Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Sandiwara



"Sakit Le. Kamu mah emang benar-benar dah ahh!" Miko berteriak kesakitan.


Alena langsung panik. "Hah, serius?" Perempuan itu langsung melihat luka di tangan sahabatnya itu. "Wah iya kamu jadi kaya mumi, banyak perban!" sambungnya sambil mengejek. Percayalah semua yang Alena katakan hanya semata agar sahabatnya itu tidak terpuruk, Alena ingin Miko tetaplah menjadi sahabat yang tengil dan ceria. Pasalnya Alena sudah mengetahui permasalahan Miko dari Rena kemarin. Ia jadi merasa sedih, kenapa nasib cinta sahabatnya itu tidak pernah berjalan mulus. Pertama dengan Rena, ditikung Alby lebih dulu, sama Zahira karena sifatnya yang plin plan akhirnya ditinggal juga. Dan sekarang dengan Miranda. Perempuan yang usianya jauh darinya, juga sama-sama Miko tiba-tiba diputuskan dengan alasan yang tak jelas.


Rena hanya memijat kepalanya, kala mendengar keributan yang diciptakan dua sahabatnya itu.


"Luka ini mah gak seberapa tahu, Le. Coba kamu bisa lihat luka di hatiku, pasti kamu akan kaget, Le. Karena lukanya sangat lebar, bahkan mungkin susah untuk sembuh," ujar Miko yang tiba-tiba berubah menjadi mellow.


"Lebay lah, Mik. Kamu bukannya udah biasa mengalami patah hati ya. Kok sekarang bisa sampai hampir gadaikan nyawamu sih Mik? Aku pikir kamu punya nyawa ganda!" ujar Alena seraya mendudukan dirinya di sebelah ranjang lelaki itu.


"Namanya juga kecelakaan. Kamu kira aku sengaja bunuh diri gitu!"


"Iyaa tapi masih syukur banget kamu tuh selamat lho Mik," timpal Rena.


Alena hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu putus beneran sama Mbak Miranda?" tanya Alena serius.


Miko menghela nafasnya. "Aku gak pernah mutusin dia ya. Kamu tahu sendiri gimana kerasnya usaha aku buat naklukin dia. Ehh pas aku ngerasa terbang tinggi, dia malah jatuhin aku begini. Aku jelas gak terima lah, dia mutusin aku tanpa alasan yang jelas!"


"Perempuan kan masih banyak, Mik. Barangkali dia memang bukan jodohmu," ujar Rena.


Miko menggeleng dengan cepat. "Gak. Karena aku udah tahu apa alasan dia ngejauhi aku. Dan semua itu karena dia di minta oleh Papa."


Alena dan Rena terkejut mendengarnya. Pak Irawan lelaki yang selama ini keduanya kenal dengan sifat ramahnya, teganya meminta berniat memisahkan hubungan putranya. Rasanya Alena dan Rena hampir tak percaya, tapi apapun itu orang tua pasti punya alasan tersendiri.


Rena terdiam kembali mengingat paska kejadian kecelakaan Miko kemarin, Miranda bahkan langsung berlari ke rumah sakit, namun ia tidak jadi menemui Miko, itu yang ia dengar dari Alena. Berarti memang sebenarnya Miranda terpaksa menjauhi Miko.


"Aku butuh bantuan kalian ini," ujar Miko kemudian. "Gak tau lagi aku harus gimana? Pokoknya aku cuma mau dia balik," sambungnya.


"Apa yang bisa aku bantu Mik. Bahkan kemarin aku udah mencecar banyak pertanyaan sama Mbak Miranda, ia tetap bungkam," sahut Rena.


"Cari alasan apa kek, agar dia mau menemui aku di rumah sakit ini. Aku kangen banget tahu," pinta Miko wajahnya terlihat sendu.


Alena dan Rena terdiam sesaat, keduanya berpikir keras.


"Kamu minta Mbak Miranda kesini?" tanya Rena. Miko hanya mengangguk.


"Lah kamu kan tahu, Papamu stand by di sini. Mana mungkin Mbak Miranda mau," tukas Rena tak habis pikir.


"Ntar aku minta bantuan Mama Amira deh, biar Mama bisa bujuk Papa pulang ajah," sahut Miko.


Alena dan Rena mengangguk. "Okelah aku coba."


