Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Rajin Jengukin Dia



Alka menangis dengan kencang. Rena langsung membuka kedua matanya, beranjak dari ranjang dengan pelan, sesekali memegang perutnya. Menghampiri sang putra yang tidur di ranjang bayi. Dengan hati-hati ia meraih putranya, menggendongnya membawa Alka ke ranjang.


Mendengar tangisan yang kencang Alka, sebisa mungkin Rena menahan diri untuk tak menangis. Ia harus membiasakan diri menjadi orang tua. Ia sendiri tak paham, mengapa ia bisa sesensitif itu perasaannya. Padahal hari-hari biasanya ia sudah terbiasa mengurus Misel. Ternyata menjadi seorang ibu sesungguhnya pun perlu adaptasi, mungkin dulu ia biasa saja, karena mengurus Misel pun sudah besar. Anak itu sudah mengerti apa yang boleh dan tidak boleh.


Dengan pelan ia mengarahkan pucuk da da nya pada bibir sang putra. Terlihat Alka mulai diam, menyesap pabrik susu itu dengan rakus. Rena juga menepuk-nepuk Alka, berharap bayi itu kembali terpejam.


Tiba-tiba ia merasakan ciuman lembut di pipinya. Menoleh sekilas, lalu terkejut mendapati suaminya sudah menjatuhkan kepalanya di pundaknya.


“Alka, bangun ya sayang?” tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


“Iya bang,” balasnya.


Menegapkan tubuhnya, Alby menggeser tubuhnya di samping istrinya, matanya menatap ke arah putranya yang tampak rakus kala menyesap benda favoritnya di bagian tubuh istrinya.


“Duh nak kok rakus banget sih. Jangan semua dong. Ayah juga dibagi yang sebelah kanan,” katanya.


Rena menoleh melotot ke arah suaminya. “Abang ih. Dia masih bayi, diajarin ngomong begitu.”


“Justru karena masih bayi, sayang. Dia harus diajarin cara berbagi. Apalagi bersama Ayahnya,” bela Alby tak mau kalah. Rena mencebik langsung mencubit paha suaminya. Hal itu membuat Alby sontak berteriak. Hingga membuat Alka kaget, melepaskan sumber ASI-nya dan menangis dengan kencang.


“Tuh kan nangis. Abang sih teriak-teriak!” omel Rena. Kembali berusaha menenangkan putranya. “Gak sayang. Anak Bunda kaget ya, Ayah teriak-teriak sih ya,” ucapnya pada Alka.


“Kan kamu yang cubit Abang. Kok jadi nyalahin Abang sih. Kalau kamu gak cubit-cubit, juga Abang gak akan teriak sayang,” bela Alby lagi.


“Udah diam. Kalau dengar suara Abang itu dia sensi,” omel Rena.


Alby menghela nafasnya, memilih diam pasrah, seraya menatap ke arah putranya yang sudah tenang kembali meminum ASI. Padahal niatnya bangun juga untuk menemani istrinya. Karena ia juga khawatir bila mana Alka rewel, atau sang istri butuh bantuan. Mumpung Alby masih dalam waktu cuti tak kerja ke kantor, ia juga akan menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya di rumah.


Perlahan Alka mulai terlelap. Rena tersenyum begitu pucuk da danya sudah dilepaskan putranya, pelan ia merapikan kancing atasnya. Kemudian ia kembali menatap wajah Alka, lalu memberi kecupan lembut di sana.


“Mungil banget ya, Re?” ujar Alby menatap haru kedua orang yang ia sayangi di sampingnya itu.


“Iya.” Rena mengangguk menatap wajah putranya dalam-dalam. “Kenapa wajahnya mirip kamu banget ya, Bang?” lanjutnya.


“Soalnya aku rajin banget jengukin dia, sayang.” Alby menjawab nyeleneh, hal itu membuat Rena menyikut perut lelaki itu dengan kencang. Kali ini Alby menahan diri untuk tidak berteriak, dia hanya tertawa kecil.


“Uluh.. uluh.. anak ibu Soraya dan Papa Galih ini kalau ngomong emang asal aja, tanpa filter. Gak jauh-jauh ucapannya dari ranjang. Kalau bukan karena sayang, udah aku buang kamu Bang,” desis Rena bercanda.


