
Miko meraba kasusnya, ia mengerutkan keningnya kala tak menemukan siapapun di sisinya.
“Sayang?” panggilnya langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Kedua matanya langsung terbuka, ia memindai tiap inci kamar, tak ada siapapun di sana. Kemudian tatapannya beralih pada jendela kaca yang sebagian sudah terbuka gordennya, matahari sudah mulai naik.
“Udah pagi aja sih. Kan gagal beneran semalem,” decaknya seraya menjuntaikan kakinya ke lantai. Ia keluar dari kamarnya.
Turun ke bawah, ia melihat ruang televisi tampak televisinya menyala. Ia pikir istrinya berada di sana, lantas ia pun menghampiri.
“Yanti!!" panggilnya dengan keras, membuat Yanto yang saat itu tengah fokus menonton program acara gosip pun terlonjak.
“Pak Boss!”
“Dasar lambe turah, pria kok tontonanya gosip,” celetuk Miko.
“Pak Boss tuh gimana, ini tuh penting. Boss gak ngikutin gosip yang lagi beredar sih.”
“Halah..”
“Ini loh gosip artis yang mengalami KDRT kan trending. Dasar boss kurang update!”
“Kamu berani ngatain boss kamu kudet. Gajimu potong lagi lima puluh persen,” ancamnya.
“Potong terus lama-lama habis, aku berasa kerja rodi," sungut Yanto.
“Makanya jangan berani macam-macam. Dahlah lanjutin nontonnya, aku juga mau menemui istriku mau KDRT.” Miko beranjak menuju dapur, yang a pastikan istrinya saat ini pasti tengah sibuk membuat sarapan, meninggalkan Yanto yang saat itu tengah terbengong akibat ucapan bossnya yang terkahir.
“Wahh gak bisa dibiarin ini. Masa baru nikah sebulan Pak Boss Mau KDRT sama bininya. Aku harus melindungi Bu Miranda,” ucapnya seraya beranjak dari kursinya menyusul majikannya dengan cepat.
Sementara itu, Miko yang tiba di dapur langsung memeluk istrinya dari belakang.
“Masak apa sayang?” tanyanya.
“Soto. Waktu itu kan pas kamu sakit bilang pengen makan soto, ini aku buatin. Mumpung ada waktu dan aku ingat,” ujar Miranda.
“Kayaknya enak sekali. Dari baunya udah menggoda kaya yang masak,” puji Miko.
Miranda terkekeh. “Iya. Makanya sana tunggu di meja, sebentar lagi selesai kok. Nanti, sekalian aku bungkusin buat di bawa ke kantor ya. Di sana kan ada dapur kalau mau hangat nanti kamu tinggal minta OB buat ngangetin.”
“Iya sayang. Padahal harusnya jangan bangun pagi-pagi, aku kan mau lanjutin yang semalam,” celetuk Miko yang masih merasa tak rela adegan mantap-mantapnya harus tertunda. Miranda mematikan kompornya, menghela nafasnya kemudian berbalik menghadap suaminya, lelaki itu tampak sekali wajahnya terlihat kesal.
“Udah pagi kan kita juga harus kerja. Nanti malam ya,” bujuk Miranda.
Miko mengangguk seraya memandang ke arah bibir istrinya yang tampak menggoda pagi ini. “Tapi moorning kiss ya?"
“Hah?"
“Begini loh sayang.” Miko menundukkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya pada istrinya, ketika bibirnya hampir menempel, tiba-tiba...
Bugh!
Punggung Miko di pukul seseorang dari belakang. Miranda yang sempat memejamkan matanya pun kini membuka matanya dan terbelalak. Melihat suaminya jatuh tersungkur.
“Yanto apa yang kamu lakukan?" pekik Miranda, mendapati asisten suaminya itu hendak memukul suaminya dengan centong. Sementara, suaminya tengah meringis akibat dorongan kuat yang di lakukan oleh Yanto tadi.
“Udah ibu diam saja. Biar aku yang bereskan Bapak,” titahnya.
“Sialan! Kamu–”
“Apa? Pak boss itu jangan beraninya sama perempuan aja. Kalau berani melawan aku aja ini.” Yanto menggulung lengan kemejanya, memperlihatkan otot-otot kuatnya. “Gini-gini saya di kampung, jago manjat pohon kelapa,” sambungnya bangga.
