Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Pernikahan Dokter Ryan Dan Alena



🌼🌼 Guys siapkan kado buat Dokter Ryan dan Alena ya sebelum membaca 🤭 aku tunggu loh🌼🌼


Ryan menggenggam erat tangan Alena untuk turun dari panggung pelaminan, menyapa para tamu. Pesta pernikahan putra dari keluarga Anggara dan juga putri tunggal dari keluarga Chandra memang dibuat semegah mungkin. Entah berapa undangan yang telah mereka sebar, mulai dari teman bisnis kedua keluarga itu, rekan kerja Ryan di rumah sakit, dan juga teman kampus Alena.


Bermacam-macam makanan tersaji apik di prasmanan. Benar-benar mencerminkan keluarga yang kaya raya kalangan atas. Selain menyatukan dua hati, pernikahan itu tentu bisa menyatukan kedua keluarga yang memilik bisnis besar.


Ya, dua jam lalu keduanya telah resmi menjadi pasangan suami istri. Senyum bahagia terpancar di wajah keduanya. Kedua tangan yang saling menggenggam mesra. Alena nampak cantik dan manis bersanding di sisi Ryan.


Pesta pernikahan itu memang di gelar secara outdoor dengan pelaminan yang mewah. Harusnya Ryan dan Alena cukup duduk di atas sana, sebagai pusat perhatian semua orang yang datang. Namun, sifat Alena yang centil tak mau diam, tentu saja tidak betah untuk berdiam diri. Alena bilang ia bosan dan mengantuk jika hanya berdiam diri. Akhirnya, Ryan membawa istrinya turun dari pelaminan untuk berbaur dengan para tamu.


"Ciee yang nikah," goda Rena. Perempuan itu nampak cantik dalam balutan gaun hamil berwarna toska. Tangannya menggenggam lengan sang suami. Alby tengah menggendong Misel.


"Iya dong," sahut Alena dengan malu-malu. "Kadonya mana? Kamu gak datang dengan tangan kosong kan, Re?" sambung Alena sambil tertawa.


"Aman! Aku kado kamu jarum suntik," jawab Rena tergelak. Alena mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Bercanda. Kadonya ya ada deh, kamu dan Dokter Ryan pasti menyukainya. Langsung nanti buat praktek!"


"Praktek apa?"


"Jarum suntik!"


Alby menepuk keningnya, istrinya itu ucapannya semakin absurd.


"Oh iya. Aku kan udah nikah ya, jadi bisa main suntik-suntikan," jawab Alena polos, lalu menatap ke arah suaminya yang saat itu tengah berbincang dengan Alby dan teman lainnya. Ia mencolek punggung sang suami.


"Apa sayang?" tanya Ryan menoleh ke arah istrinya.


"Pak Dokter kita kan udah nikah ya. Jadi, boleh dong aku tau jarum suntik ajaib Abang!" celetuk Alena membuat Ryan melongo, seraya menelan ludahnya. Bahkan teman-teman Ryan yang berprofesi sebagai dokter pun jadi ikut tertawa.


"Istrimu lucu ya Yan. Polos banget dah. Ajari sampai pro, Yan!" ucap salah satu temannya.


"Kok gak dijawab sih, Pak Dokter? Ayo dong kasih unjuk aku mau lihat!" desak Alena.


Teman-teman Ryan semakin tertawa kencang. Rena bahkan memilih berlalu setelah mengucapkan selamat pada keduanya. Ia tidak akan tahan jika menghadapi kepolosan Alena.


"Kamar mandi dulu deh, Yan. Tuh tenangin bocilmu yang udah ngebet," ujar salah satu temannya tadi. Begitupun yang lain ikut menyusul pergi.


"Pak Dokter? Ih!"


Ryan mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Belum sempat membuka mulutnya untuk menjawab. Tiba-tiba Miko datang dengan menggandeng Miranda.


"Widih, jadi juga kawin kamu Le," ucap Miko.


"Nikah Njir! Kawin kau kira aku kambing," cetus Alena kesal.


"Alena? Language please?" seru Ryan pelan.


Miko terbahak, sejak dulu dan sekarang emang paling suka itu goda Alena. Apalagi sekarang saat melihat Alena kelepasan menggunakan bahasa yang jelek, langsung kena tegur suaminya.


"Iya maaf. Kelepasan," sahut Alena dengan bibir manyun ke depan.


"Selamat ya pernikahannya untuk kalian. Semoga segera diberi momongan," ucap Miranda.


