Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Solusi



Alby menyentak nafasnya, harus bagaimana lagi ia berkata. Bukankah tadi ia sudah memberikan solusi. Tapi tanggapan Rena justru lain. Alby tak menduga jika ibu menyusui pun ternyata lebih sensitif.


“Kan tadi udah Abang beri solusi, sayang. Biar Alka minum susu formula dulu, kamu bilang gak boleh. Abang suruh kamu tetap kasih dia ASI. Kamu bilang sakit. Terus Abang harus gimana? Perasaan kok Abang jadi salah terus,” desis Alby. Dalam hati lelaki itu mengharapkan stok kesabaran yang tiada habisnya. Tidak hanya ibu hamil, dan perempuan datang bulan yang sensitif, ternyata ibu menyusui pun sama lebih sensitif malah.


“Tuh kan, Abang nyolot!” seloroh Rena, wajahnya mulai menggelap sendu. Perlahan mulai terisak.


Alby sungguh tidak mengerti, kenapa istrinya justru jauh lebih menyebalkan dibandingkan saat mengandung Alka. Sementara, putranya saat ini terus menangis. Perasaannya kini bercampur aduk.


“Lalu Abang harus gimana, Re?”


“Ya cari salusi agar Asiku cepat keluar lah, Bang.”


Alby terus menimang putranya yang terus menangis. “Kamu saja yang dokter tidak tahu. Apalagi Abang,” sergah Alby.


“Aku kan bukan dokter kandungan. Memangnya kalau seorang dokter itu, harus tahu semua gitu,” kata Rena sedih. Ia merasa suaminya itu seakan tengah menyalahkan dirinya.


Tangisan Alka yang kencang tak kunjung mau berhenti. Membuat Dinda yang saat itu tengah menginap di rumah mereka terusik. Perempuan setengah baya itu, pun masuk ke kamar mereka.


“Ini kenapa cucu Grandma kok nangis terus?” tanya Dinda begitu membuka pintu terkejut melihat Alka tengah digendong Alby. Namun, tetap menangis.


“Haus dan lapar, Mom.”


Dinda mengambil alih Alka dalam gendongan Alby. “Kalau begitu beri dia susu.”


“ASI ku gak lancar, Mom. Dan Bang Alby nyalahin aku terus,” adu Rena, membuat Alby mendelik tak percaya.


“Lho Abang gak nyalahin kamu, Re. Abang malah udah kasih solusi untuk kasih Alka susu formula dulu. Tapi, kamunya malah gak ngebolehin. Kan jatuhnya Abang bingung,” bela Alby.


“Kan udah Rena bilang kalau–”


“Stop!” sela Dinda kemudian, membuat perdebatan anak menantunya itu terhenti. Ia menggelengkan kepalanya.


“Anak akan rewel kalau orang tuanya ribut terus begitu. Jadi, lebih baik dari pada adu mulut terus.” Dinda menatap ke arah Alby sesaat. “Alby kamu bantu Rena agar ASI-nya cepat keluar,” titahnya.


“Caranya?”


“Pijat dan urut dadanya. Pokoknya sebisa mungkin kamu harus bisa memancingnya.”


Alby meneguk ludahnya, sementara Rena melongo.


“Mom–”


“Kenapa? Kamu gak mau. Halah kaya biasanya gak bisa mijat aja. Padahal udah biasanya kan kamu melakukan hal yang lebih dari itu,” tukas Dinda membuat wajah keduanya merona.


”Mom, tapi–”


“Mommy gak bercanda. Ini serius, karena ini yang Mom lakukan dulu saat melahirkan kamu, Re. Sudah lakukan sekarang. Mommy bawa keluar Alka dulu. Sementara, Mommy akan berikan dia formula. Mommy gak mau kamu stress, dan akhirnya mengidap syindrom baby blues. Sebisa mungkin kontrol perasaan kamu, Re." Dinda memberi pesan sebelum kemudian berlalu keluar dari kamar mereka.


Usai kepergian ibu mertuanya. Alby menatap istrinya dengan pandangan bingung.


“Sayang, ini gimana?” tanya Albu gusar.


“Gimana apanya? Abang gak dengar apa kata Mommy. Cepat lakuin.”


