
Kekhawatiran Rena sirna ketika melihat Misel ternyata sudah mau bermain. Tadi, sepulang sekolah Misel terus murung wajahnya nampak pucat. Hingga membuat Rena mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah sakit, beruntung Dokter Ryan bisa mengatasi semua kendala di sana.
Kini Rena tengah makan malam dengan diamnya, sesekali akan mengaduk-aduk makanannya. Entah kenapa hari ini ia sama sekali tak berselera makan, entah karena kepikiran kejadian tadi atau karena tubuhnya yang merasa lelah.
"Kenapa sayang? Apa makanannya tidak enak?" tanya Alby lembut.
Rena menghentikan gerakan tangannya, menoleh ke arah sang suami lalu menggeleng. "Enak bang."
Alby menghela nafasnya, menatap istrinya heran. "Kenapa tidak dimakan? Cuma diaduk-aduk. Kalau emang bosan makanan rumah, Abang pesenin yang lain ya," tawarnya.
"Gak bang. Aku gak pengen makan apa-apa, cuma aku masih kenyang."
"Kenyang?"
Rena mengangguk.
"Emangnya tadi sudah makan?" tanya Alby heran.
"Belum Ayah. Bunda bahkan tidak makan apa-apa sejak jemput Misel. Bunda sibuk berdiam diri, memperhatikan Misel main," timpal Misel.
Rena menoleh pada putrinya, menatapnya dalam-dalam, entah kenapa ketakutan dalam dirinya itu begitu kuat. Tapi entah karena apa? Saat ini ia hanya merasa gelisah yang berlebih.
Alby menatap istrinya dengan kesal. Kerap kali Rena selalu mengabaikan pola makannya. Padahal berkali-kali Alby selalu mengingatkan untuk tak telat makan, ia khawatir asam lambung istrinya bisa kambuh.
"Re? Benar begitu?" tanya Alby lembut namun terdengar kesal.
Rena menunduk. "Maaf bang. Tapi aku benar-benar lagi gak selera makan."
"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Alby dengan penuh selidik.
Rena ragu haruskah ia mengatakannya, tapi ia pikir bagaimana jika dugaannya salah, Alby justru akan marah padanya. "Gak ada bang."
Alby terdiam berfikir sesaat. Terlintas dalam otaknya mungkin saja Rena merasa jenuh berada dalam rumah, sekalinya keluar hanya untuk bekerja dan kuliah. Apalagi belakangan dirinya begitu sibuk.
"Tunggu di sini?" Alby beranjak dari kursinya, menaiki tangga menuju kamarnya mengambil kunci mobilnya beserta dompetnya. Setelah mendapatkannya ia pun kembali menghampiri istrinya.
"Yuk!" ajaknya.
"Mau kemana bang? Udah malam."
"Makan di luar, Re."
Rena menggeleng menatap putrinya yang masih duduk dengan tenang. "Bunda sama Ayah pergi saja. Misel tidak mau ikut."
"Tapi sayang-"
"Bunda pergilah, aku bisa tidur ditemani Nany," usir Misel. Alby mengusap rambut putrinya, tersenyum bangga karena Misel mengerti bahwa orang tuanya tengah membutuhkan waktu untuk berdua.
"Mau makan di mana sayang?" tanya Alby saat dalam perjalanan yang entah kemana tujuannya.
Rena mendengus, bahkan suaminya yang mengajak pergi kenapa masih bertanya perihal tempat makan.
"Kan Abang yang ngajak. Gimana sih?"
Alby terkekeh, ternyata mood istrinya hari ini memang begitu jelek. Seperti orang hamil saja moodnya naik turun. Tiba-tiba ia jadi membayangkan jika istrinya itu beneran hamil, akan seperti apa ya? Alby segera mengenyahkan pikirannya. Karena ia pikir ini bukan saat yang tepat. Kebahagiaan Rena dan Misel jauh nomor satu baginya. Apa yang dapat membuat istri dan putrinya bahagia, maka akan ia coba penuhi.
"Tanya dong sayang? Barangkali punya rekomendasi. Atau....." Alby menoleh ke arah istrinya sesaat. "Barangkali kamu punya voucher makanan gratis lagi," tambahnya kemudian, yang berhasil mendapatkan tabokan kecil dari Rena. Lelaki itu memang sengaja menggoda istrinya.
