
“Abang?”
Suara lirih Rena terdengar. Pupil matanya bergerak menatap langit-langit ruangan itu. Sementara, Dinda dan Rava saat itu tengah terlelap.
“Abang di sini sayang,” sahutnya seraya mengecup tangan pucat istrinya. Alby beranjak lalu mendudukan dirinya di pinggir ranjang dekat istrinya. “Kamu sudah sadar sayang?” sambungnya terharu bahkan entah sudah berapa banyak Alby mengeluarkan air matanya demi menangisi istrinya.
“Aku kenapa bang? Kok Abang nangis?” tanyanya lirih. Salah satu tangannya bergerak meraba wajah suaminya.
Alby menggeleng, kembali memegang tangan istrinya mengecupnya pelan. “Gak sayang. Abang hanya bahagia, karena kamu udah sadar.”
“Sadar?" Rena mengerutkan keningnya. Otaknya kembali berpikir kejadian sebelumnya. Sontak ia langsung melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu meraba perutnya. Terkejut mendapati perutnya yang tampak rata. “Bayiku?” pekiknya.
“Abang anak kita di mana?” sambungnya panik, bahkan dengan cepat ia berusaha langsung beranjak dari posisi tidurnya. “Aw... Aw...” ringisnya kala merasakan nyeri pada perutnya.
“Sayang, tenanglah. Jahitan kamu itu belum kering,” terang Alby.
Rena sontak menoleh ke arah suaminya. “Jahitan?” tanyanya.
Alby mengangguk. “Iya tadi kamu pendarahan, dan dokter memutuskan untuk melakukan operasi, karena kamu juga tak kunjung sadar.”
“Operasi? Terus anak kita di mana Abang?" tanyanya mendesak sang suami. Bayangan ketika perutnya menghantam rak tas itu terlintas, ia takut bilamana anaknya tak terselamatkan.
“Tenanglah sayang. Bayi kita ada, dia lagi istirahat.” Alby menepuk pundak istrinya, menenangkannya.
“Aku mau lihat Abang? Kenapa tidak di letakkan di sini saja?” cecar Rena sedikit mendorong tubuh suaminya, ia kembali mencoba beranjak untuk duduk. Namun, kembali tertahan karena rasa sakit di perutnya. “Aduhh... Kenapa sakit sekali?” keluhnya.
Alby kembali membantu istrinya untuk berbaring. “Berbaringlah sayang. Anak kita baik-baik saja, percayalah. Abang panggilkan dokter aja ya?”
Rena menggeleng lemah. “Aku cuma mau lihat anak kita bang, bukan yang lain. Aku pengen meluk dia bang.”
Kebisingan yang diciptakan keduanya, membuat Dinda dan Rava terusik, keduanya lantas membuka matanya. Terkejut sekaligus terharu melihat putrinya sudah sadar.
“Rena?” panggil Dinda lirih. Perempuan itu langsung buru-buru beranjak dari sofa, mendekati putrinya. “Kamu sudah sadar nak?” sambungnya.
“Mommy?” sahutnya.
Dinda terharu langsung memeluk putrinya. Begitupun dengan Rava yang merasa lega. “Terima kasih Tuhan. Telah membuat putriku kembali,” ucapnya lirih.
Melepaskan dekapannya sang ibu. Rena menatap perempuan yang telah mengandungnya. “Mommy, aku hanya ingin melihat anakku. Tapi, Abang terus melarangnya? Bisakah mommy antarkan aku pada anakku. Aku ingin melihatnya mom,” desak Rena.
“Bukan begitu sayang,” sanggah Alby. “Tapi Abang pikir besok saja, ini kan sudah malam. Kamu perlu istirahat, dan akan lebih baik aku panggilkan kamu dokter ya?” sambungnya.
“Aku ingin anak kita, bang.”
Alby menghela nafas pelan, nampaknya membujuk pun percuma. Mungkin kerinduan Rena sang buah hati begitu mencuat.
“Biar Daddy yang urus,” timpal Rava karena ia merasa tak tega mendengar rengekan putrinya. “Kalian tunggu di sini saja,” sambungnya berlalu pergi.
🦋
Tiga puluh menit yang lalu, Rava kembali dengan dokter dan satu orang perawat yang membawa cucunya. Rena langsung berbinar bahagia melihatnya.
“Anak Bunda? Kemarilah sayang, Bunda pengen peluk.” Rena melambaikan tangannya, saat ini posisinya dirinya bersandar di ranjang.
“Aku priksa kamu dulu ya, Re.” Dokter Eli menyela, mengambil stetoskop memeriksa keadaan Rena.
“Ayolah Dokter Eli. Aku sudah merindukan anakku.”
“Sebentar saja. Ini aku sengaja mengambil piket sampai malam, demi menunggu kamu lho Re. Pasien spesial,” ujar Dokter Eli sambil tertawa kecil, hingga memperlihatkan gigi putihnya.
