Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Tak Tau Malu



"Try it!" ucap Alby nakal seraya menggiring tubuh istrinya, tak jauh dari jendela kaca yang menghadap keluar. Terlihat rintik air hujan pun masih turun, rasanya ini momen paling pas untuk ber cinta.


"Abang kenapa di sini? Mau ngapain?"


Alby membuat Rena menghadap ke arah tembok, sebelah jendela kaca itu. Rena meringis kala ujung dadanya menyentuh dinding tembok yang terasa dingin.


"Bang...." Rena menoleh, kemudian Alby menempelkan tubuh keduanya, lalu berbisik di telinga sang istrinya.


"Tenang saja. Percayalah, Abang akan buat kamu puas. Kita coba gaya baru."


Albu berucap dengan tenang, seraya menyatukan bibirnya dengan Rena, hingga sang istri harus menoleh ke belakang demi menyambut pangutan suami. Sementara salah satu tangannya dengan cekatan membuka kain segitiga yang tersisa di tubuh istrinya.


Rena melenguh kala ciumannya terlepas, dan ia semakin menempelkan tubuhnya pada tembok, disaat Alby kembali menyusupkan ke dua jarinya di bawah sana. Sesaat Rena merasa tersiksa, adrenalin nya terpacu, darahnya berdesir, seluruh sarafnya melemas, membuatnya terdiam pasrah.


Era ngan Rena terdengar putus-putus, mana kala ia merasakan sesuatu yang lebih besar dari jari memasukinya dari belakang, bergerak tanpa permisi dan langsung menghentak-hentakkan dengan kuat, tanpa memberi jeda membuat Rena meleguh menikmati setiap kali terdorong ke depan, menahan pinggul sang suami yang bergerak semakin cepat. Semakin Rena meleguh semakin kasar pula lelaki itu memasukinya, hingga membuat Rena berfikir mungkin inilah salah satu resiko menikah dengan seorang duda yang sudah berpengalaman.


Hal ini tak dapat ia jabarkan rasanya. Rena hanya bisa men de sah dan me nge rang sebagai jawabannya, kemudian berteriak mana kala sang suami berhasil membuatnya meraih puncak pelepasan.


Rena terkulai lemas di dada suaminya. Ia mencoba menetralkan nafasnya yang ia rasa sejak tadi menghilang. Alby tertawa kecil, merasa bangga telah berhasil membuat istrinya puas.


Rena memejamkan matanya sejenak, ia kira semuanya telah usai. Tapi, bisikan sang suami selanjutnya membuat ia terkesiap.


"Abang belum selesai loh."


Rena langsung membuka matanya, merasakan sesuatu bergerak di belakangnya, seketika Rena menjadi merinding.


"Bang ini sudah lebih dari sepuluh menit loh. Tadi Abang bilangnya kan hanya sepuluh menit. Lagian kita juga kan-"


Alby langsung memutar tubuhnya istrinya menghadap dirinya. Dan dengan cepat ia langsung membungkam bibir Rena, memangutnya kembali secara lembut. Membuat sang istri kembali tak bisa berkutik.


"Sekali lagi!"


"Udah.. nanti Misel ngambek!"


Rena terengah, dengan erat ia berpegangan pada bahu suaminya, karena ia terhimpit oleh tubuh dan dinding.


"Tanggung sayang," jawab Alby tak peduli. Ia kembali membungkam bibir istrinya, memangutnya secara lembut, saling membelit, sementara salah satu tangan Alby bergerak cepat me re mas da da istrinya, membuat tubuh Rena kembali bergetar.


Rena kembali terkesiap, mana kala sang suami kembali memasukkan miliknya di bawah sana. Seakan membuat tubuh bagian bawah Rena terasa penuh. Alby bergerak dengan cepat, menghentak-hentakkannya secara cepat. Sementara salah kedua tangannya tak berhenti me re mas da da istrinya, bibirnya terus memangutnya secara lembut. Membuat Rena merasa bilngsatan. Gairahnya kembali naik, hingga ia pun mengikuti naluri permainan sang suami.


Cuaca dingin saat ini tak berarti apa-apa bagi keduanya, karena mereka telah bermandikan dengan keringat, akibat permainan panas yang mereka ciptakan.


