Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Nasehat



Pukul delapan malam Soraya baru tiba di kediamannya. Begitu mobil yang dikemudikan sang sopir berhenti, ia langsung keluar dan berlari masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.


"Nyonya?"


Soraya menghentikan langkahnya, ketika bertemu dengan Bu Darti.


"Bibi, apa Alby datang kemari?" tanya Soraya.


"Saya tidak melihatnya Nyonya. Soalnya sejak tadi saya berada di belakang," sahutnya. "Memangnya ada apa ya Nonya?" tanyanya kemudian.


Soraya menggeleng, "tidak apa-apa Bi. Ya sudah saya ke kamar dulu ya. Bibi istirahat saja sudah malam."


Perempuan itu berlalu, menapakkan kakinya satu persatu menyusuri tangga rumahnya. Ia menghela nafasnya, ingin segera sampai ke kamar putranya.


Tok! Tok!


"By. Ini ibu, apa kamu di dalam nak?" tanya Soraya setelah mengetuk pintu. Meski itu kamar putranya, tak pernah membiasakan diri untuk langsung masuk begitu saja.


Sunyi, tak ada sahutan apapun dari dalam. Soraya lantas mencoba membuka handle pintu, ketika sudah berhasil terbuka, kamar itu terlihat begitu gelap. Dengan pelan Soraya mencoba menjangkau saklar lampu yang tak jauh dari pintu.


Ketika keadaan kamar sudah terang, Soraya menghela nafasnya. Ia melihat putranya tertidur tengkurap di atas ranjang dalam keadaan berantakan, dan sepatu masih menempel di kakinya.


"Sudah Tua, masih kekanak-kanakan anak ini. Ada masalah bukannya bicarakan baik-baik malah lari. By sifatmu ini, kok ya lebih dewasa Rena," keluh Soraya seraya menggelengkan kepalanya. Perempuan itu beringsut mendekati putranya, duduk di pinggir ranjangnya. Kemudian tangannya terangkat untuk menepuk kaki Alby.


"Bangun! Bangun by. Ibu gak suka kamu begini. Bangun dan cepat pulang, istrimu menunggumu di rumah," seru Soraya.


Alby yang memang pada dasarnya tidak benar-benar tertidur pun merasa terusik, karena guncangan yang ibunya berikan.


"Ibu, sebentar Bu. Lima menit," pintanya.


"Gak ada. Kamu kalau mau tidur pulang, ibu gak ngijinin kamu tidur di sini tanpa istrimu," sergah Soraya kali ini menepuk pan tat putranya dengan keras, membuat Alby mengaduh langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Menatap ibunya dengan sebal.


"Apa?!" sentak Ibunya, "dasar kekanak-kanakan."


"Bu, aku akan pulang. Tapi tidak sekarang, besok saja ya. Aku butuh waktu Bu," lirihnya.


Soraya menggelengkan kepalanya, melihat penampilan putranya yang begitu berantakan, rambut acak-acakan. Pakaiannya nampak kusut, dan jangan lupakan lingkaran hitam di matanya.


"Gak begini caranya by. Kamu kalau ada masalah gak bisa lari begitu saja, bicarakan baik-baik dengan Rena. Kegagalan rumah tanggamu dulu, harusnya menjadi pelajaran yang berharga untukmu. Rena itu berbeda dari Miranda, By. Mungkin kalian hanya salah paham. Pulanglah, ibu tidak suka kamu begini. Kamu sudah bukan anak-anak yang bila ada masalah lari ke rumah ibu dan mengadu," ujar Soraya.


Alby memalingkan mukanya, langsung tertunduk. Apa yang ibunya katakan memang benar, tapi ia pun hanya manusia biasanya. Rasa kecewanya pada istrinya saat ini terlalu besar, Alby hanya ingin menepi sebentar. "Aku tau Bu. Tapi aku butuh waktu sebentar saja, sampai aku bisa merasa bisa menerima-"


"By?"


"Bu, aku terluka Bu, aku kecewa. Rena tidak menginginkan anak dariku. Apakah dia sama seperti Miranda yang hanya mementingkan kariernya?" Alby menyela ibunya.


Soraya menatap putranya dalam-dalam, Alby terlihat begitu sedih, matanya nampak berembun. "By, tidak begitu. Kau pasti hanya salah paham."


