Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Lolos, Jadi Mantan Perjaka



“Enggak ya! Aku tuh masih polos dan suci menikah sama kamu. Gak ada aku coba-coba begituan!” sanggah Miko.


Miranda hanya tertawa mendengar jawaban sang suami yang tampak ketakutan. Percakapan dengan sang suami membuat ia merasa rileks.


“Aku boleh lanjut ni?” tanya Miko saat melihat istrinya terlihat sudah rileks.


Miranda mengangguk, membuat mata Miko berbinar kemudian melanjutkan aktivitasnya. Bergerak naik turun, maju mundur, menghentakkan-hentakan miliknya dengan cepat. Dengan kedua tangan yang tak mau tinggal diam, bermain di area tubuh istrinya yang ia sukai. Menjangkau apa yang dapat ia jangkau.


Menikmati setiap rasa kenikmatan surga dunia, sebuah kenikmatan yang tiada tara. Hingga mampu menciptakan suara-suara merdu yang istrinya keluarkan, suara yang berhasil membangkitkan gairahnya sebagai seorang lelaki.


Hingga beberapa saat Miko merasa tubuh istrinya hampir bergetar, ia sadar bahwa perempuan itu hendak mencapai puncaknya. Ia pun mengatakan untuk bersama.


Perlahan ia menghentikan gerakannya, seiring dengan lelehan cairan hangat yang telah ia keluarkan demi membasahinya rahim istrinya. Mendongakkan wajahnya, lelaki itu mengecup kening istrinya, kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping. Tak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Nafasnya masih tampak tersengal, akibat permainan panas yang keduanya lakukan. Bulir keringat tampak membanjiri tubuh keduanya, hingga nyaris terlihat mengkilap bak di siram minyak.


Setelah dirasa nafasnya sudah normal, Miko merapatkan tubuhnya kemudian memeluk istrinya seraya berkata, “akhirnya aku lolos juga jadi mantan perjaka sayang.”


Plak!


Miranda menabok dada suaminya, membuat lelaki itu tergelak lucu. Memang apa yang salah dari ucapannya. “Lho benar kan sayang? Memang apa yang salah. Kamu loh yang ambil perjakaku,” pungkasnya kemudian.


“Terus?”


“Ya kamu harus tanggung jawab lah sayang. Kan kamu udah buat aku jadi gak perjaka lagi,” ucapnya kembali menggoda.


“Lalu apa hubungannya? Ucapanmu kaya anak perawan yang baru diperkosa aja," sergah Miranda.


“Ada lah. Pokoknya kamu harus tanggung jawab, dengan cara terus bersamamu sampai maut memisahkan,” ujar Miko seraya membekap erat tubuh polos istrinya di balik selimut. Miranda hanya terdiam tanpa memberontak, perempuan itu justru sibuk dengan pemikirannya, hal itu membuat Miko merasa kesal, lantaran istrinya tak kunjung mengiyakannya.


“Kenapa hanya diam?” sambungnya kembali bertanya, wajahnya bertekuk heran namun juga kesal, bahkan ia sampai melonggarkan dekapannya demi melihat wajah istrinya.


Miranda menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya tengah berfikir–”


“Apa yang kau pikirkan?” sergah Miko memotong ucapan istrinya dengan cepat, karena ia yakin istrinya pasti berfikir sesuatu yang negatif, paham jika Miranda pun sampai detik ini masih sedikit insecure pasal perbedaan usia keduanya.


“Kamu itu lelaki tampan, mapan, dan masih muda.”


“Terus?” desak Miko.


“Bagaimana jika suatu hari ada perempuan yang lebih cantik, dan dari padaku. Sementara kamu tahu, usiaku bahkan sudah tak muda lagi, bahkan kerutan di wajahku pun mungkin perlahan mulai terlihat. Apakah kamu masih mau bertahan?” tanya Miranda meragu.


Miko menatap wajah istrinya dalam-dalam, ia mengerutkan keningnya kala tak menemukan kerutan di wajah perempuan itu. Miranda masih terlihat cantik, jika ada orang yang baru bertemu dengannya, pasti masih tak percaya jika usia Miranda itu jauh lebih tua dibandingkan dengan dirinya. Lelaki itu tersenyum seraya mengusap wajah istrinya.


