Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Album Foto



Usai sarapan Alby langsung beranjak mengajak istri dan anaknya untuk ke rumah ibunya. Jadi, Rena dan Alby membuat jadwal berkunjung ke rumah orang tuanya masing-masing. Jika Minggu ini mereka berkunjung ke rumah Soraya berarti Minggu depan waktunya ke rumah kedua orang tua Rena. Sebagai seorang istri tentu Rena hanya menurut saja.


Sampai di depan rumah ibunya, ketiganya langsung masuk ke rumah yang disambut oleh asisten rumah tangganya.


"Ibu ke mana, Bi?" tanya Alby saat tak mendapati ibunya berada di rumah, karena biasanya perempuan baya itu paling antusias menyambut kedatangannya. Apalagi kala ia datang bersama Rena. Istilahnya Rena ini menantu kesayangannya, ya iyalah Soraya kan hanya punya anak satu.


"Itu Den, ibu sedang menghadiri arisan di komplek depan. Kata ibu gak lama nanti jam sepuluh juga udah pulang," jawab Bi Darti.


"Mau dibuatin minum apa, Den?" tanyanya Bi Darti kemudian.


Alby menggeleng, "tidak perlu Bi. Nanti kami bisa ambil sendiri. Bibi lanjutin aja aktivitasnya."


"Ya sudah Den. Saya pamit ke belakang ya, lagi potong rumput di taman."


"Aku ikut Bi. Mau lihat kelinci." Misel berlari mengikuti Bi Darti, yang tentu saja disambut dengan senyum oleh perempuan baya itu.


"Abang ke belakang ya Re? Mau nyamperin tukang kebun. Lama juga gak ngobrol."


"Ya bang!"


"Kamu kalau capek ke kamar aja, nanti Abang nyusul," ujar Alby seraya mengusap rambut istrinya.


Setelah kepergian suaminya, Rena justru tetap bertahan di sana. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke dinding, menatap satu persatu foto yang terpasang berpigura di sana dengan rapi. Kebanyakan hanya ada foto mertuanya, Alby dan Misel.


"Kenapa tidak ada foto ayah mertua ya?" ucap Rena heran. Pasalnya sampai detik ini pun ia sendiri tidak mengetahui nama, dan raut wajah sang ayah mertua. Dulu ia pernah bertanya pada sang suami tentang ayah mertuanya, tapi raut wajah Alby langsung terlihat kesal dan bilang jika ayahnya sudah pergi.


Tapi Rena tak mengerti, pergi kemana? Meninggal atau maksudnya pergi meninggalkan ibu mertuanya dan Alby. Setelah itu Rena tak pernah bertanya lagi, meski ia merasa penasaran.


Rena terus melangkah, kali ini ke ruang tengah yang biasanya ibu mertuanya gunakan untuk bersantai dan menonton televisi. Ia menjatuhkan pilihannya pada sofa lalu mengambil remote menekan tombol power hingga menampilkan gambar dalam televisi. Sudah beberapa kali ia mencoba mengganti channel televisi, tapi tak ada satupun acara yang menarik. Rena merasa bosan, ia berpikir keras untuk mengusir rasa bosannya itu dengan apa. Di tengah pikirannya, kedua mata Rena justru tertuju pada laci meja bawah yang memperlihatkan album foto berwarna hitam. Perempuan itu memutuskan untuk mengambilnya, lalu meletakan tepat di atas pahanya.


Rena mulai membuka sampul album foto itu. Halaman demi halaman ia buka, kadang ia tersenyum kadang pula terkikik geli. Karena kebanyakan di sana adalah foto masa kecil sang suami.


"Abang lucu banget sih. Cuma pake ****** ***** doang, gambar Spongebob pula. Ini kalau aku ambil kasih tau Abang gimana ya reaksinya," pikir Rena.


Rena terus membuka satu persatu halaman album foto itu, hingga sampai di halaman paling terakhir. Sosok lelaki tampan yang wajahnya begitu mirip dengan suaminya. Di sana terdapat Soraya, dan lelaki itu yang tengah memangku Alby kecil, mereka seperti keluarga yang bahagia. Rena mengusap foto itu mengangkat album foto itu, untuk melihatnya dengan jelas.


