini yang hamil sahabatnya, bagaimana nanti kalau ia sudah menikah dengan Alena, dan perempuan itu hamil.
'Semoga saja nanti Alena tak sensitif ini,'
"Aku perlu protes sama Abang berarti!" decak Rena kemudian. "Awas saja kalau dia macam-macam, karena badanku akan melar," lanjutnya.
"Re?"
"Aku permisi dulu Dok. Mau telpon Abang."
Belum sempat Dokter Ryan melanjutkan ucapannya. Rena sudah berlalu meninggalkannya.
Sepeninggal Rena, Dokter Ryan menatap arloji di tangannya. "Aduh ada janji mau di butik sama Alena lagi. Hampir aja aku lupa," ucapnya seraya menepuk keningnya. Kemudian, buru-buru masuk ke ruangannya untuk beres-beres.
****
Alena sudah tiba di butik milik Miranda bersama dengan Elena. Sudah setengah jam yang lalu ia tiba dan sudah di jamu makanan dan minuman oleh Miranda sambil menunggu kedatangan calon suaminya.
Namun, nampaknya ia harus menelan rasa kecewa karena lelaki itu tak kunjung tiba di sana. Padahal ia sangat berharap lelaki itu datang.
"Mau dicoba aja gaunnya, sayang?" tawar Elena.
Alena yang masih menatap ke arah pintu masuk menggeleng. "Nanti ma. Aku kan nunggu Pak Dokter," sahutnya lirih penuh harap.
Elena berdecak antara rasa kesal dengan putranya dan rasa kasihan terhadap calon menantunya. "Ryan ini benar-benar. Sudah Mama bilang ambil ijin dulu sehari, kok ngeyel. Anak itu kok ya pelek banget sama Pak Bastian kalau urusan kerja nomor satu tiada yang bisa menggantikan," omel Elena.
Mendengarnya bukannya kesal, Alena justru tertawa. Calon mertuanya itu memang lucu, kebiasaan kalau lagi kesal dengan sang suami pasti akan memanggilnya dengan sebutan nama.
"Iya ma. Aku juga kesal, pengen hukum Abang!" sahut Alena mengompori.
"Nanti biar mama yang menghukumnya." Elena melangkah mendekati Alena dan duduk di sisinya. "Kamu mau Mama menghukumnya apa sayang?" sambungnya kemudian.
Alene terdiam terlihat tengah berpikir sesaat.
"Nyapu, ngepel, apa masak. Atau gak boleh menemui kamu seminggu?" tawar Elena.
Alena menggeleng. "Jangan ma."
"Terus apa dong sayang?"
"Suruh kuras kolam renang aja pakai gelas ma," celetuk Alena kemudian.
Elena melongo mendengar ide calon menantunya, yang jauh lebih absurd.