
Berbeda dengan Rena dan Alby yang tengah menikmati bahagianya menjadi orang tua, atas kehadiran Alka. Rumah tangga mereka terasa lengkap karena kini sudah memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.
Miko justru merenggut kesal, karena di malam lewat jam dua belas malam ini. Miranda tiba-tiba ingin mengadakan barbeque. Alhasil di sinilah kini dirinya berada, di belakang rumah tepatnya di teras belakang. Bersama keluarganya dan juga asistennya.
“Ini karena kebanyakan buatnya malam-malam makanya anaknya selalu minta hal yang unik tengah malam,” celetuk Yanto sambil menggerakkan kipasnya di atas pemanggang. Bukan tanpa alasan ia berkata demikian, persoalan belut saja, Yanto tahu karena Irawan mengatakannya, beruntunglah saat itu ia tengah pulang kampung, jadi ia tidak kena imbasnya.
Contohnya sekarang, sedang asyik-asyiknya tidur ia di telpon atasannya itu, meminta untuk menyiapkan barbeque, bukan hanya itu ia bahkan juga diminta untuk membangunkan Irawan, Amira dan Clara.
Beruntung ada Clara, rasa kesalnya jadi sedikit terobati.
“Kebanyakan protes. Gagal kawin aja, kamu jadi ngeselin banget ya Yanto!” cibir Miko.
“Gak usah diperjelas juga kali Pak Boss. Kalau saya udah ngambek, saya pulang juga ni,” sahut Yanto mengancam. Padahal aslinya mana berani.
“Makanya gak usah protes mulu. Kamu itu bisanya ngomong terus, belum rasain sih gimana rasanya istrinya ngidam. Makanya jomblo itu jangan dipelihara.”
“Sabar lah Pak Boss. Tunggu lima tahun lagi, iyakan neng Clara?” Yanto melirik ke arah Clara yang tengah duduk di samping Miranda. Gadis remaja itu hanya melongo dengan bingung. Begitupun dengan kedua orang tua Miko.
“Tuh Pa, Ma.. dengarkan apa kata Yanti ini ma. Dia mau emm....” Miko tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, saat mulutnya langsung dibekap oleh Yanto.
“Kalian ini kenapa sih ribut terus. Heran deh Papa, gak di kantor gak di rumah usah kaya kucing dan tikus. Awas lho benci bisa jadi cinta.”
Wek! Miko dan Yanto berlagak pura-pura muntah mendengarnya.
“Aku punya istri ya, Pa. Mana doyan aku sama terong,” celetuk Miko.
“Saya juga gak doyan sama Pak Boss. Saya itu cuman mau sama Cla–”
“Tuh kan Pa, Ma. Gimana gak kesal coba, dia dari tadi yang diomongin Clara mulu, anak ini itu dari tadi ngincar anak Papa dan Mama. Emang Papa dan Mama mau punya menantu kaya dia, aku sih ogah punya adik ipar kaya dia. Amit-amit, masa Clara masih piyik jodohnya pedofil gini.”
“Pak Boss ih...”
“Omongan Yanto kok kamu percaya. Sudahlah buruan itu matengin dagingnya, itu istrimu udah pengen dari tadi kok,” seru Irawan. Ia merasa pusing mendengar Miko dan Yanto terus beradu mulut sejak tadi.
“Papa gak marah gitu sama dia?” Miko melirik ke arah asistennya. “Omelin kek, jangan diemin aja,” protesnya.
“Untuk apa? Lagian Clara itu masih kecil mana ngerti begituan. Yanto juga paling hanya bercanda.”
“Kalau tidak bercanda gimana? Kalau dia benar-benar mengincar Clara gimana?” cecar Miko.
“Kalau sudah jodohnya mau bagaimana lagi. Yang terpenting sekarang Clara itu masih kecil, urusan menikah itu masih sangat jauh. Buat apa kamu meributkannya,” seru Irawan.
“Tapi kan–”
“Sayang, mana daging dan jagungnya? Aku udah pengen banget ini. Kok belum matang-matang?” protes Miranda sengaja menyela ucapan suaminya.
