
Note :
Guys cerita Nadila dan Davis nanti aku pisah aja ya guys. Aku pikir nanti alurnya malah jadi rumit kalau di campur. Toh jika di lihat dari judul, ini memang hanya cocok untuk Alby dan Rena.
Selamat membaca ^^
***
Rena menge rang ketika tubuh bagian belakangnya yang terbuka terkena pendingin ruangan. Rasa dingin itu semakin bertambah kala Alby mulai melabuhkan ci um an basah sepanjang punggung polosnya, dimulai dari tengkuk hingga kebagian pinggangnya. Membuat kedua tangan Rena mengepal pada bagian sprei yang tak beraturan lagi. Hari telah siang, namun Alby tak ada niat sama sekali untuk menyudahi kegiatannya.
Sarapan yang telah Bi Surti antarkan tiga jam yang lalu telah dingin, namun tak tersentuh oleh Rena, karena perempuan itu tak mau menyantapnya. Berulang kali Alby berusaha membujuknya, tapi Rena enggan membuka kedua matanya. Tubuhnya terasa lelah, matanya terasa berat untuk di buka. Tapi, saat ini ia memaksakan diri untuk bangun, ketika Alby kembali mengukung tubuhnya, lalu mulai men cum bunya.
Bahkan ia tak ingat berapa kali Alby melepaskan hasratnya. Yang Rena ingat ia hanya merasa pening sejak semalam, karena terlalu banyak rasa haru yang ia terima. Dan kini ia kembali tersentak saat dengan cepat, Alby kembali memangut bibirnya secara lembut.
"Emmmhhh...."
Rena matanya berusaha memberontak. Tapi tenaganya kalah jauh dengan Alby. Lelaki itu seakan tak ada puasnya. Membuat ia kembali terdiam pasrah, membiarkan sang suami kembali menguasai tubuhnya.
"Bang?" Rena merengek mana kala Alby kini kembali bermain-main di bawah sana.
Alby tersenyum, lalu merangkak menatap wajah istrinya, menundukan wajahnya lalu berbisik. "Once again, babe."
Rena merenggut, sekali lagi perkataan itu rasanya tidak terlalu asing baginya. Sejak semalam Alby terus mengatakan hal itu ketika ingin menambah, tapi nyatanya tak cukup hanya sekali. Entahlah yang di maksud once again itu untuk yang ke berapa. Sang suami bagaikan seorang hewan yang tengah melepas dahaganya. Bahkan Rena merasa sekujur tubuhnya terasa remuk. Namun, meski begitu rasa sakit dalam tubuhnya terkalahkan dengan kenikmatan yang Alby ciptakan di bawah sana.
"Eughhh..." Rena berusaha menggigit bibir bawahnya, mana kala ia berusaha menahan suara de sa hannya.
"Kenapa di gigit bibirnya, keluarkan saja. Tidak akan ada yang mendengar, kamar ini kedap suara." Alby berujar seraya kembali men cum bu bibir istrinya. Mengekslpor isi di balik bibir mungil istrinya, manis... Bagi Alby rasanya sangat manis. Apa yang ada dalam dirinya akan menjadi candu baginya.
Ketika Alby melepaskan pangutan bibirnya, nafas Rena terlihat memburu, ia berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara sang suami menatap dirinya dengan senyum damba, seraya meremas sesuatu yang akan menjadi favoritnya.
Lagi, Rena kembali merasakan kenikmatan seperti semalam.
"Bang?"
"Hem...."
"Ayo lebih cepat lagi." Alby terkesiap mana kala mendengar sang istri memintanya bergerak lebih cepat lagi, padahal sebelumnya perempuan itu berusaha memberontak.
"I'ts okay, babe."
Dengan cepat Alby menambah gerakannya, menghentakkan miliknya secara kasar, namun tetap menciptakan kenikmatannya. Beberapa saat kemudian keduanya me nge rang mana kala merasakan sesuatu dalam dirinya masing-masing hendak meledak, akibat permainan panas keduanya.
Alby tersenyum puas, kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping. Mengatur nafasnya yang terlihat memburu.
