Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Panggilan Pertama



Memasuki usia sepuluh bulan. Alka benar-benar sedang aktif-aktifnya. Anak itu sudah mulai merangkak, dan terkadang merambat satu dua langkah. Hingga terkadang saat Rena tidak mengawasinya dengan benar, Alka sudah berada di depan pintu.


Rena memang masih tetap bekerja. Namun, ia tetap tidak ingin melewatkan perkembangan putranya. Jadi, setelah pekerjaannya usai ia akan langsung bertolak ke rumah. Beruntunglah saat itu Alby mendesaknya untuk menambah baby sitter. Karena jika tidak Ibu Soraya akan kerepotan. Sementara Nany Ratri tetap menjadi pengasuh Misel. Bagi Misel Ratri itu bukan hanya seorang pengasuh, tapi sudah seperti bibinya sendiri.


Alby juga semakin sibuk dengan pekerjaannya. Karena ibu Soraya sudah benar-benar lepas tangan dari perusahaan. Perempuan setengah baya itu memilih menghabiskan waktunya dengan momong cucu-cucunya. Ia tidak mau lagi terjun ke dunia bisnis. Hanya sesekali menemani sang suami saat ada pertemuan rekan kerja.


Sore itu Alby pulang kerja lebih cepat. Melihat Alka yang sudah merangkak juga sedikit merambat selangkah dua langkah sampai depan pintu. Rasa lelah yang berada di tubuhnya seketika lenyap, berganti rasa haru. Apalagi saat mendengar kata pertama yang berhasil bayi gembul itu ucapkan.


“Yayah,” panggilnya seraya merentangkan kedua tangannya. Baby gembul itu meminta gendong pada sang ayah.


Alby memilih mencuci tangannya lebih dulu, baru menggendong Alka. Ia terharu mendengar putranya memanggil dirinya. “Coba ulangi sayang?” pintanya gemas. Tampak Alka tertawa khas seorang bayi.


“Yayah,” ucapnya lagi. Berhasil membuat Alby senang, ia langsung menghujani putranya dengan kecupan, yang membuat bayi itu tertawa.


“Aku yang hamil, ngidam, melahirkan. Eh pas lahir mirip kamu, Bang. Terus sekarang pas udah bisa berceloteh kenapa juga yang dipanggil kamu dulu.” Rena mencebik pada suaminya. “Abang curang!” desisnya, pura-pura merajuk.


Alby terkekeh geli melihat istrinya merajuk. Ia kembali menatap putranya, memang benar sekali wajah Alka sangat mirip dengannya.


Alby memberikan Alka pada pengasuhnya. Lalu mendekati istrinya, memeluknya dari belakang. “Jangan begitu dong sayang,” ucapnya seraya mengecup kepala sang istri. Semerbak aroma shampoo menguar. Ia menyukai aroma ini, wangi namun tetap menggairahkan. “Kamu harus tahu sayang. Ketika bangun tidur bahkan Alka lebih dulu mencari kamu,” sambungnya.


“Iya sih, Bang. Aku cuma pengen dengar Alka manggil aku Bunda gitu. Kok susah ya, Bang.” Rena mengusap lengan kekar suaminya yang masih melingkar di perutnya.


“Masih kecil sayang. Pelan-pelan aja nanti juga bisa. Abang bersyukur perkembangan anak kita begitu bagus,” ujar Alby kembali mengecup rambut istrinya.


“Iya, Bang.”


Alby menyibakkan rambut istrinya, mengecup bagian lehernya. Membuat Rena merasa geli.


“Abang ih. Lepasin ini tangannya, sana buruan mandi,” usir Rena. Ia berusaha melepaskan tangan suaminya, karena saat itu keduanya pun tengah berada di ruang tamu. Beruntunglah saat itu Misel masih menginap di rumah Mamanya, karena di sana ada adik-adiknya, terutama Chiara. Anak itu begitu senang mendapatkan adik perempuan.


“Udah selesai belum?” tanya Alby.


“Apanya?”


“Tamu bulanan kamu.”


“Oh udah!” sahut Rena refleks, lalu menutup mulutnya. Alby menyeringai senang, dan dengan cepat ia menggendong istrinya, membuat Rena terpekik kaget.


“Turunin bang. Nanti Alka nangis!” protes Rena kala sang suami menggendong dan membawanya masuk ke kamar. Rena sudah tahu ke mana arah pikiran suaminya, apalagi jika bukan adegan once again dengan alasan temanin mandi. Masalahnya Rena baru saja selesai mandi.


“Temanin Abang mandi sayang. Abang lagi males ini gosok-gosok punggung. Kamu gosokin punggung Abang ya,” pintanya seraya mengedipkan matanya nakal.


“Aku udah mandi, Bang.”


“Kan cuma nemenin,” desak Alby.


“Aku kaya gak tahu pemikiran Abang aja. Ngomongnya nemenin, ujungnya juga anu,” dengus Rena.


“Anu apa?” goda Alby setelah menurunkan istrinya di kamar.