Srettt!


"Abang!" Rena terkejut mendapati suaminya merampas album foto itu dengan cepat, lalu menatap Rena dengan pandangan tajam.


"Abang aku tadi-"


"Ngapain kamu buka-buka album foto ini. Album ini sudah waktunya dimusnahkan!" potong Alby dengan cepat. Tangannya mencengkram album foto itu dengan erat.


Rena berdiri memegang lengan suaminya. "Bang, aku tadi hanya penasaran dengan isi album foto itu. Terus di bagian terakhir itu ada foto laki-laki yang mirip Abang. Rena penasaran, apakah itu ayah mer-"


"Aku tidak pernah punya ayah, Re. Dia sudah pergi, bagiku sudah mati. Jangan katakan apapun tentangnya. Kamu tidak perlu tau tentangnya, tidak ada yang penting darinya!" sergah Alby membuat Rena terkejut. Ia menangkap jelas ucapan suaminya. Berarti selama ini ayah mertuanya itu masih hidup.


"Bang. Mau ke mana?"


"Bakar sampah tak berguna ini!" Alby menunjukkan album foto di tangannya itu.


Rena menggeleng. "Bang jangan. Nanti ibu bisa marah bang."


"Aku tidak peduli, Re. Apapun yang berkaitan dengan lelaki itu pokoknya harus musnah."


"Bang?" Rena menggoyangkan lengan Alby meminta sang suami untuk sadar. Alby tetap kekeh dengan keinginannya.


"Alby, Rena. Ada apa ini?" suara Soraya yang baru tiba di rumah terdengar. Perempuan itu terkejut, mengira anak dan menantunya itu tengah bertengkar. Sontak Rena melepaskan tangannya dari lengan suaminya, dan menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Ibu ini tadi aku-"


"Aku sudah katakan pada ibu. Untuk membakar habis apapun yang berkaitan dengan lelaki itu. Tapi kenapa ibu masih menyimpannya!" Lagi Alby kembali menunjukkan album foto di tangannya, membuat Soraya membelikan matanya.


"By. Itu ibu hanya-"


"Cukup Bu. Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Sekarang aku akan membakarnya!" Alby memotong ucapan ibunya dengan cepat lalu melangkah meninggalkan keduanya.


"Bang?" Rena berusaha mencegah sang suami, kala melihat tatapan wajah ibu mertuanya yang terlihat sendu.


"Cukup Re. Biarkan saja!" cegah Soraya.


Rena kembali berbalik, menatap keuda mata Soraya yang berkaca-kaca. "Tapi Bu-"


"Apa yang dikatakan suamimu memang benar Re. Seharusnya itu yang ibu lakukan. Karena dengan melihatnya juga akan membuat ibu kembali terluka."


Rena terdiam masih tak mengerti teka-teki dari yang di katakan ibunya. Soraya mengusap sudut matanya yang basah. "Ah kenapa ibu jadi cengeng begini."


"Tapi Bu, sebenarnya itu-"


"Ibu akan cerita padamu, Re. Tapi tidak sekarang ya. Masih butuh waktu," ujar Soraya lembut.


Rena memilih mengangguk, membiarkan ibu mertuanya menggiring kembali ke ruang tengah. "Ibu tadi beli rujak, Re. Mau gak? Ibu ambilin piring dulu di dapur ya."


Perempuan itu berlalu ke dapur, dan kembali membawa piring. Lalu menyajikan rujak buahnya ke dalam piring. Kemudian keduanya mulai menikmatinya.


"Duhh asam," celetuk Rena.


Soraya terkekeh. "Padahal kalau kata orang ngidam mah enak lho Re. Dulu ibu juga pas hamil Alby suka banget sama rujak buah. Apalagi kalau buahnya yang asam-asam. Eh jadi kebawa sampai tua begini suka rujak begini."


Rena tersenyum canggung. Kalau sudah ngomong soal ngidam, mendadak perasaannya menjadi tak enak. "Nanti kalau kamu udah hamil. Bilang ke ibu aja ya Re, kalau mau apa-apa. Ibu bisa masak macam-macam," imbuh Soraya kemudian.