Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Penganggu



Warning!


Terdapat adegan dewasa! Mohon bijak dalam membaca. Jika anda masih di bawah umur harap skip. Penulis tidak akan menanggung resikonya.🤭


****


Miko dan Miranda baru tiba di rumah pukul 23.30 wib. Keduanya baru saja mendatangi sebuah acara pesta rekan bisnis Miko.


Miranda melepaskan pernak-pernik yang melekat di tubuhnya, tiba-tiba ia tersentak mana kala sang suami memeluknya dari belakang.


“Sayang. Ih aku kaget,” kata Miranda mengusap dadanya. Namun, Miko tak peduli ia justru semakin mengencangkan tangannya. “Lepas dulu, aku mau mandi.” Miranda berusaha melepaskan rengkuhan sang suami.


“Gak usah mandi, nanti juga berkeringat lagi,” ujar Miko seraya menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, menghirup aromanya dengan kuat. “Masih wangi kok,” sambungnya seraya mendaratkan kecupan kecil di sana.


“Tapi kan lengket sayang,” protes Miranda.


“Hemm... Gak apa-apa, nanti aku buat lebih lengket lagi,” balasnya.


“Emangnya mau apa sih?” tanya Miranda berusaha tenang meski saat ini tubuhnya terasa meremang, kala sang suami terus melabuhkan kecupan-kecupan kecil di pundaknya. Bahkan lelaki itu mulai meloloskan resleting gaunnya menggunakan giginya. Perlakuannya membuat tubuh perempuan itu memanas.


“Hemm... Masa udah aku kode kaya gini gak tahu sih,” protes Miko dengan suara parau. Kemudian dengan cepat ia memutar tubuh istrinya, menghadap dirinya.


“Em sayang, tapi kan–”


“Sssstttt!” Miko meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya. “Menolak suami itu dosa, jadi mending kamu diam pasrah aja deh,” sambungnya. Miranda melongo, mengangguk pasrah. Apalagi yang ia bisa lakukan, menolak pun percuma. Ia seakan lemah akan bujuk rayu Miko, semua kata dan perlakuan lelaki itu terasa manis memabukkan, hingga membuatnya jatuh dalam pesona tak berdaya. Dan jika difikir, masih pantas hasrat sang suami yang memuncak tinggi, kala mengingat usia pernikahan keduanya yang masih begitu dini. Miranda hanya berharap ia selalu sehat dan mampu melayani kebutuhan khusus sang suami, hingga membuatnya betah di rumah, tak mencari kehangatan di luar sana.


Miranda tersentak dalam lamunannya, saat sang suami mulai mendaratkan ciuman di bibirnya, mengecup me lu mat secara lembut. Ia berusaha mengimbangi permainan sang suami, membalas tautan bibirnya, hingga lidah keduanya saling membelit mencecap, sampai terdengar bunyi decapan di ruangan itu.


Sementara Miranda mulai terbuai dengan tautan lidah, ia sampai tak sadar jika gaunnya yang ia kenakan pun sudah lolos menjuntai ke lantai akibat ulah suamimya, menyisakan pakaian dalamnya.


Sementara bibir keduanya terus saling berperang, kedua tangan Miko pun kembali tak mau diam, ia mulai melepaskan kacamata milik istrinya, kemudian membuangnya secara asal. Miranda yang sudah termakan gairah pun sudah tidak malu lagi terlihat polos di depan sang suami. Ia men de sah kala Miko memainkan tangannya di area kedua gundukan miliknya secara bergantian. Tak hanya mengusap lelaki itu bahkan me re mas, dan me me lintir nya secara sen su al, yang berhasil meningkatkan libido perempuan itu.


“Eghh...” de sah Miranda kalau sang suami mulai memainkan lidahnya, menyusuri leher jenjangnya. Kemudian turun ke bawah mencecap dua gundukan daging kenyal miliknya. Perempuan itu sampai memejamkan matanya, tak dapat menjabarkan rasa nikmat yang saat ini ia rasakan. Perempuan itu terus men nge rang, kedua tangannya menahan kepala sang suami, menekannya dengan kuat, seolah-olah memintanya untuk tak boleh berhenti bermain di area sana. Kemudian ia tersentak mana kala merasakan jari jemari suaminya kembali mengusap bagian pusat intinya, yang terasa basah.


