
Miranda merasa kalut mendengar Miko mengalami kecelakaan, dan tengah dilarikan ke rumah sakit Anggara. Bahkan tanpa berkata-kata pada Rena, perempuan itu langsung berlari keluar mengehentikan taksi. Dengan berlinang air mata, perempuan itu mendesak sopir taksi untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih.
Tiba di loby rumah sakit, setelah membayar argo. Miranda langsung berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit. Ia bertanya pada pihak resepsionis tentang korban kecelakaan, yang ternyata saat ini masih di ruang operasi. Tanpa menunggu banyak waktu ia segera menuju kesana.
Nafasnya nampak tersengal begitu tiba di lorong rumah sakit, Miranda memelankan langkahnya. Pandangannya mengarah pada ruang operasi di mana lampunya masih nyala. Kemudian, kedua matanya tertuju pada tiga orang di kursi tunggu. Satu orang lelaki setengah baya, satunya perempuan, dan satunya lagi gadis yang masih remaja, mungkin itu putrinya. Mereka semua nampak terlihat sedih.
Miranda menghentikan langkahnya, begitu menyadari jika itu merupakan keluarga Miko. Secepat mungkin ia berusaha menyelusup masuk ke lorong samping, ketika salah satu dari mereka menengok ke arahnya. Miranda menggigit bibirnya menahan isakan tangisnya. Menyadari kebodohannya yang begitu cepat berlari seolah-olah kehadirannya sangat dibutuhkan Miko.
Ponsel dalam tasnya bergetar, ia dengan cepat membuka tas miliknya, dan membuka ponselnya.
[Mbak di mana? Kenapa langsung lari. Misel menangis meminta mengejarmu. Mbak menemui Miko ya? Bagaimana keadaannya mbak]
Tanpa membalas pesan dari Rena. Miranda langsung menutup kembali ponselnya dan mengembalikannya ke tas.
"Mbak?"
"Dokter Ryan," sahut Miranda. Ia langsung mengusap air matanya.
Lelaki berjas dokter itu menatap Miranda dengan pandangan aneh. "Iya. Mbak sedang apa di sini?"
"Aku hanya-"
"Mau menemui Miko kan, dia-"
"Tidak, aku mau pulang. Tadi hanya baru mengunjungi teman." Miranda secepat itu berkilah lalu berpamitan pada Dokter Ryan.
Dokter Ryan menatap punggung Miranda dengan bingung. Padahal ia hanya berniat memberi tahu kondisi Miko sebenarnya, kenapa wajah perempuan itu langsung memucat dan langsung menghindar, bukankah sebelumnya keduanya itu sepasang kekasih.
"Kayaknya akan lebih baik jika aku tak mengetahui kondisinya, aku bisa berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa," gumam Miranda yang terus melangkah keluar dari rumah sakit.
****
Pukul delapan malam, Dokter Ryan baru tiba di rumah. Sampainya di kamar ia melihat istrinya tengah asyik dengan laptopnya di atas ranjang, sambil tertawa-tawa geli. Bahkan Alena sampai tak sadar jika sang suami sudah pulang.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, menatap inci kamarnya yang setiap hari ada saja perubahan. Kamar miliknya yang dulu di dominasi warna netral kini menjadi warna kuning, warna favorit istrinya. Begitu juga dengan lemari besar yang terisi beberapa isi jenis boneka. Sekarang ia hanya bisa pasrah kala kamarnya sudah dalam kuasa istrinya.
Meletakkan tas hitam miliknya, kemudian melangkah mendekati istrinya. Posisi Alena saat itu memang tengah tengkurap membelakangi pintu, untuk itu ia jadi tiada sadar suaminya sudah pulang.
"Asyik banget sih. Sampai suami pulang pun gak sadar," cibir Ryan membuat Alena segera menoleh, mendapati sang suami sudah duduk di pinggir ranjang, ia segera mengubah posisinya menjadi duduk.
"Masry gak kasih salam," sahutnya seraya menyalami suaminya dengan takzim.
"Udah. Tapi, kamunya aja gak dengar," bela Ryan.
