
Permasalahan balon ternyata masih berlanjut hingga sampai pulang ke rumah. Misel terus menangisi balon. Padahal Rena sudah membujuk memberi pengertian pada anak itu. Namun, Misel tetep kekeh ingin balon untuk lolipop.
“Gara-gara si Miko ini? Bisa-bisanya anakku dibawa ke indo April malah jadi nangis begitu,” keluh Alby. Wajahnya terlihat kesal, putrinya terus menangis. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, masih enggan untuk tidur sebelum mendapatkan balon itu.
“Gak boleh gitu bang. Mana ada si niat Miko buat Misel nangis. Aku tahu dia kok, meski dia anaknya gresek dan tengil, gak mungkin ia buat Misel begini. Pasti sebelumnya dia juga udah memberi pengertian,” bela Rena.
Alby yang sejak tadi mondar mandir di depan istrinya, kembali menduduki dirinya di sofa sebelah Rena. “Terus ini gimana sayang? Misel nangis terus tuh,” kata Alby melirik ke arah Misel yang terus menangis di pangkuan istrinya. Sebenarnya, ini semua berawal dari dirinya dulu. Ketika Misel hanya tinggal berdua dengannya, Alby selalu menuruti permintaan putrinya. Hingga timbulah sifat Misel yang ingin selalu memiliki apapun yang ia inginkan. Dulu Alby hanya berpikir asal anaknya diam, nyatanya didikannya itu sangat berpengaruh kini.
“Iya udah Abang keluar,” usir Rena.
“Ngapain?” sahut Alby.
“Iya beli balon lah bang. Masa anaknya nangis gini diemin aja,” ucap Rena pelan sambil mengusap rambut putrinya.
“Balon? Kamu yang benar saja sayang masa Misel dibeliin balon....”
“Ya balon beneran lah bang. Masa balon itu. Aduh Abang itu gimana sih. Masa gitu aja mesti diajarin,” keluh Rena. Entah karena rasa ngantuk atau karena bingung, ia merasa suaminya tak dpaat berpikir dengan jernih.
“Balon... Hu.. hu.. hu.. Bunda mau balon,” rengek Misel dalam pangkuan Rena. “Balon lolipop.”
Alby memijat kepalanya. “Iya nanti Ayah Carikan balon. Udah Misel diam dulu, ayah ambil kunci mobil dan dompet dulu,” ucapnya seraya beranjak dari tempatnya. Alby kembali ke kamar mengambil kunci mobil dan dompetnya.
“Tunggu ya sayang. Nanti Ayah Carikan, udah sekarang Misel berhenti nangisnya.” Rena terus membujuk putrinya. Misel mengangguk, ia menurut menghentikan tangisannya, membuat Rena menghela nafas lega.
Tak lama Alby kembali kemudian langsung melesat keluar untuk mencari balon.
“Heran, istri udah berhenti ngidam. Aku baru merasa lega bisa tidur nyenyak. Ehh anak malam-malam minta balon. Gara-gara Miko ini pokonya,” gumam Alby seraya masuk ke dalam mobil.
Tiga puluh menit kemudian. Alby telah dengan membawa berbagai jenis balon. Ia bersyukur malam-malam masih ada yang jualan balon, walaupun harus berkeliling lebih dulu.
Usai memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Alby berlalu masuk ke dalam rumah. Ia berpikir Misel pasti senang karena ia mendapatkan balon. Namun, sampai di ruang tamu, ia terkejut melihat istri dan putrinya sudah tidur, dengan posisi Rena menangku Misel.
Sebenarnya, pantas mereka sudah tidur sih. Karena hari memang sudah malam. Hanya saja melihat posisi tidur mereka. Membuat Alby merasa kasihan. Meletakkan balon yang ia bawa di atas meja. Alby dengan cepat menggendong Misel, membawanya ke dalam kamar. Setelahnya, ia kembali lalu menggendong istrinya, membawakannya ke kamar. Pelan ia membaringkan istrinya di sana. Tak lupa menyelimutinya. Rena tampak lelap tak terusik. Alby berbalik menatap wajah teduh istrinya yang tampak tenang ketika tengah terlelap.
