Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Keributan Di Pagi Hari



Usia Alka sudah memasuki Minggu ke empat. Yang artinya sudah hampir sebulan Rena melahirkan bayi laki-laki itu.


Selama mengurus Alka. Rena dibantu oleh Nany Ratri, dan kedua ibunya. Yaitu Ibu Soraya dan Mama Dinda. Sebenarnya, Rena sudah kerap sekali mengatakan tidak apa-apa ia bisa mengurusnya sendiri. Namun, kedua ibunya itu hampir setiap hari datang, jadi Rena hanya diam pasrah, kemungkinan mereka lagi senang-senangnya mendapatkan anggota keluarga baru.


Banyak perubahan yang Rena alami. Terutama soal waktu tidurnya yang berkurang, ia kerap bergadang di malam hari. Sebenarnya, ia bisa saja membangunkan Alby. Hanya saja ia tidak tega, mengingat suaminya sudah mulai masuk ke kantor sejak dua Minggu yang lalu. Dulu sebelum ke kantor hampir tiap malam Alby pasti menemani istrinya bergadang. Kadang membantunya mengganti popok, atau menggendongnya.


Pagi ini Rena merasa lelah sekali, semalam ia baru bisa tidur pukul satu, kemudian jam tiga Alka pun sudah merengek lagi. Rena benar-benar hanya tidur sebentar. Namun, pukul enam ia harus mulai menyiapkan segala keperluan sang suami. Untuk Misel terkadang ia mempercayakan semua pada Nany Ratri. Beruntung anak itu begitu pengertian, mengerti jika Bundanya repot. Tapi kali ini ia kekeh meminta untuk di ikatkan rambut oleh Rena.


“Sayang, dasi aku dong!” Alby berteriak memanggil istrinya dari ambang pintu kamarnya. Rena yang saat itu tengah berada di kamar Misel, menggerutu dengan kesal. Usai menyelesaikan ikatan rambut putrinya, lalu mencium kedua pipi Misel. Rena pun beranjak kembali ke kamarnya. Terlihat Alby tengah duduk di pinggir ranjang dengan wajah tak berdosa.


“Abang tuh. Jangan teriak-teriak napa, nanti Alka bangun!” katanya kesal. Matanya sudah melotot ke arah suaminya, dan hal itu tentu membuat Alby tak lagi berani menyahut.


Dengan telaten perempuan itu menarik laci lemari kaca, yang khusus untuk dasi. “Ini loh dasinya. Kan udah aku bilang berkali-kali tempat dasi Abang tuh di sini. Makanya di cari dong bang, jangan cuma bisanya teriak doang.”


Alby hanya nyengir dengan raut wajah tak bersalah. “Abang tadi udah nyari loh sayang. Tapi gak nemu, mungkin barang-barang Abang tuh ketemunya kalau udah sama kamu doang.”


Rena hanya mendengus, setiap kali suaminya itu memberikan alasan yang sama. Baginya itu tak masuk akal. Ingatkan Alby soal status sebelumnya, ia duda sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri. Oh ayolah, ini hanya perkara dasi, ia harus ribut setiap pagi.


Rena memberikan dasi itu pada sang suami, kemudian berkata. “Buruan bang. Aku udah siapin kamu sarapan tuh. Sekalian kamu nanti anterin Misel berangkat sekolah.” Ia hendak beranjak keluar kamar, tapi Alby justru menarik tangannya membuatnya kembali berbalik hingga menabrak dada bidang laki-laki itu.


“Cium dulu dong sayang?” pintanya.


Rena mendengus, menghela nafas kesal. Kemudian menatap sang suami tajam. Namun, yang ditatap bersikap biasa saja. Tiba-tiba Albu berteriak mana kala Rena memberikan sebuah cubitan di perut lelaki itu.


“Awww... Sayang. Kok dicubit? Cium sayang... Aku tuh ingin cium,” protes Alby.


“Jangan macam-macam lah, bang. Aku belum mandi ni. Nanti keburu Alka bangun aku belum mandi.” Mata Rena sudah melotot kesal ke arahnya. “Buruan Abang, keburu Misel telat nanti,” sambungnya.


