Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Jujur Apa Bohong?



Alby meringis melihat tampilan soto ayam di depannya kini. Soto Ayam ala chef Rena katanya, harusnya kuahnya kental begitukan dan sedikit berwarna kuning. Tapi entah sejak kapan soto itu berubah warna menjadi sedikit hitam.


"Ayo dong bang cobain. Gak lihat apa perjuangan aku masak kaya gimana, ini muka, rambut udah bau asap semua." Rena mempersilahkan sang suami untuk makan. Masih berdiri di sisi Alby. "Lihat dong bang, tangan aku sampai luka begini. Kalau Abang gak makan sama aja gak menghargai usaha aku," imbuh Rena kemudian seraya menunjukkan jarinya yang sempat terluka, ada empat jari yang sudah di bungkus plester. Entah bagaimana istrinya itu belajar masak, apa yang dipotong mengapa tangannya yang menjadi korban.


"Ya sayang. Tapi-"


"Apalagi sih bang. Ini masakan spesial buat Abang ala chef Rena, jamin mantul," pungkas Rena seraya mengambilkan sendok untuk sang suami.


Soraya dan Misel yang melihat itu pun terkekeh geli. Misel asik makan dengan telor mata sapi. Soraya merasa bahagia, dan ia meminta ketiganya untuk menginap semalam saja, dan jadilah Alby menyusul sang istri ke rumah ibunya.


"Sayang, ini yakin bisa dimakan. Kok warnanya bisa hitam begini?" tanya Alby seraya menyendok kuah soto di depannya.


Rena cemberut, "ya itu salah Abang sendiri. Ngapain telpon terus, nanya-nanya terus kaya wartawan." Rena merasa kesal, karena sang suami terus-terusan menelpon saat dirinya tengah belajar memasak, alhasil membuat bumbu soto itu menjadi gosong. Rena yang sudah malas harus meracik bumbu lagi, tetap melanjutkannya.


"Jadi, sebagai hukumannya Abang harus ngabisin soto ayam itu."


"Lho kok-"


"Kenapa? Emangnya Abang doang yang bisa menghukum, aku juga bisa dong. Udah jangan ngebantah buruan di makan."


Alby menghela nafasnya, kenapa sekarang istrinya itu menjadi sangat pandai berbicara dan memaksa. "Tapi nanti kasih hadiah ya?" Alby mengerlingkan kedua matanya pada Rena.


"Ya bang, bulan depan tunggu Rena gajian!"


Alby berdecak, istrinya itu sungguh tak peka dengan kode plus-plus yang ia beri. Apakah Rena itu tak paham juga bagaimana tersiksanya dirinya, berkali-kali gagal, bercocok tanam. Baiklah kalau istrinya tak mengerti kode, berarti nanti langsung praktik saja.


Alby menyendok soto lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Rena tersenyum bangga.


"Bagaimana bang? Enak gak?" tanya Rena harap-harap cemas.


Alby menelan kuah soto itu dengan susah payah. Rasanya benar-benar sangat jauh, ada aroma-aroma gosongnya, ditambah sangat asin. Entah berapa banyak istrinya itu memasukkan garam ke dalamnya.


"Mau review yang jujur apa bohong?" tanya balik Alby.


Rena menggeser tubuhnya menjadi duduk di sisi sang suami.


"Jujur dong Ayah. Kata ibu guru Misel bohong itu dosa." Misel ikut menimpali. Membuat Alby mengangkat jempolnya. Soraya mengusap lembut kepala cucunya.


"Iya kan Bun?" imbuh Misel pada Rena.


Rena tersenyum mengangguk. "Iya, bang. Jujurlah masa kasih masukan kok bohong."


Alby mengulurkan tangannya mengacak-acak rambut istrinya yang memang dasarnya sudah berantakan. "Wahhh, bagus. Istriku memang pintar, tidak sia-sia kamu ngejar S2 sayang. Karena bohong itu memang dosa, jadi aku mau jujur kalau rasa sotonya itu-" Alby menatap wajah istrinya yang terlihat begitu penasaran.


"Gimana bang?"


"Gosong dan asin sayang. Kamu kalau biarin suami kamu menghabiskan soto ini, bisa-bisanya kamu cepat jadi janda. Karena suamimu bisa terkena darah tinggi."


"Abanggg?????!!!" Rena berteriak kesal. Meski itu memang kejujurannya, tapi kok Rena merasa kesal. Karena Alby terlampau jujur, apa tidak bisa bohong sedikit. Teriakan Rena yang melengking membuat Alby sampai menutup telinganya.


"Aku kesal sama Abang. Harusnya sotonya jadi enak, pokoknya semua ini karena Abang. Besok lagi kalau Abang minta soto aku buatin Indomie soto lagi," omel Rena seraya menghentakkan kakinya melangkah ke dapur, melepaskan celemek yang ia pakai.


Soraya menggelengkan kepalanya, "susul dong by. Kamu sih jujur-jujur amat, orang mah kasih pujian sedikit. Kaku banget jadi orang," omel Soraya seraya menarik cucunya. "Yuk Misel ikut nenek ke kamar. Nenek punya hadiah untuk Misel."


"Ayuk nek!"


Alby menghela nafasnya. Sebenarnya bersikap lembut pada perempuan bukan Alby banget, ia hanya belajar dari pengalaman sebelumnya. Dulu mungkin karena sifatnya yang terlalu kaku mantan istrinya memilih meninggalkan dirinya dan putrinya. Alby tidak ingin kegagalan rumah tangganya kembali terulang lagi, apalagi dirinya pun merasa sudah nyaman dengan Rena.