Beberapa saat kemudian, Alby me nge rang dan terkulai lemas, kala ia berhasil melakukan pelepasan, menyatukan keningnya pada kening istrinya, seraya tersenyum puas.


"Terima kasih!" bisiknya seraya mengecup pipi istrinya.


"Kamu luar biasa," imbuhnya kemudian membuat Rena merona.


Rena mendorong tubuh sang suami dengan pelan, "minggir bang, aku mau mandi lagi."


"Bareng?" tawar Alby.


"No!" tolaknya tegas.


Albu terkekeh, lalu menjauhkan tubuhnya berjalan menuju ranjang dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Rena kembali merona kala melihat milik suaminya yang berhasil membuatnya terbang melayang. Buru-buru ia mengenyahkan pikirannya, dan berlari masuk ke kamar mandi, tak lupa menguncinya dari dalam.


Beberapa saat kemudian Rena keluar dengan handuk yang membalut tubuhnya sebatas dada, ia masih mendapati pemandangan yang sama, di mana sang suami masih duduk dalam keadaan polos.


"Apa sih?"


"Barangmu! Astaga, punya laki kok mesum amat." Rena berdecak seraya berlalu menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


"Kamu aja suka aku mesumin, malah ketagihan," bisik Alby yang entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di belakangnya.


Plak!


Rena memukul lengan sang suami, dengan sorot mata yang kesal. "Udah jangan banyak ngomong buruan mandi. Gak pake lama!"


"Baik nyonya!" Alby berlalu pergi.


Sementara Rena mulai memakai pakaiannya, kemudian melangkah ke meja rias, menyisir rambutnya yang basah. Lalu Rena memilih pikir akan lebih baik jika ia keringkan sekalian, dan dengan cepat Rena menghidupkan hair dryer, mengeringkan rambutnya secara cepat.


Setelah dipastikan sudah kering, Rena kembali menuju lemari mengambil pakaian ganti untuk sang suami. Setelahnya Rena menarik laci nakasnya, mengambil butiran pil, lalu menelannya, tak lupa ia minum air mineral yang tersedia di atas nakas. Setelahnya, Rena memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai akibat ulah suaminya tadi, Rena meletakkannya di ranjang pakaian kotor.


Tepat, saat itu Alby keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggangnya.


"Kok cepat mandinya?" tanya Rena heran.


"Katanya tadi gak boleh pake lama," balas Alby seraya mengambil pakaian ganti yang sudah Rena sediakan. Membuka handuknya, lalu memakainya begitu saja di depan istrinya.


'Dasar tak tau malu,' batin Rena.


"Ya aku tau, tapi kaya bukan Abang yang mandi deh," tukas Rena.


Alby selesai mengganti pakaiannya, lalu menoleh ke arah istrinya, yang sudah rapi dengan baju tidur berbahan satin dengan warna merah muda. Lelaki itu mengusap perutnya.


"Lapar sayang. Abang kaya kehabisan tenaga, habis nyervis istri Abang."


"Abang!!!" Rena berteriak kesal merasa jika sang suami menggoda dirinya.


Alby tertawa kecil, lalu menghampiri istrinya, dan menggenggam tangannya. "Udah jangan galak-galak. Ayo kita ke bawah makan. Katanya mau buatin mie instan ala chef Rena."


Rena menepis tangan suaminya, lalu melipatnya di dada. "Buat sendiri. Aku udah gak ada tenaga ya bang, buat bikin mie."


"Ya udah kita makan yang ada aja," ujar Alby paham. "Atau kamu mau delivery aja sayang?" imbuhnya kemudian.


Rena menggeleng, "tidak lah. Aku bosan makan masakan luar. Makan yang ada di rumah aja ya bang."


"Oke!"


Alby mengikuti istrinya kelar dari kamarnya, dan turun ke bawah. Rena mencari Misel tapi tidak di temukan.


"Nyari siapa?" tanya Alby.


"Misel bang."


"Ada di ruang makan kayaknya anaknya," sahut Alby.


Rena pun langsung berlalu ke ruang makan. Terlihat di sana Misel tengah makan. Ia juga terkejut mendapati ibu mertuanya juga berada di sana.


"Segitu asiknya by. Sampai lupa sama anak," decak Soraya memandang kesal ke arah putranya, Rena meringis merasa tak enak hati.