"Dasar muka gratisan!" celetuk Rena kemudian. Alby tergelak mendengarnya, apakah ia tak salah mendengar. Bukankah yang suka gratisan itu istrinya. Berburu diskonan adalah hobynya.
"Jangan ke restoran bang. Aku bosen," ujar Rena kalah sang suami berniat membelokkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji. Alby menghentikan mobilnya sejenak, lalu menoleh ke arah istrinya.
"Lalu kamu mau makan di mana sayang?" tanyanya. Ia yang memang tak terbiasa memanjakan perempuan tentu tak begitu paham, yang ia tau perempuan itu suka makan di tempat makanan mewah. Tapi ternyata Rena berbeda.
"Kata ibu-ibu komplek tadi, di ujung gang ada pasar malam bang. Kita kesana aja yuk bang, pengen nyari Sempol ayam," pinta Rena yang memang beberapa kali ia kadang menyempatkan diri keluar rumah demi bertegur sapa dengan para tetangga. Meskipun ia sendiri belum bisa lulus menjadi admin lambe turah, paling tidak ia bisa bergaul dengan emak-emak komplek. Begitupun dengan ibu-ibu komplek yang begitu senang bertegur sapa dengan Rena, selain karena perempuan itu ramah, ia juga baik juga seorang dokter, lumayan kan bisa berobat dekat tidak perlu ke rumah sakit. Di saat seperti itu Rena kadang berpikir ingin membuka praktek sendiri saja di rumah. Selain karena bisa memiliki banyak waktu di rumah, ia pun juga bisa memudahkan warga komplek di sana. Tapi... Untuk saat ini mungkin ia harus menahannya lebih dulu. Tabungannya belum cukup untuk itu.
Sesuai dengan permintaan istrinya untuk ke pasar malam. Alby pun melajukan mobilnya ke arah sana. Sampai di sana, Alby memarkirkan mobilnya sedikit jauh. Turun dari mobil Rena begitu semangat menggandeng tangan sang suami. Suara musik menggema, berbagai stand terpampang di sana. Dari mulai makanan, area permainan, pakaian dan masih banyak lagi.
Rena sangat senang melihatnya, matanya berbinar bahagia. Alby menggelengkan kepalanya, melihat tingkah istrinya, ia jadi teringat Misel, anak itu juga sama tingkahnya ketika di ajak ke tempat bermain yang ia sukai pasti akan sangat bahagia.
"Kita cari sempolnya," ujar Alby menggandeng tangan istrinya kembali.
Tapi Rena menahannya, dan menggeleng.
"Kenapa?"
"Nanti dulu bang. Aku mau main itu!" tunjuk Rena pada permainan pencapit boneka. Sebuah boneka unicorn terpampang di sana, Rena menatapnya dengan penuh damba.
"Re, nanti kan bisa-"
"Gak mau nanti. Mau sekarang bang, aku mau boneka yang itu. Kalau nanti takutnya udah kena ambil orang," rengek Rena. Sesaat Alby jadi merasa seperti tengah bersama anak kecil. Baiklah, Alby memilih mengalah. Lelaki itu menuruti ucapan istrinya. Rena mulai bermain mesin pencapit itu. Tapi berkali-kali ia pun gagal tak mendapat apapun. Perempuan itu merenggut kesal, menurutnya permainannya itu jauh lebih susah dibandingkan ia harus belajar algoritma.
Alby memilih mengambil alih permainan istrinya, rupanya ia tak tega melihat istrinya berwajah murung. Satu kali gagal, dan dua kali Alby berhasil mendapatkan boneka yang Rena inginkan.
"Senang?" tanya Alby.
Rena mengangguk. "Ya bang. Nanti ini bisa buat Misel. Anak itu kan suka sekali boneka."
Alby tersenyum, meski Misel tak berada di dekatnya, Rena masih saja perduli dan ingat padanya. Tidak salah jika Misel begitu menyayangi Rena.
Kini keduanya memilih duduk di kursi plastik menunggu sempol ayam pesanannya. Setelah jadi, Rena pun makan di sana dengan lahap. Alby tersenyum, ternyata membuat mood istrinya balik itu tidaklah susah. Tidak perlu ke tempat mewah, Rena bahkan lebih menyukai tempat rame seperti ini.