Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Nikah Sekarang!



Pukul 05.30 wib Miko sudah membuka kedua matanya. Ia memang sudah bangun lebih dulu, lebih tepatnya mungkin memang semalam ia tidak begitu bisa tidur. Padahal sebelumnya ia sudah mengkonsumsi obat-obatan, harusnya ia bisa tidur dengan neynyak. Namun, karena rasa bahagianya bisa berada sedekat itu dengan Miranda, rasa kantuknya lenyap. Ia hanya khawatir jika ia sampai benar-benar terlelap Miranda akan meninggalkannya seorang diri di rumah sakit. Otaknya terus berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan restu Papanya kemudian ia bisa menikahi Miranda secepatnya.


Dengan pelan-pelan Miko mengubah posisinya menjadi duduk. Ia tersenyum menatap wajah cantik Miranda di hadapannya, perempuan itu terlihat sangat lelap. Ia jadi tidak tega untuk membangunkannya. Jadi, ia pikir biarkan saja toh masih pagi. Tidak mungkin Papanya akan datang pagi-pagi sekali kan. Melihat posisi tidur Miranda, ia jadi tidak tega pasti nanti saat perempuan itu bangun akan jadi pegal-pegal. Seandainya, kondisi fisiknya sudah pulih ia pasti akan segera menggendong Miranda, merebahkan tubuhnya ke tempat yang lebih nyaman. Miko mengusap-usap rambut Miranda, seandainya perempuan itu tiba-tiba bangun pasti akan mengomel.


“Tidak sopan pegang-pegang kepalaku. Kamu tahu kan umurku kan jauh lebih tua darimu,” omel Miranda biasanya.


Mengingat itu Miko jadi tertawa geli. Suara tawa Miko hampir mengusik Miranda, perempuan itu sedikit menggeliat dan mengubah posisinya tidurnya. Miko hampir terkejut karena mengira Miranda akan membuka matanya. Namun, ternyata perempuan itu masih melanjutkan tidurnya.


“Kayaknya lelah banget sih. Pasti beberapa hari ini, ayang ku ini gak nyenyak tidur karena mikirin aku lah tentunya,” ucapnya dengan percaya diri.


Miko kembali tersenyum melihat Miranda tidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Menurutnya itu posisi yang menggoda, tak sadar ia menelan ludahnya. Boleh gak sih ia cicip sedikit, toh orangnya lagi tidur?


Miko merunduk kan sedikit tubuhnya, menyamakan dengan posisi Miranda. Kemudian, ia mengikis jaraknya mendekat. Saat bibir keduanya nyaris bersentuhan, tiba-tiba....


Ceklek!


“Miko?!!”


Pintu terbuka di susul suara bass yang cukup kencang mengejutkannya, hingga membuat ia terlonjak, bahkan Miranda langsung membuka kedua matanya terkejut.


“Papa?” gumam Miko.


“Pak Irawan?” Miranda juga sama terkejutnya. Tubuhnya serasa membeku di tempat, melihat Papa kandung dari kekasihnya itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya.


“Jadi ini akalanmu, kenapa menyuruh kami untuk pulang. Agar kamu bisa berduaan dengan dia,” tuding Irawan. Miko bersikap seperti biasa, sementara Miranda menunduk dengan wajah tak enak, ia menyesali diri yang terlampau nyaman tidur di sisi Miko, hingga lupa bangun bahwa hari mulai beranjak pagi. Sekarang apa yang harus ia lakukan.


“Maaf Pak, saya itu sebenarnya cuma pengen–"


“Apa? Ternyata kamu juga sama saja, tidak bisa memegang janji. Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menemui putraku!” seloroh Irawan.


Miranda menggigit bibirnya dengan perasaan bersalah sekaligus dilema. Ia akui ia memang salah, tapi berdiam diripun ia tidak akan merasa tenang, jika ia tidak mengetahui kondisi Miko sebenarnya. Ia sudah berusaha mati-matian menahan rasa rindu yang memupuk di hatinya.


“Sudahlah Pa. Kenapa sih kamu juga marah-marah. Kamu itu harusnya sebagai orang tua dukung apa yang menjadi pilihan anakmu,” ujar Amira pada sang suami.


