Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Imunisasi Alka



Hari berlalu, tanpa terasa usia Alka kini sudah memasuki ke dua bulan. Masih ada sisa satu bulan lagi waktu Rena cuti. Hari ini adalah jadwal Alka melakukan imunisasi, dan Alby sengaja berangkat siangan, demi mengantarkan istri dan putranya ke rumah sakit.


Sebelumnya, Rena sudah mengatakan tidak masalah. Ia bisa membawa Alka seorang diri. Tapi, Alby tetep kekeh ingin mengantarkan keduanya.


“Selesai Alka imunisasi, kamu juga ya sekalian konsultasi,” ujar Alby begitu tiba di rumah sakit.


“Konsultasi apa?” tanya Rena pura-pura polos.


“Jangan pura-pura gak tau deh. Aku maunya apa?” Alby berdecak. Sudah sepuluh hari yang lalu empat puluh hari terlewat. Artinya ia sudah diperbolehkan untuk melakukan hubungan dengan istrinya. Namun, karena mengingat kondisi istrinya yang melahirkan secara Caesar. Alby lebih memilih dulu menahannya, dan menerima bersolo karir di kamar mandi.


Rena terkekeh. “Iya nanti aku akan konsultasi sama Dokter Eli. Bagusnya pakai kontrasepsi apa? Lagian gak usah pakai gak apa-apa kali bang. Biar Alka cepat punya adik.”


“Gak usah!” kata Alby tegas.


“Lha kok?”


“Alka masih kecil sayang,” ujar Alby seraya mengecup pipi putranya yang kini tertidur lelap di gendongan istrinya. “Lagian, aku masih trauma karena kejadian kamu melahirkan dia. Kayaknya Abang akan pikir-pikir dulu deh buat kamu hamil lagi,” sambungnya dengan wajah sendu, mana kala bayangan saat Rena melahirkan putranya itu terlintas. Rasanya begitu membekas.


“Itu kan musibah, Bang.”


“Justru karena itu, Abang harus hati-hati sekarang. Gak mau kejadian itu kembali terulang. Abang takut, Re.”


Rena menghela nafasnya, untuk saat ini ia lebih memilih mengangguk, menurut perkataan suaminya. Ia akan lebih fokus mengurus anak-anaknya.


“Iya, Bang.”


🦋🦋🦋


Alby duduk memangku Alka, sementara Rena memilih duduk di sisi suaminya. Dokter Eli mulai mengambil jarum suntik, dan memasukkan obat ke dalamnya. Alby menatapnya jarum suntik itu dengan tatapan ngeri, membayangkan jarum suntik yang panjang itu akan menusuk kulit putranya yang mungil itu.


Dokter sedikit mendorong jarum suntik itu, hingga membuat obat itu sedikit keluar, semua itu memastikan jika jarum itu berfungsi dengan baik.


Kemudian, Dokter Eli menggeser tubuhnya, hendak menancapkan jarum suntik itu di paha Alka.


“Tunggu... Tunggu!" perkataan Alby menghentikan niat Dokter Eli, ia memandang heran ke arah suami sahabatnya itu.


“Dokter, kenapa kamu menyuntik bayi sekecil ini?” tanya Alby tiba-tiba membuat dokter Eli terkejut, tak terkecuali Rena yang melongo.


“Ini vaksinasi Hepatitis B,” terang Dokter. Setelahnya, kembali mengarahkan jarum suntik itu pada Alka.


“Astaga, tunggu... Tunggu!” cegah Alby lagi. Hal itu semakin membuat Rena menganga, dengan tingkah laku suaminya. Sebenarnya, yang takut jarum suntik itu Alka apa Ayahnya.


“Apalagi, Pak?" tanya Dokter Eli.


Alby memejamkan matanya, lalu membukanya perlahan. “Tolong pastikan tidak sakit,” pintanya.


“Baik! Jangan khawatir,” jawab Dokter Eli masih mencoba sabar. Ia kembali bergerak hendak menyuntikkan jarum itu ke Alka.


