Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Mati Lebih Baik



🌹Guys aku selesaikan tentang Miko dulu ya🌹 Baca bab sebelumnya ya biar nyambung.... kemarin sempat ada kesalahan copy 🤭..


****


Amira dan Irawan merasa terkejut mendapati putranya berdiri tak jauh darinya. Guratan wajah marah, kecewa melebur menjadi satu.


"Miko?" seru keduanya lirih.


Miko melangkahkan kakinya mendekati orang tuanya. Ia berhenti menatap wajah ayah kandungnya.


"Inikah yang Papa mau. Aku hancur dan aku tidak memiliki semangat apapun?" ujar Miko.


"Miko, percayalah Papa melakukan semua ini demi kebaikanmu. Masa depanmu masih panjang, masih banyak perempuan yang lebih baik dari Miranda di luar sana," kekeh Irawan.


Miko tersenyum getir. Inikah seorang ayah yang selama ini ia banggakan. "Apa yang menurutmu baik. Belum tentu baik untukku. Apa salahku, Pa? Salahkah cinta yang terlanjur bersemayam dalam hatiku. Aku tidak pernah meminta pada siapa aku akan jatuh cinta."


"Bertahun-tahun aku tidak pernah membatah keinginanmu kan. Aku menuruti segala perintahmu. Bahkan pendidikanku pun kau yang mengaturnya. Semua ku lakukan demi membuatmu bangga."


Miko menoleh ke arah Amira sesaat sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Bahkan ketika kau membawa Tante Amira untuk menjadi istrimu. Sekalipun rasanya aku ingin menolaknya, aku menyetujuinya Pa. Aku memperbolehkannya kau menikah lagi. Meskipun sampai detik aku masih mencoba belajar menerimanya. Setidaknya selama ini aku berusaha menghargai kehadirannya," ucap Miko.


Irawan terdiam telak, wajahnya nampak memucat. Ketika putra kandungnya menyampaikan rasa kecewanya.


"Miko?"


"Apa salahku? Bahkan ketika aku ingin memilih pasanganku kau pun turut andil di dalamnya. Aku mengatakan pada Mbak Miranda bahwa kau adalah ayah yang terbaik, aku membanggakan dirimu. Ku kira kau akan mendukungku. Tapi ternyata.... Kau tetaplah Pak Irawan yang egois."


"Miko?!!" bentak Irawan.


Miko tersenyum kecut, dengan mata memerah ia kembali memandang Papanya. "Kau sadar kau bicara dengan siapa? Dengarkan Papa, Miranda itu mantan napi. Bagaimana bisa kau memilih pasangan seperti itu."


"Aku tidak peduli. Yang aku tau dia sudah berubah, aku mencintainya... Tidak peduli semua yang Papa katakan padanya."


Ruang tamu yang tampak lenggang itu seketika menjadi terasa panas, akibat perdebatan ayah dan anak.


"Miko?"


"Aku kecewa sama Papa. Jika, hubunganku pun tak disetujui, lebih baik aku mati!" pungkas Miko mengancam membuat kedua mata Irawan terbelalak.


"Kau jangan kekanak-kanakan! Jangan bercanda!" seru Irawan.


Disaat seperti ini Papanya masih berpikir jika ia hanya sedang bercanda. Tanpa mengucapkan sebuah kata apapun, Miko kembali berbalik keluar meninggalkan kedua orang tuanya, tak memperdulikan sekalipun sang Papa berteriak memintanya untuk berhenti.


Dalam keadaan marah ia kembali masuk ke dalam mobilnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area rumahnya.


"Ini yang ku takutkan Pa. Jika Miko mengetahui perbuatan mu dia pasti akan sangat marah. Lihatlah Pa, hasilnya? Dia begitu kecewa padamu. Bagaimana jika dia sampai nekat mengakhiri hidupnya?" ucap Amira cemas.


Irawan menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin dia sampai nekat berbuat seperti itu!"


"Orang kalau marah itu bisa melakukan apa saja," pungkas Amira gusar.


Sementara itu, Miko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya saat ini hanyalah satu menemui Miranda, meminta maaf dan mengatakan bahwa ia sudah mengetahui semuanya. Ia hanya ingin membuat Miranda percaya ketulusannya, tidak peduli sekalipun tanpa restu orang tuanya.


