
Warning!
Lanjutan bab sebelumnya ya. Pastikan kalian sudah mempunyai KTP. Selamat Membaca.
****
Miranda berdecak saat sang suami justru menarik jemarinya, padahal sebentar lagi ia akan mencapai puncak pelepasan. Ia mendesah kecewa, dadanya terlihat naik turun, hak itu terlihat menggairahkan di mata Miko.
Ia merasa kesal saat suaminya tak kunjung melanjutkan permainannya, Lelaki itu justru tertawa melihatnya, padahal posisi dirinya saat ini terlihat begitu berantakan, sen su al. Bagaimana jika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, lalu melihat posisinya kini. Sungguh Miranda merasa gila.
“Ayo lagi,” rengek Miranda.
Miko tersenyum meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang. Tampaknya ia mengirimkan pesan jika ia sedang tidak ingin diganggu. Kemudian pandangan lelaki itu mengarah pada jendela kaca yang berukuran besar, lalu ia mulai tersenyum penuh arti.
“Kita coba gaya baru sayang,” ucapnya nakal.
Dan dengan cepat ia meraih tubuh istrinya, untuk ia bawa ke jendela kaca besar itu.
“Sayang kamu mau ngapain? Malu...”
Tanpa disangka Miranda. Suaminya itu justru membuatnya menghadap jendela di mana ia bisa melihat lalu lalang kendaraan di bawah sana. Miranda meringis kala ujung dadanya bersentuhan dengan dinginnya suhu kaca itu.
“Sayang ini–”
Miko menempelkan tubuhnya, lalu berbisik di dekat telinganya. “Jangan khawatir sayang. Kita memang bisa melihat luar. Tapi mereka gak bakal bisa melihat kita, kaca itu sudah di desain khusus untuk seperti itu.”
Miko menjelaskan seraya kembali mendaratkan bibirnya dengan sang istri, hingga membuat perempuan itu harus sedikit menoleh ke belakang demi menyambut dan membalas pangutan bibir suaminya. Sementara tangan satunya dengan cekatan membuka kain segitiga milik istrinya, tanpa melepaskan roknya. Ia hanya menaikkan rok itu sebatas ping Gul.
Otak Miranda tiba-tiba ngelag, karena tak bisa berpikir dengan jernih akan kelakuan suaminya. Entah gaya macam apa yang akan suaminya ini kembali praktekan. Miko memang masih perjaka saat menikah dengannya, namun ia merasa lelaki itu memiliki banyak cara dalam bercinta.
Miranda kembali me le nguh kala jemari suaminya kembali bermain di bawah sana, seiring dengan ciumannya yang terlepas, ia menatap pemandangan di depannya, merasa sedikit takut. Namun, nafasnya tetap naik turun membuatnya kian bergairah.
Tiba-tiba ia tersentak mana kala merasakan sesuatu yang lebih besar dari jari suaminya masuk ke dalam miliknya, dari arah belakang tanpa permisi. Dan langsung menghentakkan tanpa memberi jeda, membuat Miranda me le guh kala harus menahan pinggul sang suami yang terus terdorong ke depan. Semakin Miranda men de sah semakin cepat pula Miko mendorongnya.
Miranda hanya pasrah men de sah pasrah, kala Miko terus menghujam ya, dan berhasil membawanya mencapai puncak kepuasan. Hingga ia harus terkulai lemas di dada suaminya.
Miko tertawa dengan puas. Melihat istrinya terlihat lemas tak berdaya.
“Sayang, aku belum selesai,” bisikan Miko membuat kedua mata Miranda terbelalak.
Ia merasakan suaminya mulai melabuhkan sentuhan-sentuhan lembutnya, dan ketika lelaki itu telah bersiap untuk kembali memasukinya. Miranda dengan cepat mendorong tubuhnya menyingkir.
“Sebentar,” tukas Miranda.
“Sayang?” pekik Miko terkejut melihat istrinya berlari ke arah kamar mandi dalam keadaan polos, sambil menutup mulutnya.
Tak berapa lama ia mendengar istrinya yang muntah-muntah di dalam. Miko dengan cepat berlari menyusul istrinya. Lelaki itu memijat tengkuk istrinya dengan perasaan cemas, pikirannya jelas khawatir.
