
Miko mencengkeram gagang kemudinya. Wajahnya nampak memerah. Jika saja tidak ada Misel, ia pasti sudah marah-marah.
Sementara Miranda yang duduk di sisinya pun sesekali melirik suaminya. Ia tahu lelaki itu tengah menahan kemarahannya.
Ingatan Miranda tertuju pada kejadian barusan di cafe. Di mana suaminya itu datang tiba-tiba lalu memukul Damian. Ia tidak menyangka kalau suaminya menyusul dirinya, padahal pagi tadi Miko mengatakan dirinya sangat sibuk. Tanpa perlu mencari tahu ia pun tahu jika Sandy yang memberi tahu dirinya pasti.
“Bisa-bisanya kamu tuh manggil, Mas pada pria lain.” Karena jarak menuju rumahnya masih terasa jauh. Kemungkinan Miko sudah tidak tahan untuk mengeluarkan suara.
“Aku kan dari dulu juga udah manggil dia Mas,” bela Miranda pelan.
“Udah aja panggil bule tengik. Ngapain mas-mas, aku kesal tahu. Aku cemburu, kamu gak peka banget sih dari tadi aku diemin,” protes Miko.
Miranda menghela nafasnya, sifat kekanak-kanakan suaminya kumat lagi kan. “Ngapain cemburu? Kan aku istri kamu, aku cintanya juga sama kamu,” kata Miranda. Ia menggeser tubuhnya lalu mengecup pelan pipi suaminya, membuat lelaki itu tersenyum. “Jangan marah-marah lagi. Masa merajuk gitu kaya Misel. Kamu kan udah tahu juga alasan mantan suamiku itu datang menemuiku. Tidak ada alasan lain selain minta maaf,” sambung Miranda.
“Kayaknya dia nyesal ngelepasin kamu, sayang?” ujat Miranda nampaknya kemarahan lelaki itu sudah reda. Miranda melirik ke belakang ternyata putrinya tertidur. Untunglah sang suami membawa mobilnya tidak kencang. Selain membawa seorang ibu hamil, ia pun takut Misel yang tertidur terguncang.
“Memang. Tapi, buat apa? Bukankah memang sudah biasa menyesal itu bagian belakang.”
Miko terkekeh. “Aku cuma lagi mikir. Untungnya aku gercep ya langsung nikahin kamu di rumah sakit, gak lama kamu juga hamil, emanglah bibit ku itu unggul. Karena jika tidak cepat-cepat, ngeri juga kalau kamu balik lagi sama mantanmu.”
Miranda berdecak pemikiran suaminya itu ternyata begitu dangkal. Bahkan jika Miko tidak menikahinya pun, ia tidak mungkin akan kembali lagi pada Damian.
“Kasihan juga ya sayang. Ternyata dia mengidap penyakit leukimia. Masih stadium dua, aku harap-harap dia bisa sembuh,” sambung Miko.
Miranda terkekeh, tadi suaminya itu kesal dengan Damian, sekarang justru bersimpati. “Kamu doain dia?”
Miko mengangguk. “Iyalah. Kasihan juga sayang. Biar dia sembuh terus dapat pasangan hidup, dan dia bisa bahagia kaya kita.”
“Amin!” sahut Miranda antusias. Bagaimanapun ia tahu, sebenarnya Damian adalah lelaki yang baik. Selama pernikahannya ia bahkan jarang menyakitinya. Lelaki itu begitu memanjakannya, semua berubah ketika penyakit leukimia menyerang Agatha. Dan di sana keluarga Damian mulai mengusiknya, mempengaruhi otak lelaki itu. Sejak pertama Miranda di bawa ke keluarga besar Damian, memang keluarganya banyak yang terlihat tidak suka padanya. Kemungkinan karena Damian merupakan lelaki yang memiliki kuasa, mereka semua berpura-pura untuk menerima Miranda. Mereka pikir pekerjaan Miranda yang seorang publik pigur itu sangat jelek, baginya seorang model itu selalu mempunyai skandal. Padahal selama Miranda menjabat seorang model, tak pernah ia berhubungan dengan seorang lelaki hingga membawanya ke atas ranjangnya. Sungguh ia tahu batasan antara perempuan dan laki-laki. Ia hanya akan melayani seorang lelaki bila mana sudah ada ikatan yang sah.
‘Sepertinya ini karma untukku, Miranda. Karena dulu aku sering menyalahkan dirimu atas penyakit Agatha. Padahal tanpa ku sadari, aku sendiri yang tidak becus menjadi seorang Ayah,' sesal Damian tadi.
