Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ngambek Tujuh Bulan



“Ada apa sih Pak Dokter? Gak tahu waktu ini bertamu kok malam-malam?” cecar Miko ketika sudah berada di depan Ryan.


Ryan memindai penampilan Miko dari atas sampai bawah, ia menggaruk tengkuknya dengan perasaan tak enak, melihat penampilan lelaki itu tampak berantakan, seketika ia paham bahwa kehadirannya telah menganggu.


“Maaf ya Mik aku ganggu,” cicit Dokter Ryan tak enak.


“Banget!” selorohnya. “Gak tahu orang tuh malam ngapain gitu apa? Datang malam-malam,” imbuhnya rasanya kepalanya pusing karena hasratnya harus tertunda akibat kedatangan lelaki itu.


“Ya udan langsung aja yuk?” ajak Dokter Ryan.


“Kemana?” pekik Miko.


“Anterin aku ke rumah Pak Samsul penjual Mie Ayam. Alena lagi ngidam Mik, tolongin aku ya. Aku gak tahu rumahnya, kata Alena kamu tahu. Ayolah anterin, masa kamu tega sih nanti anak temanmu itu lahir ileran,” bujuk Dokter Ryan.


“Yang ngidam kan istrinya Pak Dokter kenapa aku jadi ikut-ikutan dibuat susah,” cetusnya ia masih tidak terima adegan panasnya terhenti akibat kedatangan lelaki itu, padahal hanya tinggal sebentar lagi. Tahu gak sih atas bawahnya itu cenut-cenut, kepalanya terasa pusing karena hasratnya belum juga tersalurkan sampai selesai, ia mengumpat kenapa nasibnya kebanyakan sial saat sedang mantap-mantap, dulu Agus sekarang suami sahabatnya itu.


“Barter deh Mik barter,” bujuk Dokter Ryan lagi. Lelaki itu merutuki diri baru kali ini rasanya ia memasang wajah melas, dan semua demi menuruti permintaan istrinya.


“Barter apaan?”


“Ya nanti kalau Mbak Miranda hamil terus ngidam, kamu boleh minta tolong apa aja deh sama aku,” ujar Dokter Ryan.


Miko berpikir sesaat, ada benarnya juga ya saran suami sahabatnya itu. Bagaimanapun kan dia juga pengen punya anak. “Oke deh. Ayo aku anterin,” ucapnya.


“Tapi sebentar–”


“Apaan?” sergah Miko.


“Itu loh maksudnya.” Dokter Ryan menelan ludahnya gugup.


“Apaan?”


“Kancing kemeja kamu tuh benerin, masa kelihatan merah-merah gitu.”


Miko melihat pakaiannya yang memang hanya terpasang secara asal-asalan, hingga membuat bercak kemerahan di tubuhnya sebagian terlihat, karena ia tadi terburu-buru. “Tahu kan aku lagi ngapain? Gak tahu waktu sih bertamu,” decaknya seraya membenarkan kancing kemejanya.


“Terpaksa Mik. Nanti kalau udah pulang dilanjut lagi deh,” ujar Dokter Ryan seraya berlalu keluar dari rumahnya, Miko hanya mengikutinya dari belakang.


****


Rumah yang terlihat mencolok di pinggir jalan terhitung tua, dengan pagar besi hitam. Diapit oleh rumah-rumah besar disekitarnya, membuat posisi rumah itu terlihat mencolok. Jejak karat di pagar mencoba disamarkan dengan polesan yang juga tidak banyak membantu. Beratap genteng dengan tembok berwarna putih yang sepertinya ditimpa warna biru, tidak mengubah kesan tua dan suram.


Dua buah mobil terparkir berdampingan di halaman dan membuat orang-orang yang lewat menatap heran. Bagaimana tidak satu mobil berupa sedan tua yang mengelupas catnya. Sedangkan satu mobil lagi berupa mobil sport hijau daun yang mencolok mata.


“Kamu yakin itu rumahnya?” tanya Dokter Ryan seraya menunjuk ke arah rumah tua itu.


“Iyalah Pak Dokter masa aku bohong,” jawab Miko dengan raut wajah sedikit kesal, sudah dikasih tahu dan dianterin masih saja tidak percaya.