"Amin!"


"Le tiup ubun-ubunku dong, biar gak kena sawan!" pinta Miko.


Ryan memijat kepalanya, keduanya kalau udah bertemu gak pernah akur. Bilangnya sahabat.


"Bilang aja biar cepat nyusul. Pakai acara kena sawan sih!" sungut Alena kemudian.


"Iya itu maksudnya!" ujar Miko tertawa. Namun, langsung mendapatkan tabokan dari Miranda. Setelahnya perempuan itu memilih meninggalkan Miko.


****


Miranda tengah mengobrol dengan Rena, dan Nadila. Mendengarkan cerita Rena yang saat ngidam meminta hal yang aneh, salah satunya kejadian dua Minggu lalu di mana ia meminta cendol MEJIKUHIBINIU. Di mana Davis dan Nadila hampir memutari Jakarta demi mencari permintaan aneh Rena, namun tak kunjung ditemukan. Hasilnya Nadila yang memang jago membuat kreasi makanan, berinisiatif membuatkannya dengan dibantu Davis. Setelah dengan penuh perjuangan cendol MEJIKUHIBINIU itu jadi. Nadila memberikannya pada Rena, tapi sikap Rena membuatnya melongo, karena perempuan itu hanya ingin mengambil gambarnya saja, dan ia justru meminta Alby yang meminum es cendolnya.


"Ayo ikut aku sebentar yuk!" Miko tiba-tiba menarik tangan Miranda, setelah sebelumnya meminta ijin pada Rena dan Nadila.


"Mau kemana?" tanya Miranda di sela-sela genggaman tangan Miko.


"Mau kenalin kamu ke Papa," jawab Miko yang berhasil mengejutkan Miranda. Bahkan perempuan itu langsung melepaskan genggaman tangan Miko.


"Mik?" Miranda menggeleng ragu.


"Ayo. Gak apa-apa, Papa aku tuh baik kok!" desak Miko yang kembali meraih tangan Miranda. Menggiringnya menuju di mana Irawan berada, melewati banyaknya lalu lalang orang-orang yang tengah menikmati pesta pernikahan Ryan dan Alena.


Miranda meremas tangan Miko, saat tiba di depan Irawan.


"Pa?" panggil Miko.


Irawan yang saat itu tengah mengobrol dengan rekan bisnisnya pun menoleh, keningnya mengerut mendapati sang putra memanggilnya dengan membawa seorang perempuan cantik yang cukup tak asing baginya. Begitupun dengan Amira, selaku ibu tiri Miko juga menoleh ke arahnya.


"Dia siapa, Mik?" tanya Irawan.


"Kenalin ini kekasihku, namanya Miranda." Miko dengan begitu santai mengenalkan Miranda pada Papanya.


Irawan merasa terkejut, menatap Miranda dari atas sampai bawah. Meski terasa sungkan, Miranda pun mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada Irawan.


"Dan ini Tante Amira, istrinya Papa," ucap Miko.


Amira dengan senyum mengembang pun meraih tangan Miranda, dengan lembut memperkenalkan diri. Perempuan cantik yang masih berusia empat puluh tahunan itu, terlihat ramah. Miranda merasa heran lantaran Miko justru memanggil ibu tirinya dengan sebutan Tante.


"Miranda siapa namanya?" tanya Irawan setelah beberapa saat diam.


"Miranda Lavanya," jawab Miranda.


"Emangnya kenapa sih Pa?" tanya Miko heran.


"Tidak ada! Hanya merasa namanya itu tidak asing bagiku."


Miranda meremas tangannya gugup, entah kenapa sebersit rasa percaya dirinya itu lenyap.


"Tentu saja Pa. Kalau tidak salah dia itu kan model papan atas, aku bahkan sangat ngefans padanya. Dulu saat hamil Najwa aku ingin sekali foto dengan-nya, tapi Papa malah sibuk tidak dapat meluangkan waktu. Tapi kalau jodoh gak kemana ya. Nyatanya dia mau jadi menantu kita," ujar Amira senang.


"Bukan itu yang aku ingat tentangnya," sanggah Irawan. Membuat Miko dan Amira menatapnya heran.


Wajah Miranda memucat.


"Kasus kejahatannya terhadap putri kandungnya sendiri itu loh kalau tidak salah, yang membuat ia mendekam di penjara. Kayaknya kalau tidak salah itu dirimu kan?" tanya Irawan.