Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Abang Kangen, Re



Hari terus berlalu kesibukan semakin memadati keduanya. Rena semakin sibuk di rumah sakit dan tugas kuliahnya. Sementara Alby pun sama semakin sibuk, pekerjaan kantornya semakin banyak. Meski begitu keduanya kadang masih menyempatkan untuk sekedar makan siang bersama. Rena kerap sampai rumah pada malam hari, kadang membuat Misel protes karena tidak pernah dibacakan buku cerita menjelang tidur. Tapi, sebisa mungkin Rena memberikan pengertian.


Kesibukan Rena juga membuat pengaruh negatif pada Alby, apalagi lelaki itu tipe orang yang cemburuan salah satunya terhadap Dokter Ryan. Sifatnya itu sama sekali belum berubah.


Seperti kali ini pukul sepuluh malam Rena baru tiba di rumah. Keadaan rumah saat itu dalam keadaan sepi, ia pikir semua penghuninya sudah tidur. Tapi begitu membuka pintu kamarnya, ia terkejut mana kala tangannya ditarik masuk oleh seseorang dengan kuat, dan kemudian terdengar pintu dikunci dari dalam.


"Abang? Buat kaget aja," pekik Rena tertahan.


Alby hanya terkekeh tanpa dosa, langsung memeluk istrinya.


"Lepasin dulu Bang. Rena baru sampai. Ini tasnya aja belum Rena lepaskan," pinta Rena seraya mencoba melepaskan rengkuhan tangan suaminya yang begitu kuat.


"Abang kangen, Re!" seru Alby yang justru semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Ck! Abang kaya gak pernah ketemu aja sih. Tiap malam juga kita tidur bersama terus, siang juga kita sering makan siang bersama. Ini lepaskan dulu bang, Rena mau lepasin tas Rena. Sesak nafas aku bang."


Alby pun melepaskan rengkuhannya, membiarkan sang istri berlalu melepaskan tasnya, meletakkannya di tempat semula. Di saat Rena tengah melepaskan arloji dari tangannya, ia menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi terus menatap ke arahnya tanpa berkedip, dengan gurat wajah sendu.


"Abang kenapa lihatin Rena begitu?" tanya Rena seraya meletakkan kembali jam tangan miliknya di dalam laci.


Alby menggeleng, tersenyum dan kembali mendekati istrinya. Lalu memeluknya, membuat Rena merasa aneh akan sifat suaminya akhir-akhir ini. "Gak sayang. Abang hanya ngerasa beruntung punya istri kaya kamu," ucapnya kemudian membuat Rena terkekeh.


"Aku yang beruntung punya suami kaya Abang, terus dapat Misel juga. Aku kan dapat doble buy 1 get 1 istilahnya," pungkas Rena seraya terkekeh geli.


Alby kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, Rena terdiam menatap bayangan keduanya dari pantulan kaca rias. "Tapi, Abang kadang takut kehilangan kamu Re," lirihnya.


Rena terhenyak mendengarnya, kemudian ia melepaskan tangan suaminya, lalu berbalik menatap wajah suaminya yang ia rasa belakangan kerap bersikap aneh. "Abang ngomong apa sih? Rena gak akan kemana-mana bang."


Alby tersenyum tipis menatap wajah istrinya dalam-dalam, hingga pandangannya tertuju pada bibir ranum istrinya yang masih terpoles lipstik tipis. Kemudian Alby mulai mendekatkan kepalanya mensejajarkan dengan posisi istrinya.


Dan dengan cepat ia menyambar bibir istrinya, setelah sebelumnya tanpa peringatan, hingga membuat kedua mata Rena terbelalak.


Mana kala Alby justru semakin menyusupkan lidahnya, mencari pasangan demi menari bersama di dalamnya.


"Emmhhh b-bang..." Rena berusaha menghentikan suamimya, karena ia tau kemana arah permainan sang suami setelah ini.


"Nanti aja Re, mandinya sekalian. Abang lagi pengen," ucapnya parau di sela-sela pangutan bibirnya.