Alby menggelengkan kepalanya, "dia sendiri yang mengatakan tidak ingin hamil!"


Alby menarik nafasnya pelan, lalu mulai menceritakan pokok permasalahannya.


Plak!


"Ibu! Kenapa malah mukul aku sih Bu?" tanya Alby kesal saat sang ibu justru memukul pahanya.


Soraya memijat kepalanya, "kamu itu By. Kok ya kekanak-kanakan banget, hanya karena cemburu sampai menyembunyikan pil kontrasepsi milik istrimu, terus kamu berniat menghamilinya tanpa membicarakan padanya lebih dulu. Jelas Rena murka by."


"Kok ibu malah jadi bela Rena sih?" desis Alby heran.


Soraya menepuk pundak putranya. "Bukan ibu membela Rena, By. Tapi saat ini posisimu jelas salah. Kau bilang dulu saat Rena mengatakan ingin menunda, kau menyetujuinya. Seharusnya seandainya tiba-tiba kini kau menginginkan segera memiliki anak, kau pun harus membicarakan dengannya. Bukan dengan cara kau mengambil keputusan sepihak."


Alby menatap ibunya, "memangnya ibu tidak menginginkan cucu?"


Soraya terkekeh kecil, "kebahagiaan kamu lebih utama By. Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia, tidak lebih. Ibu tidak minta apa-apa lagi. Seandainya tiba-tiba kamu diberi momongan lagi, tentu saja ibu senang. Tapi, ibu tidak akan mendesak. Rumahmu tanggamu milikmu, ibu tidak berhak ikut campur."


"Sekarang pulanglah. Rena pasti menunggumu? Siang tadi dia menelpon ibu, dan menanyakanmu. Ibu bilang tidak tau, bahkan kamu juga tidak di kantor karena ibu memang tidak tau kau berada di sini. Makanya setelah pulang ibu buru-buru mengecek kamarmu," imbuh Soraya.


"Besok pagi ya Bu," pintanya.


Soraya menggeleng, "tidak. Kau harus pulang karena besok pagi ibu tunggu di kantor. Selesaikan masalahmu dengan istrimu."


Alby berdecak, "ya udah aku pinjam mobil ibu."


"Mobilmu kemana?"


"Masuk bengkel, gak sengaja hampir nyerempet mobil orang," seru Alby.


Soraya menggelengkan kepalanya, ingin kembali bersuara pun ia sudah lelah. Perempuan itu hanya mengangguk membiarkan putranya kelu byar.


****


Setelah memastikan Misel tertidur dengan lelap, Rena beranjak ke ruang tamu. Sesekali ia akan membuka gorden, mengharapkan suaminya pulang.


Rena juga berkali-kali memeriksa ponselnya. "Kok ibu gak ngasih kabar ya? Bang Alby di sana apa enggak."


Rena kembali menutup gordennya, dan duduk di sofa panjang. Matanya beralih menatap ke arah jam dinding di mana waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. "Abang kok tega sih gak ngasih Rena kabar begini, padahal aku tuh khawatir banget," lirihnya matanya kembali berembun, hingga lelehan hangat kembali mengalir dari sudut matanya membasahi pipinya. Rena mengusapnya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Beberapa kali ia sempat menguap mencoba menahan rasa kantuknya, tapi pada akhirnya ia gagal, Rena terlelap membuat ponsel miliknya pun terjatuh di atas perutnya.


Mobil Pajero yang dikemudikan Alby tiba di depan rumah, Alby langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Setelahnya ia langsung berlalu ke dalam rumah.


Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya tengah berada di sofa dalam keadaan terlelap sambil duduk.


"Pulanglah istrimu pasti menunggumu." Kata-kata ibunya kembali terngiang.


Alby menatap istrinya dengan sedih, perasaan bersalah menyusup ke dalam hatinya. Ketika ia menyadarkan betapa egoisnya dia, pergi tanpa memberi kabar. Istrinya menunggunya dengan khawatir sampai tengah malam begini. Ia pikir Rena justru akan senang dengan kepergiannya, ternyata ia salah. Alby menjambak rambutnya frustasi.


Disaat itu ia melihat kepala Rena hampir jatuh ngegeledak, lelaki itu buru-buru langsung menghampiri dan menahan menggunakan tangannya.