“Iya sayang sebentar lagi,” sahut Miko mengambil piring untuk membawa jenis daging dan jagungnya. Sebelum berlalu lelaki itu melirik ke arah Yanto dengan mata mengancam, yang hanya dibalas cengiran oleh Yanto.
“Ini Pak Boss kok ya serius amat ya nanggepinnya. Ya masa iya aku beneran naksir Clara. Gak ada nyali buat jadi menantu Tuan besar lah. Aku itu ya sadar diri. Kalau aku dan Clara itu ibarat Bumi dan Langit," gumamnya sendiri.
“Wes cukup sepisan Inyong patah hati,” sambungnya. (Sudah cukup satu kali aku patah hati). Bayangan kemarin pulang kampung bertemu dengan mantan kekasihnya yang sudah menimang bayi kembali terlintas. Harusnya jika hubungannya itu langgeng, kemungkinan besar saat ini ia sudah menikah. Karena kandas di tengah jalan, Yanto pikir lebih baik ia jomblo saja.
“Yanto?!” panggil Miranda sedikit berteriak mengejutkan dirinya.
“Iya Bu.”
Yanto mengangguk, betapa baiknya istri bossnya itu. Bahkan ia kerap numpang sarapan di rumahnya, tak tanggung-tanggung Miranda juga kerap membungkus kan bekal untuk dirinya juga. Makanya tak heran jika Miko kerap kesal padanya. Meski begitu ia tahu, Miko itu sangat baik padanya.
Membawa hasil panggangannya ke meja, ia pun ikut bergabung dengan keluarga itu.
“Gimana Yanto? Udah ada gambaran jodoh belum?” tanya Irawan iseng-iseng.
Yanto menggeleng. “Belum. Mau sendiri aja deh Tuan besar.”
“Mana enak. Gimana kalau biar saya aja yang cari jodoh buat kamu,” tawarnya sontak menghentikan aktivitas makannya.
Uhuk! Uhuk!
Clara tersedak makanannya, membuat Amira menoleh meminta putrinya untuk meminum.
“Papa mau jodohin Bang Yanto gitu?” tanya Clara setelah berhasil melegakan tenggorokannya. Ia menoleh ke arah Papanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Iyalah. Itu juga kalau Yantonya mau, kan kasihan kemarin udah gagal tunangan, sayang. Karena Papa udah anggap dia kaya anak sendiri, apa salahnya bantu.”
“Gak boleh!” tegas Clara. Membuat semua mata kini beralih menatap ke arahnya.
“Clara–”
“Pokoknya gak boleh. Gak ada yang boleh nikah dengan Bang Yanto. Dia itu hanya milik Clara,” tukas Clara memandang ke arah mereka dengan sengit.
Yanto sendiri bahkan terkejut mendengarkan ucapan anak majikannya itu. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Miko memberi tatapan tajam ke arah asistennya itu.
“Kalau ada yang mau miliki bang Yanto itu cuma aku. Gak ada yang lain,” tambahnya kemudian berlalu pergi. Meninggalkan keheningan di meja makan itu.
“Apa yang kamu katakan pada adikku, sampai dia bisa seperti itu? Dia itu masih kecil Yanto. Kamu gak ada niat jadi pedofil kan,” sergah Miko menatap asistennya kesal.
“Gak ada.. saya–”
“Kamu pasti–”
“Sudah Miko jangan membuat keributan. Papa percaya kok sama Yanto. Itu mungkin Clara saja yang gak rela kalau dia nikah. Kan Clara anggap dia kaya kakak sendiri. Biasa masih anak-anak. Udah pada lanjutin makannya.” Irawan meredakan keributan di meja makan itu. Meski dalam hati ia sendiri merasa bingung dengan perkataan Clara. Perkataannya bukan seperti anak remaja pada umumnya, namun lebih seperti perempuan dewasa yang penuh obsesi.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya ya.
Oh ya Mampir di karya aku yang baru yuk. judulnya “Sebatas Istri Bayaran” update setiap hari juga. Aku tunggu jejaknya di sana ya. Gak bosen-bosen aku promo mah🤭😂