
Alby langsung melucuti satu persatu pakaian mereka. Ia yang sudah tak sabar segera menyatukan tubuh keduanya, hingga membuat Rena terpekik kaget karena belum siap. Namun, seiring hujaman lembut perempuan itu mulai menerima permainan sang suami.
Rena merasa tak ingin kalah dari sang suami, dia yang semula menolak untuk bercinta. Kini justru bangun dan naik di atas tubuh suaminya. Rena tersenyum nakal menggoda suaminya, membuat Alby terkejut.
Lelaki itu menengadah kepalanya saat Rena kini bermain di atasnya. Tubuh istrinya yang polos kini terekspos jelas dan indah dalam posisi seperti ini, sangat pas bagi dirinya. Alby membiarkan istrinya menguasai dan mengambil alih percintaan mereka.
Ia biarkan Rena terus bergerak di atas tubuhnya, membuatnya sesekali me nge rang dan tangannya mulai nakal me re mas benda yang tersaji di depannya.
Hingga saatnya ia tak bisa menahannya lagi. Alby membalikkan posisinya lagi, membuat Rena kembali di posisi bawah kungkungannya, agar Alby lebih mudah menghentakkan nya lebih dalam.
"Bang?"
Rena lagi-lagi meleguh saat Alby meletakkan kakinya di bahu lelaki itu. Rena merasa sudah berkali-kali mencapai puncaknya, namun Alby terus menghujam dan dan menghentakkannya tanpa ampun. Seolah-olah lelaki itu tak akan pernah puasa menyentuhnya.
"Bang Alby.. em ampun?"
Ucap Rena. Namun tak juga di dengarkan oleh Alby. Lelaki itu meneruskan kegiatan yang sangat menyenangkan itu.
"Bang?" Lagi-lagi Rena meleguh.
"Iya sayang sebentar lagi." Alby mempercepat gerakannya agar ia cepat sampai. Hingga pada akhirnya tubuhnya ambruk di atas tubuh istrinya sambil berteriak memanggil nama istrinya.
Rena merasa seluruh tubuhnya remuk akibat ulah suaminya.
****
Nella dan Nena menatap heran pada Rena yang makan mie ayam begitu lahap, seperti orang yang tak pernah makan.
"Pak Alby bangkrut apa ya Na, kok teman kita bisa serakus itu makannya?" celetuk Nella heran.
"Gak mungkin!"
"Lapar banget aku tuh. Apa hubungannya sama suamiku sih. Aku emang belum sarapan. Karena tadi pagi kesiangan," sahut Rena. Kesal sekali mengingat kejadian tadi pagi, bisa-bisanya ia di rumah mertua bangun kesiangan, bahkan Misel sampai menggedor-gedor pintu, berteriak menangis karena hampir telat ke sekolah. Semua itu karena salah suaminya, yang membuat dirinya harus ronda malam, kemudian kesiangan. Dan pada akhirnya Misel ke sekolah di antar oleh sopir Soraya. Rena bahkan ngomelin suaminya. Tapi jawaban suaminya justru membuatnya jengkel.
Lah bilang enggak-enggak. Tapi, pas udah gas kamu juga uh ah yg ah terus bang terus bang gitu.
Kan bisa aja, suaminya itu menjawab. Meskipun memang benar, tetap saja itu salahnya suaminya.
"Bergadang mulu sih jadi kesiangan," ujar Nena kemudian.
Rena mengangguk. "Iya. Tau dah ini Abang." Jawaban Rena membuat kedua sahabatnya itu melongo, dan otaknya langsung traveling.
"Maksudnya Abang tuh bantuin aku ngerjain skripsi. Kalau aku salah suka ngomel, makanya aku jadi kesiangan," kilah Rena. Sepandai mungkin ia menutupi urusan ranjang dengan sang suami. Karena ia ingat kejadian di rumah sakit saat Misel sakit, Alby menegurnya. Katanya tidak baik urusan ranjang diumbar, biarlah author dan pembaca aja yang tau, eh.
