
Beberapa bulan kemudian, suara teriakan dari dalam ruang persalinan. Sementara, para orang tua Ryan dan Alena tengah menunggu di depan ruang persalinannya.
“Pa, anak kita kesakitan,” kata Mama Ayu cemas.
Roby menghela nafasnya, bukankah yang namanya orang melahirkan itu memang sakit. Tapi, istrinya yang memang begitu menyayangi Alena justru menangis, wajahnya penuh kekhawatiran. Sebenarnya, ia tidak kaget, mengingat Alena merupakan putri tunggal. Dulu untuk mendapatkan Alena saja keduanya begitu susah, menunggu hampir sepuluh tahun lamanya.
“Tidak apa-apa sayang. Namanya orang melahirkan bukankah seperti itu jalurnya. Alena memilih untuk melahirkan secara normal.”
Mama Ayu mengangguk. “Tapi, Pa. Dia terus teriak-teriak, terus ngomelin suaminya.”
Roby terdiam sesaat, mendengarkan suara-suara di dalam ruang bersalin. Bagaimana anaknya terlihat begitu bar-bar ngomelin suaminya. “Bagaimana saat sakit seperti itu saja, Alena masih bisa mengomeli suaminya,” cicit Roby tak enak menatap ke arah besannya.
“Gak masalah. Dulu saya juga begitu,” timpal Mama Elena yang di angguki oleh Bastian. Tampaknya lelaki itu tengah bernostalgia mengingat kembali proses istrinya melahirkan Ryan. Jadi, intinya semua itu bawaan bayi, atau istilahnya keturunan.
🦋🦋🦋
Sementara di dalam ruangan Alena terus mengikuti instruksi dokter. Sang suami setia menemani di sisinya.
“Aduh aku ngantuk,” keluh Alena.
“Jangan tidur, Le. Dokter Ryan tolong bantu istrinya ya. Semangatin,” pinta dokter Eli.
“Ayo sayang, sedikit lagi. Kita bisa lihat anak kita yang paling ganteng kaya Papinya,” ujar Ryan.
Alena meringis juga mengerucutkan bibirnya. “Enak banget. Aku yang berjuang, Masry yang dapat foto copynya. Gak boleh!”
“Ya udah cantik mirip Maminya,” ralat Ryan.
“Ish kok cantik sih. Anak kita laki-laki Masry!”
“Maksudnya wajahnya mirip kamu sayang.”
Alena mengangguk, kalau hal itu ia baru setuju dengan suaminya.
“Sudah istirahatnya. Kita mulai lagi ya, ayo coba tarik nafas lalu hembuskan.” Dokter Eli kembali memberi aba-aba.
“Ayo sayang.” Ryan mengecup kening istrinya berkali-kali. Tak peduli sekalipun kening istrinya banyak keringat.
“Jangan cium-cium. Aku bau Masry.”
”Gak apa-apa sayang. Kamu tetap wangi kok.” Kini Ryan meletakkan telapak tangan istrinya di wajahnya, mengecup tangannya. Hingga beberapa saat, ia merasakan lehernya seperti di cekik oleh istrinya. Akibat Alena menarik kuat, karena mengikuti instruksi dokter Eli.
Uhuk... Uhuk..
”Sayang leherku.” Ryan berusaha melepaskan tangan suaminya. Sungguh rasanya lehernya seperti tercekik tak bisa bernafas.
”Masry diamlah. Jangan cuma ngerti ya nyuntik aku doang. Ini karena suntikan Masry kan. Jadi, kita bisa sama-sama merasakan sakit.”
Ryan melototkan kedua matanya, sementara Dokter Eli dan suster lainnya hanya tersenyum. Bukan masalah berjuang bersama, masalahnya lehernya benar-benar tercekik.
‘Ya ampun nak, bisa-bisanya kamu buat Papi tersiksa seperti ini,' keluhnya dalam hati. Dalam hati Ryan terus berharap agar bayinya cepat keluar, jika tidak bisa-bisa lehernya putus.
Dokter Eli kembali memberi instruksi Alena. “Dikit lagi, kepalanya sudah terlihat. Meng ejan lagi ya.”
Alena mengangguk, mengikuti instruksi dokter. Hingga dalam satu tarikan nafas, ia merasakan sesuatu yang besar keluar dari jalan lahir. Perutnya pun seketika tak merasakan mulas lagi.
Oek... Oek...