“Tunggu,” cegah Alby lagi, bahkan ia menghalangi badan Alka dari tangan dokter. “Apakah itu aman? Apakah itu sudah disetujui oleh pihak WHO?” sambungnya bertanya dengan beruntun. Rena memijat kepalanya, rasanya ia ingin membenturkan kepalanya, di meja saat ini kala melihat tingkah suaminya yang begitu lama mengulur waktu.


“Ya, aman. Jangan khawatir,” jawab Dokter Eli. Lagi, perempuan berjas dokter itu kembali bergerak.


Dokter Eli menghela nafasnya, menoleh ke arah Rena. “Re, sebenarnya yang takut jarum suntik itu anakmu apa suamimu sih?” keluh Dokter Eli.


“Abang ih, apaan sih segitunya. Jelas saja itu aman. Masa Abang gak percaya dokter sih,” omel Rena.


“Sayang. Aku tuh bukannya gak percaya. Tapi, ini semua juga demi kebaikan Alka. Coba kamu lihat ukuran jarum suntik itu yang besar, terus nusuk anak kita. Apa gak kesakitan nanti Alka. Udahlah sayang gak usah suntik, kita pulang aja.” Alby berniat untuk beranjak dari sana.


Rena berdecak. “Udahlah sini Alka sama aku aja.” Ia mengambil alih Alka dalam gendongan Alby. “Abang tuh kaya baru pertama kali punya anak aja. Mau vaksin anak aja ribet,” sambung Rena seraya mendudukan dirinya di kursi kembali. Tampak Alka hanya tersenyum khas bayi.


Alby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Sebenarnya baru kali ini juga Abang lihat anak di vaksin. Dulu Misel kan di urus Ibu soal begituan.”


Rena menghela nafasnya, pantas saja jika suaminya begitu khawatir. Sementara Dokter Eli tersenyum, seraya melanjutkan niatnya untuk memberi vaksinasi pada Alka. “Suamimu unik ya, Re.”


“Bukan Dok. Tapi, aneh.”


Alby melotot mendengarnya, baru siap menyahut terdengar tangisan Alka menggelegar. Rena berusaha menenangkan putranya, sementara Alby langsung panik. “Tuh kan sayang. Aku bilang juga apa? Pasti sakit banget. Kamu sih ngeyel pakai di suntik segala,” omel Alby.


Mendengar Omelan Alby, Alka justru menangis semakin kencang. Rena hanya berdecak kecil, membiarkan dokter memberikan obat tetes polio pada putranya. “Ini pasti mengandung efek samping. Aduh gimana ini anakku? Sayang, kita harus tuntut rumah sakit ini. Masa anak kita jangan nangis gini.”


“Abang!!”


Alby langsung diam mendengar teriakan istrinya. Apa yang salah dia hanya tengah ingin melindungi putranya.


“Besok lagi, Abang gak usah anterin aku dan Alka vaksin. Kalau gak mending besok-besok aku vaksin Alka sendiri lah. Gak usah ke rumah sakit, Abang tuh ribet,” omel Rena seraya beranjak menenangkan putranya. Rena menimang-nimang Alka, hingga tak lama kemudian bayi mungil itu mulai terdiam.


“Sekarang, Abang gendong Alka dulu. Aku mau konsultasi dulu sama dokter Eli.” Rena memberikan Alka pada suaminya dengan pelan-pelan. “Awas bang, jangan sampai nyentuh bekas yang disuntik,” katanya mengingatkan.


“Iya sayang. Abang ngerti kok.” Alby dengan hati-hati menggendong putranya. Sementara, Rena berlalu menghadap Dokter Eli, untuk konsultasi.


“Ya ampun, nak. Kamu itu memang duplikat ayah banget ya. Ini mah benar-benar kaya copy paste,” ujar Alby kala menatap wajah putranya yang begitu mirip dengan dirinya. Perlahan kedua mata Alka mulai terpejam.


Tak lama kemudian, Rena sudah selesai. Mereka akhirnya pulang.


.


.


.


.


.


.


Hai jangan lupa lempar hadiahnya ya.


Jangan lupa juga mampir di karya aku yang baru ya judulnya, “Sebatas Istri Bayaran” update setiap hari 1–3 bab, aku tunggu jejaknya di sana ya.. hehehee