****


Alby mengeluarkan sebuah kotak dalam tasnya, lalu ia letakkan di atas meja. Kotak hadiah itu akan ia berikan pada istrinya, sebagai permintaan maaf. Alby memang sengaja membiarkan istrinya sendiri dulu, karena jika Alby minta maaf Rena masih dalam kondisi kesal, ia merasa percuma.


Alby tersenyum membayangkan nanti istrinya keluar dari kamar mandi, kemudian ia langsung memeluknya dari belakang, ia langsung mengatakan untuk minta maaf sambil memberikan hadiah yang ia bawa. Bukankah perempuan itu paling suka dengan hadiah. Alby pikir ini juga kesempatan yang bagus, karena tidak akan ada yang menganggunya. Misel sudah tidur bersama ibunya.


Ceklek!


Pintu kamarnya mandi terbuka, tapi Rena tidak keluar, melainkan hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Abang?"


Alby menoleh, "apa? Ambilin baju gitu. Udah keluar aja sih, ganti di sini juga tidak apa-apa."


Alby tergelak mendengarnya. "Ngaco. Aku laki-laki mana ada. Kamu ini--"


"Maksud aku mungkin punya Ibu, atau asisten rumah tangganya gitu. Ayo dong, Rena minta tolong. Cariin ya? Kalau gak ada beli. Sekalian sama minumannya ya, sakit banget bang."


Alby mendekat ke arah istrinya. "Kamu datang bulan?"


Rena mengangguk.


"Iya bang."


"Serius??" Alby rasanya masih tak percaya.


"Iya Abang. Masa aku bohong. Makanya buruan Carikan aku pembalut. Kalau gak. Aku pakai baju Abang aja ya."


Alby meluruhkan tubuhnya. "Kenapa sih mesti sekarang sayang. Besok aja kek, baru mau buka puasa."


Rena menatap suaminya bingung, sebenarnya apa yang sedang suaminya rencanakan.


"Bang, buruan ih. Ayo carikan!!"


Alby bersungut kesal, lagi-lagi gagal. Ia menatap istrinya penuh ancaman, awas saja jika sudah selesai nanti, Alby akan bermain sepuasnya.


"Iya-iya bawel!" omel Alby.


"Bang yang ada sayapnya ya. Pilih yang warna biru bungkusnya, soalnya itu lebih panjang."


Alby tak menyahuti ucapan istrinya, ia berlalu keluar dari kamarnya dengan wajah lesu. Lelaki itu langsung pergi ke indo April terdekat.


Satu jam kemudian, Alby kembali dengan membawa satu kantong belanjaan. Ia mengetuk pintu kamar mandi, memberikannya pada Rena.


"Abang ngapain beli banyak-banyak begini. Di pikir aku mau dagang kali!" Omel Rena kala melihat sang suami membeli pembalut begitu banyak, hingga satu kantong penuh.


"Pemborosan!!"


"Berisik! Udah ah, itu buat stok kamu selama satu tahun," ucapnya enteng.


Beberapa menit, Rena keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh. Rambutnya basah, tapi sesekali ia meringis merasakan nyeri pada perutnya. Alby cemberut kesal, rasanya ia tidak ada tenaga meski untuk mandi sekalipun ia merasa malas.


Rena meneguk minuman yang sudah Alby belikan. Pandangannya tertuju pada kotak hadiah di atas meja.


"Hadiah buat siapa bang?" tanya Rena.


Alby menoleh ke arah Rena sesaat. "Kamu!!" jawabnya cuek.


Rena mengangguk, mengambil kotak itu dan membukanya. "Wah bagus banget Abang. Ini pasti mahal, Rena dulu ingin sekali beli sepasang perhiasan seperti ini. Tapi, belum ada duit. Soalnya harganya mahal," cerocos Rena.


"Ya kamu pakai aja."


Rena mendengus, jawab sang suami yang terdengar lemas membuat ia kesal. Perempuan itu beranjak merangkak ke atas ranjang. Lalu duduk menghadap sang suami. "Abang kenapa sih, jutek banget. Harusnya kan aku yang marah soal masakan tadi. Kok sekarang jadi Abang yang marah. Aku yang pms kenapa jadi Abang yang uring-uringan."


"Ya karena kamu datang bulan itu aku kesal. Kenapa sih gak besok aja. Kesal gagal terus mau minta jatah doang," sungut Alby tak mau kalah. Bahkan lelaki itu kini membaringkan dirinya membelakangi sang istri.


"Abang bangun dulu sih, mandi sono."


"Ngapain? Gak ada yang mau nyium juga ngapain mandi," jawabnya jutek.


Rena menghela nafasnya, kenapa sekarang ia jadi merasa mempunyai dua Misel sih. Ia harus bisa merayu sang suami.


Kini perlahan Rena mencondongkan kepalanya, dan dengan cepat ia memberikan kecupan ringan di pipi sang suami, membuat Alby terkejut.


"Ayo dong Abang mandi. Aku gak mau ya dipeluk kalau Abang gak mandi. Ya deh besok kalau aku udah selesai, Abang bebas ngapain aja," bujuk Rena.


"Beneran??" Alby langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan semangat.


Rena mengangguk, "iya tapi Abang jangan marah-marah lagi. Aku pusing berasa punya dua anak jadinya."


Alby terkekeh, langsungnya bangkit dadi ranjangnya, tak lupa sebelumnya ia mengecup pipi istrinya.