Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Istrinya



"Jelasin kenapa kau bisa sama Pak Alby?" tanya Miko penuh dengan selidik, ia duduk tepat di hadapan Rena, sementara Alena berada di sampingnya. Saat ini ketiganya tengah berada di salah satu cafe.


Rena mengaduk-aduk minuman di depannya dengan sedotan miliknya dengan gerakan memutar. Sedikit ia menunduk dan berfikir, haruskah ia merahasiakan pernikahannya. Sedangkan saat ini ia merasa sudah kepergok, cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu status dirinya.


"Iya benar, kenapa? Gak mungkin cuma kebetulan. Mana kamu pake gandengan tangan segala. Terus itu tuh si bocil yang waktu dulu tiba-tiba datang manggil kamu bunda. Ada di sini juga, ternyata dia anaknya pak Alby. Ternyata dunia ini selebar daun kelor," timpal Alena seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.


Sesaat Rena merasa jadi tengah di interogasi karena telah melakukan kesalahan. Beruntung saat ini Alby dan Misel sudah pulang. Sebenarnya, ia pun merasa bersalah membiarkan suami dan putrinya pulang lebih dulu, tapi Alby tidak mempermasalahkannya, ia justru meminta istrinya untuk bersenang-senang, toh Misel juga sudah ngantuk.


"Rena!!!" teriak Alena kesal, karena sahabatnya itu hanya diam saja sejak tadi.


Rena menyentak nafasnya. "Ih berisik banget sih!"


"Cepat jawab Ren. Ada hubungan apa kamu sama Pak Alby?" desak Alena.


"Kalau aku jawab, aku istrinya kalian percaya apa gak?" jawab Rena enteng.


Miko dan Alena sontak terkejut. "Istri? Kamu serius?" tanya Alena. Dan Rena hanya mengangguk.


Alena terdiam, masih tak percaya.


"Ren, kamu jangan ngada-ngada lah. Ngaku-ngaku bini orang, padahal bukan. Jelas tadi aku lihat Pak Alby sama anaknya, mana mungkin sih dia suamimu. Kamu gak mau kan disebut pelakor?" seru Miko wajahnya terlihat kesal, karena mengira Rena saat ini hanya tergila-gila pada dosen tampan itu, seperti mahasiswa lain, hingga membuat cerita drama.


Rena cemberut. "Kenapa sih gak percaya. Aku jujur kalian gak percaya. Gimana kalau aku bohong. Padahal aku pikir karena kalian teman-temanku makanya aku berkata jujur. Aku ngomong apa adanya. Lagian ya Pak Alby itu dulunya duda, gak ada istilah aku jadi pelakor."


Alena terdiam, mencoba mencari kebohongan di wajah Rena. Tapi tidak ada, perempuan itu terlihat jujur.


"Kenapa mesti nikah sama Pak Alby sih Ren. Kenapa gak sama aku aja gitu. Kamu kan tau, sejak dulu aku juga sayang sama kamu." Miko mengungkapkan perasaannya penuh kecewa. Tadi, saat melihat kedekatan Rena dan Alby ia memang merasakannya ada sesuatu yang lain, apalagi belakangan di kampus ia kerap mendapati Rena sering masuk ke ruangan dosennya itu. Tapi, ia masih mencoba berfikir positif jika mungkin Rena mengumpulkan tugas. Kini ia tak menyangka jika hubungan keduanya justru lebih jauh dari seorang mahasiswi dan dosen. Haruskah Miko menikungnya? Kalau masih pacar mungkin akan Miko pikirkan, tapi pernikahan. Tidak pernah terlintas dalam otaknya untuk merusak rumah tangga orang.


Alena menoleh ke arah Miko, terlihat tatapan pria itu begitu kecewa. Sejenak ia merasa iba lantas ia menepuk pundak Miko. Ia memang tau betul bagaimana Miko sebenarnya begitu menyukai Rena. Gombalan dan rayuan yang selama ini ia berikan pada Rena adalah hal yang serius, hanya saja Rena selalu menganggap lelaki itu bercanda, karena anak itu memang sifatnya tengil dan pecicilan. Sejujurnya banyak yang menyukai Miko, hanya saja lelaki itu terlalu mengharapkan Rena, membuat banyak gadis memilih mundur.


"Kalau beneran kamu sudah menikah dengan Pak Alby. Mana buktinya Ren, aku gak percaya ya kalau cuman omongan doang," seru Alena, setidaknya kali ini ia berharap Miko masih ada harapan.


"Ada. Sebentar!" Rena mengeluarkan ponselnya, menekan bagian galeri. "Ini," tambahnya menunjukkan ponselnya yang berisi foto pernikahan sederhana dirinya dan Alby.