Di sela-sela pangutan bibirnya, Alby pun membuka satu persatu pakaian yang di kenakan istrinya, hingga kini bagian atas tubuh sang istri sudah polos. Rena hanya terdiam pasrah, mana kala sang suami kembali menguasai tubuhnya, meski sebenarnya ia pun merasa risih, karena ia belum membersihkan diri. Biasanya Alby akan menyentuhnya saat dirinya sudah wangi, tentu saja membuat Rena percaya diri.


Alby menurunkan ciumannya, menjangkau leher jenjang istrinya, memberi kecupan hingga meninggalkan jejak kebasahan di sana.


"Bang, jangan berbekas," pinta Rena parau. Di tengah rasa enak yang tengah ia nikmati, ia pun masih ingin Alby tak meninggalkan jejak di bagian yang terbuka, karena esok ia masih harus bekerja.


"Sudah terlanjur, besok tutupin aja pake make up!" ujar Alby.


Kali ini Alby membuka pakaian bagian bawah istrinya, membuatnya dalam keadaaan polos. Rena yang sudah terbuai akan permainan sang suami hanya bisa pasrah, mana kala sang suami kini melakukan hal yang sama pada tubuhnya sendiri. Alby melucuti pakaiannya sendiri lalu membuangnya secara asal.


Seandainya boleh menolak, Rena sebenarnya merasa lelah ingin segera istirahat. Tapi, ia pun tak ingin membuat sang suami kecewa. Maka ia dengan sepenuh hati memaksakan diri, membiarkan sang suami melakukan apapun dengan tubuhnya.


Kini lelaki itu kembali memangut bibirnya, seraya menggiringnya ke ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sana secara pelan.


Alby mengukungnya, memaku pandangan mata mereka lebih dalam. Beberapa kali keduanya saling menelan ludahnya secara susah.


Alby kembali menundukan kepalanya, mencium bibir istrinya sesaat, kemudian turun ke pundak, lalu turun ke area da da nya, membuat Rena me re mas bantal di bawahnya, saat sang suami terus bermain di area sana, kadang di pinggirnya kadang di puncaknya, ini justru membuat Rena frustasi. Ia yang semula merasa lelah dan ingin menolak, kini justru memintanya lebih.


"Bang?"


"Hemmhh...."


Alby kini secara bergantian melahap puncak itu sambil sesekali me mi lin ujung satunya. Hingga membuat da da Rena membusung semakin memudahkan Alby menyentuhnya. Ciu man Alby turun ke perutnya.


Kali ini lelaki itu berlama-lama melabuhkan kecupannya di sana sesekali tersenyum tipis, entah apa yang lelaki itu bayangkan.


Kini Alby memegangi pinggul Rena. Ia memposisikan diri di bawahnya, dengan tubuh yang masih membungkuk men ciu mi perut istrinya.


Rena merasa hangat ketika sang suami melakukan hal itu. Perutnya yang terasa kurang baik hari ini setelah mendampingi Dokter Ryan kembali melakukan operasi, terasa nyaman mana kala bertemu dengan ciu man sang suami. Yang kini mulai turun dan membuat Rena menjerit, ketika Alby menyentuhnya lagi di bagian bawah sana.


"Bang....i-itu..."


Rena menengadah, nafasnya sulit di atur. Pegangan yang semula ke bantal kali semakin ia eratkan, dan melemparkan kepala ke samping. Mana kala sang suami kini melebarkan kedua kakinya, agar mudah untuk memanjakan Rena di bawah sana. Membuat Rena merasa melayang, ia merasa ribuan kupu-kupu saling berloncatan, hingga berterbangan di perutnya.


Ia merasa tak sanggup untuk men de sah, meski sesekali er angan justru terdengar memenuhi kamar ini. Alby terlalu menguasai tubuhnya di bawah sana. Jari-jari kakinya menekuk menahan sensasi yang luar biasa yang berhasil sang suami ciptakan. Rena tak lagi dapat berfikir, sang suami selalu punya cara membuat libidonya kembali naik.