
Alby memilih menutup laptopnya, membawanya ke dalam kamar berniat mengecek keadaan istrinya. Pasalnya Alby tahu Rena jarang sekali mengeluh sakit. Sampai di kamar ia melihat istrinya baru selesai mandi, tapi sudah menggunakan pakaian tidur yang lengkap. Wajahnya terlihat pucat, rambutnya basah, sesekali perempuan itu akan bersin-bersin.
Hacih! Hacih!
Rena menggaruk hidungnya yang mendadak terasa gatal, seperti akan mengalami flu.
Alby meletakkan laptopnya di atas meja, kemudian melangkah mendekati istrinya, lalu menggandeng tangan istrinya menuju meja rias.
"Duduk!" titahnya.
Rena menurut saja, karena ia merasa kepalanya memang terasa pusing.
"Sudah malam, kenapa nekat mandi dengan air dingin. Harusnya pakai air hangat, sudah tau pusing," omel Alby seraya menghidupkan hair dryer.
"Abang mau ngapain? Aku pusing mau tidur."
"Sebentar dulu!" Cegah Alby menekan tubuh istrinya untuk tetap duduk. "Keringkan dulu rambutnya, kebiasaan kamu itu tidur dalam keadaan rambut basah. Itu juga bisa menimbulkan sakit kepala." Lelaki itu mulai mengeringkan rambut istrinya.
"Tadi buru-buru bang. Gak sabar, akunya juga udah pusing banget. Kok bisa dadakan ya bang, pusingnya," sahut Rena lemah.
Alby menghela nafasnya, "mungkin karena kena angin tadi. Makanya kalau gak bisa naik motor itu ya udah pakai taksi aja. Ngapain pake ugal-ugalan segala. Aku gak mau ya jadi duda ke dua kali," celetuk Alby.
"Abang ihh. Nyumpahin aku mati ya!" pekik Rena kesal, sudah tau istrinya tengah pusing malah di ejek begitu.
"Gak gitu. Ya coba kamu pikir aja, orang ugal-ugalan itu bisa selamat masih untung. Makanya aku minta kamu hati-hati, karena aku masih ingin hidup sama kamu lebih lama lagi," tutur Alby seraya mematikan hair dryer karena rambut Rena sudah kering, bahkan Alby pun sudah selesai menyisirnya.
Rena terharu mendengar ucapan suaminya, "Abang so sweet. Pengen peluk, tapi aku gak kuat berdiri bang, kepalaku pusing banget. Coba Abang aja yang peluk aku dari belakang." Perempuan itu justru meletakkan kepalanya di atas meja.
Alby mencebik dalam keadaan sakit pun Rena masih bisa bersikap konyol. Tapi, tak urung ia pun merengkuh tubuh istrinya dari belakang. "Badan kamu kok jadi panas." Alby menjauhkan tubuhnya.
"Pusing bang."
Alby segera membopong Rena, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan pelan. Menarik selimutnya hingga sebatas dada, Rena terdiam pasrah.
"Sebentar, aku ambilin obat penurun panas dulu ya." Alby berlalu keluar mencari kotak obat.
Tak lama ia kembali membawa obat dan segelas air mineral. "Minum dulu obatnya habis itu minum ya?"
Alby membantu istrinya untuk merubah posisinya setengah duduk, kemudian memberikan obat dan air mineralnya.
"Ya udah kamu istirahat ya," ujar Alby sambil membantu Rena kembali berbaring. Setelahnya, Alby berniat untuk berlalu pergi. Tapi gerakannya terhenti saat pergelangan tangannya di pegang oleh Rena.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Alby menoleh ke arah istrinya.
"Hem. Abang mau kemana?" tanyanya lirih.
"Nyelesain pekerjaan. Udah kamu tidur aja." Alby mencoba melepaskan tangan istrinya.
Rena menggeleng. "Abang jangan pergi dulu ya. Temani aku tidur dulu."
"Tapi-"
"Ayo bang. Biasanya aku di temani Mommy kalau lagi sakit tidurnya. Tapi karena aku sekarang-"
"Oke. Abang temani." Alby memotong ucapan Rena dengan cepat. Melepaskan tangan Rena, lalu memutar tubuhnya ke sisi ranjang yang lain, merangkak naik dan tidur di sebelah Rena.
