Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Bukan Tandinganmu



Miko merangkul mesra pinggang istrinya, saat Miranda tengah memakaikan dasi di lehernya.


“Tangannya diam dulu sih. Geli tahu,” ujar Miranda.


Miko hanya terkekeh. “Gemes sayang.”


“Kalau kamu gak mau diam. Aku gak akan selesai-selesai masang dasinya. Nanti kamu telat ke kantornya,” omel Miranda.


“Aku bosnya loh sayang.”


“Justru karena kamu bosnya jadi harus memberikan contoh yang baik untuk karyawannya. Masa bosnya telat, itu sama aja kamu ngasih contoh yang jelek sayang.”


“Iya sayang iya,” sahut Miko pasrah. Paham jika ucapan perdebatan itu dilanjut, tidak akan ada habisnya. Hingga akhirnya Miko pun yang harus mengalah. Ingatkan Miko tentang pasal seorang perempuan, dua perempuan itu selalu benar, dua jika perempuan melakukan kesalahan, kembalilah ke pasal satu. Miko juga heran entah sejak kapan istrinya itu lebih sensitif, dan suka berdebat. Kemungkinan bawaan hamil juga ya.


“Padahal ya sayang. Kamu itu harusnya senang kalau aku gak jadi ke kantor,” seru Miko.


“Lho kenapa?”


“Kan jadinya kita bisa menghabiskan banyak waktu di ranjang,” celetuk Miko seraya menaikan turunkan alisnya.


Miranda langsung melotot dan memukul pelan dada suaminya. “Pikiranmu itu loh, gak jauh-jauh dari itu.”


“Mumpung masih bisa sayang. Nanti kan kalau mereka udah lahir. Aku harus puasa lama.”


Miranda menghela nafasnya, mendengar penuturan suaminya. “Masih lama kok,” celetuk Miranda.


“Sudah sana berangkat,” usirnya kemudian pada sang suami. Karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. “Aku juga harus pergi ke butik hari ini,” sambungnya. Perempuan itu hendak berlalu untuk bersiap diri. Namun, Miko justru menahannya.


“Apalagi?” tanya Miranda ketika sang suami justru menahan tangannya, lalu menunjuk pipinya.


“Cium dulu,” pinta Miko seraya menyodorkan pipinya.


Miranda berdecak, namun tak urung ia pun menuruti perintah suaminya. Mengecup pipinya yang sebelah kanan. Ia pikir setelah itu aksi suaminya itu sudah selesai. Namun, Miko kembali menarik tangannya menunjuk ke arah pipinya yang sebelah kanan, dan juga bibirnya.


“Apalagi sih, kan tadi udah,” kata Miranda.


“Yang kiri dan tengah kan belum. Gak boleh setengah-setengah sayang. Nanti pipi aku iri.”


“Kamu kalau dituruti nanti malah menginap dan gak berangkat-berangkat,” ujar Miranda.


“Enggak kok sayang. Janji deh.”


Menghela nafas pelan, akhirnya Miranda pun memajukan wajahnya, mengecup pipi kiri suaminya, kemudian beralih ke bibirnya. Namun, saat sampai di sana, ia hendak menyudahinya, sang suami justru menahan tengkuknya. Hingga terjadi lu ma tan kecil. Membuat Miranda memukul pelan dada suaminya, sampai ciuman terlepas.


“Tuh kan..”


Miko hanya meringis. “Anu sayang, itu buat semangat aku loh,” jawab Miko si lelaki yang paling pintar mencari alasan.


”Ya udah aku berangkat.” Miko beralih mengecup kening istrinya. Lalu mengambil tas miliknya.


“Hari ini ada pertemuan dengan Hira?” tanya Miranda membuat langkah Miko terhenti, dan kembali menoleh ke arah istrinya.


“Iya, ada. Kenapa?”


Miranda menggeleng. “Hanya bertanya. Ya udah sana berangkat.”


Miko tersenyum simpul, mengerti mengapa istrinya bertanya seperti itu. ”Jam makan siang nanti aku tunggu di cafe kejora. Kamu harus datang, aku akan menunggu.”


“Lho–”


🦋🦋


Cafe Kejora


Miko baru saja menyelesaikan pembahasan kerja sama dengan Hira. Saat itu juga ada Yanto di sisinya. Lelaki itu berkali-kali menoleh ke arah pintu. Sejak tadi ia berharap istrinya itu akan datang. Namun, hingga proses meeting usai, Miranda belum juga tiba.


“Aku tidak menyangka kalau kamu sudah menikah,” kata Hira membuka obrolan pribadi. Saat itu Yanto tengah izin ke kamar mandi, hal itu membuat Hira berkesempatan bertanya ke hal yang lebih pribadi.


