
Rena tiba sampai di depan rumah, dan masuk dengan terburu-buru tanpa memarkirkan mobilnya di garasi, lagi-lagi ia harus kecewa tak mendapati suaminya di rumah. Mungkinkah suaminya pergi ke kantor? Lalu, haruskah Rena menyusulnya. Tapi, Rena sendiri bahkan belum pernah kesana. Ia merasa ragu untuk kesana, apalagi mengingat suasananya tengah seperti ini. Bagaimana jika suaminya justru bertambah marah.
Rena menarik nafasnya, berfikir lebih dalam lagi.
"Bunda kenapa?" tanya Misel heran seraya memakan coklat yang ia bawa.
"Tidak sayang. Bunda hanya-"
Drtt... Drttt...
Ponsel dalam tasnya berdering, membuat dirinya tak lagi melanjutkan ucapannya. Rena buru-buru mengambil ponselnya, berharap itu adalah panggilan dari sang suami. Tapi, lagi-lagi ia merasa kecewa lantaran itu merupakan pihak dari rumah sakit. Yang meminta dirinya untuk segera datang ke rumah sakit.
"Sayang, Bunda kerja dulu ya?" ujar Rena pada Misel.
"Ya Bunda. Tapi pulangnya bawain Misel ice cream ya!" pinta Misel.
"Ya sayang," sahut Rena berlalu pergi setelah sebelumnya mengusap pucuk kepala putrinya.
****
Setelah operasi berakhir, seperti biasanya Rena akan merasa mual lalu pergi ke kamar mandi. Apalagi sejak semalam ia bahkan belum mengisi perutnya dengan asupan makanan, mungkin asam lambungnya pun ikut naik. Ia terlalu larut memikirkan keberadaan suaminya kini.
Rena berjalan dengan lesu menyusuri koridor rumah sakit, ia pikir hari ini ia akan pulang lebih cepat. Ia harus segera bertemu dengan suaminya.
"Re, makan siang yuk!" ajak Dokter Ryan yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan ruangannya.
"Tidak dokter, saya harus segera-"
"Please, Re. Kali ini saja, ada sesuatu hal yang penting ingin aku katakan padamu," pintanya memohon.
Rena merasa bingung. "Kenapa tidak di sini saja dokter?"
Dokter Ryan menggeleng, "tidak di sini juga Re. Ini masalah pribadi, ayo Re. Lagian mukamu juga pucat gitu, pasti belum makan!" desaknya.
Rena terdiam, berpikir sesaat. Sebenarnya ia sendiri merasa malas, apalagi akhir-akhir ini kerap mendengar gosip yang beredar di rumah sakit ini, jika ia dan dokter Ryan adalah sepasang kekasih. Mungkin sekarang sudah waktunya ia mengatakan status dirinya, agar gosip itu pun menghilang.
"Baiklah Dokter. Aku juga ada yang ingin disampaikan," balas Rena.
Dokter Ryan pun dengan sepenuh hati mengiyakannya. Keduanya berjalan beriringan memasuki salah satu cafe yang memang sudah menjadi langganan Rena dan Dokter Ryan sejak dulu.
"Apa yang ingin dokter Ryan katakan?" tanya Rena begitu mendudukkan dirinya di kursi.
Dokter Ryan tersenyum, "pesan makan dulu ya, Re."
Rena menghela nafasnya, memang perutnya terasa perih, tapi ia sendiri mulai merasa tak nyaman dengan suasananya kini. Permasalahannya dengan sang suami yang belum usai, membuat Rena merasa tak bersemangat.
Dokter Ryan memanggil pelayan, lalu memesankan makanan seperti biasanya, beserta minumannya. Beberapa saat kemudian pelayan kembali dengan membawa pesanan mereka, lalu menghidangkannya di atas meja, lalu pamit undur diri.
Dokter Ryan mempersilahkan Rena untuk makan, yang dibalas senyuman tipis oleh perempuan itu. Rena menyantap makanan di depannya hanya beberapa suap, selebihnya ia hanya mengacak-ngacaknya saja. Suasana hatinya yang buruk, juga membuat selera makannya pun buruk.
"Enak kok Dok. Hanya saja aku masih kenyang," kilah Rena seraya mengangkat wajahnya menatap Dokter Ryan, yang tampak sudah selesai makan. "Dokter ingin mengatakan apa?" tanyanya kemudian.
Mendadak Dokter Ryan menjadi gugup, tapi ia berpikir mungkin ini sudah saatnya. "Re, sebenarnya..."
"Ya dok?" Rena meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, menatap ke arah dokter Ryan dengan serius.