“Bukan begitu rumahnya tua tapi koleksi mobilnya.” Dokter Ryan masih menatap heran rumah itu. Ia merasa aneh rumahnya terlihat tua, tapi mobilnya sangat bagus.


“Pak Dokter itu mau beli mie ayam apa mau jadi petugas sensus sih,” dengus Miko kesal.


“Iya-iya beli lah. Ya kali aku jadi petugas sensus,” desis Dokter Ryan tak terima. Lantas, keduanya pun turun dari mobil, menghampiri rumah itu. Dokter Ryan celingak-celinguk mencari sesuatu.


“Bell pintu! Kamu itu gimana sih, masa udah makan bangku kuliah masih saja gak tahu adab bertamu.”


“Aku gak makan bangku ya Pak, makanku nasi seperti manusia pada umumnya,” tukas Miko tak terima dikasih tahu makan bangku enak saja. “Lagian kalau ngomongin adab bertamu, Pak Dokter jauh lebih gak beradab. Coba bayangkan bertamu ke rumahku tengah malam, ganggu saya lagi mantap-mantap aja,” imbuhnya.


“Iya sorry-sorry, kalau gak demi anak istri aku juga ogah,” sahut Dokter Ryan merendah, ia sudah malas dari tadi terus berdebat dengan Miko. “Jadi, gimana ini kok gak ada bellnya,” sambungnya.


“Tinggal masuk aja terus ketuk pintu.” Miko membuka pagar besi yang sama sekali tidak dikunci.


“Lho, tidak dikunci. Ini orang gak takut kemalingan apa ya?” gumam Dokter Ryan heran. Namun, ia mengikuti langkah kaki Miko mendekati pintu. Miko meminta Dokter Ryan yang mengetuk pintunya.


Satu kali...


Dua kali....


Belum juga ada jawaban, rasanya kepala Dokter Ryan ingin meledak. Haruskah ia pulang dengan tangan kosong, bagaimana nanti dia mendengar ocehan istrinya.


“Coba satu kali lagi Pak Dokter!” saran Miko.


Ryan mengangguk, melayangkan tangannya untuk mengetuk pintu. Tak berapa lama ia tersenyum manakala pintu di terbuka dari dalam. Seorang lelaki setengah baya dengan kaos biru serta dalam balutan kain sarung, wajahnya terlihat berantakan khas bangun tidur.


“Siapa ya?” tanyanya.


“Aku Pak Samsul!” jawab Miko karena ia tahu jika dengan dirinya lelaki itu pasti langsung kenal, beda dengan Dokter Ryan pasti akan terjadi proses yang alot.


“Oh Nak Miko. Ada apa ya nak?” tanyanya.


“Kenalin Pak ini Dokter Ryan suaminya Alena.” Miko memperkenalkan Dokter Ryan pada lelaki itu. Keduanya lantas saling berjabat tangan.


“Oh ini suaminya Neng Alena tow. Ganteng pisan ya, pintar anak itu cari suami,” celetuk Pak Samsul.


“Jadi kedatangan kami sebenarnya–”


“Pak, ada siapa sih. Bertamu kok tengah malam begini!” suara seorang perempuan terdengar kesal dari arah dalam.


“Ini loh Bu, nak Miko sama Dokter Ryan suaminya Alena,” sahut Pak Samsul setengah berteriak, hingga membuat perempuan itu melangkah keluar. “Ini lho istri saya namanya Suci,” sambungnya mengenalkan istrinya.


“Ini ada apa ya?” tanya Bu Suci.


“Sebenarnya gini Pak kedatangan saya kesini mau beli mie ayam bapak,” ujar Dokter Ryan langsung.


“Lho malam-malam begini saya–”


“Saya mengerti Pak. Tapi, saya mohon istrinya saya lagi ngidam mie ayam sama es jeruk Bapak. Kalau sampai saya gak dapat dia bakal ngambek sama saya selama 7 bulan,” kata Dokter Ryan membuat Miko melongo tak percaya jika Alena akan seperti itu.


“Gimana ini Bu?” Pak Samsul bertanya pada istrinya.


“Ya udah kita buatin aja. Kasihan kan masa Pak Dokter dijengkelin istrinya sampai 7 bulan.”


guys mampir di novel baru aku yuk, klik profilku deh.