Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ayo Kawin Lari



Miranda merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Pikirannya berputar tentang obrolannya tadi siang dengan Alena dan Rena. Mereka bilang Miko lupa ingatan, apakah semua itu benar? Kalau memang benar, lalu kenapa lelaki itu tiba-tiba membuka kedua matanya, dan menahan tangannya untuk pergi. Mungkinkah ia mendengar apa yang ia ucapannya tadi.


“Maaf aku menganggu mu. Sekarang aku akan keluar,” ujar Miranda sambil mengigit bibir bawahnya. Perempuan itu mencoba melepaskan tautan tangan Miko. Namun, lelaki itu justru semakin mengeratkan genggamannya.


“Tetaplah di sini. Ku mohon,” pintanya. Bahkan Miranda tak sadar jika Miko mengubah posisinya menjadi setengah duduk.


“Mik....”


“Aku mendengar semua yang kamu katakan tadi. Aku juga mencintaimu. Please jangan tinggalkan aku.”


Miranda melototkan kedua matanya, rasa malu dan terkejut bercampur menjadi satu.


“Kamu tahu siapa aku?” tanya Miranda.


Miko mengerutkan keningnya bingung. Namun, ia menarik tangan Miranda untuk lebih dekat dengannya, setelah perempuan itu duduk di ranjang sisinya, Miko tersenyum.


“Tentu saja. Kamu kan orang yang aku cintai,” jawab Miko.


“Bukannya kata Alena, kamu itu lupa ingatan!” tukas Miranda bingung. Miko membuka mulutnya secelah.


‘Astaga, sandiwara apa yang kalian lakukan. Pantas saja dia tadi jadi bicara blak-blakan dan menyalahkan diri sendiri,’ gumam Miko.


“Emm itu Alena sebenarnya-”


“Dia bohongin aku ya. Cuma biar aku mau temuin kamu gitu!” sela Miranda dengan cepat. Wajahnya bertekuk kesal. Namun, meski begitu ia tidak bisa membohongi hatinya yang merasa lega kala amnesia itu tak terjadi pada Miko.


“Jadi, kamu menyesal menemui aku, sayang?” tanya Miko.


“Bukan... Aku hanya-”


“Sudahlah sayang. Gak perlu cari alasan lain, kalau perasaan kamu itu sama kaya aku. Untuk apa membohongi diri sendiri!” tukas Miko memotong ucapan Miranda yang menurutnya berbelit dan banyak alasan.


Miranda menggeleng berusaha melepaskan tautan tangan Miko. “Miko ini salah kita-”


“Gak ada yang salah. Sudahlah kamu tidak usah berpura-pura lagi, aku sudah mengetahui semuanya. Kau menjauhiku karena terpaksa kan. Kau diminta oleh Papaku kan?”


Miranda terkejut kala mendengar jika Miko sudah mengetahui semuanya. “Kamu sudah tahu!”


Miko mengangguk. “aku baru tahu kemarin, dan itu aku dengar dari mulut Papaku sendiri. Kenapa kau justru menuruti permintaannya. Tidak tahukah kamu, bahwa sikapmu itu justru menyakitiku. Kamu salah jika menganggap aku akan baik-baik saja tanpamu, jika ternyata aku justru merasa hancur.”


Miranda menatap gurat wajah Miko, kemudian pandangannya turun di mana tangannya terasa diremas oleh lelaki itu. Mulutnya terbuka secelah, ia ingin berucap namun entah kenapa kata-katanya seolah tercekat di tenggorokan.


“Aku juga sudah menjadi orang tua Miko. Tidak ada yang salah dari permintaan Papamu, dia hanya ingin melihat putranya bahagia, dan tidak salah memilih pasangan. Jadi, aku pikir-”


“Tidak!” Miko langsung meletakkan jarinya di bibir Miranda. “Jangan katakan apapun. Aku tidak ingin mendengar kata perpisahan. Sudah cukup sandiwara mu belakangan ini. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan melakukan apapun asal kita tetap bersama. Aku yakin kamu itu adalah perempuan yang terbaik untuk aku,” sambungnya.