Alena langsung terdiam, ia tak dapat berkutik lagi. Semua bukti sudah ada, tidak mungkin jika ia tak percaya. Foto itu bahkan jelas asli bukan editan, dan lagi Alena tau Rena bukan anak yang suka berbohong.


"Kalian percaya kan? Tapi tolong ya rahasiakan ini dulu," ujar Rena.


Miko cemberut kesal, lalu mengacak rambutnya frustasi. "Tega banget sih Ren. Buat aku patah hati," keluhnya seraya menjatuhkan kepalanya di atas meja.


"Segitunya sih Mik. Masih banyak gadis lain, aku lihat banyak kok yang suka sama kamu." Rena menatap ke arah keduanya secara bergantian. "Kalau gak, kalian berdua aja jadian. Udah saling mengenal, kemana-mana berdua. Cocok deh, dari pada sama-sama jomblo," lanjutnya.


"Ogahh!!!" Jawab keduanya bebarengan, membuat Rena terkekeh semakin senang menggoda.


"Ciee barengan. Jodoh ini, percaya tidak semua itu tidak ada yang kebetulan!" goda Rena.


"Amit-amit. Tujuh turunan tujuh tanjakan." Lagi keduanya kembali menjawab bebarengan, sambil mengusap kepalanya masing-masing, membuat Rena terkikik geli.


"Nah kan bareng lagi."


"Ehh lele, kamu ngapain sih pake ngikut-ngikutin kata-kataku segala?" ucap Miko menatap Alena kesal.


"Udah fix, kalian berdua emang jodoh. Udah lanjutin aja ributnya. Sekarang aku pulang dulu ya, kasihan suami dan anakku," pamit Rena mulai beranjak dari tempat duduknya, tapi beberapa saat ia kembali menoleh. "Kabarin ya kalau udah jadian, aku mau minta pajaknya. Cafe depan kampus juga gak masalah lah. Byee!!" imbuhnya kemudian seraya tertawa menggoda.


"Rena!!!!"


"Ngapain ikut-ikutan manggil." Alena menatap Miko dengan sengit.


"Suka-suka aku lah. Kau yang ikut-ikutan, nyet!"


"Sialan!!!"


Rena kembali menoleh ke arah keduanya, terlihat mereka masih ribut. "Ada apa?"


"Aku tunggu penjelasanmu."


Rena mengangguk paham, Alena pasti meminta tentang cerita bagaimana ia bisa menikah dengan dosennya.


Alena memegang tas selempang miliknya, keluar dari Mall.


"Pulang naik ojek apa taksi ya. Kayaknya mending naik ojek deh. Helm ijo-ijo, seru kayaknya. Kalau naik taksi takut kemaleman, kasihan juga bang Alby sama Misel takut masih nunggu."


****


Sebuah motor Mio soul tiba di depan rumah Alby. Rena turun dari jok belakang, lalu melepaskan helm ijo memberikannya pada tukang ojek online.


"Wahh bapak keren, naik motor dari mall sampai sini bisa cukup lima menit. Tenang pak akan saya kasih bintang tujuh," seru Rena pasalnya ia sendiri yang memburu ojek online itu untuk menambah kecepatannya.


"Lima neng. Memangnya puyer ada bintang tujuh," sahut kang ojek.


Rena meringis, "oh iya ya!"


Setelah itu tukang ojek berlalu pergi, Rena berlalu masuk ke dalam dengan santai, ia memijat kepalanya.


"Baru pulang?" tanya Alby yang saat itu tengah duduk di sofa, dengan laptop yang menyala di atas meja.


Rena menoleh, tersenyum dan menghampiri sang suami. Lalu menyalaminya dengan lazim. "Ya bang. Maaf ya kemaleman. Habisnya tuh dua curut nahan aku mulu."


"Iya gak apa-apa. Ya sudah sana mandi terus istirahat."


"Nanti dulu bang. Pusing kepalaku tiba-tiba." Rena justru mendudukkan dirinya di sofa tepat di sisi Alby.


Alby menoleh, "kenapa?"


"Gak tau. Ini kayaknya gara-gara naik motor anginnya kencang kali ya. Aku minta abangnya untuk buru-buru, jadi lima belas menit dari mall ke sini sampai deh."


"Apa?" Pekik Alby. "Kamu cari penyakit?" imbuh Alby.


"Astaga, Rena. Kamu kan bisa telpon aku minta dijemput. Bahaya naik motor cepat-cepat begitu."


"Malah ngomel-ngomel, udah kaya Mommy aja ini Abang. Dah ah aku mau mandi!" Rena berlalu meninggalkan suaminya.