
Di sisa kekuatannya Miranda menggiring Miko untuk keluar dari rumahnya, kemudian langsung mengunci pintunya dari dalam. Tak peduli sekalipun lelaki itu terus mengetuk pintu sambil berteriak memanggil namanya.
"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan padaku barusan. Kau pasti bohong!"
"Apa yang salah denganku? Kenapa kau secepat ini berubah. Kenapa kau tidak percaya dengan perasaanku. Apa yang kurang dariku!" Miko berteriak meluruhkan tubuhnya di balik pintu Miranda. Lelaki berkemeja biru itu kini tampak kacau. Rambut dan pakaiannya nampak acak-acakan.
Sementara, Miranda yang mendengar setiap ucapan Miko yang terdiam menangis dengan perasaan getir.
"Maafkan aku. Tapi, ini yang terbaik. Kamu terlalu baik untuk perempuan seperti aku," ucap Miranda lirih. Sama seperti Miko, perempuan itu juga meluruhkan tubuhnya di belakang pintu. Menekuk kedua lututnya dan menangis dengan terisak. Ia memukul dadanya yang terasa sesak.
"Tuhan, kenapa semua sesakit ini. Kenapa kau biarkan aku jatuh cinta lagi, jika pada akhirnya aku pun tak bisa memilikinya. Kenapa kau pertemukan aku dengannya, jika pada akhirnya takdirku hanyalah sendiri."
Duarrr!!! Suara petir menggelegar. Nampaknya hujan pun akan turun membasahi bumi. Sementara, Miko tak peduli, ia tetap duduk di depan pintu rumah Miranda seraya mencoba mengetuk pintunya.
Miranda menutup kedua telinganya kala gedoran pintu itu semakin keras. Meski hatinya begitu menginginkan untuk membuka pintu, kemudian merengkuh lelaki itu. Namun, sekuat hatinya ia menahannya, saat ucapan Irawan kembali terlintas.
Tiga hari yang lalu.
"Tentang Miko dan masa depannya," ujar Irawan.
Miranda mulai merasa gusar, memainkan tangannya. "Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya hati-hati.
Senyum mengembang terulas di bibir Irawan. "Tolong, menjauhlah dari putra saya!"
Miranda terkesiap mendengar permintaan lelaki di hadapannya, ia menatapnya tak percaya dan mengigit bibir bawahnya, belum apa-apa rasanya ia ingin menangis.
"Boleh saya tahu alasannya, Pak?" tanya Miranda ramah. Meskipun saat ini jantungnya nyaris berhenti berdetak.
"Oh ayolah Miranda, meskipun tidak saya beritahu, kamu pasti tahu alasannya."
Miranda menggeleng. "Saya tidak mengerti," kilahnya.
"Kau tahu berapa usia putra saya, Miranda?"
Miranda mengangguk. "25 tahun!"
"Ya, dan dia baru menyelesaikan study S1 nya. Saat ini saya memintanya untuk mulai belajar mengendalikan perusahaan. Ada banyak hal yang harus Miko lakukan, masa depannya itu masih panjang. Saya juga masih menginginkan dia melanjutkan S2 nya."
"Saya mengerti maksud bapak. Anda tidak ingin masa depan Miko terhambat karena adanya saya dalam kehidupannya, bukan begitu?" seru Miranda, yang balas anggukan oleh Irawan. Perempuan itu tersenyum kecut.
"Selain itu juga ada lagi alasannya Miranda," kata Irawan.
"Kenapa Pak? Katakan saja, saya tidak masalah," desak Miranda.
"Usia kamu dan Miko itu terpaut begitu jauh, rasanya tidak etis kalau Miko mempunyai seorang istri yang lebih dewasa umurnya."
"Selain itu juga karena kamu itu seorang mantan-"
"Napi," potong Miranda dengan cepat.
"Maaf," cicit Irawan.
Miranda terkekeh menutupi perasaan sesungguhnya. "Kenapa harus minta maaf jika itu memang kenyataannya. Saya memang bukan orang yang baik, saya itu jahat, bahkan citra nama baik saya pun sudah hancur. Tapi saya mau belajar memperbaiki diri."
Irawan mengangguk. "Tapi sebagai orang tua, kamu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya kan? Dan ini yang saya lakukan."