Alena terkekeh seraya kembali menatap laptopnya. Ryan memicingkan matanya. "Aku lagi asyik nonton konser BTS Masry, maaf ya."
Ryan mengangguk tanpa melihat ke arah laptop istrinya, ia justru mengusap kepala Alena. "Rena masa hamil ngidam cendol MEJIKUHIBINIU. Aku mah besok kalau ngidam mau minta Masry hadirin BTS ke rumah," lanjutnya.
Ryan menghentikan gerakan mengusap rambut istrinya, ia berpikir keras. "Iya apapun untukmu."
"Beneran?" pekik Alena.
"Hem.."
"Emang Masry tahu. BTS itu apa?"
"Udah salah percaya diri banget lagi. Dah sana mandilah, dasar tahunya jarum suntik doang," cibir Alena kesal seraya mendaratkan pukulan di perut lelaki itu.
Ryan menangkis tangan istrinya seraya terbahak. "Aduh emang apa BTS itu sayang. Sumpah mas gak tahu, kok malah jadi marah gini sih. Emang mas tahunya jarum suntik doang, apalagi kalau udah buat nusuk kamu."
"Mas??!!" teriak Alena kesal dengan wajah bersemu.
"Iya bercanda. Udah sih jangan marah-marah, mas kan baru pulang. Sambut suami dengan senyuman," ujar Ryan merayu. Alena mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Ini loh yang namanya BTS Masry." Alena menggeser laptopnya memperlihatkan para pria yang tengah bernyanyi. Ryan hanya menganggukan kepalanya.
"Sebenarnya, mas nyamperin kamu itu tadi mau tanya sesuatu loh sayang," kata Ryan.
"Tanya apa mas?" tanya Alena serius.
"Kamu tahu berita soal Miko kecelakaan?"
"Apa?!!" pekik Alena terkejut. Nampaknya ia tak mengetahui apa-apa. Ia menggeleng. "Aku seharian di rumah sama Mama. Gak tahu apa-apa mas," sambungnya.
"Iya dia kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Mas tadi yang melakukan operasi di kepalanya."
"Apa keadaannya cukup parah?"
Ryan menghela nafasnya. "Kayaknya sih tidak. Tapi, lebih jelasnya harus menunggu sampai kondisinya sadar dulu."
Alena menunduk sedih. "Tapi ada lagi yang membuat Mas heran sayang."
"Apa?"
"Tentang hubungan mbak Miranda dan Miko. Apa mereka baik-baik saja. Soalnya tadi aku lihat mbak Miranda di sana, tapi malah bersembunyi dan menangis. Saat aku samperin dia malah kabur," terang Ryan.
Alena terdiam berfikir sesaat, ia merasa ada yang tak beres. "Aku hubungin Rena dulu ya. Masry mandi aja dulu, nanti aku siapin pakaiannya."
"Iya sayang."
****
Miko sudah di pindahkan ke ruang rawat. Beberapa jam yang lalu ia susah sadar. Irawan dan Amira dengan senantiasa menunggunya. Keduanya berusaha mengajaknya bicara. Namun, lelaki itu tetap bergeming, enggan membuka mulutnya meski hanya sekedar berkata tentang keadaannya.
Irawan bahkan sampai bingung, ia berpikir ada sesuatu yang sakit mungkin dari dalam tubuh putranya. Lelaki itu memilih berlalu keluar dari ruangannya.
Amira menghela nafasnya, mendekati putra sambungnya.
"Nak, bagaimana keadaanmu? Katakan sama Mama, apa ada yang sakit?" tanya Amira cemas tangannya mencoba mengusap lengan Miko.
Namun, secepat itu Miko justru menepisnya, membuat Amira terkejut. Ia tahu Miko memang belum sepenuhnya menerima kehadirannya, tapi tak sekalipun anak itu pernah berbuat kasar padanya.
"Jangan menyentuhku. Bukankah kau juga merasa senang melihat keadaanku seperti ini. Kenapa pula tak kau biarkan aku mati," sergah Miko.
Amira menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang merasa senang di atas putranya yang tengah sakit."
"Tentu saja karena kau bukan ibuku!"