Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Soto Spesial



"Oh begitu. Memangnya istrinya dokter kerja di mana?" tanya Dokter Ryan.


"Seorang dokter juga seperti anda," jawab Alby tapi sejak tadi matanya tak lepas mengarah pada Rena. Bahkan salah satu kakinya di bawah sana, sudah menyentuh kaki istrinya.


"Oh pantesan. Misel tidak pernah di bawa ke rumah sakit lagi untuk periksa. Karena di rumahnya sudah ada dokter juga," kata Dokter Ryan.


"Aduhh!!" Pekik Rena.


"Ada apa Ren?" Dokter Ryan bertanya dengan mimik wajah khawatir. Bahkan lelaki itu langsung bangkit dari kursinya, menghampiri Rena. Alby memandang kesal ke arahnya.


"Tidak apa-apa kok, Dok. Aku hanya tidak sengaja menelan cabe."


"Cabe? Perasaan makanannya tidak ada cabenya," ujar Dokter Ryan heran.


"Em maksudku biji cabe," ralat Rena kemudian seraya memandang ke arah suaminya kesal. Lelaki itu justru menatap dirinya dengan perasaan tak bersalah.


"Ohh!" Dokter Ryan melirik arloji di tangannya. "Jam istirahat sebentar lagi habis, aku pesankan kamu minuman sekalian bayar billnya ya," imbuhnya kemudian.


"Eh Dok saya bisa-"


"Udah tidak masalah, lagian kan tadi aku yang ajak kamu makan bareng. Biar aku yang bayar ya!" Tanpa memperdulikan jawaban Rena, Dokter Ryan segera berlalu ke kasir.


"Ciee yang ditraktir sama lelaki lain, senang banget kayaknya dapat perhatian darinya," sindir Alby.


Rena memandang Alby kesal, "apaan sih bang? Biasa aja, lagian dia juga teman kerja. Kaya Abang sama Milea, gak ada salahnya kan kita makan bareng!"


"Beda!!" pungkas Alby cepat.


"Lho-"


"Aku sama Milea sama-sama udah punya pasangan, gak ada perasaan lebih. Sementara dia masih single, udah gitu dia menatap kamu dengan perasaan memuja gitu. Kenapa gak kamu colok matanya aja sih," dengus Alby kemudian.


"Halah, bilang aja cemburu."


"Kalau iya emang kenapa? Gak suka aku ya kamu dekat-dekat dengan dia. Sangking asiknya makan berdua, sampai aku telpon dan kirim pesan pun gak kamu balas."


"Aku gak berdua bang, tadi ada teman aku lagi satu," bela Rena seraya mengeluarkan ponsel miliknya yang berada dalam tas.


"Mana orangnya? Buktinya gak ada."


"Tadi ada cuma dia ijin ke toilet. Cuman kok dia gak balik-balik," seru Rena langsung terkejut ketika membuka ponselnya melihat banyaknya pesan yang di kirim suaminya, serta beberapa panggilan tak terjawab, dan terakhir pesan dari Suster Santi yang mengatakan kembali lebih dulu karena tak ingin menjadi pengganggu.


Alby berdecak kesal, saat ia hendak membuka mulutnya, tak sengaja Alby melihat kedatangan Dokter Ryan. Alby mengurungkan niatnya, ia justru bangkit dari kursinya, lalu berkata dengan nada mengancam, "awas saja nanti sampai rumah. Aku perlu kasih kamu hukuman. Jangan terlalu dekat dengannya, aku gak suka. Aku balik kantor dulu."


"Em i-iya bang."


Setelah itu Alby langsung berlalu keluar dari cafe karena Milea sendiri sudah menunggunya di sana.


"Yuk, ni minumannya Ren." Dokter Ryan memberikan minuman pada Rena. Tapi perempuan itu menolak, "tidak dokter, aku sudah kenyang. Ayo kembali pasienku banyak!" Rena berlalu meninggalkan dokter Ryan yang masih terdiam di tempat.


"Susah amat ya ngambil hati Rena," gumam Dokter Ryan.


****


Setelah melihat istrinya makan siang bersama Dokter Ryan tadi mood Alby bertambah buruk. Lelaki itu terus saja melakukan kesalahan dalam bekerja, ia tak dapat berkonsentrasi. Bahkan Milea sampai geleng-geleng kepala.


"Kenapa sih By. Hari ini kerjamu sangat berantakan. Ishh ini bukan Alby banget," kata Milea.


Alby mengacak rambutnya frustasi, "tinggal benerin sih kalau salah. Namanya juga manusia, mana bisa sempurna terus!"


"Ck! Pintar banget kalau ngeles kaya bajai. Ini kalau Tante Soraya sampai tau ini, hemm pasti bakal rame."


Alby menatap kesal ke arah Milea, tidak tau apa moodnya lagi buruk, sahabatnya itu bukannya prihatin malah cengengesan.