“Sayang... Akan selalu ada perempuan yang lebih baik darimu. Entah itu fisiknya, perilakunya, ataupun kecerdasannya. Tapi, jika tujuanku adalah mencari yang sempurna, maka aku tidak akan pernah berhenti. Namun, jika aku bisa bersyukur dengan apa yang ada dalam dirimu sekarang. Aku yakin kita akan bergelimang kebahagiaan. Aku dan kamu sama-sama mempunyai kekurangan. Maka tugas kita hanya menjalankan, dan memaklumi satu sama lain,” tutur Miko pelan.


Miranda merasa tersentuh mendengarnya. Ia tak menyangka lelaki itu bisa berkata sebijak itu, membuatnya tak dapat berkata-kata, bahkan ia langsung memeluk suaminya.


“Makasih ya suamiku,” bisik Miranda.


“Hemm... Jadi, bolehkan?”


“Nambah lagi yang tadi,” ujar Miko membuat kedua mata Miranda terbelalak ketika merasakan sesuatu milik suaminya di bawah sana kembali berdiri. Saat ia hendak bersuara, lelaki itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya, mengukung tubuhnya kembali, kemudian menghentakkan miliknya dengan cepat. Hal itu membuat Miranda tak bisa lagi menolak, selain menerima segala permainan sang suami. Terdiam pasrah di bawah kungkungan sang suami.


****


Ryan menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan dokter kandungan. Lelaki berkemeja abu-abu itu tampak begitu bahagia kala menatap foto USG di tangannya. Ya, keduanya baru melakukan pemeriksaan, dan Alena benar di nyatakan hamil.


“Ayo Masry!” desak Alena menggoyangkan lengan suaminya.


“Kemana sayang? Kamu lapar.”


“Ihh tuh kan, pura-pura lupa. Padahal semalem kan udah janji,” dengus Alena kesal.


Ryan menggaruk tengkuknya.


“Mas beneran gak ingat sayang? Apa sih,” tanyanya seraya memasukkan foto hitam putih itu ke dalam tas istrinya.


Alena mengerucutkan bibirnya ke depan. “Kebiasaan deh. Padahal kan belum tua-tua amat, kok udah pikun. Ngeselin banget Masry ini,” cetus Alena seraya menghentakkan kedua kakinya kesal. Ryan seperti tengah melihat seorang anak kecil yang tengah ngambek karena keinginannya tak kunjung terpenuhi.


“Ayolah sayang. Mas kan beneran gak ingat, ayo bilang mau apa? Kamu kan tahu Mas itu gimana,” bujuk Ryan.


“Masry kan janji setelah dari rumah sakit mau antar aku beli poster BTS.”


Ryan melongo perkara poster istrinya sampai segitunya. Iya sih jika di ingat semalam ia memang berjanji akan mengantarkan sang istri membeli poster BTS. Semua itu untuk membungkam bibir istrinya yang terus merengek untuk di hadirkan BTS ke rumahnya.


“Ya udah Ayuk beli,” ajak Ryan kemudian.


Alena langsung berbinar bahagia. “Beneran?”


“Hem...”


“Asyik. Aku mau beli masing-masing poster anggota BTS itu satu-satu. Tapi, khusus Jungkook aku mau yang paling besar, supaya bisa terlihat jelas nanti saat di pajang di kamar kita Masry.”


“Iya terserah kamu lah sayang, mau beli jongkok yang ukuran berapa, yang penting senang,” jawab Ryan pasrah.


Alena langsung cemberut menepis tangan suaminya. “Jungkook Masry, bukan jongkok ih. Kaya Miko ini suka ganti-ganti nama,” decak Alena.


“Oh iya Jungkook ya. Maaf sayang, lagian Mas kan gak tahu, tadi salah dengar berarti,” ujar Ryan tertawa geli.


“Makanya jangan taunya jarum suntik doang,” omel Alena.


“Dulu sih iya. Tapi, sekarang gak kok, Mas kan udah tahu isi luar dalam kamu,” jawabnya tergelak.


Alena mendengus melihat tingkah mesum suaminya, yang kelewat batas. Dulu ia pikir suaminya itu tidak semesum itu, tapi ternyata pas sudah menikah. Jangan ditanya.


Jangan lupa Like, komen dan votenya ya guys.. terima kasih...