Alby menelan ludahnya. Semenjak memiliki Alka, istrinya itu berubah lebih menyeramkan. Suka mengomel, mencubit, melotot bak seorang ibu tiri pada anak tirinya. Tapi, meski begitu Alby tetap cinta.


“Abang, ayo buruan. Ngapain masih di situ?" Teriak Rena di ambang pintu.


“Iya sayang... Iya.” Alby menjawab. Namun, gerakannya tertahan mana kala melihat putranya yang wajahnya bak duplikat wajah dirinya itu tengah tertidur lelap di ranjang. Ia jadi gemas, menghampiri Alka, ia hendak menciumnya. Namun, teriakan melengking istrinya mengurungkan niatnya.


“Abang!! Aduh jangan dicium-cium. Nanti bangun.”


Alby mendengus kan salah lagi dirinya. Padahal ia kan hanya ingin memberi kecupan sayang.


“Kalau dia bangun, nanti Abang ya beri dia ASI,” sambungnya.


“Iya ini gak kok sayang. Ini Abang keluar,” balas Alby pasrah. Ia mengikuti langkah kaki istrinya keluar kamar menuju meja makan. Di sana sudah terlihat Misel yang tengah menikmati sarapannya di bantu oleh Nany.


****


“Pulang jam berapa nanti, Bang?” tanya Rena ketika tengah memasangkan dasi sang suami. Keduanya saat ini tengah berada di ruang makan, sementara Misel sudah menunggu di mobil sang Ayah.


“Jam delapan mungkin aku sudah di rumah,” balasnya.


“Tolong belikan aku pizza ya. Gak tahu tiba-tiba pengen makan itu,” pesan Rena.


“Ya udah nanti aku suruh–”


“Gak mau. Aku maunya Abang aja yang beli nanti pulang kerja,” sela Rena memotong ucapan sang suami. Karena ia tahu suaminya pasti akan menyuruh orang untuk membelikannya.


Alby mengangguk, mana mungkin ia bisa tidak mengabulkan keinginan istrinya yang sederhana itu. “Iya nanti Abang beliin.”


“Kalau bisa Abang pulang lebih cepat lah. Jam lima gitu udah sampai rumah,” ujar Rena.


“Kenapa?”


Rena berdecak, mendelik tajam ke arah suaminya. “Kok kenapa sih?! Emang udah gak mau lihat aku lagi di rumah gitu. Mentang-mentang sekarang badan aku berlemak, gak ada body, kusam gitu,” cibir Rena kesal.


Alby mengusap wajahnya, perasan sekarang ia selalu salah di mata istrinya itu. ”Mana ada begitu sayang? Mau seperti apapun kamu, Abang tetap sayang kok sama kamu. Abang tetap suka tubuh kamu itu, apalagi kalau udah bisa dimasukin.”


“Abang?!” teriak Rena kesal, ia bahkan mencubit perut suaminya, membuat lelaki itu meringis, karena entah sudah ke berapa kali istrinya itu mencubit dirinya. Ia merasa setelah melahirkan, istrinya itu begitu galak, bak seekor singa yang tengah marah.


“KDRT ini namanya sayang,” protes Alby.


“Abang itu buat kesal. Dari pagi yang diomongin urusan ranjang aja terus. Kaya gak ada pembahasan yang lain gitu selain once again terus,” omel Rena merenggut kesal.


Alby hanya nyengir kaku. ”Iya gimana ya sayang. Habisnya Abang kan udah lama gak dapat jatah.”


Rena mencebik kesal, padahal semalam ia baru saja melakukan servis plus-plus pada milik suaminya, sampai tangannya itu kram. “Kan semalem juga udah, Bang.”


“Pakai tangan, kurang puas sayang,” protes Alby.


Rena melototkan kedua matanya. ”Terus maunya apa?”


.


.


.


.


.


udah mampir di karya baruku belum?


Oh ya, info novel ini akan tamat akhir bulan ya🤗