🦋🦋
Miranda membuka kedua matanya, rasanya begitu gelisah. Ia menatap suaminya yang terbaring, tampak tidur dengan lelap. Entah kenapa ia merasa kesal. Kesal karena ia tak bisa tidur, tapi suaminya justru enak-enakan tidur. Hingga tak sadar ia meraih guling, lalu menimpuk tubuh suaminya. Miko terperanjat kaget, langsung mengubah posisinya menjadi duduk secara tiba-tiba.
“Kenapa sayang?” tanyanya cemas. Mengacak rambutnya sambil menguap, wajahnya tampak kusut, matanya sedikit terbuka. Miranda hanya terdiam duduk dengan bersandarkan di ranjang.
“Mau sesuatu ya?” tanyanya lagi. Miranda hanya mengangguk.
Miko melirik di atas nakas, di mana beberapa jenis buah tersedia. “Aku kupasin buahnya ya,” tawarnya.
“Bukan buah.”
“Lha terus? Itu aku udah sengaja sedia buah loh sayang. Agar kamu gak kebingungan lagi kalau ngidam.” Miko berucap dengan percaya diri, ia memang sengaja menyediakan beberapa buah-buahan yang sedikit, dari pengalaman yang ia dengar ibu hamil suka ngidam yang asam-asam.
“Pengen belut,” ucap Miranda seraya mengusap pundak suaminya. Membuat Miko melongo, lalu membuka bajunya.
Miranda menghentikan tangannya. “Kok malah buka baju?” tanyanya bingung. Hal itu kembali menghentikan gerakan suaminya yang hendak membuka celananya.
“Katanya mau belut. Kan harus dibuka juga baju dan celananya,” sahut Miko menaikan kedua alisnya, lalu menatap tubuhnya sendiri bagian bawah.
“Dasar mesum!” maki Miranda kembali berbaring membelakangi suaminya.
“Lho sayang. Kok malah ngambek.” Miko mengacak rambutnya frustasi. “Ayo katanya mau belut, ini aku udah buka baju,” sambungnya.
“Bukan belut itu ih. Tapi, belut ikan yang di sawah.”
Miko menelan ludahnya. “Jangan bilang kamu nyuruh aku nyari di sawah? Besok aja ya sayang, ini kan malam-malam,” sahutnya melirik jam di atas nakas di mana waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Miranda berbalik menatap suaminya. “Pengen belut sawah yang masih ada lumpurnya.”
“Apa?!!” pekik Miko, matanya melotot. Kesadarannya langsung meningkat seratus persen. Ia masih berharap jika ia hanya salah dengar.
“Kok kaget gitu sih. Pengen belut sawah beneran. Tapi kamu yang ambil di sawah ya.”
Miko mengerjapkan matanya berkali-kali. “Gak bisa nawar gitu apa sayang. Yang lain gitu? Gaun, emas, berlian, mobil apa-apa gitu. Yakinlah pasti aku turutin mau sebanyak apapun aku ngeluarin duit.”
“Emang aku lagi dagang apa kok ditawar,” dengusnya. “Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba pengen belut, padahal biasanya aku gak doyan,” sambungnya. Menelan ludahnya membayangkan ikan itu masuk ke mulutnya.
Miko mengacak rambutnya. “Oke aku akan cari belutnya,” sahutnya beranjak dari tempat tidurnya. Lelaki itu bergerak meraih ponsel mencari kotak Yanto.
“Mau hubungi siapa?”
“Yanto sayang. Kan mau minta temenin.”
“Kamu lupa ya? Yanto kan pulang ke Brebes sore tadi, sepupunya ada yang nikahan. Besok pagilah dia baru balik.”
Miko menoleh ke arah istrinya. “Oh iya ya. Dia ijin menghadiri pernikahan, perasaan itu terus alasannya. Dia sendiri gak nikah-nikah.”
“Kan nunggu Clara besar,” celetuk Miranda asal, terkikik melihat wajah sang suami yang kesal.
“Sayang jangan mulai deh,” dengus Miko.
“Udah sana berangkat, cari belutnya. Pengen banget ini anak Papa,” ucap Miranda mengusap perutnya buncitnya.
“Iya hubungi Ryan dulu. Gantian lah dia harus nemenin aku.” Miko berkali-kali menekan ponselnya. “Gak diangkat lagi,” keluhnya.
“Samperin aja deh!” Miko beranjak keluar dari kamarnya.