“Benarkah?” sahut Rena.
“Hemm... Menanganimu hampir membuat jantungku lepas, Re. Kau tahu aku banyak mengeluarkan air mata di dalam ruang operasi. Seandainya aku gagal, mungkin aku akan melepaskan jabatanku sebagai seorang dokter,” kata Dokter Eli.
“Apakah aku separah itu?” tanya Rena tak percaya, membiarkan rekan kerjanya itu memeriksa dirinya.
“Hemm... Kamu bahkan sampai kehabisan darah. Beruntung kakak kandungmu sigap mendonorkan darahnya.”
“Kak Davis?”
“Bukankah kakak saat itu lagi ada proyek di Surabaya? Ya ampun itu artinya, aku juga membuatnya khawatir.”
“Beruntunglah banyak orang yang menyayangimu,” kata Dokter Eli. “Untuk itu kau harus segera pulih?”
“Pasti? Aku akan sembuh demi dia–”
“Alka,” timpal Alby dengan cepat.
“Alka?” tanya Rena. Alby mengangguk dengan cepat. “Iya Alka Dharmawan, namanya.”
Rena tersenyum. “Aku baru tahu anak aku laki-laki. Abang gak ngasih tahu ih sebelumnya, jahatnya!”
Alby tertawa kecil, “Bagaimana Abang mau memberi tahu sayang. Kamunya mendesak mau ketemu dia mulu.”
Dokter Eli merapikan peralatan. “Aku ikut senang, Re. Selamat ya atas kelahiran Alka. Oh ya, mengenai kondisi kamu juga bagus. Jika besok tetap stabil seperti ini. Kau bisa pulang. Tapi ingat, jangan melakukan aktivitas yang berat, karena jahitan di perut kamu belum kering.
Rena mengangguk. “Aku mengerti Bu Dokter. Terima kasih ya.
Oek... Oek...
Alka menangis dalam gendongan perawat. Rena merentangkan kedua tangannya, meminta perawat itu memberikan padanya.
“Hallo sayang, selamat malam. Ini Bunda sayang.” Rena menyapa, lalu mengecup kening putranya. Seakan mengerti berada dalam gendongan sang ibu, Alka langsung diam. Bibir mungilnya tampak terbuka, seperti mencari sesuatu.
“Sepertinya Alka haus? Tapi, aku merasa ASI ku belum keluar,” ucap Rena sendu. Sedih karena tak bisa langsung memberikan putranya ASI.
“Itu hal biasa Rena. Tidak perlu cemas, pikiran yang stres juga mempengaruhi produksi ASI. Dalam beberapa hari ke depan ASI mu pasti akan keluar, asal kamu mengkonsumsi makanan yang sehat, jangan lupa minum vitaminnya,” terang Dokter Eli.
Rena mengangguk. “Terima kasih. Aku mengerti.”
“Satu lagi. Peran seorang suami juga sangat penting lho. Untuk menjaga mood seorang ibu menyusui.”
Alby mengangguk. “Tenang sayang. Abang siaga dua puluh empat jam!”
“Ya sudah, aku permisi dulu ya Re. Nanti akan ada petugas yang membawa ranjang bayi kesini. Karena kan kamu ingin Alka di sini.” Dokter Eli berpamitan, begitupun dengan perawat yang mendampinginya, setelah sebelumnya perawat itu memberikan satu botol susu formula.
Keempat orang di sana, menatap haru bagi mungil dalam gendongan Rena.
“Daddy kayaknya udah lupa cara menggendong bayi. Terakhir kan waktu kamu bayi, Re.”
“Memangnya iya. Orang kaya Daddy bisa gendong bayi? Kok aku gak percaya,” cibir Rena.
“Hem gak percaya. Dulu waktu bayinya Davis juga Daddy yang banyak urus. Iyakan Mom?" Tanya Rava meminta pembelaan istrinya.
“Iya! Tapi itu juga karena Daddy mu ada maunya. Biar Mommy bisa maafkan kesalahan dia.”
Rena terkekeh, sedikit mengobati rasa sedihnya karena belum bisa memberikan Alka ASI. “Kenapa dimaafkan sih Mom. Harusnya biarkan saja,” ejek Rena.
Rava menghela nafasnya. “Kalau Mommy mu gak maafkan Daddy. Gak akan ada kamu di dunia ini,” jawabnya membuat Rena terdiam telak.
“Dan aku gak akan mempunyai istri seperti kamu sayang,” timpal Alby seraya mendaratkan kecupan di pipi istrinya.
“Dasar menantu gak ada ahlak, depan mertuanya ya nyosor aja,” celetuk Rava membuat Alby salah tingkah. “Lupa Dad!”
Rena dan Dinda hanya tertawa geli.
.
.
.
.
Udahlah drama tabur bawangnya. Nanti nyesek jadinya🤭