
Rena menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan kencang, membuat sang suami yang tengah membersihkan diri di dalam terusik.
“Abang buruan ih. Nanti aku terlambat ini menghadiri pernikahan Mbak Miranda dan Miko,” ujar Rena di balik pintu. Perempuan itu sudah tampak cantik dengan dress khusus ibu hamil. Rena mulai membiasakan diri menggunakan pakaiannya sendiri.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Alby keluar dengan wajah yang bertekuk kesal, menggunakan handuk yang hanya sebatas pinggang.
“Kok Abang manyun gitu sih!” cetus Rena.
“Abang tuh masih ngantuk, Re. Kan kamu tahu sendiri Abang baru sampai rumah di pukul sebelas malam, terus kamu juga pake minta di buatin makanan. Kemarin jadwal di pabrik Bandung kan padat Abang gak sampai istirahat. Niatnya hari ini Abang mau tidur dulu, terus masuk kerjanya agak siangan,” ujar Alby seraya memakai pakaian yang sudah di siapkan istrinya.
“Jadi, Abang nyalahin Rena gitu! Kurang tidur karena Rena, iya? Gak ikhlas ni ceritanya buatin aku nasi goreng semalam?” cecar Rena dengan wajah muram.
Alby jadi gelagapan. “Bukan sayang! Abang tuh nyalahin teman kamu itu, si Miko. Kaya gak ada waktu lain aja gitu, nikah kok di rumah sakit. Udah kebelet banget apa ya?” ujarnya seraya mendekati istrinya, lalu memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di pundak istrinya.
“Halah... Apa bedanya sama Abang. Kan sama-sama dadakan,” cetus Rena menginginkan sang suami bagaimana jalan pernikahannya dulu. Pasalnya hal itu juga berlaku bagi Miranda dan Miko yang hendak menikah di rumah sakit saat ini juga. Untuk alasan lebih jelasnya Rena tidak tahu, ia hanya di minta untuk datang menjadi saksi pernikahan keduanya, berhubung ia merupakan sahabat dekat Miko.
“Bedalah sayang. Abang kan limited edition,” pungkas Alby sambil terkekeh geli. Rena melepaskan dekapan sang suami.
“Udah rapihin dulu terus kita berangkat!” tegas Rena. Alby berlalu ke meja rias mengambil sisir.
****
Sementara itu di rumah Dokter Ryan, lelaki itu sudah terbalut dengan kemeja kerja seperti biasa dengan penampilan yang sudah rapi. Sementara Alena baru selesai memakai pakaiannya sambil ngomel-ngomel.
“Ini sih Miko kebangetan, ngundang pernikahan kok di rumah sakit, kaya udah kebelet banget,” omel Alena seraya mondar-mandir tak jelas.
Ryan menghela nafasnya, istrinya itu justru kebanyakan membuang waktu padahal ia sudah rapi dan tinggal berangkat. Tapi, Alena justru mondar-mandir tak jelas, melihatnya Ryan justru merasa pusing.
Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya menghampiri Alena. “Udah gak usah ngomel-ngomel. Sini Mas bantu keringkan rambutnya,” ujar Ryan menggiring istrinya untuk duduk di kursi depan meja rias. Kemudian lelaki itu menyalakan hair dryer.
Alena tersenyum mendapatkan perilaku lembut dari sang suami. “Masry so sweet deh mau ngeringin rambut aku juga.”
“Karena aku gak mau kamu datang ke rumah sakit dalam keadaan rambut basah. Kamu pasti akan lepas kontrol lagi ngomong yang enggak-enggak sama Miko. Jangan sampai kamu ngomong kita habis main suntik-suntikan,” omel Ryan.
“Lha kan emang benar, kita habis main suntik-suntikan. Masry aja gak pernah biarin aku tidur nyenyak, salahnya di mana coba?” pungkas Alena.
“Tapi gak untuk diceritakan juga ke Miko sayang,” tutur Ryan pelan sambil terkekeh geli kala menangkap bibir istrinya yang manyun ke depan, karena ia tahu Alena tengah kesal dengan dirinya yang setiap malam selalu minta jatah, habis gimana ya? Orang rasanya nagih.