"Bagi minum ya!" Alena datang-datang langsung mengambil minuman Rena yang berada di atas meja. Meminumnya hingga tandas.
"Lah minumanku itu Le," ujar Rena.
"Kan aku udah bilang bagi, pelit banget sih Re."
Rena menghela nafasnya, masalahnya ia pun tengah kepedasan. Tapi dari pada ribet, ia memilih mengalah dan memesan yang baru.
"Napa sih muka kusut banget gitu, Le. Manyun aja, tuh bibir sampai bisa di kuncir," cibir Nella pada Alena yang saat ini tengah duduk di depannya bersebrangan dengan meja.
"Lagi kesal aku!"
Rena dan Nella hanya mengangguk menyetujui ucapan Nena.
"Bukan itu ih. Aku dah gak peduli sama tuh bocah!" dengusnya, menatap ke arah Miko dengan pandangan jengkel.
"Terus?" tanya Nena.
"Jangan bilang soal revisi naskah skripsi ya. Sama lah, aku juga masih banyak yang harus di revisi. Otak ku ngebul, gak kaya Rena tuh anteng-anteng aja," timpal Nella menatap ke arah Rena yang tengah menikmati segelas jus jeruk.
Alena mengerucutkan bibirnya. "Aku hampir tiap bab ada yang harus direvisi. Tapi, bukan itu juga masalah yang membuat aku kesal. Kalau soal itu mah aku emang sadar keterbatasan otak ku kalau berpikir."
"Apa Le?"
"Aku belum siap kawin!" celetuknya kemudian, membuat ketiga temannya melongo tak terkecuali Rena yang tersedak.
"Hah kawin?" pekik Nella dan Nena bebarengan.
Alena mengangguk lemah, menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Ya kawin. Masa aku yang imut-imut ini mau dijodohin."
"Sama siapa Le?"
"Mana aku tahu. Kalau aku tahu, gak akan mungkin aku segalau ini. Aku pasti akan datangi dia lah buat mundur dari perjodohan ini, gampang tinggal kasih aja sejumlah uang kan beres."
Rena menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Emangnya kamu punya uang, Le?"
Alena menggeleng. "Gak Re. Mau hutang dulu gitu, bilang aja bayarnya nyicil pake ovo deh."
Nella dan Nena menepuk keningnya masing-masing. Ada orang mau nyogok tapi ngutang, mereka pikir itu cuma Alena.
"Baru mau dikenalin kan? Ya udah terima aja, kalau gak sreg kan kamu bisa bicarakan lagi sama orang tua kamu," saran Rena.
"Ngeri aku Re. Ingat soal kencan buta itu kan. Ngeri juga kalau ternyata orangnya kaya gitu." Alena bergidik ngeri. Membuat ketiga temannya itu tertawa kencang. Pasalnya Nena dan Nella pun sudah tau cerita tentang Alena soal gagalnya kencan buta itu.
"Wuidih asyik banget ya kalian ketawa gak ngajak-ngajak!" celetuk Miko yang tiba-tiba datang, dan seperti biasanya lelaki itu langsung duduk di sebelah Alena seraya meletakkan tangannya di pundak perempuan itu.
"Tanganmu, Nyet!" celetuk Alena kesal.
"Bahasa mu, Le!" sahut Miko heran.
"Halah ngomong sama kamu mah gak perlu pake sopan santun." Alena bersungut, suasana hatinya memang sedang buruk. Ingin sekali marah-marah tapi entah mau melampiaskan ke siapa.
Ucapan Alena membuat ketiga temannya melongo. "Le?"
"Hem! Aku balik dulu ya, masih ada satu kelas lagi." Alena buru-buru beranjak dari kursinya.
"Mau diantar gak?" tawar Miko.
"Halah, emangnya aku bocilmu. Yang kemana-mana minta di antar," celetuk Alena. Mengingat Hira memang seperti itu kemana-mana minta di antar Miko.
"Kan romantis Le," sanggah Miko.
"Ya rokok makan gratis!" sahut Alena berlalu pergi.