“Kenapa?” tanya Miko santai. Bahkan matanya tetap fokus pada ponselnya. Lelaki itu tengah menunggu balasan chat dari istrinya.


“Aku pikir waktu itu kamu–”


“Masih bocah. Karena aku belum mapan, kamu meragukan ketulusanku begitu?"


Seketika, Hira menjadi bungkam. Mengingat kembali bagaimana secara tiba-tiba ia meminta putus dari lelaki itu, dengan alasan yang tak masuk akal.


“Bukan. Saat itu aku pikir kamu mencintai Kak Alena. Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang untuk kalian, untuk itu aku lebih memilih mundur.”


“Keputusan yang sangat tepat. Karena jika saat itu kau tidak mundur, aku tidak akan mungkin bertemu dengan perempuan yang tepat, yang aku cintai yang mampu menerima aku apa adanya,” jawab Miko telak.


Jleb!


Seketika, Hira merasakan sesuatu yang sesak di dadanya. “Tapi Miko sekarang aku–”


“Tidak akan ada kesempatan yang kedua, ketiga dan keempat untukmu Hira. Hubungan kita murni sebuah ikatan bisnis. Jika kau berniat mengusik rumah tanggaku. Aku lebih baik kehilangan proyek kerja sama yang bernilai puluhan juta ini, dibandingkan aku harus mengorbankan rumah tanggaku,” tegas Miko seraya melirik ke arah pintu, karena ternyata Miranda sudah datang. Lelaki itu segera melambangkan tangannya, memberi kode istrinya.


Miranda menghampirinya. “Lagi kerja. Kenapa suruh aku datang.”


Miko beranjak mempersilahkan istrinya untuk duduk. “Sudah selesai sayang. Kemarin kamu bilang penasaran dengan Hira. Jadi, aku pikir kamu perlu mengenalnya sayang. Barangkali itu adalah keinginan anak-anak kita,” ujar Miko seraya mengusap perut buncit istrinya.


Miranda terkekeh. Namun, tak urung ia pun mengulurkan tangannya pada Hira.


“Zahira, mantan... Em maksudku rekan bisnis suami anda,” kata Zahira.


“Aku Miranda. Istrinya Miko.” Miranda sengaja menekankan kata istri. Karena ia menangkap sebuah rasa cinta di mata perempuan itu.


Ponsel milik Miko berdering, karena adanya alunan suara musik yang merdu, membuat Miko pamit keluar untuk mengangkat panggilannya. Hingga saat ini hanya tinggal Miranda dan Zahira di sana.


“Berapa usia anda, Mbak Miranda?” tanya Hira.


Miranda mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan mantan kekasih suaminya. “Kenapa memangnya? Apa anda bermaksud menanyakan tanggal lahirku, lalu akan memberikan aku hadiah saat ulang tahun?” tanya balik Miranda santai.


Hira mendengus sebal. “Mbak tahu. Aku dan Miko itu mempunyai sebuah kenangan yang tak terlupakan, seperti–”


“Seindah apapun kenanganmu dengan suamiku itu tetaplah sebuah masa lalu, yang secara perlahan pasti akan terlupakan. Aku tidak peduli untuk hal itu, setiap orang mempunyai masa lalu, banyak yang manis ataupun yang buruk. Bagiku untuk saat ini adalah, aku adalah masa depan Miko. Tak peduli kehadiranmu, yang hanya bagian dari masa lalu suamiku. Aku hanya ingin mengucapkan satu hal padamu.” Miranda menghentikan ucapannya sejenak, memandang Hira dengan santai. “Terima kasih karena telah melepaskan Miko, hingga akhirnya kami bertemu, kemudian membuang sebuah rumah tangga. Dan sebentar lagi kami akan mempunyai malaikat-malaikat kecil,” lanjut Miranda seraya mengusap perut buncitnya.


Hira mengepalkan kedua tangannya di bawah kolong meja. “Sial!”


“Jadi, berhentilah untuk berniat menjadi pelakor. Karena aku bukanlah tandingan mu anak kecil. Kau masih terlalu dini untuk melawanku. Dari pada kau habiskan waktumu untuk menjerat suami orang. Akan lebih baik kau gunakan waktumu untuk memperbaiki diri,” kata Miranda. Dan lagi-lagi Hira merasa tersudut.


“Sayang, maaf ya lama. Oh ya kamu udah pesan makanan.” Kedatangan Miko melemaskan ketegangan di meja itu.


Miranda menggeleng. “Sayang, sepertinya anak-anak kita pengen makan di restoran Papanya Alena deh.”


Miko mengerutkan keningnya, tidak biasanya istrinya itu bersikap manja demikian. Namun, tak ingin banyak bertanya ia pun menurut. “Oke, kita pindah ke restoran Paman Roby.”


“Miko?” panggil Zahira.