Irawan berdecak menatap istrinya dengan kesal. “Kamu juga sama aja Ma. Memangnya aku gak tau kalau kamu juga ada andil di dalam rencana putramu itu. Sejak semalam aku sudah curiga, tapi aku berusaha untuk percaya. Ternyata dugaan ku benar.”


“Pa, aku tuh seorang ibu yang akan melakukan apa saja demi kebahagiaan putranya.”


Melihat perdebatan keduanya, Miranda semakin merasa tak nyaman. “Saya minta maaf Pak kalau kehadiran saya justru menimbulkan keributan. Saya akan pamit.”


Miranda mengambil tas miliknya dan hendak berlalu pergi dari sana. Namun, Miko langsung sigap menggenggam tangan perempuan itu.


“Mik, lepaskan!” pinta Miranda seraya berusaha mengibaskan tangannya.


Miko menggeleng. “Tidak. Kalau kamu pergi aku juga akan pergi dari sini!”


“Kamu jangan macam-macam Mik. Kamu gila!” Miranda semakin memberontak.


“Miko apa yang kamu lakukan?” ucap Miranda panik. Begitupun dengan Irawan yang hendak berjalan mendekatinya.


“Tetap di situ Pa,” pinta Miko. Irawan mengurungkan niatnya untuk melangkah. Miranda dan Amira tak mengerti apa tujuan Miko sebenarnya.


“Tunggu di sini," ujar Miko pada Miranda.


Lelaki itu segera menjuntaikan kakinya ke lantai, darah segar tampak mengalir dari lengan tangannya, akibat jarum infus yang dilepas paksa olehnya.


“Miko tanganmu berdarah nak,” ujar Amira khawatir.


Miko tak peduli, rasa sakitnya pada lengannya yang berdarah. Begitu tiba di hadapan Irawan. Miko langsung menekuk kedua lututnya, sambil menangkup kedua tangannya.


“Miko?” seru Irawan terkejut akan tindak putranya.


”Aku mohon, Pa. Restui hubungan aku dengan Mbak Miranda. Aku tidak akan meminta apapun lagi, cuma ini yang aku minta dari Papa. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun kan, ku mohon beri aku kebebasan memilih pasangan. Aku tidak akan sanggup jika harus dipisahkan dengannya,” ucap Miko memohon.


Irawan terdiam menatap wajah putranya yang berderai air mata. Rasanya ia sudah lama tidak pernah melihat Miko menangis, terakhir saat mendiang ibunya tiada.


“Berdirilah nak, jangan seperti ini. Ya kembalilah ke ranjang, kau belum pulih,” bujuk Irawan.


Miranda menatap pemandangan di depannya dengan sendu, wajahnya tampak muram. Ia sedih karena dirinya Miko bahkan sampai rela bersujud dan memohon, tanpa memperdulikan rasa sakitnya. Kurang bukti apa lagi ketulusan dari lelaki itu. Jujur Miranda merasa sangat tersentuh, seandainya Tuhan mengijinkannya untuk bersatu, ia berjanji akan senantiasa menjadi yang terbaik untuk Miko. Rasanya ia ingin berlari memeluk lelaki itu dengan haru. Namun, rasanya kakinya terasa berat untuk melangkah.


“Tidak, Pa. Sampai Papa menjawab dan memenuhi keinginanku!” kekeh Miko.


Irawan menyentak nafasnya. Kedua tangannya mengepal seperti menahan amarah. Amira mengusap lengan sang suami, membuat lelaki itu menoleh. Kemudian Amira mengangguk dengan senyum manisnya. Irawan seolah paham kode yang diberi istrinya.


“Kamu yakin dengan pilihanmu, Miko?” tanya Irawan.


“Yakin Pa. Aku sangat yakin, ku mohon!”


Irawan menghela nafasnya mendengar jawaban putranya membuang jauh-jauh keegoisannya.


“Bedirilah nak!” titahnya.


Miko menggeleng. “Gak mau!”


“Papa akan merestuimu, tapi berdirilah. Kau harus segera kembali ke ranjang, anak nakal,” tukas Irawan.


Miko langsung beranjak dari tempatnya. “Papa yakin?”


"Iya! Asal kamu bisa bahagia. Papa akan melakukan apapun. Maafkan Papa yang sempat egois.” Irawan berkata dengan nada menyesal.


“Kalau Papa sudah merestui hubungan kami. Kalau aku gitu aku ingin menikah dengannya sekarang!”


“Apa??!!!”