Malam pukul sembilan malam. Miranda berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan pelan, jantungnya berdegup lebih kencang. Pada akhirnya ia nekat mengunjungi Miko, karena rasa khawatirnya yang terlalu berlebihan.


"Mbak tahu gak sih, kondisi Miko itu parah. Tubuhnya penuh luka, semua di perban," ujar Alena kala siang tadi menemuinya ke butik bersama Rena.


"Serius?" tanyanya cemas.


Rena hanya mengangguk. Membiarkan Alena yang bermain sandiwara. "Iya. Bahkan ia sempat koma. Terus saat sudah sadar ia gak ingat sama kami!" Alena mulai memasang wajah sedih bahkan tak tanggung-tanggung perempuan itu mengeluarkan air mata, agar terlihat bahwa ia tak bersandiwara. Rena menahan mati-matian untuk tak ketawa, meskipun batinnya mengumpat karena itu hanya akal-akalan Miko.


"Aku sedih mbak, sekian tahun kami bersama berbagi suka duka, masa dia bisa lupa. Coba deh mbak temui dia."


Miranda menggeleng. "Tidak. Biarkan saja."


"Kenapa mbak takut dia maksa mbak lagi gitu. Emang mbak gak pengen tahu kondisi dia sebenarnya. Pergilah mbak, dia gak mungkin berbuat apa-apa, kan dia juga lagi lupa ingatan," desak Alena.


Kini, Miranda menghela nafasnya kala mengingat ucapan Alena yang mengatakan Miko lupa ingatan. Tiba-tiba ia merasa sedih dan nyeri, bagaimana bila Miko juga lupa dengan dirinya. Ia merasa tak rela, namun sisi hatinya yang lain mengatakan jika itu bagus untuknya.


Tiba di depan ruang rawat Miko. Miranda menghentikan langkahnya, melihat tubuh Miko yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, dari balik pintu kaca itu. Niatnya untuk pergi, namun melihat kondisi dalam terlihat sepi, Miranda merasa seperti tengah memiliki kesempatan untuk melihat Miko secara langsung.


Ia membuka pintu ruang itu dengan pelan, agar tak mengusik Miko yang tengah tidur. Dengan wajah sendu perempuan itu terus melangkah, hingga tiba di sisi Miko. Ia menatap inci wajah dan tubuh Miko yang terbalut perban begitu banyak. Tiba-tiba ia merasa sedih.


"Maaf," kata Miranda lirih. Kedua matanya yang memang sejak tadi sudah berembun, kini perlahan mulai menitikkan air matanya.


"Semua pasti gara-gara aku, kamu celaka. Aku minta maaf. Mungkin apa yang dikatakan Mas Damian dulu benar, kalau aku ini perempuan pembawa sial, makanya nasibku tidak pernah beruntung mendapatkan pasangan."


Tanpa Miranda ketahui Miko mengepalkan telapak tangan kirinya, mendengar Miranda yang terus menyalahkan dirinya. Ya lelaki itu memang hanya berpura-pura untuk tidur.


"Seandainya aku tidak memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Kita tidak akan pernah bertemu, dan mungkin nasibmu tidak akan pernah separah ini."


Miranda menyentak nafasnya, menekan dadanya yang terasa nyeri.


"Tapi untuk apa semua disesali. Toh semua sudah terjadi. Saat ini aku hanya ingin menebus kesalahanku. Aku pikir ucapan Papamu benar. Kau terlalu baik untuk perempuan seperti diriku. Rasanya keyakinanku lebih kuat untuk menjauh darimu, setelah melihatmu celaka seperti ini gara-gara aku."


Miranda kembali menunduk menangis tergugu, bahkan tak sadar ia sudah mendudukan dirinya di kursi sebelah Miko, kedua tangannya menutup wajahnya.


"Boleh aku jujur. Aku juga sakit melakukan ini. Maafkan aku, aku terpaksa, meski aku mencintaimu... Bahkan mungkin sangat mencintaimu. Terimakasih untuk segala kenangan yang kau beri," ucap Miranda seraya beranjak dari tempat duduknya. Ia merasa tak akan kuat jika harus berada di sana lama-lama.


Namun, ia merasa tertegun ketika hendak berlalu pergi, tapi lengannya terasa di cekal oleh seseorang. Sontak ia pun menoleh, keduanya matanya terbelalak.


"Miko?"