Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Hasrat Yang Menggebu



Alby dan Rena sudah bersiap untuk pergi, keduanya turun ke bawah bersama. Sampai di bawah ia terkejut mendapati ada Ibu Soraya dan Papa Galih, sepertinya keduanya baru pulang dari kantor.


“Ibu, Ayah.” Rena dan Alby memanggil bebarengan. Kemudian, keduanya menyalami mereka dengan takzim.


Soraya melirik ke arah anak menantunya yang sudah rapi. “Kalian mau ke mana?” tanyanya.


“Mau makan di luar, Bu.”


“Berdua?” tanya Soraya lagi.


Rena mengangguk, Alby menghela nafasnya karena ibunya itu tak kunjung peka. Ia segera merangkul pundak istrinya, menatap ke arah ibunya lalu berkata, “Ibu kaya gak pernah muda aja sih. Kami kan juga butuh me time. Di rumah susah udah punya bocil.”


“Oh ya udah sana pergi. Nanti ibu akan pulang nunggu kalau kalian sudah balik aja.”


“Iya santai aja lagian di sini ada kami, dan ibu mertuamu. Alka dan Misel pasti tidak akan rewel,” timpal Papa Galih yang saat itu tengah duduk di sofa.


“Kami pergi dulu ya, Bu.” Alby dan Rena beranjak pergi.


Soraya juga mendudukkan dirinya di samping suaminya. Sebenarnya ia juga merasa lelah karena baru saja pulang menemani sang suami menemui rekan bisnisnya. Hanya saja ia juga rindu dengan cucu-cucunya, karena beberapa hari kemarin ia tidak sempat menjenguknya.


“Mereka bulan madu lagi,” kata Soraya.


Dinda yang saat itu tengah menemani Misel menyusun lego pun menoleh. “Iya. Aku lihat wajah Alby itu murung, mungkin saja kan mereka jenuh. Jadi, aku minta mereka me time berdua.”


“Kita kapan sayang bulan madu?” tanya Papa Galih seraya merangkul mesra pundak istrinya.


“Udah tua, udah expired masih aja mikirin urusan ranjang,” cetus Soraya hal itu ditanggapi tawa oleh Dinda. Beruntunglah saat itu Misel sudah berlalu nonton televisi.


“Tua-tua gini aku masih–”


Bugh! Satu bantal sofa melayang ke tubuh Papa Galih dari Soraya yang sudah beranjak dari sofa. “Gak tahu malu ada besanmu tuh. Dahlan aku mau ke dapur buat minum.”


🦋🦋


Mobil yang dikemudikan Alby melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota, yang saat itu terlihat padat, karena keduanya keluar bertepatan dengan waktunya orang pekerja kantoran pulang. Jadi, jalanan sedikit terkena macet.


“Bang, kita mau makan di mana?” tanya Rena ketika sang suami justru terus melajukan mobilnya, melewati beberapa restoran mewah.


“Ya hotel sayang.”


“Di mana sih, Bang. Jangan jauh-jauh lah, nanti kalau Alka rewel gimana?" ujar Rena. Sebagai seorang ibu, ia tentu merasa khawatir dengan putranya, meski di rumah ada kedua ibunya dan juga Papa mertuanya.


“Iya gak kok sayang. Sebentar lagi sampai. Sayanglah, Abang udah terlanjur reservasi. Ya itung-itung ini bulan madu kita. Kita kan jarang makan dan keluar berdua begini.”


Mobil memasuki kawasan hotel bintang lima. Alby memarkirkan mobilnya di parkiran VIP, keduanya lantas turun. Ia membawa istrinya menuju meja customer servis untuk mengambil id card untuk membuka kamar yang sudah ia pesan.


“Bang, kok langsung ke kamar sih?” tanya Rena saat sang suami menggiringnya masuk ke lift. “Katanya mau makan. Aku lapar tahu bang, belum makan dari rumah. Abang mau aku pingsan saat kita anu.”


“Anu apa?” tanya Alby tergelak akan perkataan istrinya.


“Iya itu,” jawab Rena gugup dan salah tingkah.


“Itu apa?” desak Alby semakin mendekatkan tubuhnya pada istrinya, hingga posisinya Rena sudah mentok pada dinding lift.


“Ih Abang mah dekat-dekat kan gerah. Ini aku serius tahu,” kata Rena mencebik kesal, ia berusaha mendorong tubuh suaminya. Namun, kekuatannya tak sebanding dengan tubuh sang suami.


Cup!


Rena justru terbelalak saat sang suami mencium bibirnya sebentar. “Bang ih!” protes Rena.


Alby hanya tertawa kecil, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka di lantai tujuh. Ia langsung mengiring istrinya keluar dari sana.


“Bang aku kan udah bilang. Aku lapar, tadi belum sempat makan. Mana aku udah pompa ASI banyak banget buat Alka. Lemes bang, ayo makan dulu,” rengek Rena.


“Iya. Abang udah siapin semuanya kok di dalam. Tenang saja, Abang gak mungkin buat istri Abang ini mati kelaparan.”


“Abang doain aku mati gitu? Biar bisa nikah lagi!” dengus Rena melotot kesal.


Alby mengusap wajahnya dengan kasar, menepuk mulutnya, karena salah berbicara. “Gak sayang tadi itu–”


“Ah Abang ngeselin. Mentang aku sekarang banyak lemak jadi Abang berani emmmhhh....” Rena membeliakan matanya kala sang suami justru menyambar bibirnya. Bersamaan dengan pintu sebuah pintu kamar terbuka. Alby mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar itu, dan tak lupa menutup pintunya dengan sedikit keras. Bukan karena marah, hanya saja gairahnya sudah menggebu-gebu, sudah dua bulan ia menahannya. Saat ini ia ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya.


Ciuman yang semula lembut kini lebih menuntut, bahkan Rena justru melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Rena merasa hasrat suaminya sudah membuncah tinggi, mana kala tangan sang suami sudah bergerak dengan liyar, bahkan tas milik istrinya di biarkan tergeletak begitu saja di lantai. Sejenak Rena seperti tengah berada di dalam adegan sebuah film Fifty Shades of Mr Grey. Di mana ketika Mr Grey membawa Anastasia masuk ke dalam kamar lalu men cum Bu nya dengan kuat. Rena berusaha dengan kuat untuk mengimbangi permainan sang suami.


Membiarkan sang suami terus menyentuh tubuhnya, mengecup lehernya, meninggalkan jejak kebasahan di sana. Alby baru saja hendak melucuti pakaiannya istrinya, tiba-tiba ia terkekeh. Mana kala mendengar bunyi perut istrinya.


Rena meringis malu. “Bang aku–”


“Aku lupa kalau kamu lapar sayang. Ya udah kita ke balkon dulu makan ya.” Alby menggiring istrinya menuju balkon di mana di sana sudah tersedia makan malam romantis. Dengan taburan kelopak mawar merah, satu buket bunga terletak di atas meja, dua gelas minuman jus, serta dua porsi makanan. Di atas meja juga terdapat lilin aromatik yang menambah kesan romantis keduanya.


“Jadi, kaya pengantin baru,” kekeh Rena.


“Iya anggap aja malam pengantin baru lagi. Kita reka adegan ulang malam pertama dulu sayang. Tapi kali ini kita harus makan malam romantis dulu.”