“Sa–sayang ja–” kalimat Miranda terputus-putus seiring dengan nafasnya yang tersengal, tubuhnya terasa memanas, seakan tengah disiksa oleh pancingan gairah sang suami. Bahkan Miko berhasil menurunkan kain segitiga tipis miliknya, meloloskannya dengan pelan, hingga membuat keadaan Miranda benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.


“Gimana? Enak kan?” tanya Miko seraya menodongkan wajahnya menatap wajah istrinya yang terlihat memerah akibat gairahnya, perempuan itu hanya mengangguk. Miko berdiri, membuat Miranda bingung. “Kita coba gaya baru,” sambungnya seraya mengangkat istrinya, mendudukkannya di atas meja rias, membuat Miranda terpekik kaget.


Dan dengan cepat Miko kembali membungkam bibir ranum istrinya, mendaratkan kedua tangannya untuk meremas da da nya, kembali membuat istrinya men de sah. Nalurinya menuntun Miranda untuk membuka jas suaminya, juga melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Membuat keadaan Miko kini sudah setengah polos. Miko yang mengerti jika rasanya tak adil, pun menghentikan permainannya dan melepaskan celananya, hingga kini keadaan keduanya sudah sama-sama polos.


Miranda meneguk ludahnya kala melihat kejantanan sang suami sudah berdiri tegak. Kemudian Miko kembali mencium bibirnya.


“Sayang, kamu boleh kok bermain apapun dengan tubuhku,” bisik Miko tepat di telinganya lalu memberikan kecupan kecil di sana.


“Hemmm... Terus sayang,” de sah Miko.


Miranda semakin mempercepat gerakan tangannya, membuat Miko merasa kenikmatan. Keadaan kian semakin terasa panas, bahkan tubuh keduanya sudah terlihat basah oleh keringat, padahal permainan itu belum sampai pada intinya. Namun nafas keduanya sudah sampai tersengal, tubuhnya seakan melambung tinggi.


Drtt.... Drttt...


Getaran ponsel Miko terdengar kencang.


“Sa–sayang ponselmu?” ujar Miranda dengan nafas terengah-engah karena saat ini Miko tengah meng hi sap da da nya, layaknya seorang bayi yang tengah meminta asi pada ibunya.


“Hem... Biarkan saja!” jawab Miko tak peduli.


“Tapi–”


“Gak penting. Nanggung sayang, ayo lanjutkan lagi,” ujar Miko.


Miranda hanya mengangguk pasrah, menuruti permintaan suaminya untuk lanjut. Mengabaikan dering ponsel yang terus terdengar. Miko menurunkan dirinya dari atas meja, dengan bibir yang masih saling bertaut.


“Sayang, aku masukin ya?” ujar Miko di sela-sela ciumannya.


“Apanya?” tanya Miranda balik.


“Si Joni,” jawab Miko seraya melirik barang miliknya yang tampak menegang, melambai ingin di masukan ke dalam sarangnya.


“Iya." Miranda mengangguk.


Senyum merekah tercetak jelas di bibir Miko, kemudian ia mulai melebarkan sedikit pa ha istrinya, lalu menuntut si Joni untuk masuk. Tiba-tiba....


Tok! Tok!


“Sayang, ada yang ketuk pintu,” seru Miranda mencegah niat sang suami.


“Biarin aja. Nanggung ini,” keluh Miko tak peduli, hasratnya sedang di puncak-puncaknya, bagaimana mungkin ia harus menghentikan permainannya.


Tok! Tok!


“Pak Miko, Bu Miranda. Di depan ada Dokter Ryan. Mereka mencari anda Pak Miko, saya sudah bilang anda sedang istirahat, tapi Pak Dokter tetap kekeh katanya itu penting menyangkut hidup dan matinya,” kata Hari selaku security rumahnya.


“Tuh sayang, ada Dokter Ryan, temuin gih penting banget kayaknya,” ujar Miranda yang berlalu melangkah ke ranjang menyambar selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


“Sial,” umpatnya. Namun, tak urung ia mengambil kembali pakaiannya.