"Gak usah natap-natap gini. Aku takut kamu jadi naksir, terus menyesali diri karena dulu pernah nolak aku. Sorry ya, sekarang hatiku sudah terpaut pada Mas Ardan. Jika dipikir lagi, nyesel aku dulu ngejar-ngejar dirimu. mudah-mudahan aja Rena sabar," celetuk Milea.


Alby jengah mendengarnya, begitulah Milea yang selalu mode bucin pada suaminya. Alby tak merasa kaget, karena apa yang dikatakan Milea itu memang jujur, dulu perempuan itu pernah menaruh hati padanya, tapi Alby menolaknya, lelaki itu lebih memilih Miranda ibu kandungnya Misel. Lalu entah bagaimana pada akhirnya Milea justru menikah dengan Ardan yang tak lain teman kuliah Alby dulu.


"Amit-amit," celetuk Alby. Lama-lama mendengar ocehan Milea menjadi jengah. Ia memilih bangkit dari kursinya.


"Pulang?"


"Tapi kan ini--"


"Nanti kirim aja lewat email, aku kerjain di rumah. Udah gak bisa mikir aku di sini!" Alby berlalu meninggalkan Milea.


****


Alby merasa kesal niatnya untuk pulang cepat ternyata sama saja, karena hujan turun begitu deras hingga membuat sebagian jalan macet, belum lagi adanya pohon yang tumbang. Sampai di rumah lelaki itu tetap pada pukul lima sore.


Begitu sampai di rumah lelaki itu langsung membersihkan diri. Setelahnya Alby turun ke bawah melihat anak dan istrinya tengah bermain di ruang tengah, seraya menonton televisi.


"Bang?" Rena memanggil suaminya.


Tapi Alby melengos, dan berlalu ke ruang tamu. Hal itu membuat Rena sadar jika suaminya masih kesal terhadapnya, pasti soal tadi pagi. Perempuan itu terdiam memikirkan cara untuk membuat mood suaminya itu kembali, pasalnya sejak masuk ke dalam rumah tadi, lelaki itu memang tak menegurnya.


Rena mengerlingkan matanya, ketika sebuah ide terlintas dalam otaknya. "Sebentar dulu ya sayang, Bunda ke tempat ayah dulu."


Perempuan itu berlalu menghampiri suaminya, yang saat itu tengah membaca sebuah majalah. "Bang?"


"Hem!"


"Abang masih marah?" tanya Rena.


"Enggak!"


Meski mulutnya berkata tidak, Rena paham suaminya masih kesal dengannya. Pasalnya lelaki itu menjawab begitu singkat tanpa menoleh ke arah dirinya.


"Abang udah makan belom?" tanya Rena berharap kali ini mendapatkan respon lebih dari sang suami.


"Belom!"


Rena tersenyum cerah. "Bagaimana kalau aku masakin spesial buat Abang?"


Alby langsung menghentikan bacaannya menoleh ke arah istrinya. "Emangnya kamu bisa masak?" tanyanya tak percaya.


"Bisa dong. Abang tinggal pilih mau di masakin aku apa Soto Ayam, Ayam geprek, Rendang, Kare ayam."


"Tapi kata Mommy kamu tidak bisa masak?" ujar Alby matanya masih menatap istrinya tak percaya.


"Ih, Abang. Mommy dipercaya sirik. Percaya tuh sama Tuhan. Udah Abang pilih yang mana, buruan ih!" desak Rena.


Alby menatap ke arah jendela di mana gemercik air hujan masih terlihat, ia tersenyum membayangkan hujan-hujan seperti itu lalu makan yang berkuah pasti enak.


"Oke deh. Aku mau soto ayam, buatin ya!"


"Siap Bang. Sebentar ya, Abang tunggu di sini saja," ujar Rena.


"Sekalian teh manisnya ya," pinta Alby.


Rena menoleh dan mengangkat jempolnya.


Lima belas menit berlalu, Rena kembali dengan membawa nampan yang berisi mangkok dan dua gelas minuman yang berisi teh manis dan susu.


"Taraa, udah jadikan!" seru Rena.


"Kok cepat banget?" tanya Alby heran.


"Ngapain lama-lama, masak soto begini mah gampang." Rena meletakkan masakannya di atas meja tepat di depan suaminya, berikut dengan teh manisnya.


Alby mengernyit menatap makanan di depannya. "Ren katanya kamu masak soto kok jadi gini."


"Iya itukan soto bang. Cobain dulu!"


"Soto Ayam, bukan Indomie rasa soto Rena Nugraha!!" sergah Alby kesal. Bayangan makan soto ayam seraya menikmati hujan dan teh manis di sore hari lenyap, saat melihat kenyataan yang tak sesuai ekspektasi.


Rena meringis melihat tatapan kesal suaminya.