Rena tersenyum dan beringsut pelan mendekati sang suami, kemudian memeluk sang suami. Membuat kedua mata Alby membeliak.
"Ren, ini-"
"Sebentar bang. Sampai aku tidur doang," ujar Rena.
Alby terdiam seraya menelan ludahnya secara susah. Pasalnya kepala Rena yang terus meringsek ke dalam dadanya, membuat Alby terasa tersiksa. Ia merasa seluruh aliran darahnya tiba-tiba terasa panas. Saat ini Rena tengah sakit mana bisa ia bermain-main. Ya meskipun kalau Rena tidak sakit ia pun belum bisa melakukan hal yang lebih. Tapi paling tidak ia masih bisa icip-icip bagian atas, kalau sekarang istrinya sedang sakit mana tega ia menurut ego hasratnya.
Alby sekuat tenaga menahan nafasnya, meski tubuh bagian bawahnya terasa begitu penuh. Akibat ulah kaki Rena yang terus menyentuhnya, memang perlahan perempuan itu sudah mulai terpejam.
Belakangan Alby memang sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya, dan akan kembali ke kamar ketika Rena sudah tertidur, karena ia tau tidur bersama pun belum bisa apa-apa.
****
"Lho Tuan sedang apa?" Bi Surti seorang asisten rumah tangganya bertanya, ketika melihat Alby sibuk menyiapkan seporsi makanan, lalu meletakkan di atas nampan. Bahkan ia juga menyeduh susu putih.
"Ini sarapan buat istri saya Bi. Lagi gak enak badan soalnya." Alby menjawab dengan ramah.
"Oh, kalau gitu biar saya saja."
"Gak usah Bi. Ini sudah selesai, tinggal bawa saja. Tolong bilangin ke Nany Ratri ya Bi, urus Misel hari ini. Soalnya bundanya lagi sakit biar banyak istirahat."
"Baik Tuan!"
Alby berlalu kembali ke kamar. Dan sampai di sana ia melihat Rena sudah duduk bersandar di ranjang. Perempuan itu menoleh ketika mendapati sang suami kembali masuk dengan membawa nampan.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Alby seraya meletakkan nampan di atas nakas, kemudian mengambil kursi, dan duduk di sisi Rena.
"Udah kok bang. Aku udah sehat. Abang ngapain repot-repot bawa makanan ke kamar, aku kan bisa turun."
"Gak apa-apa, kamu istirahat aja dulu jangan banyak gerak." Alby berucap lembut. "Sekarang kamu makan ya? Abang suapin."
Rena menggeleng, "aku bisa makan sendiri bang. Aku udah sehat. Udah Abang mandi aja."
Alby mengambil makanan yang ia bawa, ia berikan pada istrinya. "Makasih ya bang." Rena mulai menyantap makanannya dengan pelan. Alby tetap duduk di sisinya, tak ada niat untuk beranjak.
"Abang ngapain liatin. Udah sana mandi bang, nanti gantian," ujar Rena saat menyadari suaminya sejak tadi justru anteng duduk aja.
"Malas. Em bareng aja yuk? Biar hemat air," tawar Alby.
Rena langsung mencubit lengan suaminya. "Abang ih!"
Alby meringis, kemudian memangku kepalanya, seraya mencondongkan kepalanya menatap istrinya. "Berapa hari lagi?" tanyanya lirih.
Rena menghentikan makannya. "Apanya bang?"
"Tamunya pergi." Alby berdecak kesal.
Rena terkekeh. "Abang kok mesum banget sih. Gak sabaran banget."
"Bukannya gak sabar. Aku tuh ngerasa tersiksa, coba kamu bayangin tidur kamu semalam kaya apa. Aku hampir gak bisa tidur Ren. Cenut-cenut tau. Mau pergi kamunya ngusel mulu."
"Abang ihh!!" Pekik Rena.
"Pokoknya besok kalau udah selesai aku langsung tancap gas."
"Iya bang iya. Empat apa tiga hari lagi selesai kok."
"Lama amat? Pernikahan Kakak ipar aja besok lusa. Bisa-bisanya aku malam pertama malah keduluan," protes Alby.
"Terserah kamu lah bang!"
.
.
.
.
.