"Sejak dulu aku sudah menyukaimu lebih dari seorang teman, dan seorang rekan kerja. Jadi, aku ingin melamarmu?" ujar Dokter Ryan yang membuat Rena terkejut, mana kala dugaan orang-orang dan sang suami sebelumnya tak meleset.
"Re?" Dokter Ryan berusaha meraih tangan Rena, tetapi perempuan itu segera menjauhkan tangannya, hal itu membuat lelaki itu kecewa.
"Maaf Dok. Aku tidak bisa menerima atau membalas perasaan Dokter, dan aku sudah menikah," jawab Rena yang cukup membuat Dokter Ryan terkejut.
"Menikah?" ulang Dokter Ryan, Rena mengangguk. "Tapi selama ini tidak ada kabar, atau undangan apapun Re," imbuhnya tak percaya.
"Aku sudah menikah selama sepuluh bulan ini Dok. Memang pernikahanku hanya dilangsungkan secara sederhana, hanya keluarga inti yang hadir," terang Rena bahkan ia menunjukkan cincin pernikahan yang Alby berikan meski terlambat, Dokter Ryan menatapnya tak percaya, kenapa ia tak melihat jemari Rena sejak dulu. Ia pikir itu hanya cincin biasa, bukan sebuah simbol pernikahan.
Dokter Ryan tersenyum mengangguk, "apa kau bahagia, Re?"
"Tentu saja. Suamiku orang yang baik, penyayang, sabar, perhatian dia juga selalu mendukungku dalam setiap pendidikan maupun karierku." Rena tersenyum tipis kala mengucapkan seraya membayangkan wajah suaminya. Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya, siapapun mampu melihatnya bahwa Rena sama sekali tak berbohong. "Tapi dia sangat cemburuan. Terutama dengan anda dokter?" imbuh Rena.
"Oh ya??" Dokter Ryan berusaha tersenyum, meski hatinya terasa sakit kala mendengar perempuan yang ia cintai sejak dulu ternyata sudah di miliki orang lain.
"Iya!"
"Boleh aku tau. Siapa lelaki yang beruntung itu? Jika suatu hari aku bertemu dengannya, akan ku katakan untuk terus membuatmu bahagia," jelas Dokter Ryan.
Rena menatap Dokter Ryan tak percaya. "Oh ayolah Re. Aku biasa saja, bagiku patah hati dalam hal jatuh cinta itu wajar. Aku bahagia Re jika kamu bahagia. Meski aku memang mencintaimu, tak ada niat aku menikung perempuan yang sudah bersuami." Lelaki itu berusaha terlihat baik-baik saja.
"Jadi, ayo katakan siapa lelaki yang beruntung itu? Apakah aku mengenalnya?" tanyanya kemudian.
Rena mengangguk, "Alby Dharmawan. Dia suamiku, lelaki yang kerap datang ke rumah sakit menghampiriku. Doker pasti tau!"
Dokter Ryan berusaha menutupi rasa terkejutnya, ia mengenal lelaki itu. Selain dulu pernah menangani putrinya, ia juga kerap bertemu dengannya.
Melihat Dokter Ryan yang terdiam, Rena merasa tak enak hati. "Maaf Dokter, aku tidak bermaksud-"
"It's okay, Rena. Aku baik-baik saja. Aku hargai kejujuranmu, aku senang kau menikah dengan orang yang tepat, kau bisa bahagia, meski itu bukan denganku. Bukankah sudah ku katakan patah hati dalam hal cinta itu hal biasa. Aku hanya berharap setelah ini, tetaplah bersikap biasa, jangan merasa sungkan terhadapku. Kita tetap teman dan rekan kerja yang baik. Dan katakan pada suamimu, jangan terlalu cemburu, aku bukan seorang pebinor," ujar Dokter Ryan yang di akhir dengan kekehan kecil.
Rena mengangguk, "terima kasih Dokter. Sekarang aku pamit ya, mau pulang. Tadi udah janji sama Misel mau pulang cepat," ujar Rena seraya bangkit dari kursinya.
"Iya silakan. Kamu hati-hati!"
Rena mengangguk, dan berlalu meninggalkan cafe itu. Sementara Dokter Ryan masih betah memandangi punggung Rena yang perlahan menghilang di balik pintu. Lelaki itu menghela nafasnya, seraya terkekeh kecil, meratapi nasibnya yang baru saja ditolak oleh perempuan yang selama ini menjadi tambatan hatinya. Lebih sakitnya lagi, kenyataan yang ia dengar jika Rena sudah menikah. Ia bahkan sudah menunggu lama, untuk mengungkapkan perasaannya, tak menyangka ia bahkan kalah start dari lelaki lain.
"Aku yang menunggumu sejak dulu, Re. Tapi ternyata orang lain yang lebih beruntung memilikimu. Takdir ini kadang memang lucu," lirihnya.