Mengendarai mobil seperti seseorang yang kesetanan, Miko tak peduli sekalipun mendapatkan klakson dan caci maki dari pengendara lain. Saat ini tubuhnya seperti hidup namun tak bernyawa.


Sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dari arah berlawanan, nampaknya rem nya tampak blong.


Kedua mata Miko terbelalak saat melihat mobil itu mengarah pada dirinya.


Sekelebat kata-kata itu kembali terlintas, ia menggelengkan kepalanya menyesali ucapannya. Inikah yang di namakan ucapan adalah doa, tanpa menunggu jeda Tuhan langsung mengabulkan doanya.


Secepatnya, Miko berusaha menghindar membanting stir ke arah kiri, hingga mobilnya menabrak pagar pembatas jalan.


Cittt!!! Brakkk!!


****


Sore hari itu, setelah selesai dari pekerjaannya Miranda berkunjung ke rumah Rena. Di ruang televisi Rena dan Miranda tengah menemani Misel bermain, sambil menonton serial anak dua anak kecil berkepala botak. Seperti biasa Misel selalu ngoceh.


"Aku heran kenapa dua anak itu dari dulu rambutnya tidak tumbuh-tumbuh ya Bunda?" tanya Misel.


"Namanya juga animasi sayang," ujar Rena.


Miranda hanya tersenyum tipis mendengarnya. Tanpa berniat untuk menyahut seperti yang biasa ia lakukan. Raganya memang berada di sana, tapi otaknya seperti ikut hanyut terbawa Miko. Kata-kata Miko tadi saat di butiknya terus mengusik, ada rasa khawatir bila mana anak itu melakukan hal nekat di luar perkiraannya.


"Mbak?" panggil Rena. Namun, Miranda diam dengan pandangan kosong.


Rena menghela nafasnya merasa ada yang tak beres dari perempuan itu. Ia kembali memanggil kali ini dengan suara yang lebih kencang, hingga membuat Miranda terlonjak.


"Iya, iya Re. Kamu ingin apa? Ayo katakan biar aku ambilkan," kata Miranda yang mengira Rena memanggil dirinya karena menginginkan sesuatu. Karena memang biasanya seperti itu, saat Miranda di sana, Rena suka meminta dibuatkan sesuatu.


"Bukan," jawab Rena cepat. "Tapi aku merasa mbak itu lagi ngelamun ya?" tanyanya kemudian.


Miranda menoleh ke arah Rena, ia tersenyum tipis. "Gak kok aku hanya lelah saja banyak pesanan gaun di butik tadi."


Rena menghela nafasnya, mengambil remot berniat untuk mengganti channel televisi, karena serial anak-anak tadi sudah selesai.


"Meskipun kita mengenal belum lama. Tapi, aku tuh anggap mbak kaya kakak aku sendiri tahu. Jadi, mbak tuh gak usah bohong deh sama aku. Mbak pasti sedang ada masalah. Ayo cerita, siapa tahu aku bisa bantu."


Miranda masih kekeh menggeleng, hal itu membuat Rena merasa kesal.


"Mbak ada masalah sama Miko ya?" tanyanya to the point, membuat Miranda terperangah.


"Kamu-"


"Kemarin itu Miko chat aku, minta tolong sama aku untuk menanyakan perihal mbak menjauhinya. Ada apa sih mbak?" desak Rena.


Miranda menelan ludahnya merasa bingung harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya, tapi ia sudah berjanji dengan Irawan untuk tak mengatakan pada siapapun.


"Ya aku hanya sadar saja jika aku dan dia itu tidak cocok, kamu kan tau aku sama dia itu terpaut usia yang jauh," kilah Miranda.


Rena menghela nafasnya, merasa ada yang janggal dari jawaban perempuan itu. Tangannya terus menekan remot mengganti-ganti Chanel televisi.


"Bukannya sebelumnya tidak terjadi apapun? Miko juga tidak mempermasalahkannya. Lagian kalau menurut aku cocok aja kok."


"Tapi memang apa yang aku katakan itu-"


"Bentar mbak." Rena memotong ucapan Miranda saat matanya menangkap siaran berita di televisi. "Aku gak mungkin salah dengar dan baca kan?"


"Ada apa, Re?"


"Lihat televisi mbak. Itu gak mungkin Miko yang kecelakaan."


Miranda menoleh ke arah televisi, mendengarkan dan membaca siaran itu dengan baik. Matanya terkejut mendapati kenyataan yang ia lihat.