“Ngomong apa kamu?” sergah Miko dengan wajah kesal, lagi-lagi adegan mesranya harus harus gagal karena Yanto. Ia pikir asistennya itu perlu di buang ke hutan Amazon biar gak ganggu.
“Pak Boss itu tadi bilang mau KDRT sama Nyonya kan. Untung aku datang tidak terlambat,” kata Yanto membuat Miko dan Miranda melongo.
“KDRT apa? Orang aku mau cium istriku setan, kamu datang-datang ganggu aja,” umpat Miko kesal.
Yanto melongo mendengarnya, sedetik kemudian ia meringis tak enak hati. “Ya Pak Boss kan tadi bilangnya mau KDRT,” cicitnya.
“Kalau gitu yang salah berarti Pak Boss. Ngapain di singkat-singkat," belanya.
“Kamu nyalahin aku?”
“Udah-udah ini kenapa malah jadi pada ribut sih. Udah siang kita sarapan terus berangkat kerja,” sela Miranda melerai keduanya. Hingga akhirnya keduanya pun duduk dengan tenang di meja makan.
“Sayang ngapain sih kamu buatin dia sarapan juga? Orang mah kasih aja kuahnya," celetuk Miko yang masih merasa kesal.
“Gak boleh gitu dia kan tamu kita,” ujar Miranda.
“Tamu apaan? Orang pengganggu gitu,” sungut Miko.
“Ya maaflah Pak Boss. Maklumin lah aku kan lagi patah hati,” seru Yanto.
“Patah hati?” seru Miranda.
“Iya sayang dia semalam mabuk karena patah hati. Itu kekasihnya yang namanya Cermai selingkuh bunting duluan sama laki-laki lain,” sela Miko.
“May boss.Kok jadi Cermai sih, Pak Boss ini suka banget ganti nama orang,” celetuk Yanto.
Miranda hanya tertawa kecil, bisa banget suaminya punya asisten begitu.
“Ohh begitu. Ngapain harus sampai mabuk?Masih banyak perempuan kok. Masih untung kamu tahu sekarang, coba kalau dah nikah,” tutur Miranda.
“Betul itu. Makanya aku bilang besok lagi kalau mau mabuk beli teh gelas aja di warung paling ujung sayang,” seru Miko.
Miranda hanya tertawa, sementara Yanto mendengus kesal.
“Ya udah deh sekarang aku mau kerja yang semangat kumpulin duit yang banyak.”
“Bagus!”
“Sambil menunggu Neng Clara beranjak dewasa, Abang Yanto siap meminang.”
“Bilang apa tadi?” decak Miko.
“Neng Cla–”
“Gak boleh. Adik ku masih kelas 1 SMP tunggu-tunggu.”
Miranda jadi pusing sendiri, selama sarapan berlangsung keduanya terus beradu mulut, hingga membuat salah satunya tersedak.
****
Sebelum berangkat ke kantor, Alby mengantarkan istri dan anaknya lebih dulu. Pukul tujuh lewat lima belas menit, Alby melajukan mobilnya menuju sekolah putrinya, Rena tampak duduk dengan tenang di samping kursi kemudi.
“Ayah, Bunda nanti aku pengen nginap di rumah Mama dong,” pinta Misel pada kedua orangtuanya.
“Boleh nanti sore Ayah dan Bunda antar ke rumah Mama dan Papa ya," sahut Alby.
Misel justru menggeleng. “Gak perlu. Bunda cukup hubungi Mama aja biar jemput aku sekolah. Aku kan juga pengen ke butik Mama, mau gangguin Tante Eva.”
Rena menggelengkan kepalanya, putrinya itu senang butik Miranda hanya untuk menganggu Eva. Kalau begitu kapan dapat jodohnya si Eva.
“Iya nanti Bunda telpon Mama ya,” ujarnya.
“Iya Bunda.”
“Besok aku ada jadwal cek kandungan, Abang mau temenin gak?” tanya Rena.
“Boleh. Jam berapa sayang?"
“Sepuluh. Kalau Abang gak sempat ya gak apa-apa sih!”
“Abang usahakan sayang.” Bagi Alby keluarga tetap nomor satu, untuk ia itu selama proses kehamilan istrinya, ia tidak pernah melewatkan jadwal cek kandungan, ia pasti akan terus menemani sang istri. Apalagi saat melihat hasil bibit unggulnya di monitor yang bergerak-gerak lucu, itu menjadi dorongan semangat untuk dirinya dalam bekerja. Keduanya sepakat untuk merahasiakan jenis kelamin sayang bayi.