Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Omelan Elena



Dokter Ryan membuka kotak makan yang dibawakan Alena. Terlihat sudah dingin, karena Alena mengatakan untuk sarapan, nyatanya ini sudah pukul sebelas siang. Entah berapa jam sudah dia berada di ruang operasi tadi.


Tumis sayur buncis saos tiram dan telor mata sapi. Di atas nasinya diberi timun membentuk dua bola mata, kemudian di bawahnya lagi irisan cabe merah membentuk sebuah bibir tersenyum. Lelaki itu pun melihatnya tersenyum. "Ini berasa kaya dibawain bekal pas TK sama Mama," ucapnya terkekeh geli.


Dokter Ryan jadi membayangkan suatu hari akan mempunyai anak dengan Alena. Ia yang bekerja Alena akan sibuk menjaga buah hati di rumah, saat nanti anak-anaknya sekolah Alena akan sibuk menyiapkan bekal, pasti sangat seru pikirnya. Ya, sesederhana itu keinginannya.


Mengambil sendok lelaki itu mulai mencoba masakan calon istrinya, ia mengambil tumisan sayur buncis lebih dulu. "Aduh keras banget, ini mah masih mentah."


Dan yang kedua ia mencoba memakan telor mata sapi buatan Alena. Warnanya cukup bagus, tidak ada tanda-tanda gosong, tapi....


"Aduh, asinnya." Dokter Ryan buru-buru mengambil air minumnya. Ia menghela nafasnya, dari jenis masakan Alena, seketika ia pun paham jika perempuan itu sebenarnya tidak pernah memasak. Mengingat perjuangan Alena yang mengatakan sejak subuh hingga hampir pukul delapan sibuk di dapur, ia menjadi tidak tega jika tidak memakan masakannya. Akhirnya dengan pelan-pelan ia pun memaksakan diri untuk makan, hingga akhirnya pun selesai.


Tok! Tok!


Pintu ruangannya diketuk dari luar, ia pikir itu adalah keluarga pasien yang hendak berkonsultasi.


"Masuk!"


Ceklek!


Pintu ruangan terbuka. Ryan sedang meminum terkejut mendapati Mamanya dan Alena lah yang datang.


"Mama? Alena?" Lelaki itu bangkit dari kursinya berniat menghampirinya.


"Hei anak kurang ajar, kamu apain calon menantu Mama ini?" omel Elena pada Ryan.


Lelaki itu nampak bingung. "Apaan sih Ma? Aku kan gak ngapa-ngapain. Ryan sibuk di rumah sakit. Mana sempat ngapa-ngapain Alena."


Elena mencebik kesal, menatap putranya dengan tajam, sesaat Ryan jadi merasa seperti anak tiri. Ryan jadi berfikir apakah Alena mengadu padanya soal kejadian di bioskop semalem, tak salah kan ia berpikir seperti itu mengingat betapa polosnya calon istrinya itu.


"Tante..." Alena berusaha menenangkan calon mertuanya itu. Namun, Elena tetaplah Elena yang susah membuang sikap bar-barnya. Perempuan itu justru meminta Alena untuk diam.


"Ini sebenarnya ada apa sih? Mama datang marah-marah gak jelas, Ryan aja baru selesai makan," kata Dokter Ryan mengusap wajahnya.


Elena menarik tangan Alena pelan, kemudian menunjukkannya pada lelaki itu. "Lihat ini!"


Dokter Ryan menatap ke arah jemari Alena yang tampak banyak luka. Sesaat lelaki itu baru sadar, ini pasti karena Alena memasak untuknya tadi pagi.


"Masa jari mantu Mama jadi seperti ini sih Yan. Kamu ini kebangetan banget, teganya buat menantu Mama jadi luka seperti ini. Kamu ini kalau mau makan ya beli, ngapain nyuruh-nyuruh menantu masak? Emang kamu udah gak punya duit apa? Mama cariin kamu itu istri ya bukan buat dijadikan koki. Huh belum apa-apa udah dibuat seperti ini menantu Mama," omel Elena pada Ryan.


Namun, yang diomeli tak juga mendengarkan, fokusnya malah teralihkan pada jemari Alena yang terdapat beberapa sayatan. Tanpa disangka ia pun mendekat mengambil telapak tangan Alena.


"Iyan, kamu dengerin Mama gak sih? Kamu itu-"


Elena tak lagi melanjutkan ucapannya saat pandangannya teralihkan pada aksi putranya yang tengah menatap pergelangan tangan Alena.


"Ini sakit?" tanya Dokter Ryan kemudian, seraya meniup bekas luka di jari Alena.