"Iya. Saya mengerti dan paham maksud bapak."
"Jadi?"
"Saya akan menuruti permintaan Bapak. Tenang saja saya tidak akan mengganggu hidupnya lagi."
"Terimakasih Miranda. Tapi, saya minta jangan sampai Miko mengetahui hal ini ya."
"Iya, Pak. Tenang saja."
Setelah itu Irawan berpamitan untuk pergi. Sepeninggal lelaki itu, Miranda menutup wajahnya, mulai mengeluarkan air mata yang sejak tadi ia tahan. Bahkan ponsel yang di atas mejanya berdering pun tak ia pedulikan.
****
Pukul sebelas malam Miko baru tiba di rumahnya. Dengan penampilan yang acak-acakan, seluruh pakaiannya basah ia masuk ke dalam rumahnya dengan wajah lesu.
"Miko, dari mana nak? Kenapa selarut ini baru pulang?" cecar Amira ketika putra sambungnya itu baru tiba di dalam dan hendak menaiki tangga.
"Badanmu basah, kamu kehujanan? Mandi, nanti Mama anterin makanannya ya?" sambung Amira dengan wajah cemas. Ia sengaja belum tidur meski sudah larut demi menunggu putra sambungnya itu pulang.
"Tidak perlu! Tante istirahat saja," tolaknya seraya berlalu menaiki tangga.
Amira menatap sendu tubuh Miko yang perlahan menjauh dari pandangannya. "Apa yang terjadi?" gumamnya. Meski bukan ibu kandungnya, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres dari putra sambungnya itu.
Miko menatap pantulan wajahnya di depan cermin kamar mandi. Pikirannya kacau, akibat memikirkan apa yang terjadi pada Miranda, ia merasa yakin apa yang diucapkan oleh perempuan itu bohong. Miko mengambil botol shampoo di depannya, kemudian melemparkannya di cermin. Namun, cermin itu tidak pecah. Miko merasa geram dan marah, tanpa di sangka ia justru mendaratkan menggunakan tangannya untuk memukul cermin itu, hingga cermin itu pun pecah. Tampan serpihan kaca menancap di telapak tangan lelaki itu, hingga mengeluarkan darah segar. Tapi, Miko tak peduli seakan luka itu sama sekali tak membuatnya sakit. Lelaki itu justru berlalu mengguyur seluruh tubuhnya dengan air mengalir.
Sementara Miranda masih terus menangis terisak. Hujan deras tampak mengguyur bumi, ia menikmati setiap rasa sakit hatinya. Tadi ia mendengar Miko pergi, tapi sebelum itu lelaki itu berkata tidak akan menyerah.
"Kau pikir aku ini lelaki pengecut, yang akan menyerah hanya dengan permasalahan yang tak jelas seperti ini. Aku tau semua yang kau katakan itu hanyalah omong kosong. Jika aku harus hidup tanpamu, biarkan saja aku mati!" ancam Miko sebelum meninggalkan rumahnya.
Miranda merasa cemas memikirkan hal itu, berpikir bagaimana jika lelaki itu nekat mengakhiri hidupnya. Ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran buruknya, ia yakin Miko tidak mungkin mempunyai pikiran sedangkan itu. Perempuan itu menoleh ke arah sofa di mana dasi Miko ternyata tertinggal di sana. Sesaat ia jadi mengingat kejadian tadi, di mana Miko hampir lupa mengendalikan dirinya, tak sadar ia meraba lehernya.
"Maaf. Aku bukan yang terbaik, pergilah dan cari kebahagiaanmu." Miranda mengigit bibirnya. Jujur saja ia belum siap untuk kehilangan sosok lelaki itu. Biarpun Miko itu tengil, tapi ia begitu penyayang dan peduli dengannya, Miranda akui belum pernah ia menemukan lelaki yang sesayang itu padanya. Kehadiran Miko membuat hidupnya jauh lebih berwarna, tapi ternyata takdir begitu kejam tak bisa menyatukan keduanya. Kembali lagi, jika Miranda harus sadar diri. Dia hanyalah batu kerikil di pinggir jalan, lalu kenapa ia harus bermimpi bersanding dengan sebuah berlian?