Alby menyengir. “Janganlah sayang. Ganteng begini kok di buang. Banyak yang naksir.”


Rena mendengus, kembali menyikut suaminya dengan kencang, lalu menatap tajam ke arah suaminya. Kali ini Alby menahan diri untuk tidak berteriak.


“Tapi sayang, aku cintanya sama kamu kok.” Alby buru-buru meralat ucapannya, menyadari raut wajah kesal istrinya. “Cinta banget-banget malah sayang. Sampai tumpah-tumpah, karena sangking besarnya cinta Abang buat kamu,” sambungnya.


“Lebay!” cibir Rena.


Alby terkekeh geli, melihat raut wajah kesal istrinya yang terlihat lucu. Tanpa disangka lelaki itu mendaratkan kecupan di pipi istrinya, membuat Rena mendelik. “Abang ih nyosor mulu.”


“Kan namanya disayang. Gak apa-apa deh yang bawah puasa dulu, tapi yang atas kan tetap harus terpuaskan,” kata Alby.


“Puasa Abang diperpanjang gak hanya empat puluh hari. Tapi, jadi empat bulan,” tukas Rena membuat Alby melotot.


“Lho sayang... Gak-gak. Apa-apaan begitu? Ini empat puluh hari aja udah nyut-nyutan, gimana empat bulan,” protes Alby.


“Itu beda suasananya sayang. Dulu kan karena gak ada partner, sekarang ada kamu mana bisa Abang bahan begitu lama,” rengek Alby meringsek mendekati istrinya, memeluknya dengan pelan. Rena seperti tengah mempunyai dua bayi kalau seperti itu. “Emangnya kamu mau punya suami jajan di luar?” sambungnya bertanya.


“Berani begitu. Lontong Abang aku potong-potong,” ancamnya membuat Alby bergidik ngeri, menelan ludahnya secara susah.


“Maksud Abang kan dulu sayang. Misal Abang dulu seperti itu, emangnya kamu mau nikah sama Abang, begitu.”


“Emangnya dulu aku sempat mikirin Abang gimana gitu? Waktu mau nikah aku kan gak sempat mikir apa-apa. Mana aku tahu masa lalu Abang aja gak,” terang Rena.


Alby mengangguk, membenarkan ucapan istrinya. Salah satu tangannya kini memeluk istrinya. “Iya sayang. Makasih ya, bahagia banget punya kamu.”


“Ck! Lepas ih bang. Nempel mulu sih, ini nanti Alka jatuh baru merem dia,” tukas Rena.


Melepaskan tangannya, Alby kembali menatap putranya. “Udah nyenyak kok dia, karena udah kenyang. Biar Abang aja yang membawanya ke ranjang. Kamu istirahat sayang, atau kalau gak gantian nidurin Ayahnya.”


“Abang ih!” Rena melotot kesal.


Alby hanya terkekeh, meraih putranya dalam pangkuan Rena, membawanya ke ranjang bayi, dengan pelan ia membaringkan Alka di sana.


Rena merangkak naik ke ranjang, menarik selimut lalu merebahkan tubuhnya di sana. Tak lama Alby pun ikut menyusul istrinya, ia berbaring di sisinya.


“Sayang, kamu gak pengen nambah pengasuh lagi buat Alka?” tawar Alby menoleh ke arah Rena yang kini juga berbaring miring menghadapnya.


“Untuk apa, Bang? Kan udah ada Nany Ratri,” sahutnya.


“Dia kan pengasuh Misel. Dan lagi nanti kalau kamu udah kembali kerja, Alka kan harus ada yang ngasuh sayang,” ujar Alby mengusap lembut rambut istrinya.


“Aku kurang percaya orang baru. Lagian Nany Ratri gak masalah kok," sahut Rena.


“Tapi–”


“Abang gak percaya sama aku, gitu?” dengus Rena.


“Emm... Percaya sayang. Ya udah gimana kamu aja,” sahut Alby pasrah. “Ya udah sekarang kita tidur,” sambungnya.


.


..


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan votenya


terima kasih🤗