Setelah Miranda selesai membersihkan bibirnya. Miko memapah istrinya keluar, mendudukkannya di sofa. Perempuan itu tampak mengernyitkan keningnya.
“Pakai dulu pakaiannya. Aku antar kamu ke dokter,” ujar Miko seraya membantu memakai pakaian istrinya kembali.
“Tidak perlu sayang,” tolak Miranda.
“Sayang aku tuh hanya.... Wek!” Miranda kembali berlari ke kamar mandi memuntahkan segala isi perutnya. Miko yang sudah selesai memakai pakaiannya segera menyusul istrinya. Ia memijat membantu memijat tengkuk istrinya. Ia melihat istrinya terlihat lemas.
“Kita ke dokter ya sayang ya,” bujuk Miko.
Miranda terdiam tak menanggapi, setelah mengeluarkan isi dalam perutnya, ia berbalik menatap wajah suaminya yang perlahan terlihat buram.
“Sayang aku mual tapi perut aku juga sakit,” ucap Miranda lirih, dan detik berikutnya pandangannya menggelap seiring dengan dirinya jatuh tak sadarkan diri.
****
Alby merasa aneh dengan tingkah istrinya kali ini. Perempuan itu terus mengikutinya kemana ia pergi. Bahkan ke kamar mandi pun ia ingin ikut. Saat Alby bertanya, Rena hanya akan menjawab semua itu karena anaknya yang menginginkannya. Kalau sudah begitu mulut Alby seketika bungkam.
Dan lihatlah tingkahnya sekarang, Rena tak ubahnya perempuan yang begitu bucin terhadap dirinya. Perempuan itu memilih duduk di kursi depannya, seraya memangku kedua salah satu tangannya, memasang senyum termanisnya kala menatap sang suami. Hal itu tentu membuat Alby merasa salah tingkah.
“Kenapa melihat Abang sampai seperti itu?” tanya Alby yang berusaha fokus pada kerjaan di depannya.
Rena mengedipkan kedua matanya. “Abang kok makin hari makin ganteng sih,” pujinya membuat Alby melongo.
“Udah dari dulu kali sayang. Masa kamu baru sadar,” balas Alby berusaha sebiasa mungkin, padahal jantungnya berdetak lebih cepat, seperti seorang ABG yang baru mengalami kasmaran.
Rena terkekeh kecil. “Iya sih. Kira-kira nanti anak kita mirip siapa ya Bang?” tanya Rena menerawang jauh, pikirannya membayangkan wajah anaknya nanti yang akan lahir.
“Abang lah,” jawab Alby percaya diri.
“Dih, itukan juga anak aku. Masa mirip Abang doang,” celetuk Rena tak terima.
Alby terkekeh, rasa gugup dan salah tingkahnya tadi kini sudah berubah lebih rileks. “Iya nanti wajahnya mirip Abang. Tapi mata dan bibirnya bakal mirip kamu. Adil kan sayang?”
“Kenapa cuma mata dan bibirnya doang sih?” desis Rena tak terima seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Alby beranjak mendekati istrinya, kemudian mencondongkan tubuhnya, dan berbisik. “Karena mata istriku itu begitu indah, dan bibirnya ini.” Alby sedikit menekuk tubuhnya, mensejajarkannya bibirnya dengan bibir istrinya. Lalu mengecupnya sekilas. “Seksi!” sambungnya yang membuat Rena melongo kemudian mendaratkan pukulan di dada pria itu.
“Ih modus,” dengus Rena.
Alby tergelak kencang, menikmati raut wajah kesal istrinya namun tak urung ia pun dapat menangkap rona merah di pipinya.
Tok! Tok!
“Masuk!” sahut Alby begitu pintunya diketuk dari luar.
Pintu terbuka Milea berdiri diambang pintu. “Pak Alby meeting sudah siap,” katanya.
“Aku akan segera kesana,” sahut Alby lalu menoleh ke arah istrinya. “Abang mau meeting, kamu pulang ya sayang,” bujuknya.
“Gak mau!”
“Terus?”
“Mau ikut Abang meeting.”
Alby terkejut mendengarnya.