“Iya maaf. Itu kan khilaf,” kilah Alena.
“Khilaf itu sekali kalau berkali-kali mah namanya–”
“Habis gimana ya? Candu sih." Ryan merundukkan kepalanya mensejajarkan pada posisi istrinya yang tengah duduk. “Seperti ini,” sambungnya seraya mendaratkan kecupan di pipi kanan istrinya, membuat Alena terkejut dengan wajah bersemu.
“Dah beres ayo berangkat!”
“Sebentar Masry aku belum pake lipstik” ujar Alena.
“Ya udah buruan, jangan tebal-tebal!”
****
“Bagaimana saksi?” tanya Pak Penghulu usai membacakan ijab, dan Miko dalam satu tarikan nafas mampu menjawabnya.
“Sah!”
Ketika para saksi berseru, artinya pernikahan itu telah sah. Miko dan Miranda kini resmi menjadi pasangan suami istri, meski pernikahan itu baru dilangsungkan secar siri, mengingat semua serba dadakan, tak mungkin keduanya sempat mengurus berkas pernikahan. Miranda sendiri tak menyangka jika Miko akan menikahinya saat itu juga, pasalnya semalam ia datang hanya untuk berkunjung, mana terpikirkan jika besoknya ia akan langsung menyandang status seorang istri dari Zatmiko Irawan. Pernikahan yang hanya digelar sederhana, bahkan mas kawinnya hanya sebesar dua juta rupiah, itupun sisa uang di dompet Miko, yang kemarin berhasil di temukan di tempat ia mengalami kecelakaan.
Seusai membacakan doa, dan memberi selamat pada mempelai, penghulu pun berpamitan untuk pergi.
Irawan memijat kepalanya, merasa pening dengan alasan putranya kala meminta untuk segera menikahi Miranda. Padahal ia sudah membujuk agar Miko sembuh lebih dulu, baru memikirkan pernikahan.
“Ayolah Pa. Aku sudah terlanjur berjanji pada diri sendiri, begitu Papa memberi restu saat itu juga aku akan langsung menikahinya. Lagian kalau aku udah punya istri kan enak, ada yang rawat aku saat sakit begini,” desak Miko tadi pagi.
Kini, Irawan menghela nafasnya. Namun, tak urung ia tersenyum melihat putranya terlihat bahagia. Ia baru sadar jika ucapan istrinya memang benar, kebahagiaan putranya jauh lebih berharga dari apapun.
“Makasih ya, Pa. Udah merestui kami,” ujar Miko.
Irawan mengangguk memeluk putranya. “Iya sama-sama." Lelaki itu mengurai dekapannya kemudian kembali berkata. “ Ingat, saat ini kamu sudah menjadi seorang suami yang harus bertanggung jawab tentang istrimu. Permasalahan rumah tangga apapun, berusahalah selesaikan dengan sebaik mungkin, jangan gampang terbawa emosi, apalagi sampai main tangan.”
“Iya Pa.”
Setelah itu Miranda pun mendekat, mengalami Papa mertuanya, perasaannya masih canggung. “Pa aku–”
“Saya titip Miko ya Miranda. Saya yakin bersama kamu dia akan menjadi pria yang baik. Maklum sifat kadang masih kekanak-kanakan. Sebenarnya Papa juga heran, bagaimana kamu jatuh cinta pada bocah kecil seperti ini,” ujar Irawan seraya tergelak.
Seisi ruangan langsung tertawa, hanya Miko yang bersungut kesal.
“Biasanya ya habis menyaksikan pernikahan seperti ini kan ada prasmanan terus kita makan-makan. Lha ini apa, tangan kosong. Tega bener sih Mik, tamu gak dijamu begini,” timpal Alena.
“Iya ini. Padahal aku juga belum sarapan," timpal Alby yang memang mengatakan apa adanya, belum sempat sarapan karena sang istri sudah menyuruhnya buru-buru.