"Ti-tidak kok Pak Dokter!" jawab Alena cepat ia berusaha menarik telapak tangannya. Namun, usahanya sia-sia, saat dengan cepat Dokter Ryan justru menarik sebelah tangannya, menggiringnya untuk duduk. Alena merasa malu padahal lukanya itu tidak seberapa, tapi Elena saja yang terlalu berlebihan. Ia sendiri terkejut saat keluar dari kampus, calon mertuanya itu tiba-tiba sudah ada di depan kampusnya, lalu mengatakan ingin mengajak dirinya shopping. Namun, tak ia sangka ketika matanya tak sengaja melihat tangan Alena yang sedikit terluka, perempuan itu mencecarnya dengan banyak pertanyaan, membuat Alena akhirnya jujur luka itu karena tergores pisau akibat dirinya belajar memasak. Alena pikir Elena akan memujinya bangga karena calon menantunya itu mau belajar memasak, seperti mertua pada umumnya. Namun, tak ia sangka jika Elena justru mengomel karena mau-maunya memasak demi Ryan. Bahkan perempuan itu yang tadi berniat akan langsung ke mall justru meminta sopir untuk membelokkan mobilnya menuju rumah sakit Anggara, demi memberikan pelajaran untuk anaknya.


"Berikan tanganmu, biar ku obati," ujar Dokter Ryan membuyarkan lamunan Alena.


"Pak Dokter ini tuh gak apa-apa, cuma luka kecil," sahut Alena.


Dokter Ryan tersenyum tipis, membuat Alena menelan ludahnya, kala menyadari bahwa senyuman lelaki itu ternyata begitu manis dan menawan.


'Eh? Mungkin tidak sih, aku sudah mulai terpesona.'


"I-iya Pak Dokter." Alena tersentak dari lamunannya.


Elena menatap perbuatan manis putranya dengan senyum. Ia tak menyangka jika anaknya yang mirip kanebo kering itu bisa semanis itu juga pada perempuan. Ia bersyukur itu artinya putranya masih normal.


Eh? Elena segera menepuk bibirnya.


"Masa sama calon suami panggilnya Pak? Memangnya kamu itu pasien Ryan, Alena?" omel Elena.


Membuat Alena sesaat meringis tak enak hati.


"Panggil sayang, baby, ayang, atau apa gitu," ujar Elena kemudian sambil tergelak lucu.


Alena menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia jadi salah tingkah sendiri karena ia bingung mau manggil Dokter Ryan itu apa.


"Apa bedanya sama Mama yang manggil Papa itu, Pak Bastian?" cibir Dokter Ryan balik.


Elena mengatupkan bibirnya dengan rapat, wajahnya terlihat kesal dengan cibiran putranya itu. "Beda dong. Mama kan manggil Pak Bastian kalau lagi kesal saja," bela Elena tak terima disamakan.


Alena terdiam jadi bingung mau ngomong apa, melihat keduanya justru asyik berdebat.


"Sama dong, Alena juga manggil aku Pak karena panggilan sayang. Iya kan sayang?" ujar Dokter Ryan menggoda.


"Ya sayang."


Eh? Alena segera menutup mulutnya saat spontan mengiyakan ucapan Dokter Ryan memanggilnya sayang. Lelaki itu tertawa kecil akan aksi spontan Alena, meski begitu tetap saja ia merasa senang.


"Ya udah bagi Mama kartu kamu?" Elena menengadah tangannya ke arah putranya.


"Buat apa sih Ma?" sahut Dokter Ryan heran.


"Belanja!"


"Mama kan ada dari Papa, masa anaknya juga dipalak, matre banget sih."


Elena berdecak. "Mama mau belanjain Alena juga. Karena kamu udah buat dia terluka, Mama mau palak kamu lah, enak aja."


Alena terkesiap mendengarnya. Dokter Ryan menghela nafasnya kemudian mengambil dompet miliknya dan menyerahkan cardnya.


"Tante saya-"


"Udah gak apa-apa. Ryan itu udah kebanyakan duit, dari dulu cuma kerja mulu. Sekarang waktunya kamu yang ngabisin," ujar Elena.


Alena menatap tak enak ke calon suaminya.


"Udah gak apa-apa. Pakai aja, kamu bisa beli apa aja yang kamu mau," ujar Dokter Ryan mengusap rambut Alena.


"Beneran?" pekik Alena. Dokter Ryan mengangguk.


"Asyik, aku mau beli boneka sapi yang besar. Biar si Ciko ada temannya di rumah," sambung Alena dengan wajah berbinar.


Dokter Ryan tergelak, padahal tadi perempuan itu sudah memasang wajah tak enak, tapi kenapa jadi berubah sangat senang.


'Ternyata Elena dan Alena itu sama,' gumamnya dalam hati.