Miranda menatap wajah Miko, terlihat lelaki itu begitu serius. Meski wajahnya terlihat pucat, keningnya masih terbalut perban. “Ku mohon...” pintanya serius. Miranda masih terdiam dalam keadaan dilema. Di satu sisi ia sudah terlanjur berjanji pada Irawan untuk menjauh. Namun, di sisi lain ia juga tidak kuasa untuk melakukan hal itu. Sementara bayangan Miko selalu menghantui dirinya.


“Kamu masih perlu istirahat, Mik. Tidurlah, aku akan pulang!” ujar Miranda mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu kembali berniat untuk beranjak. Namun, sekuat tenaga lelaki itu justru menarik tangannya kembali, membuat tubuh Miranda terhuyung ke tubuhnya.


“Aduhh!” ringis Miko kala tak sengaja tangannya yang masih sakit tertimpa tubuh Miranda.


Miranda segera beranjak dari tempatnya, memutar tubuhnya memeriksa lengan Miko dengan cemas. “Maaf! Aduh apakah lukanya sangat sakit?” tanyanya cemas.


“Kayaknya perlu panggil Dokter deh.” Miranda menghentikan meniup lengan Miko, dan berniat beranjak memanggil dokter, karena ia khawatir jika luka Miko justru bertambah parah.


“Jangan sayang. Gak usah!” cegah Miko.


“Ehh, kenapa? Katanya sakit banget. Aku takut jahitannya kebuka, terus jadi infeksi gimana?” ujar Miranda serius, wajahnya bahkan terlihat panik.


“Gak bakal. Aku gak butuh Dokter kok, cuma butuh kamu aja!”


“Disaat seperti ini, kamu masih sempat menggombal. Aku bukan dokter mana bisa nyembuhin luka kamu,” balas Miranda.


"Bisa kok. Karena sakitku ini cuma bisa disembuhkan oleh kamu. Dokter saja sampai angkat tangan.”


Miranda mencerna ucapan Miko dengan bingung, sementara lelaki itu justru menahan tawanya. Kemudian dengan cepat ia menarik tubuh Miranda, hingga membuatnya tertunduk di pinggir ranjang, lalu tak disangka Miko memeluk perempuan itu dengan salah satu tangannya, tak lupa dagunya ia letakkan di pundak perempuan itu.


“Sayang, aku tuh meriang tahu beberapa hari ini, dan cuma kamu yang bisa sembuhin!”


“Ngaco!" Miranda menepuk tangan Miko yang merengkuh pinggangnya. “Sudah tahu meriang kenapa malah hujan-hujanan!” sambungnya.


Miko ingin tertawa saat Miranda menganggapnya serius, sementara Miranda berpikir jika Miko meriang karena hujan-hujanan di depan rumahnya kemarin malam.


“Kamu tahu gak sih meriang yang ku maksud?”


“Ya sakit. Masuk angin mungkin!” jawab Miranda kesal dan tak sadar perempuan itu begitu menikmati saat Miko memeluknya.


“Katanya suhu, nikah dua kali. Meriang aja gak tahu!” cibir Miko.


“Emangnya apaan?”


“Merindukan kasih sayang,” jawab Miko. “Iya kasih sayang dari kamu yang ku maksud!” sambungnya.


Miranda menghela nafasnya. Namun, tak urung ia pun tersenyum tipis, lelaki itu kembali pada asalnya yang suka gombal.


“Udahlah kamu istirahat aja, udah malam biar cepat pulih!” pinta Miranda seraya mencoba melepaskan tangan Miko dari pinggangnya. Namun, lelaki itu justru semakin mengeratkan genggamannya.


“Gak boleh pergi. Kamu harus tetap di sini, sampai kamu benar-benar jadi milik aku,” kekeh Miko.


“Mik!!”


“Apa sayang? Kita kawin lari aja yuk!" ajaknya kemudian yang membuat Miranda melongo.


“Sembarangan. Kamu pikir menikah tanpa restu orang tua itu enak!” sergahnya.


”Ya habis gimana. Kalau Papa gak mau kasih restu terpaksa aku bawa kamu lari aja!”


Miranda menyentak nafasnya, sependek itu jalan pikiran Miko. Tak memikirkan bagaimana jalan kedepannya.


“Kawin aja sendiri!” cetus Miranda.


Miko terkekeh. “Canda sayang. Ya udah kamu beri aku waktu, buat meyakinkan Papaku. Jangan main kabur-kaburan, kita berjuang bersama ya. Aku yakin kok Papa pasti akan luluh!"