“Tahulah Abang itu kan mesum.” Rena berbalik hendak berlalu keluar. Namun, Alby langsung menahannya. Membuat Rena kembali berbalik membentur dada sang suami.


“Bang ih. Nanti Alka nangis,” ujar Rena.


“Gak sayang. Aman kok, dia pengertian. Gak usah di kamar mandi, sekarang aja.”


“Rekap ulang once again, kan Abang udah seminggu puasa,” protesnya.


“Nanti Alka nangis bang. Nanti malam aja ya.”


“Udah gak tahan sayang. Abang main cepat deh,” seru Alby membuat Rena melongo karena dengan cepat lelaki itu sudah menanggalkan pakaiannya sendiri, membuat tubuhnya terlihat polos. Hingga Rena dapat melihat bentuk tubuh suaminya yang sempurna. Tak sadar ia menelan ludahnya, mana kala tangannya digenggam sang suami, kemudian memintanya mengusap otot perutnya yang menonjol. Tak hanya itu lelaki itu bahkan menuntut tangannya, untuk memainkan benda yang bergelantungan milik suaminya. Rena dengan refleks menurut, memijat, mere masnya. Membuat Alby memejamkan matanya keenaken. Bahkan lelaki itu terdengar men nge rang, meminta sang istri untuk mempercepat gerakannya.


Tahukah yang Alby lakukan itu, ia sengaja tengah memancing hasrat istrinya. Karena ia tahu istrinya itu bilang tidak mau, juga pasti akhirnya mau.


Tak ingin momen itu terganggu, Alby langsung mengangkat dagu istrinya, yang semula terlihat menunduk. Lalu mencium bibir istrinya secara cepat dan rakus. Hingga decapan lidah terdengar memenuhi ruangan itu. Alby dengan cepat meloloskan dress yang di kenakan istrinya, juga membuang pakaiannya dalamnya secara asal.


Pelan, ia merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Di bawah kungkungannya Rena hanya terdiam pasrah.


Tiba-tiba ia tersentak mana kala sang suami menyatukan tubuhnya di bawah sana. Memang Alby kerap melakukan adegan bercinta secara cepat, mengingat terkadang Alka tiba-tiba rewel. Sekarang ia harus pandai-pandai mencuri waktu.


Hentakkan semakin dalam, hingga suara de sah ab dan era Ngan terdengar. Beruntunglah tadi ia sudah mengunci pintu kamarnya. Maka tak khawatir jika akan ada yang mendengar suara istrinya.


Beberapa menit kemudian, Alby menyemburkan lahar panasnya di dalam rahim istrinya. Mengecup pelan kening istrinya.


“Terima kasih sayang. I love you,” bisiknya.


“I love you too,” balas Rena.


Tok! Tok!


“Bu Rena, Alka menangis terus.”


Terdengar suara pengasuh mengetuk pintu. Alby langsung berlalu masuk ke kamar mandi.


Sementara Rena yang mendengar putranya menangis, langsung turun dari ranjang, memungutnya pakaiannya yang tadi di buang secara asal oleh suaminya. Sialnya ia hanya menemukan dress dan juga bra nya. Sementara, kain segitiga miliknya entah kemana. Ini semua karena sang suami yang bercinta dengan buru-buru, lalu membuangnya asal.


Rena kesal, karena suaminya itu terlalu sering seperti itu. Ia hanya khawatir jika saat itu ada Misel. Anak itu akan bertanya yang aneh-aneh.


Karena mendengar tangisan Alka semakin kencang. Rena memilih membukakan pintu, tanpa menggunakan kain segitiga itu.


Ia langsung mengambil alih Alka, membawanya masuk ke dalam. Duduk di pinggir ranjang, Rena mulai menyusui putranya. Beruntunglah tadi, Alby tak melahap pabrik asi putranya, jadi ia tidak perlu membersihkannya lebih dulu.


Lima belas menit kemudian, Alby keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berseri-seri. Mendekati istrinya ia menoel pipi Alka.


“Bang, tadi Abang lempar ke mana ce la na da lamku?” tanya Rena.


Alby memindai ruangan itu. “Ke mana ya sayang? Aduh!”


“Pokoknya cari sampai ketemu bang. Aku gak mau pokoknya kalau sampai gak ketemu. Nanti kalau Misel yang menemukan aku harus ngomong apa.”


“Iya sayang. Nanti Abang cari. Abang tak ganti baju dulu.” Alby mengganti pakaiannya. Setelahnya, ia pun menuruti perintah istrinya, ternyata barang yang dicari istrinya, berada di bawah kolong meja rias. Ia jadi berfikir sekuat apa tenaganya tadi saat melemparkan kain itu.


“Lain kali jangan begitu bang. Suka asal sih kalau lempar-lempar.”


“Ya maaf sayang. Udah kebelet, jadi lupa kendali!”


Rena hanya mengerucutkan bibirnya. Melihat Alka terlelap, ia segera menidurkan Alka. Lalu, ia berlalu membersihkan diri. Akibat ulah suaminya sore itu ia harus mandi dua kali. Alby memilih menjaga putranya lebih dulu selama istrinya mandi.