“Untunglah sayang, aku tadi hanya menonjok dia satu kali. Bagaimana kalau sampai berkali-kali, aku bisa masuk penjara karena kekerasan fisik,” ucap Miko membuyarkan lamunan Miranda tentang mantan suaminya.
“Sudah ku katakan berulang kali, jangan gunakan otot. Tapi, gunakan otakmu,” seru Miranda.
“Iya sayang, itu refleks. Aku terkejut mendapat pesan beserta foto yang Sandy kirimkan kamu sedang mengobrol dengan pria asing,” terangnya.
Nah kan, dugaannya sama sekali tidak meleset, di mana sang sopir yang mengirimkan pesan pada suaminya. Tapi, untuk apa dia harus marah. Ia tahu Sandy hanya melakukan tugasnya. Beruntunglah perdebatan tadi bisa selesai secara baik-baik, keduanya saling meminta maaf. Bahkan Damian juga mengatakan, jika saatnya anak mereka sudah lahir. Jika boleh dan saat itu Damian masih sehat, ia akan datang berkunjung.
Miranda dan Miko tentu saja mengijinkannya. Namun, sekali lagi ia tidak terima saat istrinya memanggil lelaki itu mas. Kekanak-kanakan memang, tapi itulah dirinya, posesif.
🦋🦋
Sore hari, Rena baru tiba di rumahnya. Ia sudah begitu merindukan anak-anaknya. Sayangnya, Misel tidak ada di rumah, Miranda ijin membawa Misel menginap di rumahnya.
Turun dari mobil, kedatangannya sudah disambut oleh Alka dan ibu mertuanya.
“Nah kan Bunda udah pulang sayang,” kata Soraya sambil menggendong Alka. Tampak Alka langsung menangis ingin segera meminta gendong Rena.
Rena langsung sigap mencuci tangannya, sebelum menggendong Alka.“ Aku tadi berpapasan dengan mobil Mommy. Tumben ya dia gak nunggu aku pulang ya, Bu?” tanya Rena pasalnya entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia melihat mobil Dinda melaju dengan kecepatan lumayan cepat, seperti sedang terburu-buru.
Rena masih menggendong Alka. Perasaannya gelisah, memikirkan apa yang terjadi dengan keluarganya. Menunggu Alka tenang, ia ingin menghubungi Dinda.
“Biar aku telpon Mommy dulu.” Rena mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas. Ia mencari kontak nomor Mommy-nya. Terhubung, namun tak diangkat.
“Kenapa tidak diangkat,” serunya cemas. Ia mencoba menelpon Daddy-nya.
[“Ya, Re.”]
[“Daddy sedang di mana? Aku telpon Mommy kok tidak diangkat. Mommy baik-baik saja kan?”] tanyanya cemas.
Terdengar suara helaan nafas Rava di sebrang sana. [“Daddy sedang di rumah sakit.”]
[“Siapa yang sakit, Dad?”]
[“Mommy-mu.”]
[“Apa yang terjadi?”]
[“Mommy mu tiba-tiba anfal. Saat mendengar...”]
[“Mendengar apa, Dad?”] desak Rena.
[“Kakakmu masuk penjara, Re.”] lirih Rava terdengar.
[“Apa???!!!”] pekik Rena. Kedua matanya membeliak seiring dengan jantungnya yang berdetak karena rasa terkejut. Ia berharap ia salah mendengar, dan semua itu hanya mimpi. Apa yang terjadi pikirnya. Ia mengenal kakaknya dengan baik, tidak mungkin kakaknya melakukan kesalahan hingga menyebabkan masuk ke penjara.
[”Daddy tidak bisa menjelaskan di telpon. Nanti lagi ya, Dokter manggil Daddy!”] Rava menutup telponnya.
Rena merasa tubuhnya melemas, seiring dengan lelehan hangat keluar dari pelupuk matanya.
“Sayang, apa yang terjadi?” Alby yang baru masuk rumah terkejut mendapati istrinya menangis
.
.
.
.
.
.
.
Hallo, selamat siang. Beberapa bab, novel ini akan tamat ya.
Untuk cerita Davis dan Nadila akan aku buat sendiri, dan akan aku publish pada tanggal 1 Januari jika tidak aral yang melintang. Kemungkinan ceritanya juga tak akan sepanjang punya Rena.