Suara tangisan bayi menggema di ruang bersalin itu. Tangan Alena yang melingkar di leher sang suami pun perlahan terlepas. Ryan merasa bisa lega, bisa menghirup nafasnya dengan bebas.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Ryan pun kembali sedikit membungkuk. Lalu mengecup kening, pipi, dan bibir istrinya. ”Terima kasih sayang. Sudah berjuang untuk kami.”
“Sama-sama Masry." Rasa sakit di tubuhnya seketika lenyap, berganti rasa haru kala mendengar tangisan bayinya. Di tambah dengan penjelasan dokter jika bayinya sehat. Alena menangis haru, tidak menyangka jika kini status dirinya bukan hanya seorang istri, tapi juga seorang ibu. Maka tanggung jawabnya pun bertambah. Ryan sejak tadi terus memegang tangan istrinya. Sementara dokter Eli masih membersihkan area bawah istrinya.
🦋🦋
Beberapa jam kemudian, Alena sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Tentunya sebagai menantu dari keluarga pemilik rumah sakit itu, fasilitas yang Alena dapatkan tak main-main.
Bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki itu di beri nama Rey Shaka Anggara.
Welcome to world Rey Shaka Anggara, begitulah tulis caption Ryan yang unggah di akun sosmednya dalam aplikasi berwarna hijau.
[Selamat ya Ryan dan Alena. Tunggu sebentar ya, Kakak lagi di jalan sama Cristal] tulis Viana mengomentari unggahan Ryan.
[Ahh senangnya. Sahabatku sudah lahiran. Aku menunggu suami untuk jenguk] tulis Miranda.
Dan masih banyak lagi, dari rekan-rekan kerjanya.
Kini Rey tengah menjadi bahan rebutan para kakek dan neneknya. Apalagi Roby dan Ayu yang begitu sangat antusias. Mengingat Rey merupakan cucu pertamanya.
“Cepat besar ya, Rey. Nanti Kakek ajak kamu ke restoran kakek, terus main ke mall kakek juga,” ujar Roby yang langsung mendapatkan sikutan dari istrinya.
“Baru lahir ini Papa. Masa suruh langsung gede aja,” cibir Ayu yang di balas tawa oleh penghuni ruangan itu.
Tok! Tok!
Pintu di ketuk dari luar.
“Masuk!”
Pintu ruangan terbuka, hingga pandangan semua orang teralihkan. Rena masuk dengan membawa nampan yang berisi makan siang untuk Alena.
“Kok kamu yang bawa, Re!” tegur Ryan melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya itu yang membawa makan untuk istrinya.
“Iya. Soalnya aku sekalian mau jenguk. Tadi, ketemu di lorong sih sebenarnya. Karena aku tanya untuk siapa, dan suster bilang untuk kamu. Ya udah sekalian aja,” balas Rena seraya meletakkan makanannya di atas nakas. Kemudian menyalami para orang tua di sana. Rena memang mengenal baik kedua orang tua Ryan dan Alena, jadi tentu saja di sambut ramah oleh mereka. Bahkan Mama Ayu dan Mama Elena pun tak tanggung-tanggung memeluk Rena. Mereka kagum dengan perempuan itu. Selain pintar, ramah, juga sabar.
“Selamat ya Dokter Ryan, Alena.” ucap Rena.
“Makasih ya Re.”
“Tapi aku jenguk pake tangan kosong. Soalnya jam kerja. Aku tadi di kasih tahu dokter yang lain, kalau menantu pemilik rumah sakit ini sedang lahiran,” ujar Rena. Ia beranjak ke ranjang bayi.
“Waha gantengnya. Teman main Alka ini. Namanya siapa Dokter?” tanya Rena .
“Rey Shaka Anggara.”
“Aku panggil Shaka aja ya!” pinta Rena.
“Terserah kamu aja Re.”
“Gemes, pengen gendong. Tapi tangan aku kotor, karena habis periksa-periksa pasien juga,” ujar Rena yang berlalu ke kamar mandi mencuci tangannya. Karena ia merasa tak tahan jika tidak mengendong bayi mungil itu.
Rena menggendong dan mencium pipi bayi itu.
“Pasti kamu kangen Alka!” tebak Alena.
Rena mengangguk. “Iya. Aku tidak menambah baby sitter lagi. Karena ibu dan Mommy melarangnya. Mereka lagi senang-senangnya ngasuh Alka.”