Alby menyentak nafasnya, rasanya sungguh frustasi. Oh ayolah, saat ini ia sedang dalam mode puasa. Lalu, ia diminta untuk memijat area sensitif istrinya. Melihat tubuh istrinya saja, hasratnya sudah menggebu-gebu, dan baper lalu ingin lepas kendali. Lalu kenapa ibu mertuanya itu memberikan solusi yang menurutnya penuh tantangan. Bagaimana jika dirinya keblablasan tak bisa menahan diri.


Alby mengacak-acak rambutnya. “Sayang, apa gak ada cara lain?” tanya Alby penuh harap. Kedua kakinya kini sudah menekuk di hadapan istrinya.


“Coba telpon dokter Eli sayang. Minta solusi," ujar Alby.


“Abang tuh gak ingat ini jam berapa? Masa malam-malam gini ganggu orang istirahat sih bang.”


“Ya udah. Kalau begitu gimana, kalau besok aja mulai memberikan ASI buat Alka-nya?”


Rena berdecak melihat suaminya terus melakukan penawaran. “Ini tuh udah sakit, Bang. Dan harus segera di keluarin, Abang mau da da aku bengkak,” omelnya.


Alby seketika menganga, mendengar Omelan istrinya. “Oke, akan Abang pijat.”


Alby beranjak, “Mau ke mana?”


“Kunci pintu dulu. Takutnya, Misel tiba-tiba masuk.” Lelaki itu segera meneruskan langkahnya mengunci pintu, dan berlalu ke kamar mandi sebentar untuk mencuci tangannya lebih dulu. Lalu kembali lagi ke hadapan istrinya.


“Ayo bang. Rena bukain ya?” tawar Rena hendak membuka kancing piyama miliknya.


Alby mencegahnya. “Ini kok. Kelihatannya kamu jadi semangat banget ya, mau Abang pijit plus-plus.”


Rena mendelik, “Plus-plus apaan? Abang jangan berpikir yang gak-gak ya?Ini jahitan di perut belum kering.”


Alby terkekeh geli, kemudian membuka satu persatu kancing piyama istrinya. Tak lupa mengeluarkan isi di balik kain pembungkus pabrik asi milik Alka, yang terlihat menantang. Melihat tatapan sang suami, membuat wajah Rena bersemu. Bak anak perawan yang baru pertama kali diajak bercinta. Padahal ia sudah berkali-kali melakukan hal yang lebih dari sekedar pijatan, tapi kenapa rasanya masih malu sekali.


Menatap wajah istrinya, Alby sedikit terkekeh. “Kok pipinya merona gitu sih? Abang jadi gemes, Re.”


“Dih, siapa yang merona,” cetus Rena mendelik kesal. “Jadi, pijat gak sih bang?” sambungnya.


“Iya sayang. Iya."


Memastikan kondisi tangannya benar-benar bersih, Alby mengambil baby oil ke tangannya. Kemudian mulai memijat da da istrinya secara pelan.


Awalnya memang rasanya biasanya saja. Alby bisa menahan diri. Namun, makin lama ia merasa kesulitan bernafas, seiring dengan tubuhnya yang terasa memanas.


“Sayang?” panggil Alby. Membuat Rena menoleh dan pandangan keduanya bertemu. “Ini kalau pake bibir Abang aja boleh gak sih?"


Rena melotot. Namun, belum sempat ia menjawab Alby sudah mendaratkan bibirnya di sana. Me ngu lum pucuk da da istrinya.


Rena mengerang dengan kedua tangan mencengkeram rambut Alby, kala sang suami tengah me ngu lum pucuk da danya.


Dasar lelaki! Padahal baru beberapa detik saja melihat dada istrinya yang terkespos tanpa penghalang. Alby langsung kehilangan kendali, untuk tidak menyerang perempuan itu.


“B–bang...” Rena men de sah. Berbaring dengan kepala menengadah ke atas. Lucunya, ia sendiri mulai terbakar gairah. Hanya karena sang suami mengelus, meraba dan meng ulum. Karena mereka tak bisa melanjutkan hal itu ke tahap yang lebih.


“A–abang... Ih....” rengek Rena. Karena sang suami tak kunjung menyudahi kegiatannya. Lelaki itu semakin betah bermain-main dengan kedua gundukan sintal miliknya.


.


.


.


.


Aduh, anu itu apa namanya? Albu payah baru sepuluh hari padahal.