Alby mengusap wajah istrinya, di mana keringat telah membanjiri wajahnya. "Mandi yuk?" ajaknya.
Rena menggeleng. "Abang duluan. Rena masih ngantuk bang."
Alby terdiam, apa yang di katakan sang istri memang benar, entah kapan istrinya itu bisa tidur. Alby seakan tengah membalaskan dendamnya, tak membiarkan tubuh sang istri beristirahat.
"Tapi kamu belum makan sayang," ujar Alby.
"Ngantuk bang."
Alby mengangguk dan beranjak dari tempatnya, membiarkan istrinya kembali memejamkan kedua matanya, sementara dirinya memutuskan untuk membersihkan diri.
"Dasar gila, senyum-senyum sendiri," omel Rena pada sang suami.
Alby yang saat itu tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya pun menoleh, "ehh udah bangun sayang. Katanya mau tidur aja." Alby melangkah mendekati istrinya yang saat ini tengah bersandar di ranjang, seraya memainkan ponselnya.
"Telpon dari Mommy. Suruh ke rumah, dan lagi kita juga harus jemput Misel bang," ujar Rena.
"Biar Abang aja yang jemput, kalau kamu mau istirahat ya gak apa-apa," usul Alby.
Rena menggeleng, "gak bang. Kalau cuma jemput sih aku gak apa-apa. Tapi aku gak enak sama Mommy, lagian di sana masih ada Tante Vinda juga (kakak kandung Rava) jadi aku ingin bertemu dengannya lebih dulu. Karena sore ini mereka harus kembali ke luar negeri."
"Baiklah. Jadi, apakah Abang perlu bantu kamu mandi atau-"
Alby tak melanjutkan ucapannya, kala melihat kedua mata istrinya justru melotot.
"Gak ya bang. Gak ada istilah once again once again terus, badan aku udah di buat remuk sama abang ini. Aku gak mau-"
"Gak mau, gak mau. Nanti pas aku tancap gas juga kamu bilang, terus bang ayo cepetan lagi, sambil men de sah hu hah hu hah," goda Alby membuat Rena melotot kesal.
"Abang!!!!"
Brugh!!
Sebuah bantal melayang tepat menyentuh tubuh Alby, hingga terjatuh ke lantai secara asal.
"Jahat banget sih suka ngeledek begitu. Gak usah diperjelas juga bang. Itu namanya refleks tau." Rena cemberut rasanya malu sekali mendengar perkataan suaminya, meskipun tak di pungkiri ucapan sang suami memang benar.
Alby terkekeh senang sekali rasanya melihat rona malu di wajah istrinya. "Bukan refleks sayang, itu namanya menikmati."
Brugh!
Satu bantal lagi kembali melayang di tubuh Alby, tapi kali ini ia berhasil menangkapnya.
"Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga, penyiksaan!" ujar Alby seraya bangkit dari tempatnya untuk kembali melanjutkan pakaian gantinya.
"Penyiksaan apaan? Abang tuh yang udah nyiksa aku semalam sampai pagi, gak lihat apa badanku remuk begini!"
Alby hanya nyengir tanpa dosa ke arah istrinya.
"Iya iya! Bercanda sayang. Ya udah kamu bersihkan dulu, terus sarapan. Katanya mau ke tempat Mommy, buruan apa mau aku-"
"Enggak!" potong Rena dengan cepat. Seraya menyingkap selimutnya, lalu turun dari ranjang dengan pelan. Sungguh bagian intinya terasa nyeri, apakah Rena bisa beraktivitas seperti biasanya.
Alby menoleh ke arah istrinya dengan kasihan. "Mau di bantu?"
"Tidak!"
"Masih sakitkah?" tanya Alby.
"Ck! Masihlah. Abang gak ingat apa berapa kali nusuk aku, gimana gak sakit," celetuk Rena kesal seraya melangkah tertatih-tatih ke kamar mandi.
"Rena ya ampun mulutmu!!" sergah Alby kesal mendengar ucapan Rena yang terdengar absurd.